NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Tamu dari Masa Lalu

Suasana di depan rumah dinas mendadak kaku. Siska berdiri di samping sedan hitamnya dengan kacamata hitam bertengger di atas kepala. Ia mengenakan dress selutut berwarna merah menyala yang sangat kontras dengan lingkungan pedesaan yang bersahaja. Begitu melihat Baskara membonceng seorang wanita yang memakai daster kumal dan caping bambu, sudut bibir Siska terangkat membentuk senyum meremehkan.

"Baskara, long time no see," sapa Siska dengan suara yang dibuat manja. Matanya melirik Arum dari atas ke bawah. "Oh, jadi ini... asisten rumah tangga barumu? Atau salah satu warga yang sedang mengadu?"

Baskara turun dari motor, wajahnya mengeras. Ia melangkah berdiri di samping Arum, secara naluriah menunjukkan posisi melindungi. "Dia istriku, Siska. Arum Ayundari. Dan Arum, ini Siska... rekan lama dari kota."

Siska tampak tersentak sejenak, namun dengan cepat ia menguasai diri. Ia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kaca. "Istri? Maaf, aku tidak tahu selera kamu sudah berubah drastis sejak kita berpisah di Jakarta. Dari high fashion ke... gaya pasar tradisional?"

Arum tidak merasa terhina. Ia justru melepas capingnya dengan gerakan tenang, membiarkan rambutnya yang sedikit berantakan tergerai tertiup angin pagi. Ia menatap Siska dengan sorot mata yang membuat senyum wanita itu perlahan memudar.

"Gaya pasar memang lebih nyaman untuk menangani preman pasar, Mbak Siska," ujar Arum dengan nada bicara yang sangat berkelas, kontras dengan pakaiannya. "Lagi pula, di desa ini, kita menghargai apa yang ada di dalam kepala, bukan apa yang melekat di badan. Silakan masuk, maaf jika daster saya membuat mata Anda sakit."

Baskara hampir saja tertawa mendengar sindiran halus istrinya. Ia mempersilakan Siska masuk ke ruang tamu yang luas namun sederhana.

Di dalam, Arum segera ke dapur untuk membuatkan minum. Ia sengaja tidak berganti baju. Ia ingin melihat seberapa jauh Siska akan memandang rendah dirinya. Dari balik sekat dapur, ia menajamkan pendengaran.

"Bas, aku ke sini bukan cuma mau mampir," suara Siska terdengar serius sekarang. "Perusahaanku, Citra Land Property, sudah mendapatkan lampu hijau dari kabupaten untuk survei lahan di sisi utara desa. Kami ingin membangun Agro-Resort. Ini proyek miliaran, Bas. Desa ini akan maju, dan namamu sebagai Kades akan harum di pusat."

"Sisi utara itu lahan produktif, Siska. Itu sawah irigasi teknis yang menghidupi ratusan keluarga," suara Baskara terdengar tegas. "Aku tidak bisa memberikan izin begitu saja."

"Jangan kaku begitu, Bas. Kita bisa bicarakan 'kompensasi' untuk warga dan tentu saja untuk kamu. Pak Broto sudah setuju sebagai penyedia lahan cadangan. Kamu hanya perlu tanda tangan di draf kesepakatan awal ini."

Arum muncul membawa nampan berisi tiga cangkir teh hangat dan sepiring singkong rebus. Ia meletakkan cangkir itu dengan gerakan yang sangat sopan.

"Silakan diminum, Mbak Siska. Teh asli dari perkebunan sini, tanpa pemanis buatan... persis seperti prinsip suami saya," sindir Arum lagi sambil duduk di samping Baskara.

Siska menatap singkong rebus itu seolah-olah itu adalah benda asing yang berbahaya. "Terima kasih... Arum, ya? Bas, bisakah kita bicara berdua saja? Ini urusan bisnis yang agak berat untuk dipahami orang awam."

Baskara melirik Arum, bermaksud menanyakan pendapat istrinya. Arum hanya tersenyum manis.

"Oh, jangan khawatirkan saya, Mbak Siska. Saya hanya sarjana ekonomi yang kebetulan mengerti sedikit tentang NPV (Net Present Value) dan dampak inflasi daerah akibat alih fungsi lahan. Jadi, jika Mbak bicara soal proyek miliaran, saya rasa telinga saya cukup kompeten untuk mendengarnya."

Siska terdiam, matanya menyipit. "Sarjana Ekonomi?"

"Lulusan terbaik, dengan predikat Summa Cum Laude," tambah Baskara, ada nada bangga dalam suaranya yang tidak bisa disembunyikan.

Arum mengambil dokumen yang diletakkan Siska di meja. Ia membaliknya dengan cepat, matanya memindai poin-poin kontrak seperti mesin pemindai.

