"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Darurat.
Bumi Aksara terpaku di tempatnya. Belati militer di tangan kanannya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena gejolak emosi yang tertahan di kerongkongannya.
Gadis di depannya, kini telah berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan. Kulit wajahnya mengelupas seperti kertas terbakar, menyingkap jaringan otot yang berdenyut dengan warna kuning neon yang membuat mual.
[ Target Terinfeksi: Parasite Host - Peringkat: Adept.
Status: Kesadaran Manusia 5% – Menurun Cepat ]
"Tolong... lapar... sakit..." Suara gadis itu serak, tumpang tindih dengan desis aneh yang keluar dari perutnya.
Bumi mundur satu langkah, saat melihat punggung gadis itu muncul dua pasang kaki serangga yang tajam. Merobek seragam sekolahnya menjadi serpihan kain tak berbentuk. Matanya yang tadinya jernih kini putih seutuhnya.
[ Peringatan! Host telah diambil alih sepenuhnya. Target menjadi agresif! ]
KRAAAAA!
Gadis yang kini menjadi monster itu melompat dengan cepat. Tampak Bumi berguling ke samping, "Sial!" geram pemuda itu.
Bumi sempat berpikir ada cara untuk menyelamatkannya. Namun, [Visi Struktural] miliknya secara otomatis aktif, menunjukkan bahwa jantung dan otak gadis itu sudah tidak berdenyut secara alami. Seluruh struktur internalnya telah digantikan oleh filamen parasit yang menyerupai akar pohon yang membusuk. Secara medis, dia sudah mati sejak semenit yang lalu.
Sret!
Cakar monster itu menyambar lengan baju Bumi, merobek kain dan meninggalkan goresan tipis yang terasa panas.
[ Anda terkena efek: Corrosive Venom. Fisik 5 menetralkan racun dalam 3 detik. ]
"Maafkan aku," bisik Bumi. Matanya menyipit tajam. Cahaya ungu di pupilnya berpendar lebih terang dari sebelumnya.
Saat monster itu kembali menerjang dengan rahang yang terbuka lebar hingga ke telinga, Bumi langsung bergerak maju menabrakkan tubuhnya.
Bugh!
Pemuda itu lalu mencengkeram salah satu kaki serangga di punggung monster itu. "Structural... Decay!"
KRETEK!
Garis-garis retakan hitam menjalar dari telapak tangan Bumi, menghancurkan kaki serangga menjadi serpihan organik yang kering.
Monster itu melengking kesakitan, "WAAARGGHHH..!"
Namun Bumi belum selesai. Ia memutar tubuhnya, menggunakan momentum berat monster itu untuk membantingnya ke dinding gedung.
Lalu melompat ke atas tubuh monster itu, menekan lehernya dengan lutut. Ia mengangkat belati militernya tinggi-tinggi. Di atas kepala monster itu, titik putih kecil berdenyut pelan. Letak pusat kendali parasitnya.
"Istirahatlah," ucap Bumi dengan nada rendah yang bergetar.
JLEB!
Belati itu menembus tengkorak dengan sekali Serangan. Tubuhnya seketika kejang sebelum lemas dan diam dengan rahang menganga.
"Hah.. Ha.. Maafkan aku."
[ Anda telah membunuh Parasite Host (Adept).
Mendapatkan 200 Experience Point. ]
Bumi menarik nafas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya. Ia menatap mayat gadis itu. Ini adalah pertama kalinya ia membunuh sesuatu yang "pernah" menjadi manusia.
Rasa mual melilit perutnya, namun ia menelannya bulat-bulat. Di dunia yang kacau seperti ini, keraguan adalah tiket gratis menuju liang kubur.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari kegelapan di ujung gang yang tertutup kabut tipis.
"Eksekusi yang sangat halus untuk seorang pemula. Aku tidak menyangka masih ada 'emas' yang tersisa di tumpukan sampah seperti Sektor Ash ini."
Bumi seketika berdiri, memasang kuda-kuda siap bertarung. "Siapa di sana? Keluar!"
Dari balik bayangan sebuah truk sampah yang terbalik, muncul seorang pria dengan pakaian yang sangat kontras dengan situasi kiamat ini.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam rapi, rambutnya klimis, dan ia memegang sebuah tongkat jalan berkepala Naga. Di atas kepalanya, tidak menunjukkan peringkat,
[ Data Tidak Diketahui - Peringkat Melampaui Level Pengguna ]
"Tenanglah, Bumi Aksara. Aku bukan dari Unit Pembersihan. Orang-orang berseragam itu terlalu... membosankan. Tidak masuk seleraku," ucap pria itu sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana kau tahu namaku?" tanya Bumi dengan mengerutkan kening.
Pria itu terbahak pelan "Sistem ini transparan bagi mereka yang memang bisa membacanya. Dan harus Kau tahu, Aku bukanlah petarung seperti mu. Aku adalah seorang... kolektor. Aku sangat kagum atas potensimu saat kau menghancurkan pedang Kapten Yudha tadi."
"Kolektor?" Bumi menyipitkan mata. "Apa yang kau inginkan?"
