Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Jemima kembali sampai di kamarnya. Dia masih memikirkan siapa yang akan masuk ke dalam ruangan itu dan kenapa orang itu bisa masuk ke sana?
Namun, karena terlalu lelah dan Jemima sudah terbiasa dengan perubahan waktu antara kehidupan nyata dengan waktu di dalam ruangan, jadi Jemima sama sekali tidak mengalami kebingungan waktu dan tertidur pulas.
Keesokan harinya, dia terbangun dan masih teringat jelas setiap detail yang dia lihat di ruang ajaib itu.
"Ashley, selamat pagi," sapa Jemima pagi itu.
Ashley terbelalak melihat luka-luka di sekujur tubuh Jemima. "Kau dipukuli lagi? Ayahmu benar-benar sudah gila, Jemi! Kau tidak bisa diam saja!"
Namun, berkat cokelat hangat dan kue ajaib yang dia makan di ruang ajaib, luka-luka itu sudah tidak begitu sakit.
"Sebenarnya, tadi malam bukan hanya ayahku yang memukulku. Jadi, ayahku punya kekasih dan sepertinya mereka akan segera menikah," kata Jemima dengan suara lesu.
Dia membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya saat Leon dan Helena akan menikah.
Akan tetapi, tanggapan Ashley membantu pikiran Jemima terbuka. "Hmmm, aku sedang mencari teman untuk berbagi kamar denganku. Mungkin kau ma-, ...."
"Mau! Aku mau! Berapa depositnya?" Jemima segera mengangguk.
Senyum terukir di wajahnya yang sekarang sudah tak nampak letih dan kedua matanya berbinar ceria walaupun masih ada sisa luka gores di pipinya.
"Benarkah? Kau tidak perlu memikirkan deposit! Kalau bisa pindah secepatnya dari rumah neraka itu, Jemi. Aku sungguh-sungguh khawatir dengan keadaanmu," kata Ashley tulus.
Air mata menggenang di pelupuk mata Jemima. Dia menatap teman kerjanya itu dengan penuh haru. "Aku berterima kasih sekali padamu, Ash. Kau satu-satunya teman yang aku punya."
Setelah Jemima memutuskan untuk pindah, hari-hari gadis itu berjalan cepat.
Bahkan terlalu cepat untuk sempat berhenti dan mengingat hal-hal aneh yang pernah terjadi padanya.
Dia mengambil dua shift sekaligus untuk bisa menambah uang tabungannya dengan cepat dan karena kerajinannya, pemilik restoran memberikan Jemima bonus.
"Untukmu," kata pemilik restoran tersebut.
Jemima menggeleng pelan. "Apa ini, Tuan? Aku tidak bisa menerima ini tanpa alasan yang jelas."
Pemilik restoran itu bernama Tom Brown. Dia tersenyum sambil memaksa Jemima untuk menerima amplop cokelat kecil yang dia berikan. "Ini untuk kerajinanmu, keuletanmu, dan ketulusanmu menghadapi semua tamu restoran kita."
Dengan tangan gemetar, Jemima menerima amplop itu. "Terima kasih, Tuan Brown."
"Aku tau masalah yang terjadi di keluargamu dan aku berharap, kau bisa mendapatkan tempat yang terbaik yang bisa kau tinggali. Kau anak baik, Jemi," kata Tom lagi.
Jemima mengangguk penuh haru. "Aku pernah berpikir kalau aku hanya sendirian di dunia yang menyedihkan ini, tapi setelah aku membuka mataku dan memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh, aku menemukan banyak orang baik."
"Terima kasih sekali lagi untuk hadiah dan doa Anda, Tuan Brown," lanjut Jemima diiringi isak tangis.
Bonus dari Tom disimpan Jemima baik-baik. Dia tak ingin ayahnya tahu kalau dia memiliki uang tunai dalam jumlah cukup besar.
Sayangnya, hidung Leon berfungsi dengan sangat baik dalam mengendus harum uang baru.
"Kau punya uang? Sudah lama kau tidak memberiku uang, Jemi," kata Leon malam itu.
Jemima tidak menyahut dan melanjutkan makan malamnya seolah tak ada siapapun di ruang makan sempit itu.
Tak terima dengan sikap putrinya yang semakin berani, Leon menggebrak meja dengan kencang. "Jemi, jawab aku! Aku tau kau membawa uang di tasku!"
Namun, Jemima tak bergeming. Leon melemparkan cangkir melamin ke arah Jemima dan tepat mengenai dahinya.
Alih-alih mengaduh, Jemima melemparkan cangkir itu ke sudut ruangan. "Apa Ayah tau, aku membeli semua barang di sini dengan uangku? Tolong, hargai aku! Sekali ini saja seumur hidupmu, Ayah."
Leon tertawa, dia mendekati putrinya, dan mencengkeram kedua pipi Jemima dengan kasar. "Kau berani menasehatiku sekarang, huh!"
"Darimana sikap kurang ajarmu itu, Jemi? Jawab aku!" Suara Leon semakin meninggi.
Biasanya, Jemima akan mengerut ketakutan. Akan tetapi, kali ini dia membalas tatapan mata ayahnya dengan berani. "Ayah tidak pernah memperlakukan aku seperti seorang anak, jadi kupikir, aku tidak perlu bersikap sopan kepada Ayah."
Satu tamparan mendarat di pipi Jemima saat itu juga. "Dasar anak kurang ajar! Apa pukulanku kurang mendidikmu, huh!"
"Mana tasmu? Berikan tasmu padaku!" Seperti kesetanan, Leon menyambar tas Jemima dan menumpahkan seluruh isi tas itu.
