NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi

Pergi. Kata itu terbentuk dalam benaknya, bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai satu-satunya kesimpulan yang logis. Jika kehadirannya adalah sebuah aib yang harus disembunyikan Darian, maka ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus pergi.

“Queenora?” Suara lembut Adreine memecah lamunannya. Wanita itu masih menggenggam tangannya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Queenora yang dingin sedingin es.

“Jangan biarkan kata-kata di televisi itu meracunimu, Nak. Darian melakukan itu untuk melindungimu.”

Queenora menggeleng pelan, matanya masih terpaku pada layar hitam televisi yang telah dimatikan.

“Dia melindungi seorang korban, Bu. Dia membela seorang ibu susu. Tapi dia tidak mengakui… saya.” Suaranya serak, setiap kata terasa seperti menelan serpihan beling.

“Media itu kejam. Mereka akan memutarbalikkan segalanya jika Darian mengaku,” Adreine mencoba memberi pengertian, meskipun ia tahu ada kebenaran dalam kepedihan gadis itu.

“Dia hanya membeli waktu.”

“Waktu tidak akan mengubah apa pun,” bisik Queenora, lebih pada dirinya sendiri.

“Saya adalah noda di kertas putihnya. Semakin dia mencoba membersihkannya, semakin noda itu menyebar. Satu-satunya cara agar kertas itu kembali bersih… adalah dengan menyingkirkan nodanya.” Ia menarik tangannya dari genggaman Adreine dengan lembut dan bangkit berdiri. Gerakannya kaku, seperti boneka kayu yang talinya nyaris putus.

“Saya lelah, Bu. Saya mau istirahat.” Adreine menatapnya dengan cemas.

Ia melihat kerapuhan di bahu gadis itu, tetapi juga ada sesuatu yang lain di matanya sebuah ketetapan hati yang dingin dan sunyi. Sebuah ketetapan hati yang membuatnya takut.

“Baiklah, Nak. Panggil Ibu jika kau butuh sesuatu.”

Queenora hanya mengangguk sebelum berjalan menuju kamarnya, setiap langkah terasa berat, seolah ia menyeret seluruh beban skandal itu di punggungnya.

Ia tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang dalam kegelapan, menunggu. Menunggu suara langkah kaki Darian yang kembali, menunggu rumah itu tenggelam dalam keheningan malam, menunggu saat yang tepat untuk menghapus dirinya dari kehidupan mereka.

Sekitar tengah malam, ia mendengar suara mobil Darian memasuki halaman, diikuti oleh langkah-langkah berat pria itu di lorong menuju ruang kerjanya. Queenora menarik napas dalam-dalam, mengambil secarik kertas dan pulpen dari laci nakas. Tangannya gemetar hebat saat ia mulai menulis.

Tuan Darian, Maafkan saya. Saya tahu Anda melakukan yang terbaik untuk melindungi saya, tetapi saya sadar kehadiran saya hanya akan menjadi senjata bagi musuh-musuh Anda. Madam Estrel akan menggunakan saya untuk menghancurkan Anda, untuk mengambil Elios.

Air matanya menetes, membuat noda pada tinta yang masih basah.

Anda menyebut saya pahlawan bagi Elios, dan saya akan selamanya berterima kasih untuk itu. Sekarang, izinkan saya benar-benar menjadi pahlawannya dengan cara satu-satunya yang saya tahu, dengan menyingkirkan sumber masalahnya. Saya.

Saya pergi bukan karena saya tidak percaya pada Anda, tetapi karena saya terlalu percaya. Saya tahu Anda akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk saya, dan saya tidak bisa membiarkan Anda kehilangan segalanya karena masa lalu saya yang kotor. Anda dan Elios pantas mendapatkan kedamaian.

Jaga Elios baik-baik. Katakan padanya, suatu saat nanti, bahwa ibu susunya ini sangat mencintainya. Jangan cari saya. Ini yang terbaik untuk semua orang. Anda akan lebih kuat tanpa saya.

Queenora.

Dengan tangan gemetar melipat surat itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya di atas bantalnya. Ia tidak membawa apa pun selain pakaian yang melekat di badan dan sedikit uang yang pernah diberikan Adreine untuk membeli keperluan pribadi.

