Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Senen
Sinar matahari merambat masuk perlahan melalui jendela, menyilaukan wajah laki-laki itu hingga Ia terbangun dari tidurnya.
Adrian mengerjapkan matanya beberapa kali lalu melihat sekeliling. Ia terbangun dan mendapati Arini sudah tidak ada di kamar bersamanya.
Adrian pun bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas turun menuju ruang makan. Namun baru saja menuruni beberapa anak tangga Ia melihat Pak Yono yang baru saja memarkirkan mobilnya di garasi.
Kakinya berjalan menuju halaman rumah, Ia melirik Pak Yono dari kejauhan. "Pak? Habis dari mana?"
Pak Yono yang baru saja keluar dari mobil langsung berbalik, "Saya habis nganterin nyonya, pak!"
Adrian mengangkat sebelah alisnya, "Memang Arini ke mana pak?"
"Nyonya minta saya anterin ke Pasar Senen pak! Katanya mau lihat-lihat baju," ucapnya.
"Oh,"
Adrian berbalik dan kembali masuk ke dalam. Tumben sekali Arini pergi pagi-pagi, lebih anehnya lagi ke Pasar Senen. Setahu Adrian Arini tidak pernah berbelanja di tempat seperti itu.
...****************...
Sabtu itu, Pasar Senen lagi ramai-ramainya. Suasana terasa padat dan gerah, khas pasar yang penuh dengan tumpukan barang dan orang-orang yang saling berpapasan.
Ada yang memang niat belanja sampai sibuk tawar-menawar harga, tapi banyak juga yang cuma jalan santai sambil melihat-lihat kiri-kanan.
Arini salah satunya. Langkahnya terhenti di sebuah toko yang kelihatannya menarik.
Ia masuk ke dalam, mulai memilah satu-persatu barang yang digantung. Tangannya bergerak pelan dari satu hanger ke hanger lain, mencoba mencari sesuatu yang mungkin cocok di matanya.
Tapi setelah beberapa lama berkeliling dan tidak menemukan apa-apa, ia memutuskan untuk keluar dan lanjut berjalan lagi.
Baru saja Arini keluar dari toko itu, matanya menangkap sosok yang terasa tidak asing di kerumunan. Seorang laki-laki berdiri membelakanginya, memakai jaket hitam dan topi abu-abu.
Penasaran, Arini berjalan mendekat. Semakin dekat, ia semakin yakin. Tanpa suara, Arini langsung mencentil pelan bahu laki-laki itu dari belakang.
Laki-laki itu tersentak kaget. Ia langsung menoleh, dan benar saja, itu Gio.
"Loh, kok lo bisa ada disini?" tanya Gio heran.
Arini tertawa kecil, "Ya serah gue dong, tempat umum juga."
"Oh, jadi lo lagi belajar merakyat gitu?" ucap laki-laki itu dengan nada mengejek.
"Dih emang gua pejabat gitu. Gue lagi pengen belanja disini aja,"
"Kalau mau beli baju jangan di sini jangan di blok yang ini, biasanya lebih mahal karena di depan," kata Gio sambil memberi isyarat agar Arini mengikutinya.
"Ayo ikut, gue tahu tempat yang lebih oke."
Mereka mulai berjalan membelah keramaian. Gio memandu di depan, melewati satu blok yang padat sampai akhirnya mereka masuk ke sebuah lorong yang suasananya jauh lebih tenang dan agak sepi.
Ternyata di sana berderet toko-toko baju yang koleksinya terlihat lebih segar. Begitu Arini melirik label harganya, ia kaget, jauh lebih murah dibanding toko-toko sebelumnya.
Mata Arini langsung berbinar. Tanpa aba-aba, ia langsung melangkah cepat menghampiri salah satu deretan baju yang menarik perhatiannya.
Tangannya dengan antusias mulai memilah-milah kain, sesekali menempelkan baju ke badannya untuk mengecek ukuran.
Gio tidak ikut memilih. Ia hanya berdiri beberapa langkah di belakang Arini, menyandarkan bahunya di pilar toko sambil memasukkan tangan ke saku jaket.