"Hanya ingin memberimu sedikit peringatan. Kau sedang diburu, Bumi. Bukan oleh pemerintah saja, tapi oleh sistem itu sendiri. Kau adalah 'Anomali'. Seseorang yang naik level terlalu cepat tanpa melalui protokol yang mereka siapkan," pria itu melangkah mendekat, tongkatnya mengetuk aspal dengan suara yang seirama.
"Pemerintah menyebutnya 'Pembersihan', tapi bagi sistem, ini adalah 'Penghapusan Bug'. Dan kau.... adalah bug terbesar di zona ini."
Bumi merasakan bulu kuduknya berdiri. "Lalu untuk apa kau memberitahuku?"
"Karena permainan ini akan membosankan jika para master hanya di jadikan boneka pemerintah. Aku ingin melihat seberapa jauh seorang kasir bisa melangkah sebelum ia hancur," pria itu meraba saku jasnya dan mengeluarkan sebuah koin emas kecil dengan ukiran mata satu. Lalu melemparkannya ke arah Bumi.
Pemuda itu sigap menangkapnya. Saat menyentuh kulit, sebuah notifikasi sistem muncul.
[ Anda mendapatkan Item: Merchant’s Token (Unique)
Deskripsi: Memberikan akses ke Pasar Gelap Sistem satu kali. ]
"Gunakan itu saat kau merasa dunia sudah tidak punya jalan keluar lagi," ucap pria itu. Ia mulai berjalan mundur kembali ke dalam kegelapan. "Oh, dan satu lagi... Sahabatmu, Genta? Sebaiknya kau bergegas. Apartemennya tidak akan bertahan lebih dari sepuluh menit lagi."
Bumi tersentak. "Apa?! Bagaimana kau--- "
Belum selesai bertanya, pria itu sudah menghilang di balik kabut. Bumi tidak punya waktu untuk memikirkan identitas pria misterius itu.
Ada yang lebih penting!
Bumi memacu kakinya sekuat tenaga. Dengan Agilitas 5, ia melompati pagar-pagar beton dan berlari di atas atap mobil-mobil yang terbengkalai. Pikirannya melayang pada sahabatnya itu.
Genta, bukan petarung... dia hanya seorang jenius komputer yang mungkin saat ini sedang gemetar di balik meja belajarnya.
Saat Bumi sampai di depan kompleks Apartemen, pemandangan di sana jauh lebih buruk dari yang ia duga. Gedung empat lantai itu sedang dikepung oleh puluhan monster bersayap. Lebih parahnya lagi, di lantai dasar, beberapa prajurit Unit Pembersihan sedang memasang peledak di tiang-tiang penyangga gedung.
"Apa yang mereka lakukan?!" Bumi berbisik geram.
"Sektor ini sudah terlalu banyak terinfeksi!" teriak seorang komandan militer dari balik barikade. "Runtuhkan gedungnya! Jangan biarkan satu pun parasit keluar dari sini! Sterilisasi total!"
"Tapi masih ada orang di dalam!" teriak salah satu warga yang ditahan di pinggir jalan.
"Anggap saja mereka berkorban, demi yang lain! Pasang detonatornya!"
Bumi melihat ke arah lantai tiga, ke jendela kamar Genta. Ia melihat sebuah bayangan seseorang sedang melambaikan tangan dengan panik. Itu Genta. Dan di belakangnya, bayangan monster parasit mulai merayap di langit-langit kamar.
Bumi mengepalkan tinjunya kuat-kuat. Ia menatap detonator di tangan prajurit, lalu menatap monster di jendela Genta.
[ Sisa Waktu Detonasi: 30 Detik ]
Bumi menarik nafas panjang, menyalurkan seluruh energi Master-nya ke kaki dan tangannya. Tubuhnya mulai memancarkan uap tipis berwarna ungu.
Pemuda itu lalu melesat maju, namun tepat saat ia akan melompat, suara Genta terdengar dari alat komunikasi prajurit yang ia curi tadi, yang rupanya berhasil meretas frekuensi militer.
"Bumi! Jangan ke sini! Mereka memasang sensor tekanan! Kalau kau masuk, bomnya akan meledak lebih cepat! Lari, cepat! Selamatkan dirimu!"
Bumi berhenti mendadak di batas bayangan lampu sorot. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia melihat prajurit itu mulai menekan tombol aktivasi.
"Genta..." bisik Bumi.
Tepat di saat itu, layar sistem Bumi bergetar hebat dengan pesan berwarna hitam pekat yang menutupi seluruh pandangannya.
[ Misi Darurat: Pilihan Sang Sovereign.
Opsi A: Selamatkan sahabatmu dan hadapi ledakan (Peluang Bertahan Hidup: 5%)
Opsi B: Biarkan gedung runtuh dan serap energi kematian di dalamnya untuk naik ke posisi Nomor 1 Regional secara instan. ]
Bumi menatap layar itu dengan mata yang memerah. Tangannya gemetar di atas belati.
Ia mendongak, dan mendapati drone yang sedang mengawasi nya.
"Ah, ternyata kalian sebuah mengujiku...?"
****