"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Bab lima
Akhirnya Nabila memberanikan diri masuk ke ruangan Alka yang bagai rumah hantu, horor bin menakutkan.
"Permisi, Pak." ucap Nabila di depan Alka seorang dosen yang sibuk menulis tapi entah apa yang di tulis Nabila bodoh amat.
"Ya?" Jawab Alka singkat.
"Maaf Pak saya mau perbaikan karena---,"
"Yang jelas kalau bicara, sebutkan nama dan semesternya!" potong Alka.
"Huh! masak sih harus sebut nama orang dia sudah tahu siapa, gue." batin Nabila.
Sabar....
Sabar......
"Saya Nabila mahasiswi Bapak kelas AD yang mau semester delapan." ucap Nabila.
"Mau apa kamu?" kata Alka datar, padat dan nyelkit.
"Saya mau perbaikan nilai pak."
"Kenapa?"
"CK! Masih nanyak."
"I-tu Pak, nilai saya dapat C dalam empat mata kuliah," sahut Nabila yang sebenarnya malu menyebutnya dapat nilai C.
"Mau mintak perbaikan seperti apa? Makanya kalau waktunya kuliah yang rajin, jangan sering bolos."
"Maaf Pak, saya tidak pernah bolos selama satu semester terkahir ini, Bapak bisa cek sendiri apsen saya!" enak saja nuduh.
"Tidur di kelas sama saja dengan bolos!"
Nabila menatap Alka jengah.
"Jadi alasan saya di kasih C karena tidur di kelas itupun hanya sekali doang, nggak adil banget." bela Nabila dengan nada ngedumel.
"Saya memang bukan Tuhan yang maha adil "
"CK! tapi nggak juga kali Pak."
"Silahkan keluar kalau tidak mau perbaikan, dan resikonya tanggung sendiri." kata Alka datar sedatar tembok berlapis-lapis.
"Ma-af, tidak Pak. Saya mau perbaikan," urai Nabila akhirnya mengalah ia tidak mau nilainya hancur gara-gara hanya maat kuliah Alka.
"Hubungi saya, akan saya kirim lewat WA."
"Wht?" Nabila tertegun pasalanya Nabila sangat enggan menghubungi manusia menyebalkan itu.
"Kenapa, tidak mau?"
"Bukan Pak, maksud saya kapan saya harus menghubungi Bapak, ada jam tertentu?"
"Kalau kamu tahu sopan santun, pasti tahu waktu yang pas menghubungi gurunya."
"Oh Tuhan, izinkan saya pergi ke tukang pelet!" batin Nabila.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi." Nabila segera pergi dari ruangan Alka.
Beberapa saat kemudian tiba waktunya istirahat, Nabila sedang makan siang bersama temannya Sisil dan yang lain ikut bergabung.
Mereka saling sering berhubung mereka sebentar lagi memasuki semester akhir, mereka membahas soal ujian terakhir termasuk siapa dospennya nanti.
"Gue ingin sekali dospinya Pak Alka, secara dia tampan banget tahu, jadi ini kesempatan bisa dekat-dekat dengan beliau." ujar salah satu temen satu angkatan Nabila.
"Kalau gue mah ogah punya dospin kayak dia, orangnya seperti muster yang ada gue jantungan setap saat, mana pelit sama nilai." keluh Nabila bergidik ngeri misal dapat dospin dosen killernya.
"Jantungan gimana Nab? jantungan gara-gara getaran cinta bisa aja lo!" ledek Sisil.
"Hah? cinta, maksud lo gue bisa cinta sama tuh orang! Nggaklah, karena itu orang galaknya sejagat raya, mana ada cewek jatuh cinta sama dia. Mana gue di siksa sama tugas yang kelar-kelar oleh dia." Nabila kesal dengar ucapkan Sisil tadi.
"Jangan gitu Nab, takdir nggak ada yang tahu lo!" ucap Sisil tersenyum.
"Huh! nggaklah. Gue baka usaha lewat do'a. Kamu sih Sil, nggak tahu kenyataan gue gimana itu dosen sama gue selama ini, lo lihat sendiri gue di kasih nilai C padahal yang lain tidak, gue juga sudah ngumpulin semua tugas dan tepat waktu. Sumpah gue pengen cepat lulus biar tidak berurusan lagi sama tuh dosen kanibo!" Nabila bahkan menunjuhkan ekperesi tidak sukak.
"Begini kerjaan mahasiswi jaman sekarang?" ucap Alka tiba-tiba di belakang Nabila.
Shontak bola mata Nabila membulat sempurna.
"Sil, jadi dia ada di sini?" bisik Nabila pada Sisil.
"Gue juga tidak tahu Nab, kalau Pak Alka ada sini, tiba-tiba," sahut Sisil sambil menggigit bibir bawahnya.
Mereka berdua saling tatap dan juga gemetteran karena ketahuan ngegosib dosennya sendiri, mana terkenal dingin.
"Si-ang Pak," sapa Nabila kikuk.
"Mati gue!" batin Nabila.
"Saya tunggu kamu di ruangan saya sekarang," ucap Alka. Kemudian berlalu.
"Nah kan! dia seenak jidatnya sendiri." ucap Nabila kesal, sedang ia makan saja belum, baru saja di antar dan Alka sudah memintanya datang tepat sekarang juga.
