NovelToon NovelToon
Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Teman lama bertemu kembali / Romansa / Cintapertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: hanisanisa_

Melia-Dimas yang bermula dari Hubungan Tanpa Status berakhir di jenjang pernikahan yang masih terlalu muda.

Takdir seolah tak membiarkan keduanya asing, setelah berpisah karena orang tua yang harus berpindah negara, mereka kembali di pertemukan dengan satu sama lain dengan perasaan yang masih sama tanpa berkurang sedikitpun.

Bagaimana kelanjutannya? Simak selengkapnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hanisanisa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Melia perlahan membuka mata nya dan mengernyit saat indra penciuman nya yang sensitif terhadap bau obat.

"Pasti di rumah sakit" gumam Melia seakan enggan membuka mata nya, dan hanya memberi celah sedikit untuk melihat sekeliling.

"Lia udah sadar belum, Dim?" tanya Gina yang baru masuk ke dalam ruangan rawat milik Melia sendiri.

"Belum Tante, tapi tadi sempat bergumam kecil. Tapi gumaman nya kurang jelas" jawab Dimas di angguki Gina dengan helaan napas lega.

"Li, kamu di rumah sakit. Mama tau kamu udah sadar, tapi malas buka mata" cibir Gina membuat Melia segera membuka mata nya dan melirik sebal ke arah Gina.

Dimas terus menatap wajah Melia dan berharap Melia menyadari kehadiran nya yang senantiasa menjaga Melia.

"Haus" ujar Melia dengan suara serak. Dimas dengan telaten langsung mengambilkan botol plastik beserta sedotan nya agar Melia mudah meminumnya.

"Tu loh Li, Dimas dari tadi jagain kamu disini, sampai dia belum makan malam. Kamu sih kelamaan pingsan nya" omel Gina yang membuat Melia menghela napas.

"Kan bisa di tinggal" balas Melia dengan muka masam, masih terngiang di kepala nya Dimas akan menikah dengan perempuan lain, dan itu membuat nya kesal pada Dimas.

"Kalau pun dia bisa ninggalin kamu sendiri, tapi Dimas bukan orang yang tegaan sama cal-sama teman yang udah lama nggak ketemu" sahut Gina hampir keceplosan mengucapkan calon istri.

"Dimas paling khawatir sama kamu tadi Li waktu kamu pingsan, makanya dia rela nunggu kamu sadar dari pingsan" lanjut nya lagi, agar Melia tak mencurigai kata-kata nya yang sempat hampir terucap.

Dimas melirik ke arah Gina dengan senyum tipis. Ia sepakat dengan para orang tua untuk merahasiakan hal itu dulu sampai Dimas sendiri yang mengatakan nya pada Melia.

Melia tak menanggapi sahutan Gina yang makin membuat nya kesal dan rasa nya ia ingin kembali pingsan saja.

...****************...

Dua hari telah berlalu setelah banyak kejadian yang terjadi dalam satu hari di hidup Melia.

"Ma! Kenapa Papa duluan berangkat sih? Kan Lia belum di anterin, udah telat ini Lia ke sekolah nya" adu Melia pada Gina yang sibuk mengoles roti untuk sarapan.

Gina berdecak. "Ingatan kamu tu dari gen siapa sih sebenarnya? Ini hari minggu Melia Anjani" ucap Gina di ambang batas kesabaran nya.

Melia langsung menampilkan wajah cengo nya dengan mulut terbuka. Dimas yang sedang makan roti pun terkekeh melihat reaksi Melia yang begitu lucu.

"Di tutup mulut tu, nanti nyamuk masuk" tegur Dimas langsung memasukkan penggalan roti yang dia makan ke dalam mulut Melia.

Gina dan Emelin tersenyum saling pandang melihat Dimas yang ternyata bisa cair juga, walau hanya pada Melia.

Melia tak menyadari itu, ia fokus menatap Dimas yang seperti tak melakukan apapun pada nya.

"Kunyah Li, jangan langsung telan" cetus Gina menggoda untuk menyadarkan Melia yang sama sekali belum mengunyah penggalan roti yang di suapi Dimas.

"Jadi ini hari minggu? Terus kenapa alarm di kamar Lia bunyi?" tanya Melia menatap curiga ke arah Mama nya.

Gina menggeleng sembari mengangkat kedua tangan nya. "Dimas yang setel alarm di kamar kamu, biar kamu nggak kesiangan" jawab Gina melirik ke arah Dimas.