Setiap barang di kamar itu terasa seperti milik Darian, milik kehidupan yang bukan haknya. Langkah terakhir adalah yang paling menyakitkan.

Ia melangkahkan kaki, berjalan tanpa suara menyusuri lorong yang gelap, berhenti di depan pintu kamar Elios.

Tangannya terangkat, ingin membuka kenop pintu itu, ingin memeluk dan mencium aroma bayi itu untuk terakhir kalinya. Tapi ia tidak bisa. Jika ia melakukannya, ia tidak akan pernah bisa pergi.

Maka, ia hanya menempelkan telapak tangannya di permukaan pintu yang dingin, memejamkan mata, dan membisikkan selamat tinggal yang tak terdengar.

“Aku mencintaimu, Nak. Sangat mencintai mu.”

Dengan hati yang hancur berkeping-keping, ia berbalik dan berjalan menuruni tangga, melintasi ruang tamu yang sunyi, dan membuka pintu depan sepelan mungkin.

Udara malam yang dingin menyambutnya seperti tamparan, menyadarkannya akan kesendirian yang akan ia hadapi. Ia melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya, dan menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan sangkar emas yang sempat ia sebut rumah.

***

Darian membanting pintu ruang kerjanya, melempar jasnya ke sofa dengan kasar. Adrenalin dari konferensi pers mulai surut, meninggalkan kelelahan yang luar biasa dan amarah yang masih membara. Ia berhasil.

Ia telah membela Queenora, membalikkan narasi media. Sekarang, ia hanya perlu memastikan gadis itu baik-baik saja, menjelaskan strateginya, meyakinkannya bahwa kata ‘tidak relevan’ adalah perisai, bukan penolakan.

Pria itu berjalan menuju kamar Queenora, hatinya sedikit berdebar. Ia membuka pintu tanpa mengetuk.

“Queenora, aku…” Kalimatnya mati di tenggorokan.

Kamar itu kosong.

Rapi.

Terlalu rapi.

Ranjangnya mulus, seolah tidak pernah ditiduri. Dingin dan tidak bernyawa.

Matanya menyapu ruangan, mencari tanda-tanda kehidupan, dan berhenti pada secarik kertas putih yang terlipat rapi di atas bantal.

Sebuah firasat buruk yang sedingin es merayap di tulang punggungnya. Dengan langkah ragu, ia mendekati ranjang dan mengambil surat itu.

Tangannya sedikit gemetar saat ia membukanya. Ia membaca setiap kata, lalu membacanya lagi, tidak percaya. Kata-kata itu kabur di depan matanya, setiap kalimat adalah pukulan telak ke perutnya.

Menyingkirkan sumber masalahnya.

Saya.

Jangan cari saya.

Anda akan lebih kuat tanpa saya.

“Tidak…” bisiknya serak.

“Tidak, tidak, tidak!”

Ia meremas surat itu di tangannya, rasa panik yang liar mencengkeram dadanya. Darian berlari keluar kamar, meneriakkan namanya.

“Queenora!

QUEENORA!”

Suaranya menggema di rumah yang sunyi. Ia memeriksa kamar mandi, dapur, teras belakang.

Kosong.

Semuanya kosong.

Dia benar-benar pergi.

Gadis bodoh itu benar-benar meninggalkannya.

Amarah dan ketakutan bergejolak dalam dirinya. Ia berlari ke ruang keluarga, tempat lampu kecil masih menyala, dan menemukan ibunya duduk di sana, menatapnya dengan sorot mata sedih yang seolah sudah tahu segalanya.

“Di mana dia?” tuntut Darian, napasnya tersengal-sengal.

“Ibu tahu dia pergi, kan? Kenapa Ibu tidak menghentikannya?” Adreine menatap putranya dengan tenang.

“Bagaimana kau bisa menghentikan seseorang yang merasa dirinya adalah racun, Darian? Dia pikir kepergiannya adalah penawar.”

“Itu omong kosong!” bentak Darian, mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi.

“Dia butuh aku! Aku harus melindunginya! Aku akan mencarinya sekarang!” Ia berbalik, hendak menyambar kunci mobilnya, tetapi suara ibunya yang tegas dan menusuk menghentikan langkahnya.

“Biarkan dia pergi, Darian.” Darian membeku, lalu berbalik menatap ibunya dengan tidak percaya.