Jemima tak mau kalah dan tak ingin kalah. Dengan cepat, dia mengambil amplop cokelat pemberian Tom tadi sore.
Sayangnya, Leon melihat pergerakan masif itu. Dia pun memukul Jemima sampai gadis itu tersungkur dan merebut amplop dari tangan kurus putrinya.
"Hahaha, berani-beraninya kau melawanku! Ini uang, kan? Ini yang kau sembunyikan dariku, kan? Bocah sialan!" Leon kembali memukul kepala putrinya dengan kasar dan segera pergi dengan seringai seram di wajahnya.
Jemima menangis tersedu-sedu. Dia memukul lantai dengan kepalan tangannya sampai tangan kecil itu terluka.
Keesokan harinya adalah akhir pekan dan Jemima sudah terlanjur mengambil jatah cuti untuk pergi ke tempat Ashley.
Namun, karena uangnya sudah diambil oleh Leon, dia menunda untuk pergi.
("Kenapa?") tanya Ashley dari panggilan telepon.
Jemima menceritakan apa yang terjadi tadi malam dan untungnya pemilik tempat tinggal Ashley mengizinkan Jemima untuk menunda pembayaran deposit.
"Benarkah?" tanya Jemima.
Ashley mengangguk tanpa terlihat. ("Ya, karena aku sudah membayar penuh untuk satu tahun. Kau tinggal membayar setengah yang deposit itu kepadaku dan kau bisa bayarkan itu kapan saja, Jemi.")
"Kau baik sekali, Ash. Baiklah, aku akan segera pindah ke sana dalam waktu dekat ini. Tunggu aku, ya," balas Jemima terharu.
Setelah panggilan telepon itu selesai, Jemima kembali ke rumahnya.
Dia bergegas mengambil koper dan memasukkan pakaiannya satu per satu. Tidak banyak pakaian yang dia miliki, begitu juga dengan barang, sehingga mudah baginya untuk memasukkan semuanya itu ke dalam koper.
Rencananya sudah sangat matang, sampai ketika Leon kembali ke rumah dan masuk ke dalam kamar Jemima.
"Mau ke mana kau, Jemi? Mau kabur?" tanya Leon galak. Kedua matanya sudah membulat dan menatap tajam putrinya. "Siapa bilang kau boleh pergi?"
Jemima tidak menjawab. Dia mundur sambil menyeret kopernya.
"Jemi, jawab aku!" tukas Leon dengan nada semakin tinggi. "Semakin hari kau semakin mirip ibumu! Kabur tanpa alasan dan tiba-tiba saja sudah menggatal bersama pria lain!"
Kedua tangan Jemima mengepal kuat. Dia tidak suka jika orang lain menyamakan dirinya dengan ibunya.
Bagi Jemima, ibunya sudah meninggal sejak dia dilahirkan.
"Siapa pria itu? Jawab, Jemi! Kalau tau pada akhirnya kau akan kabur seperti ibumu, sudah kujual kau dari dulu!" Leon mendekati Jemima dan mengambil kopernya. "Aku butuh uang dan kau satu-satunya aset yang kumiliki, hahaha!"
Pria tua itu memegang wajah putrinya dengan kedua tangannya yang dekil dan kotor. "Kalau kurapikan sedikit, aku yakin kau pasti laku, hahaha! Sudah saatnya kau bekerja untuk ayahmu ini, Jemi."
Jemima menyentak kedua tangan Leon dengan kuat. "Jangan perlakukan aku seperti gadis murahan, Ayah! Dan aku juga bukan ibu! Aku tidak punya ibu! Ibuku sudah mati!"
Leon tertawa terbahak-bahak sampai membungkuk. "Hahaha! Wajah manismu itu mirip sekali dengannya, Jemi!"
"Bedanya hanya kau lebih terhormat sedikit, hahaha!" Leon terus tertawa mengejek Jemima.
Jemima tak tahan, dia mendaratkan satu tamparan ke wajah ayahnya. "Aku bukan anak Ayah dan aku juga bukan anak ibu!"
Emosi Leon dengan cepat meledak. Dia mengambil ikat pinggang dari ranjang Jemima dan menyabet tubuh putrinya itu berkali-kali.
Jemima menutup kedua matanya dan berharap dia berpindah tempat. Dia masih ingin hidup. "T-tolong aku."
Tak lama, sinar menyilaukan memenuhi kamar Jemima dan gadis itu sudah kembali berada di ruang ajaib yang dianggap sebagai rumahnya.
Jemima segera tersadar. Dia melihat ke sekeliling dan ruang itu bertambah besar dari kali terakhir dia datang ke sana.
"Ini bagus sekali dan semakin luas," ucap Jemima.
Ada jendela berbentuk oval menghiasi dinding ungu ruang itu. Dua tanaman besar berada di sisi pintu dan sebuah lampu gantung menyala terang di atas kepala Jemima.
Tak hanya itu, ruangan itu menjadi seperti sebuah kafe dengan 4 kursi kecil dan 2 meja bulat. Di belakang kursi dan meja itu, ada meja bar dan display makanan.
Di belakang display makanan, terdapat mesin pembuat minuman. Jemima bersiul takjub. "Wow! Apa ini?"
Jemima berjalan menghampiri alat pembuat minuman itu, dia membuat segelas teh chamomile untuk dirinya sendiri.
Tepat saat itu, seorang pria membuka pintu ruangan ajaib dengan terseok-seok. Tak lama dia terjatuh begitu masuk ke dalam ruangan.
Tangannya berusaha menggapai Jemima. "T-tolong a-aku!"
***