Melia ikut melirik ke arah Dimas dan berdecak kesal, entah kenapa ia tak bisa mengeluarkan ocehan nya pada Dimas.

"Males ah" Melia langsung pergi meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamar nya.

Tok tok tok

Tak lama setelah Melia masuk ke dalam kamar nya, ada yang mengetuk pintu kamar nya yang masih terbuka.

Terlihat Dimas membawa nampan berisi sepotong roti yang di oles coklat di tambah segelas susu coklat hangat.

"Kenapa?" tanya Melia mendadak gugup melihat keberadaan Dimas yang di ambang pintu kamar nya.

"Kamu lupa bawa sarapan" jawab Dimas segera menaruh nampan di nakas yang terlihat begitu banyak perkakas.

Melia pun sigap menyingkirkan barang-barang nya dan menyimpan nya di lemari nakas.

"Kalau hari minggu, aku jarang sarapan" cetus Melia saat Dimas hendak berbalik keluar dari kamar Melia.

"Bukan nya ini hari kerja ya?" goda Dimas, ia ingin membuat Melia kesal pagi-pagi.

"Mulai sekarang kamu harus terapin sarapan setiap hari, bukan cuma karna mau ke sekolah aja" balas Dimas lalu kembali melanjutkan langkah nya keluar kamar.

Melia mengernyit tak setuju. Lalu ia duduk di kasur nya yang dekat dengan nakas, lalu mengambil sepotong roti itu untuk ia makan.

Dimas yang belum benar-benar pergi tersenyum saat sekilas melihat Melia yang makan roti dengan damai.

...****************...

"Papa tadi kemana?" tanya Melia saat Josep dan Rico pulang pada waktu makan siang.

Josep tersenyum lalu mengelus kepala Melia. "Main ala orang kaya dulu tadi" jawab nya membuat Melia mengernyit tapi mengangguk.

"Kirain ke kantor" ucap Melia sembari mengusap tengkuk nya.

"Kantor tutup kalau hari minggu, lupa ya kamu?" tebak Josep mendapat cengiran kuda dari Melia.

"Efek pingsan dua hari yang lalu Pa, wajar jadi pelupa" Melia memberi alasan yang membuat para lelaki menatap nya seakan mengecek kondisi nya.

Melia pun langsung pergi mendekati Gina yang duduk manis di sofa bersama Emelin dan Dimas.

"Dim, kamu jadi hari ini ke toko emas nya?" tanya Gina dengan sekilas melirik ke arah putri nya yang nampak diam.

Dimas mengangguk. "Jadi Tante, tapi seperti nya Dimas harus membawa Melia kesana" jawab Dimas menatap ke arah Melia yang bergelayut manja pada Josep.

Melia yang mendengar nama nya di sebut pun menoleh. "Kok aku?" tanya Melia dengan suara pelan.

"Karena.."

"Aduh Papa mau mandi dulu, gerah habis olahraga. Lia, siapin kopi dong buat Papa sama Om Rico" Josep langsung menyela dan berdiri.

Melia menatap cengo ke arah Papa nya, kemudian menatap ke arah Dimas lagi.

"Kok aku?" tanya Melia lagi, ia belum mendapat jawaban yang menurut nya pas agar diri nya mau di bawa ke toko emas.

"Karena jari yang paling pas di sini cuma kamu Li, Dimas nyari yang ukuran tangan nya kecil" jawab Gina membuat Melia menatap ke arah nya.

Lalu Melia menatap ke tangan nya yang memang jika di lihat dari dekat, tangan nya lah yang paling kecil.

"Oke" balas Melia segera berdiri, ia harus menyiapkan kopi yang begitu Papa nya sukai.

Saat Melia pergi ke dapur, Gina Emelin dan Dimas langsung secara bersamaan menghela napas lega.

"Untung otak ku lagi encer" ujar Gina agar mereka tidak terlalu tegang. Emelin mengangguk dan kembali ke pembahasan mereka sebelum ada nya Melia.

Dimas pun pamit ke kamar nya, ia harus bersiap-siap ke toko emas mencari cincin yang pas untuk nya dan untuk calon istri nya juga.

1
ハニサ
yg smpt bca komen aku, baca ya🙏

buat yg vote, like, komen, dan meraih peringkat 1 akan aku kasih hadiah kecil-kecilan buat nambah semangat kalian supaya rajin ngegift hehe🤭
ハニサ: klau bsa rebut peringkat ku jg sih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!