"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Jatah Pertama
Dea refleks menegang saat mendengar ucapan ambigu sang boss. Dea tahu bahwa Alex memanglah playboy cap badak yang tak tahu malu, tapi siapa sangka pria ini benar-benar vulgaaar. Baru beberapa menit mereka menikah dan sekarang bicara main denganku.
Main APA??
Astaga.
“Main apa?” tanya Dea, pura-pura bodoh, pura-pura tak tahu bahwa maksud sang boss adalah permainan mesyum!
Tapi pikiran Dea memang tidak seliar itu, dia tak paham maunya main uang bagaimana.
Alex kemudian mengangkat alis. “Permainan suami dan istri, semalam kamu melakukannya dibawah kendali alkohol. Sekarang aku ingin kamu melakukannya saat sadar," terang Alex yang selalu blak-blakan.
'Astaga pria ini,' batin Dea benar-benar tak menyangka. Pria paling mesyum yang pernah dia kenal seumur hidup. Super hyper!
Tapi bagi Alex ini adalah hal wajar yang seharusnya dia dapatkan. Sekarang Dea sudah sah menjadi istrinya, jadi alangkah sia-sianya jika dia membiarkan Dea pergi sebelum mereka bersenang-senang.
Akhirnya Dea hanya mampu menelan ludah kasar. “Kita baru beberapa jam menikah, Tuan. Dan semalam juga sudah melakukannya, tidak bisakah istirahat dulu.”
“Alex,” koreksinya pelan. “Panggil aku Alex, itu juga bagian dari kontrak tidak tertulis," pintanya lagi, bukannya menjawab ucapan panjang lebar Dea, dia malah membahas tentang panggilan ini.
Tanggapan yang bagi Dea sangat tidak penting.
Dea kemudian menghela napas, lalu mengangguk kecil. “Baik, Alex," jawabnya patuh.
"Ulangi lagi."
"Alex."
"Ucapkan dengan lebih manja."
"Jangan berlebihan mengaturku," balas Dea yang reflek bicara dengan nada tinggi.
Sungguh perubahan hubungan mereka saat ini masih sangat sulit untuk Dea terima, seolah akhirnya Dea melihat sisi lain Alex yang tak pernah dia lihat secara langsung selama ini.
"Baiklah, panggil namaku sekali lagi," pinta Alex.
"Alex," balas Dea setengah kesal.
Tapi Alex malah tersenyum tipis, entah kenapa ketika mendengar namanya disebut oleh sang sekretaris rasanya terdengar seksi sekali. Alex baru menyadarinya kini, sebab selama ini hubungan mereka memang sangat profesional.
Tapi sekarang jelas semuanya sudah berubah, rasa nikmat tubuh Dea bahkan tak pernah Alex rasakan di tubuh-tubuh wanita yang lain. Mungkin inilah efek perrawan, rasanya membuat Alex kecandduan.
Alex lalu mendekat, kali ini benar-benar berhenti tepat di depan Dea. Tangannya terangkat, menyentuh dagu Dea untuk mengangkat wajah cantik ini sedikit. Agar dia bisa melihat semakin jelas kecantikan sang sekretaris.
"Semakin kulihat wajahmu jadi semakin cantik," puji Alex, sang Casanova seolah baru saja menyebar racunnya.
"Sepertinya kamu lupa, Lex. Kemarin kamu juga memuji nona Serine seperti itu," balas Dea.
"Benarkah? Aku benar-benar lupa. Sekarang hanya kamu yang terlihat paling cantik."
'Huwek!' batin Dea.
"Aku akan segera mengakhiri hubungan dengan Serine, sekarang hanya kamu yang akan ku sentuh," ucap Alex lagi.
Dea terdiam, mulai merasakan tangan Alex yang menggerayangi tubuhnya. Satu tangan bahkan sudah masuk ke dalam baju dan menyentuh kulit pinggangnya secara langsung.
Pria ini mungkin memang menyebalkan, tapi ketampanan Alex tak mampu Dea pungkiri juga. Bahkan sentuhannya yang keras membuat Dea mudah terbawa arus.
Alex kemudian duduk di sofa dan menarik Dea agar duduk di atas pangkuannya.
"Lepas bajumu," pinta Alex.
Dea menelan ludah kasar, semalam dia mabuk jadi tak malu meski tellangjang bulat. Tapi sekarang Dea sadar seratus persen, bagaimana mungkin dia bisa melepas bajunya di hadapan sang boss.
