“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 5
Irma memeluk erat Naya, begitu bahagia dia mendapatkan kabar bahwa Albiru melamar Naya. Adipati juga memeluk erat Albiru dengan senyuman merekah di wajah tuanya itu. Akhirnya anak tunggalnya itu mau membuka hati dan menerima perjodohan dengan Naya tanpa paksaan.
Keesokan harinya, Adipati memberikan kabar bahagia ini pada keluarga Naya. Arman—begitu bahagia karena Naya bisa menikah dengan pria yang dia taksir pada pandangan pertama itu. Pertemuan keluarga akan dilakukan dalam dua hari lagi sekalian menentukan tanggal pernikahan keduanya.
Albiru sendiri yang meminta untuk mempercepat pernikahan dengan Naya agar hatinya tidak lagi berbalik mengingat Alisha. Mungkin dengan berumah tangga, semua akan bisa terkendali.
...***...
Pertunangan dilaksanakan dengan mewah di rumah Albiru dengan dihadiri banyak rekan bisnisnya dan juga ayahnya. Naya sangat cantik dengan gaun yang jatuh membingkai tubuhnya itu, Albiru juga sangat tampan dengan jas berkelas itu.
Cincin tersemat di jari mereka masing-masing dan bersinar wajah Naya ketika berhasil menaklukkan hati pria yang dia inginkan tersebut
Seusai pertunangan, Naya kembali ke Sulawesi bersama dengan keluarganya. Toko perhiasan akan dia bangun setelah menikah dengan Albiru nantinya dan mereka sudah merancang kehidupan berdua.
Sehari setelah pertunangannya, Albiru pergi melihat proyek yang akan dia kerjakan bulan depan, dia memeriksa lokasi itu agar tidak ada yang rancu nantinya.
Albiru memelankan laju mobilnya ketika hampir dekat dengan rumah Alisha dulu. Rumah yang sudah hampir dua tahun ini kosong, dulu Albi sering ke sana untuk menjemput dan mengantarkan Alisha. Kenangan selama enam tahun tidak pernah bisa dia lupakan begitu saja.
Albi melirik ke arah rumah itu dan melihat pagar rumah Alisha terbuka, dia memberhentikan mobil di sana dan melirik ke dalam rumah. Matanya membulat, rahangnya mengeras dan air matanya menetes perlahan ketika melihat Alisha berjalan hendak keluar dari rumah tersebut menuju pagar.
“Alisha,” gumamnya pelan lalu segera menaikkan kaca mobil agar Alisha tidak melihat dirinya.
Tampak Alisha kembali menutup dan mengunci pagar itu, gadis yang dia cintai tak lagi sesegar yang dia lihat biasanya. Alisha terlihat sedikit kucel, pucat, dan tidak lagi memperhatikan dirinya sendiri. Albiru yang penasaran mengikuti gadis itu, Alisha menaiki taksi online entah ke mana.
Albiru memberitahu pada asisten pribadinya agar mengurus pekerjaannya, sedangkan dia terus mengikuti ke mana Alisha akan pergi.
Mobil berhenti di stasiun kereta, terlihat Alisha turun dan memasuki stasiun itu. Albiru mengikutinya lalu meraih lengan Alisha ketika perempuan itu dekat dengannya.
Alisha yang kaget seketika menoleh, pandangan mereka bertemu dan masih ada kerinduan dalam tatapan mereka berdua.
“Ke mana saja kamu selama ini, Sha?” tanya Albi dan yang ditanya hanya menggeleng lemah lalu menunduk. Albiru kembali meraih tangan Alisha dan menggenggamnya erat.
“Apa kau tidak merindukan aku? Kau kembali ke kota ini tapi tidak mengabari aku. Kau menghilang setelah mencampakkan aku begitu saja. Apa aku sangat tidak berharga bagimu?” Alisha tak berani mengangkat pandangannya, dia hanya bisa menunduk dan menatap lantai.
“Aku harus pergi, maaf.” Alisha berbalik dan melepas genggaman tangan Albi, dia memilih untuk pergi tanpa memberikan penjelasan sama sekali.
Albiru yang tidak ingin kehilangan Alisha lagi memutuskan untuk mengejarnya dan menahan perempuan itu.
“Alisha. Aku butuh bicara denganmu.”
“Bicara apa lagi? Bukankah terakhir kali kita bertemu semua sudah sangat jelas?”