Melihat Arini yang begitu semangat dan fokus dengan baju-baju di depannya, Gio cuma bisa memperhatikan sambil tersenyum tipis.
Arini benar-benar asyik sendiri. Ia mengambil beberapa potong pakaian dan mulai mencocokkannya ke tubuh.
"Gio, yang ini gimana? Oke nggak?" tanya Arini sambil menempelkan sebuah sweater rajut warna hijau neon di badannya.
Gio memperhatikan dari atas ke bawah, lalu menggeleng datar. "Jangan. Lo kelihatan kayak ulat sagu kalau pakai itu."
Arini mendengus, lalu beralih mengambil sebuah blouse dengan aksen rumbai yang agak ramai.
"Kalau yang ini? Lucu, kan?"
"Lucu sih, kalau lo mau kerja sambilan jadi kemoceng," sahut Gio tanpa dosa.
Arini mulai gemas. Ia mencoba satu jaket denim yang ukurannya jauh lebih besar dari badannya.
"Nah, ini pasti keren. Oversized kan lagi tren."
"Itu bukan oversized, Rin. Itu lo kayak lagi pakai tenda pramuka. Aneh banget," jawab Gio blak-blakan.
Arini memutar bola matanya, pura-pura kesal sambil kembali memilah gantungan baju. Namun, di tengah kesibukan Arini mencari baju lain, suara Gio tiba-tiba merendah, terdengar lebih serius dari sebelumnya.
"Rin, gue dapat info tambahan soal Adrian, suami lo."
Gerakan tangan Arini mendadak berhenti. Ia perlahan berbalik dan terdiam, menatap Gio dengan tatapan yang sulit diartikan. Detik berikutnya, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya, senyum yang penuh rasa penasaran.
"Info apa?" tanya Arini pelan.
Gio mendekat selangkah, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Kemarin pas di hotel, waktu kita satu lift sama dia... gue berhasil nyalin semua data dari ponselnya."
Arini terkesiap. Matanya membelalak tak percaya, tapi ada binar lega dan senang yang tidak bisa ia sembunyikan. "Serius? Lo bisa lakuin itu secepat itu?"
Gio tersenyum sombong, "Gue gitu lho! Apasih yang ngga bisa gue lakuin,"
Arini memasang wajah kesal. Melihat senyum menyebalkan Gio membuatnya ingin menonjol pria itu, "Iya deh, si paling bisa,"
Mata gadis itu membulat. Ia dengan cepat meraih sebuah dress tartan di deretan baju di sisi kanannya, dress itu terlihat lucu. Ia menunjukkan dress itu kepada Gio dengan mata berbinar.
"Nah yang ini bagus ngga?" tanya Arini.
Gio memperhatikan dress itu dari bawah hingga atas sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Kalo ini bagus, coba lo pakai dulu deh." saran laki-laki itu.
Arini tersenyum senang. Ia berjalan memasuki ruang ganti yang tak jauh dari posisi mereka sebelumnya. Sembari menunggu Arini mencoba pakaian, Gio berjalan perlahan melihat satu-persatu pakaian pria di deretan belakang.
Ia menarik beberapa jaket yang menurutnya menarik, namun saat ia cek ada beberapa bekas kotoran di dalamnya entah itu di saku, kerah ataupun kantong. Maklum ya, namanya juga thrift.
"Gio! Lihat sini!" panggil Arini.
Gio menoleh, ia terdiam sejenak. Ia melihat Arini dari atas hingga bawah. Wanita itu terlihat lebih imut saat memakai dress tartan, seperti melihat dirinya kembali remaja seperti 10 tahun lalu.
"Gio! Kok diem?" ucap Arini sambil melambaikan tangannya.
Gio tersadar dari lamunannya, ia berdehem dan dan berusaha untuk terlihat stay cool. "Oh, bagus kok! Cocok di lo,"
"Ahaha, bener kan kata gue. Oke deh gue ambil aja," ucap Arini senang.
"Lo keliatan lebih muda, kayak bayi,"
"Bayi kadaluwarsa." lanjut Gio.
"IH GIO! Dasar, mending gue ngga usah tanya lo," Arini memutar matanya malas dan bergegas kembali ke ruang ganti.