Akhirnyapun Nabila pamit sama Sisil, menyusul Alka ke ruangannya mengingat ia masih punya nasib berada di tangan Alka, nilainya belum fix di keluarkan oleh Alka.
"Ya ampun, di sebenarnya manusia bukan sih, nggak lihat apa kalau gue masih makan main perintah saja, kalau tidak di turuti pasti ngancem bisanya, dasar manusia neraka." gumam Nabila sambil berjalan menuju ruang maut.
Nabila tergesa-gesa karena tahu Alka pasti menghitung waktunya, telah sedetik saja bisa jadi perkara. Sedang Alka yang melihat Nabila terburu-buru senyum tipis merasa puas karena Nabila takut pada dirinya.
Dan benar saja Nabila hanya waktu dua menit sudah sampai di ruangan Alka, dan di sana sudah ada dua orang mahasiswi dan dua mahasiswa dan entah apa yang mau di perintah oleh Alka memanggil beberapa muridnya ke ruangannya.
"Permisi," ucap Nabila menunduk sebab ia tidak tahu harus bilang apa.
"Silahkan duduk, dan biar Dita yang menjelaskan pekerjaan kamu dengan dtail." ucap Alka datar, Nabila hanya mengangguk.
Nabila mendekat ke arah Dita, dan Ditapun langsung menjelaskan apa yang harus ia lakukan dan ternyata lumayan banyak yang harus di kerjakan oleh Nabila dan butuh teliti dan hati-hati dalam meinput.
Namun saat di sela-sela Nabila mengerjakan tugas dari Alka, mendadak rasa ngantuknya datang karena memang Nabila kurang tidur akhir-akhir ini di tambah ia belum makan siang semakin buat tubuhnya terasa lemah dan lemas.
Alka sedari tadi yang diam-diam memperhatikan Nabila, melihat kalau gadis sedang menahan kantuk.
"Kalau tidak ikhlas bantu silahkan keluar, karena di sini saya meminta bantuan kalian bukan untuk tidur," sindir Alka tanpa menoleh ke arah Nabila.
Di sindir seperti itu Nabila langsung tegak, meski tangannya sudah terasa kram.
Setelah beberapa jam akhirnya pekerjaan yang di kasih Alka selesai juga dan Safiyra bisa bernapas lega tetapi belum ia mengucapkan kata pamit, matanya terasa berkurang-kunang seketika Nabila pingsan dan hendak jatuh ke lantai.
"Nabila!" pekik Alka terkejut melihat Nabila pingsan. Beruntung ia tanggap sehingga Nabila tidak jatuh ke lantai.
"Hai, bangun!" ucap Alka sambil menepuk pipi Nabila tapi belum jua ada reaksi dari gadis itu. Alka pun segera menggendongnya dan membawa ke sebuah ruangan.
"Tolong sekarang ke sini, mahasiswi saya pingsan." ucap Alka melalui sambungan telfon cepat.
Meski Alka belum ada perasaan penuh terhadap Nabila tapi pria itu merasa perlu bertanggung jawab, bagaimanpun ia dosennya yang sedari tadi memberikan Nabila pekerjaan sebagai asdonnya.
Tak lama seorang dokter laki-laki datang masuk ke ruangan Alka dengan membawa peralatan medis.
Dan langsung memeriksa keadaan Nabila dengan mengecek detak jantung, Korea mata, hingga tekanan darahnya.
"Wajahnya pucat sekali, sepertinya dia kekurangan cairan. Sebentar aku cek kadar gulanya dulu," ucap dokter yang masih sahabat Alka.
Alka mendekat dan baru sadar kalau wajah Nabila memang sangat pucat, tiba-tiba ada rasa bersalah.
Setelah di periksa ternyata Nabila kekurangan gula darah, rasa bersalah Alka semakin menjadi usai mendengar keterangan dari dokter.
"Sebenarnya kenapa dengan itu cewek, bukankah dia gadis manja dan sukak tidur di kelas gara-gara nonton drakor kalau di rumah, tapi kenapa dia seperti gadis pekerja keras." batin Alka heran sekaligus penasaran ada apa sebenarnya dengan Nabila.
Lagi-lagi Alka teringat seminggu terakhir ini, ia telah banyak membuat Nabila kesusahan dengan ia memberikan tugas tambahan yang begitu banyak, lalu menjadikan dia asdon hingga ia membantu pekerjaan Alka, belum lagi terakhir ia memberikan Nabila nila C agar ia menjadi gadis yang kuat dan terus mau belajar karena Alka menilai Nabila sebenarnya anak pintar tapi menurutnya dia terlalu manja.
"Kalah gitu aku permisi Al, tidak perlu di khawatirkan dia hanya perlu istirahat cukup dan minum obat yang sudah aku kasih," ucap dokter Gio pada Alka yang mengangguk.
"Oke, terima kasih." kata Alka mengantar dokter Gio ke depan pintu.
Alka mengubungi seseorang meminta informasi di mana tempat tinggal Nabila pada salah satu bagian admin kampus.
Dan setelah mendapatkan info Alka segera menggendong Nabila membawanya ke parkiran mobilnya yang memang khusus para dosen, apa lagi di kampus Alka memilik jabatan yang cukup tinggi mengingat ia salah satu pemilik saham terbesar di kampus tersebut.
"Jadi, ini---," gumam Alka terkejut saat ia berada di dalam mobil pertama kali berhenti.