"Menarik," gumam Arum. "Di pasal empat disebutkan bahwa perusahaan akan memberikan ganti rugi sebesar seratus lima puluh persen dari harga NJOP. Tapi di pasal sembilan, tertulis bahwa hak guna bangunan akan dialihkan ke pihak ketiga setelah lima tahun tanpa persetujuan desa. Mbak Siska, ini bukan proyek pembangunan desa. Ini namanya pencaplokan lahan secara halus."

Wajah Siska memerah. "Itu standar hukum properti, Arum. Kamu jangan sok tahu."

"Saya tidak sok tahu, Mbak. Saya hanya tahu bahwa perusahaan Mbak sedang terlilit utang obligasi di bank swasta. Membangun resor di sini hanyalah cara untuk mendapatkan aset jaminan baru agar perusahaan Mbak tidak pailit, bukan?"

Siska berdiri dengan kasar, tas bermereknya hampir terjatuh. "Baskara! Istrimu ini keterlaluan! Dia memfitnah perusahaanku!"

Baskara juga berdiri, tapi ia tetap tenang. Ia melihat bagaimana Arum tetap duduk dengan anggun, memegang dokumen itu seolah-olah itu adalah bukti kemenangan. "Jika apa yang dikatakan Arum benar, maka pembahasan ini selesai, Siska. Aku tidak akan membiarkan warga desaku menjadi korban spekulasi bisnismu."

"Kamu akan menyesal, Bas! Pak Broto tidak akan diam saja. Dia punya pengaruh besar di kabupaten. Kamu akan dicopot dari jabatanmu sebelum resor itu mulai dibangun!" ancam Siska sebelum melangkah pergi dengan langkah yang menghentak-hentak.

Suara mobil Siska menderu menjauh. Ruang tamu kembali hening.

Baskara kembali duduk, ia menghela napas panjang dan menatap Arum. "Bagaimana kamu bisa tahu soal utang obligasi perusahaannya?"

Arum menyesap tehnya yang mulai mendingin. "Tadi pagi, sebelum ke pasar, aku memeriksa laporan bursa efek. Perusahaan Siska memang sedang dalam pengawasan. Mereka butuh proyek besar untuk menaikkan harga saham mereka. Kamu hampir saja menjadi 'penyelamat' bagi mereka, tapi jadi 'penjahat' bagi warga desamu sendiri."

Baskara menatap istrinya lama. Ada rasa haru yang membuncah di dadanya. "Aku tidak tahu harus bilang apa, Arum. Tanpamu, mungkin aku sudah tergiur dengan janji kemajuan desa yang dia tawarkan."

Arum meletakkan cangkirnya, lalu menatap Baskara dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. "Tugas istri adalah menjaga rumahnya, Mas. Dan desa ini adalah rumah kita sekarang. Tapi ingat, Siska benar soal satu hal: Pak Broto akan marah besar. Serangan berikutnya tidak akan lewat kata-kata manis atau kontrak kerja."

"Lalu apa?"

Arum menatap ke arah pintu depan yang masih terbuka. "Dia akan mencoba memutus aliran oksigenmu, Mas. Yaitu kepercayaan warga. Kita harus bersiap, karena besok adalah hari pembagian bantuan pupuk yang tertunda itu."

Baskara mengangguk. Ia meraih tangan Arum dan menggenggamnya erat. "Apa pun yang terjadi besok, kita hadapi bersama. Tapi tolong... ganti dastermu itu. Aku tidak mau warga mengira aku tidak memberimu uang belanja pakaian."

Arum tertawa renyah, tawa tulus pertama yang didengar Baskara sejak mereka menikah. "Baik, Pak Kades. Tapi singkongnya dihabiskan dulu, ya. Sayang kalau dibuang."

Di balik kemesraan kecil itu, Arum tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja mengirimkan angin kencang pertamanya. Dan ia sudah siap dengan payung besi di tangannya.

Baskara masih menggenggam tangan Arum, seolah-olah kekuatan istrinya itu bisa berpindah melalui sentuhan. Namun, keheningan pasca kepergian Siska tidak bertahan lama. Dari luar, terdengar suara langkah kaki terburu-buru yang menaiki anak tangga teras rumah dinas.

Marno, ajudan Baskara yang setia namun sering kali panik, muncul di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya yang bulat tampak berkeringat meski udara pagi masih sejuk.

"Pak... Pak Kades! Gawat, Pak!" seru Marno sambil memegangi lututnya.

Baskara segera berdiri, melepaskan tangan Arum. "Ada apa, Marno? Bicara yang jelas."

"Warga, Pak! Warga berkumpul di depan gudang pupuk. Mereka mendengar kabar kalau bantuan pupuk subsidi yang seharusnya dibagikan besok sudah habis dijual ke pihak luar. Katanya... katanya atas perintah Pak Kades sendiri!"

Baskara membelalak. "Apa? Siapa yang menyebarkan fitnah itu?"

