Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HILANG LAGI
“Sekarang TV yang hilang! Besok apalagi?!” Bentak Farid dengan suara parau penuh amarah.
Nafasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Maira, istrinya yang berdiri terpaku di dekat sofa ruang keluarga.
Ruang itu kini tampak kosong. TV 50 inci yang biasanya menjadi pusat perhatian saat sedang bersantai hilang. Meja TV dibiarkan terbuka dengan kabel berserakan di lantai.
Maira tertegun. Wajah teduhnya memucat, seperti kehilangan warna. Ia memandang kosong ke arah tembok putih yang kini terlihat lebih sepi.
“Aku… aku juga baru tahu Mas...” Gumamnya pelan dan sedikit takut-takut.
Farid menggeram marah. “Jangan bilang kamu nggak tahu! Keluarga yang selalu kamu bela mati-matian itu selalu di rumah ini, masa mereka nggak sadar kalau TV hilang?!”
Maira menggigit bibir bawahnya. Ia tahu suaminya marah bukan hanya karena televisi itu hilang, tapi karena ini bukan pertama kalinya ada barang di rumah mereka yang raib tanpa jejak.
Tepat saat itu juga, wanita paruh baya yang merupakan Ibu dari Maira muncul dari arah belakang, melenggang santai sambil membawa secangkir teh, seolah kehilangan barang itu bukan urusannya.
Maira langsung mendekat, berusaha agara emosinya tak ikut tersulut. “Bu...” Panggilnya dengan nada hati-hati, “Ibu kan seharian di rumah ini… Ibu nggak lihat siapa yang bawa pergi TV di ruang tengah?”
Bu Susi melirik sekilas ke arah anaknya, lalu ke arah Farid yang masih berdiri dengan wajah tampak masih penuh emosi.
Ia berdecak pelan. “Ck… cuma masalah TV doang, pakai diributin segala. Kalian kan masih bisa beli lagi!” Ujar Bu Susi dengan enteng sambil mengangkat bahu.
Ucapannya meluncur begitu saja seperti pisau yang menusuk ego Farid dalam. Pria itu menghela napas berat, matanya menajam menatap ke arah mertuanya yang terlihat tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Pandangannya beralih ke arah istrinya. Tatapan tajamnya seolah berbicara lebih banyak daripada mulutnya. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah cepat ke luar rumah. Pintu depan dibanting keras hingga bergetar.
Maira menutup mata sesaat, dadanya terasa sesak.
Semenjak keluarganya turut ikut tinggal di rumah peninggalan almarhum ayahnya, rasanya hubungan ia dan suaminya selalu diwarnai dengan pertengkaran. Tak pernah lagi ada kata damai dalam kehidupan rumah tangganya.
Di awal, Farid memang sudah menunjukkan keberatannya. Ia tak setuju saat Maira mengatakan bahwa Ibunya—beserta suami dan adik tiri Maira—akan ikut tinggal bersama mereka.
Tapi Maira hanya bisa mengangguk saat ibunya bersikeras. Ia sudah mencoba memberi jalan tengah, mencarikan kontrakan untuk ibunya dan bahkan berniat membayarnya sendiri selama beberapa bulan ke depan. Tapi ibunya, Bu Susi menolak mentah-mentah.
“Ngapain bayar kalau bisa tinggal di rumah sendiri?” Katanya ringan.
Padahal rumah itu bukan “rumah sendiri”, melainkan rumah peninggalan almarhum ayahnya untuk Maira dan menjadi tempat tinggal utama Maira dan Farid setelah mereka menikah.
Tapi Bu Susi yang dulu pergi meninggalkan suami dan Maira saat masih berusia 4 tahun, kini datang kembali dan menganggap rumah yang ditinggali oleh Maira juga ada haknya di dalamnya.
Oleh karena itulah ia kekeuh ingin tetap tinggal disana hingga menyebabkan masalah yang tak pernah ada habisnya.
Seperti hari ini soal TV hilang, kemarin rice cooker lenyap dan minggu lalu Farid ribut karena motornya dipakai ayah tiri Maira tanpa izin. Semua itu menumpuk, menciptakan bara yang perlahan membakar hubungan mereka.
“Apa harus begini terus?” Bisik Maira lirih saat ia sudah merasa sangat lelah dan terduduk di sofa menatap kosong pada dinding.
"Suami kamu itu nggak tahu diri. Udah numpang tinggal disini, tv hilang marah-marah. Padahal bukan dia yang beli..." Celetuk Bu Susi tanpa rasa bersalah.