“Aku belum puas dengan keputusanmu waktu itu, aku butuh penjelasan.”
“Aku sudah jelaskan kalau aku akan menikah dengan pria pilihan orang tuaku. Dan sekarang aku sudah menikah, Albi. Aku sudah memiliki suami, tolong jangan ganggu aku lagi,” tekan Alisha dengan mata merah menahan tangis. Sungguh rindu dia pada pria di hadapannya ini tapi apa daya? Dia tidak bisa berbuat banyak.
“Alisha!” panggil seseorang yang membuat Alisha tampak ketakutan. Alisha hanya bisa menunduk lalu berjalan mendekati pria yang memanggilnya.
“Maaf Kevin, aku hanya berbincang sebentar dengannya,” lirih Alisha yang masih bisa didengar oleh Albiru.
Pria yang dipanggil Kevin itu seketika mencengkeram rahang Alisha hingga perempuan itu meringis kesakitan. “Aku menunggumu di sini dari tadi dan kau malah seenaknya berbincang dengan pria lain. Kau sudah tidak menghargai aku hah?” bentak Kevin yang membuat Albiru sangat tak senang.
“Apa-apaan ini? Kau tidak bisa berbuat semena-mena begini padanya.” Albiru menarik Alisha dari Kevin lalu menyembunyikan perempuan itu di belakang tubuhnya.
“Kau siapa hah? Berani sekali kau mengambil dia dariku, kau mau cari mati?” hardik Kevin pada Albiru. Melihat dari penampilan Kevin, jelas menunjukkan kalau pria itu seorang berandalan yang kejam.
“Kau mau ribut di sini? Ayo!” tantang Albiru dengan mengambil satu langkah maju tapi Alisha menahan lengan Albi dari belakang.
“Jangan, Bi. Jangan ribut di sini, aku harus segera pergi dengannya. Tolong jangan ikut campur dengan urusanku lagi,” tegas Alisha lalu mendekat pada Kevin.
Albiru tidak mengerti atas apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Alisha? Siapa Kevin? Apa Kevin itu suami Alisha?
Alisha dan Kevin menaiki kereta dan Albiru tetap berdiri di sana sampai kereta itu pergi. Albiru menghubungi orang kepercayaannya untuk mencaritahu mengenai Alisha dan Kevin, karena bagi Albi, tingkah keduanya sangat mencurigakan.
...***...
Sejak pertemuannya dengan Alisha tiga hari yang lalu, Albiru jadi sangat jarang memberikan kabar pada Naya. Pikirannya terlalu fokus pada Alisha dan begitu penasaran atas apa yang terjadi pada perempuan itu.
Berkali-kali Naya menghubunginya tetapi selalu banyak alasan Albi untuk menolak panggilan tersebut. Albi juga meminta orang untuk mencari keberadaan Alisha dan hari ini dia akan mendapatkan semua informasi tersebut.
Aksa—orang kepercayaan Albiru berdiri di depannya sekarang. “Alisha tinggal di desa terpencil bersama seorang pria bernama Kevin, Bos.” Albiru mengerutkan keningnya.
“Berikan alamat desa itu padaku,” pinta Albi dan Aksa memberitahukan alamat lengkap beserta beberapa foto yang membuktikan kalau Alisha ada di sana.
Albiru segera meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi ke desa itu dengan alasan ada proyek yang ingin dia kerjakan.
“Desa itu sangat jauh dan akses ke sana cukup sulit, Albi. Kamu yakin mau ke sana?” Adipati cukup khawatir mengingat putranya akan ke tempat terpencil dan jauh itu.
“Yakin, Pa. Kalau nanti lokasinya tidak bagus, aku akan urungkan. Apa salahnya melihat ke sana kan.”
“Baiklah, hati-hati Albi karna kamu akan menikah. Jangan sampai terjadi apa-apa ya.”
“Iya Pa.”
Keesokan harinya, Albiru segera melakukan penerbangan ke provinsi yang dia tuju lalu perjalanan dilanjutkan dengan mobil dan untuk akses masuk ke desa tersebut hanya bisa menggunakan motor saja. Albiru pergi bersama dengan Aksa, mereka memang menyediakan motor untuk ke sana.
Cukup jauh perjalanan itu hingga mereka sampai di desa tersebut hampir tengah malam. Albiru melirik jam di tangannya dan sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.