"Tuan_"
"Alex."
"Aku tidak bisa melakukannya, Lex," ucap Dea lirih, dia benar-benar malu.
"Tapi sekarang kita sudah menikah De, ini bukan kesalahan."
Dea menghela nafas kasar, coba meresapi apa yang baru saja disampaikan oleh sang boss bahwa sekarang mereka memang sudah menikah. Bahwa apa yang akan mereka lakukan sekarang adalah sebuah kewajaran, bukan dosa besar.
'Benar, bagaimanapun awal mula semua ini tapi sekarang aku dan Alex sudah menikah. Tidak apa-apa melakukannya De, tidak apa-apa.' batin Dea.
"Tapi, tidak bisakah kamu saja yang melepas bajuku?" tanya Dea kemudian.
Alex menggeleng kecil, "Aku ingin melihatmu melepas semuanya sendiri."
Dea tak kuasa berkata-kata lagi, tahu jika saat ini dia sedang memuaskan fantasi sang boss.
Dengan sangat hati-hati akhirnya Dea mulai bergerak untuk melepaskan baju yang dia pakai, kini bagian atas tubuhnya hanya menyisakan braaa sebagai pelindung akhir.
Kedua gundukan sintalnya nampak jelas di hadapan Alex, nampak penuh dan menggairahhkan. Dea seksi sekali di mata Alex saat ini, pinggangnya ramping dan dadda sedang. Kulit putih mulus dan ada tahi lalat di tengah-tengah daddanya.
Sumpah, dia pun tak menyangka jika tubuh Dea begitu indah. Tau. begini sejak dulu dia menggoda sang sekretaris.
"Sekarang lepas bajuku," titah Alex kemudian.
"Kenapa terus memintaku melakukan ini itu, tidak bisakah langsung saja ke intinya," balas Dea, langsung tancap dan sudah, tidak usah banyak basa-basi. Karena tiap perintah Alex membuatnya begitu malu.
Namun Alex tak pernah benar-benar mendengarkan Dea, dia terus bicara seusia keinginannya sendiri. "Lakukan," pintanya dengan suara berat.
Dea menghela nafas kasar, agar semuanya cepat selesai akhirnya Dea menuruti apapun perintah sang boss. Tubuhnya kini sudah setengah tellangjang dan Dea mulai melepaskan kemeja hitam yang dipakai oleh Alex.
Tangan Dea sedikit gemetar saat dia melihat dadda Alex mulai muncul, ini adalah hal paling gila bagi Dea, karena dia membuka baju sang boss.
Tapi sudahlah, semua sudah kepalang basah. Dea melepas baju itu dan bahkan membuangnya sembarangan.
Dea reflek memejamkan mata saat Alex mulai menciumi leher dan dan kedua daddanya secara bergilir.
Dengan kesadaran penuh kini keduanya bercinta di atas sofa ruang tengah tersebut. Mulut Dea yang awalnya diam perlahan bersuara mengeluarkan kata ah ah ah.
Kejantanan Alex memang tak mampu ditandingi oleh apapun. Sampai rasanya tubuh Dea lemas sekali, sebab berulang terbang ke nirwana.
Entah di menit ke berapa sampai akhirnya Alex mendapatkan kepuasan, di saat itulah dia baru rela melepaskan diri dari tubuh sekretarisnya.
Dea sudah terkulai lemas, rasanya ingin mengubah surat kontrak. Harusnya dia minta durasinya cukup 30 menit, tidak selama ini. Seharusnya Alex bebas menjalin hubungan dengan siapapun selama mereka menikah, tidak harus dengannya saja.
Sungguh, rasanya Dea tak sanggup melayani semua kegilaan sang boss.
“Ini adalah jatah pertama ku sebagai suami, bersiaplah untuk jatah-jatah selanjutnya," ucap Alex.
"Tapi aku harus pulang dulu," ucap Dea lemah, mencoba duduk dengan sempurna.
"Pergilah, gunakan kartu ini sesukamu," ucap Alex, dia menyerahkan sebuah kartu debit pada Dea.
Alex letakkan di atas meja dan Dea menatapnya dengan tatapan kosong.
"Ayo kumandikan sebelum pergi," ucap Alex yang juga langsung menggendong Dea di depan tubuhnya.
Apa Dea bisa menolak, tidak.
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..