“Apa? Ibu… Ibu membiarkannya pergi begitu saja?”

“Dia tidak lari darimu,” kata Adreine lembut, bangkit dari duduknya dan mendekati putranya yang gemetar karena amarah.

“Dia mencari dirinya sendiri. Mencari nilai dirinya di luar perannya sebagai korban atau sebagai ibu susu Elios. Kau tidak bisa memberikannya itu.”

“Aku bisa memberinya segalanya!” raung Darian.

“Keamanan! Perlindungan! Aku bisa memberinya keadilan!”

“Tapi kau tidak bisa memberinya harga diri yang kau renggut sore ini,” balas Adreine, suaranya kini setajam pisau.

“Kau membelanya di depan dunia sebagai korban yang menyedihkan, tapi kau malu mengakuinya sebagai wanita di sisimu. Kau pikir dia tidak merasakannya? Dia pergi karena kau membuatnya merasa seperti aib!” Kata-kata itu menghantam Darian lebih keras dari pukulan mana pun.

Rasa bersalah yang tajam menusuknya. Benar. Ibunya benar. Dalam usahanya untuk melindunginya secara strategis, ia telah menghancurkannya secara emosional.

“Aku… aku akan memperbaikinya,” katanya putus asa, matanya mulai memerah.

“Aku akan menemukannya dan aku akan memperbaikinya.” Ia kembali bergegas menuju pintu, tekadnya kini membara dua kali lipat. Tapi sekali lagi, Adreine menghentikannya.

“Kau lebih baik urus masalah yang lebih mendesak, Darian.” Ponsel Darian di sakunya bergetar hebat. Panggilan masuk dari kepala keamanannya. Ia mengabaikannya.

“Tidak ada yang lebih mendesak dari Queenora!”

“Oh, ya?” Adreine mengangkat alisnya.

“Ponselmu sudah bergetar tanpa henti sejak kau tiba. Mungkin ini tentang alasan lain mengapa dia merasa harus pergi secepat ini. Mungkin seseorang memaksanya.”

Jantung Darian mencelos. Firasat buruk yang baru dan lebih gelap menyelimutinya. Dengan tangan yang gemetar, ia akhirnya mengeluarkan ponselnya dan menjawab panggilan itu.

“Ada apa, Bram?” Hening sejenak di seberang sana, sebelum suara tegang kepala keamanannya terdengar.

“Tuan, ada masalah besar. Kami baru saja memeriksa rekaman CCTV di gerbang depan, sesuai protokol standar saat ada yang keluar masuk di jam seperti ini.”

“Lalu?!” desak Darian tidak sabar.

“Nona Queenora berjalan kaki keluar dari kompleks perumahan sekitar satu jam yang lalu. Tapi… dia tidak pergi sendirian, Tuan.” Darian menahan napas.

“Apa maksudmu?” Suara Bram terdengar ragu, seolah ia sendiri tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor sudah menunggunya di tikungan jalan. Dia masuk ke mobil itu. Kami tidak bisa mengidentifikasi siapa yang ada di dalam, Tuan. Tapi sepertinya… dia dijemput.”

1
Jj^
semangat update Thor 🤗
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
Realrf
ma aciwww 😘
Indah MB
bacanya kayak makan permen nano nano ... manis asam asin rame rasanya .... selalu penasaran
Indah MB
lanjut ya thor... jgn berenti sampai di sini
Indah MB
atau jangan jangan , si Luna yg g pernah melahirkan, dan anaknya queenora yg diambil menggantikan anak luna yg meninggal... bisa aja kan?
Nar Sih
jgn ,,foto yg dilihat queenora adalah poto org di msa lalunya
Indah MB: mungkin foto org yg melecehkannya.. kan dia hamil
total 1 replies
Nar Sih
semagatt ya queenora💪
Realrf
hasek 💃💃💃💃
Nar Sih
kak thor sbr nya aku msih bingung dgn cerita queenora yg tiba,,keguguran trus msa lalu nya siapa ayah dri byi nya
Realrf: 🤭🤭🤭 pelan pelan ya ... pelan kita buka siapa dan mengapa
total 1 replies
Nar Sih
sabarr queenora yaa,hti mu yg bersih dan niat mu yg tulus demi nyawa seorang byi yg hampir dehidrasi smoga kebaikan mu dpt blsn bahagia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!