"Tidak tahu, Pak. Tapi beritanya menyebar cepat sekali lewat grup WhatsApp warga. Sekarang mereka sedang emosi, Pak Darmo juga ada di sana memprovokasi yang lain," lapor Marno dengan nada gemetar.

Baskara menoleh ke arah Arum. Tatapannya seolah bertanya, Inikah serangan yang kamu maksud?

Arum berdiri dengan tenang. Ia tidak tampak terkejut sedikit pun. "Gerakan yang cepat, Mbak Siska dan Pak Broto bekerja sama dengan sangat efisien. Mereka tahu kalau Mas menolak proyek resor, mereka harus menghancurkan kaki-kakimu dulu."

"Aku harus ke sana, Arum," ujar Baskara sambil meraih jaketnya.

"Tunggu, Mas," cegah Arum. Ia masuk ke dalam kamar dan keluar beberapa detik kemudian dengan sebuah tablet digital di tangannya. "Jangan datang dengan tangan kosong. Kalau kamu hanya datang untuk membantah, mereka tidak akan percaya. Kamu butuh bukti fisik."

"Bukti apa? Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di gudang itu semalam," keluh Baskara frustrasi.

Arum menyalakan layar tabletnya. Di sana terpampang rekaman CCTV berwarna hitam putih yang sangat jernih. Rekaman itu menunjukkan beberapa orang sedang memindahkan karung-karung pupuk ke dalam truk tanpa logo pada pukul dua dini hari tadi. Salah satu orang di dalam video itu terlihat sangat familiar: Pak Sabar, sang bendahara desa.

Baskara ternganga. "Sejak kapan kamu memasang CCTV di gudang desa?"

"Bukan di gudang, Mas. Tapi di rumah warga yang kebetulan menghadap ke gerbang gudang. Aku memberikan mereka modem internet gratis sebagai imbalan agar aku bisa mengakses kamera pengawas mereka," jelas Arum sambil tersenyum tipis. "Dalam perang informasi, Mas, siapa yang memegang kendali atas data, dialah pemenangnya."

Arum memberikan tablet itu kepada Baskara. "Bawa ini. Tunjukkan pada Pak Darmo dan warga. Tapi jangan langsung tunjuk hidung Pak Sabar. Biarkan warga yang mengenali wajahnya sendiri. Biarkan kebenaran itu keluar dari mulut mereka, bukan dari mulutmu."

Baskara menatap istrinya dengan rasa hormat yang semakin dalam. Ia menyadari bahwa Arum tidak hanya cerdik, tapi juga sangat metodis. Ia telah menyiapkan jaring-jaring pengaman bahkan sebelum masalah itu muncul.

"Marno, siapkan motor!" perintah Baskara dengan suara yang kini penuh wibawa. "Dan Arum... tetaplah di sini. Kali ini, biarkan aku yang menyelesaikan bagian di lapangan. Aku tidak mau kamu dalam bahaya lagi seperti di pasar tadi."

Arum mengangguk patuh, meski di dalam kepalanya ia sudah menyusun rencana cadangan jika situasi memburuk. "Hati-hati, Mas. Ingat, jangan terpancing emosi. Pak Darmo itu orangnya mudah panas, tapi dia jujur. Tarik simpatinya dengan fakta."

Begitu motor Baskara meluncur pergi bersama Marno, Arum kembali ke meja makan. Ia menatap singkong rebus yang tersisa satu potong. Ia mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

"Halo, Bu Tejo? Iya, ini Arum... Saya dengar di gudang pupuk sedang ramai, ya? Aduh, kasihan sekali Pak Kades difitnah begitu. Padahal saya punya video asli siapa yang mencuri pupuk itu... Iya, ada wajah Pak Sabar di situ jelas sekali. Saya kirim ke WA Ibu sekarang ya? Tapi jangan disebar dulu, tunggu aba-aba saya..."

Arum menutup telepon dengan senyum penuh kemenangan. Ia tahu, dalam hitungan menit, video itu akan tersebar lebih cepat daripada virus, dan posisi Pak Sabar sebagai "kaki tangan" Pak Broto akan hancur seketika.

Ia kemudian berjalan ke jendela, menatap ke arah balai desa di kejauhan. "Siska, Pak Broto... kalian mungkin punya uang dan kekuasaan. Tapi kalian lupa satu hal: di desa ini, kejujuran yang dipadukan dengan sedikit kelicikan cerdik adalah senjata yang mematikan."

Arum kembali ke dapur. Ia mulai memikirkan menu makan siang untuk suaminya. Baginya, politik desa hanyalah seperti memasak; jika bumbunya pas, hasilnya akan nikmat, namun jika terlalu banyak garam, semuanya akan hancur. Dan hari ini, Arum telah memastikan bumbunya sangat pedas untuk musuh-musuhnya.

1
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!