Maira menatap ke arah ibunya, pelan tapi tajam. Tangan yang tadi memijat pelipis kini berhenti. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena takut… tapi karena amarah yang selama ini ia kubur sudah mulai menuntut untuk keluar.
“Ya memang bukan Mas Farid yang beli, Bu." Suaranya mulai bergetar. “Tapi aku yang beli! Dari hasil kerjaanku! Ibu pikir itu nggak pakai uang?!”
Bu Susi terbelalak, terkejut karena Maira membalas dengan nada keras. “Loh… kok kamu malah bentak Ibu?” Nada suara Bu Susi langsung naik karena tak terima dengan bentakan dari Maira.
“Ibu yang mulai duluan!” Balas Maira, suaranya tak lagi bisa ia tahan. “Ini bukan pertama kalinya barang di rumah hilang, tapi Ibu selalu nyepelein semuanya. Memang Ibu nggak ngunci pintu rumah sampai orang luar bisa masuk dan nyuri barang disini!"
Bu Susi diam sejenak, tapi hanya sedetik. Lalu ia dengan enteng menjawab. "Tapi kan Ibu ngomong bener, duit kamu banyak ya tinggal beli lagi, nggak perlu ungkit-ungkit barang yang hilang. Siapa suruh kamu nggak ngasih uang ke Danu, dia butuh duit, makanya…”
Maira membeku, matanya membulat. “Apa…?”
Bu Susi tersadar mulutnya keceplosan. Matanya membelalak dan ia segera menutup mulutnya sendiri. Tapi semuanya sudah terlambat. Kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan itu sudah telanjur keluar dan menggema di telinga Maira.
“Jadi… Danu yang bawa pergi barang-barang di rumah? Untuk apa Bu? Untuk dia jual?" Suara Maira semakin meninggi.
“Bukan gitu maksud Ibu—” Bu Susi mulai gugup, nadanya tak sekasar tadi. “Adik kamu tuh butuh uang, terus dia bilang ke Ibu. Ibu pikir ya udah lah, toh kamu bisa beli lagi. Buat apa diributin…” Cerocosnya dengan nada mulai melemah namun tetap tak mau kalah.
Maira menatap ibunya seperti sedang melihat orang asing. Ia tak percaya jika selama ini Ibunya tahu mengenai siapa yang mengambil barang-barang di rumahnya dan malah menutupinya.
Ia berdiri pelan. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih tapi karena marah.
“Aku kerja dari pagi sampai malam, Bu. Apa Ibu pikir uang untuk beli semua barang yang hilang turun dari langit!"
Bu Susi yang masih tetap kekeuh merasa tak bersalah sedikitpun meletakkan cangkir teh yang tadi berada di tangannya ke atas meja. Ia membalas tatapan Maira dengan tajam.
"Kamu!" Tunjuknya tepat di depan wajah Maira. "Ingat Danu itu adik kamu, kenapa kamu terlalu perhitungan sama dia? Lagian juga ini salah kamu sejak awal yang nggak pernah lagi ngasih jatah bulanan untuk dia!"
Maira membulatkan mata, dadanya naik turun menahan gejolak. Ia maju selangkah, tak lagi peduli pada status ibu yang selama ini ia hormati. “Adik?! Adik dari mana, Bu?! Danu itu adik tiri dan bukan bukan tanggung jawabku!”
Suasana ruang tamu mendadak tegang. Bu Susi membuka mulutnya, ingin memotong tapi Maira keburu melanjutkan dengan suara yang nyaris bergetar.
“Selama ini aku udah cukup sabar Bu. Aku yang bayarin sekolahnya sampai lulus. Aku juga yang beliin motor untuk dia, dan aku juga yang kasih uang jajan tiap bulan." Maira menepuk dadanya sendiri, emosinya pecah.
“Danu udah tamat sekolah, udah cukup umur! Harusnya dia cari kerja, bukan malah duduk main game tiap hari di rumah!"
Bu Susi mengerutkan kening, wajahnya memerah. “Kurang ajar kamu ya! Gimana pun dia tetap adik kamu! Kamu pikir kamu bisa hidup enak gini karena siapa?!"
"Karena ayahku Bu!" Potong Maira dengan cepat. "Rumah ini, restoran itu, dan semua yang aku punya hasil perjuangan dari ayahku, bukan karena ibu. Apa ibu lupa gimana dulu ibu ninggalin aku dan memilih pergi sama laki-laki itu?"