Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Di sudut balkon kamar yang sepi, Aurora duduk dengan pandangan menusuk ke layar ponselnya.
Jemarinya lincah menari di atas layar, mengetik pesan dengan ketegangan yang sulit disembunyikan.
Napasnya terhenti sesaat sebelum ia mengangkat ponsel itu ke telinga, suaranya lirih tapi penuh keyakinan, "Halo... Apakah semuanya sudah siap?"
Dari ujung sana, suara tegas menjawab, "Siap, Nona."
Aurora mengakhiri panggilan dengan satu klik, lalu sebuah senyum smrik menyungging di bibirnya.
Matanya berkilat, penuh rencana tersembunyi sebuah permainan yang baru saja dimulai.
" Kalian harus membayar atas semua penderitaan yang selama ini aku rasakan, dan akan aku pastikan hidup kalian menderita berkali-kali dari yang aku rasakan." Gumamnya penuh dendam.
Kehancuran keluarga Anjani telah menunggu tanpa di sadari oleh mereka. yang saat ini justru tengah menyusun rencana untuk mengusir Aurora yang sudah dari awal menargetkan mereka.
...****************...
Di dalam kamar yang remang-remang itu, sepasang suami istri tengah merancang strategi licik mereka cara apa pun akan mereka tempuh untuk mengusir Aurora dari rumah megah ini. Agar putrinya bisa hidup nyaman lagi.
Tanpa mereka sadari bahwa di balik rencana mereka, justru hidup mereka sendiri yang perlahan hancur berkeping-keping.
“Enak sekali ya, Pak. Tinggal di rumah sebesar ini, nyaman dan mewah. Ibu juga ingin memiliki rumah seperti ini suatu hari,” kata Bu Sekar dengan suara penuh kekaguman, matanya berbinar melihat ruang luas tempat mereka berada.
Bagas menatap istrinya, dadanya bergetar di antara harapan dan kegelisahan. “Benar sekali, Bu. Bapak pun nyaman sekali di sini. Andai saja semua ini benar-benar menjadi milik kita...” ucapnya lirih, suaranya penuh angan yang menggantung di udara, sementara hatinya terselubung kegelisahan yang tak ia ungkapkan.
Mereka terperangkap dalam mimpi palsu, tanpa tahu bahwa ambisi mereka akan membakar jembatan hidup yang selama ini mereka pijak.
“Apa yang akan kita lakukan, Pak? Bagaimana caranya kita membantu putri kita?"Bu Sekar menatap Bagas dengan mata yang dipenuhi kebingungan.
Bagas menundukkan wajahnya, bibirnya menyunggingkan senyum dingin yang menyimpan niat licik. “Kita harus jebak Aurora. Hancurkan reputasinya. Kalau keluarga Harvey tahu, mereka pasti akan mengusir dia tanpa ragu.”
Bu Sekar mengerutkan dahi, suaranya gemetar penuh tanya. “Maksud Bapak... bagaimana caranya?”
Bagas menarik napas panjang, menatap istrinya seolah meyakinkan dirinya sendiri. “Kita buat dia masuk ke sebuah klub malam, sampai mabuk berat. Lalu kita pastikan dia tidur dengan pria asing. Jangan salah, Bu, keluarga Harvey sangat menjaga nama baik mereka. Jika anak kandung mereka terjerat skandal begini, pasti pintu rumah akan tertutup rapat untuk Aurora.”
Kata-kata itu terucap begitu dingin, mengiris malam sunyi seperti pisau yang menusuk, meninggalkan jejak kebusukan rencana yang mengerikan.
Bu Sekar terpaku, antara jijik dan takut, tapi keputusannya sudah hampir bulat. Sebuah pengkhianatan yang terbungkus rapi dalam bisu kegelapan.
Tanpa di sadari, kata-kata telah di dengar oleh Aurora melalui CCTV yang dipasang Aurora diam-diam sebelum mereka menginjakkan kaki di rumah ini.
Setiap bisik dan tawa terekam jelas, menjadi saksi bisu yang menunggu saatnya membalas dengan kebenaran.
...****************...
Jika Aurora sibuk, merekam setiap gerak-gerik musuh dan sedang mencari celah untuk mendorong mereka ke dasar jurang.
Di sisi lain.
Araina sedang berjalan di sebuah hotal besar, dia tadi ikut menghadiri sebuah acara dan itu baru selesai tepat pukul sepuluh malam.
"Is, mana lagi si Arion ini?" gerutu Araina, dia berada di lobi hotel mewah.
Araina melihat jam tangannya, dia merutuk sebab sejak tadi Arion tak menjawab panggilannya.
"Arion," geram Araina.
Saat Araina sedang sibuk dan kesal dengan tingkah Arion yang tak kunjung menjawab panggilannya, sebuah mobil berhenti di depannya.
Araina menatap, mengamati mobil mewah itu dengan alis terangkat sebelah, wajahnya menunjukkan rasa penasaran atas kehadiran mobil yang tak ia kenal.
"Butuh tumpangan?" hingga suara itu terdengar begitu kaca mobil di buka.
"Kau?" tunjuk Araina.
"Hay, aku datang untuk menjemput kamu," jelasnya, senyumnya tengil menunjukkan sebuah godaan.
"Aku tak butuh bantuanmu Laskar," jawabnya ketus.
Pria bernama Laskar itu murung, dia segera turun dari mobil dan tanpa basa-basi mencengkram erat tangan Araina untuk membawa gadis itu masuk.
"HEY, LEPASKAN AKU LASKAR!" teriak Araina.
"Diam saja! Dan duduk tenang!" tegasnya tanpa mau berkompromi.
BRAK!
Pintu mobil di tutup, Laskar berlari ke sisi mobil kemudi, dia tersenyum tipis saat berhasil membawa Araina walaupun banyak pemberontakannya.
"Ini penculikan Laskar, apa kau tak takut aku lapor polisi? Kau jelas tahu siapa aku?" Araina mengancam dengan wajah sinis.
"Aku siap di penjara Araina kalau itu maumu!" jawabnya dengan senyum tipis.
Araina kesal, dia memalingkan wajahnya dari Laskar dan seperti enggan kembali menatap wajah itu.
"Kenapa kau datang? Aku bisa naik taksi," ketus Araina.
"Arion menghubungi aku jika dia ada urusan mendesak dan tak bisa menjemput kamu, jadi dia menghubungi aku," jawabnya.
"Arion," desis Araina, dia sedikit kecewa karena ternyata kedatangan Laskar karena permintaan Arion dan bukan inisiatif pria itu.
'Apa sebenarnya yang kamu pikirkan Ariana?' rutuknya kesal.
"Kau kecewa?" tebak Laskar.
"Kecewa? Untuk apa?" tanyanya sinis.
Laskar hanya tersenyum tipis, dia terkekeh kecil dengan sebelah tangan memberikan usapan pada kepala Araina.
DEGH!
'Ish, jantung ku tak aman!' kesal Araina karena sentuhan itu membuat jantungnya berdetak tak terkendali.
Sedangkan di sisi lain.
"Kau sedang apa di sini malam-malam?" tanya Aurora, dia melihat Arion dengan tatapan curiga.
"Aku ingin menjenguk kamu sekalian bawain buah ini," tunjukkan penuh perhatian.
"Ini sudah malam hari Arion, dan apa kau tak malu datang berkunjung saat orang rumah sudah mau istirahat?" tanyanya sinis.
Arion mengusap tengkuknya, dia tersenyum malu saat melihat tatapan tak bersahabat Aurora yang memandang dia penuh selidik.
"Ra, di Terima ya, aku sengaja datang masa kamu tega sih?" keluh Arion dengan wajah memelas.
Sedangkan Aurora hanya menarik napas pelan, dia akhirnya mengangguk setuju untuk membiarkan Arion masuk dan menerima buah yang pria itu bawa dengan senang hati.
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