Shasha hanyalah gadis desa biasa yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya lewat beasiswa. Namun, hidupnya hancur dalam semalam ketika ia diculik oleh Jake Giordino, seorang pemimpin organisasi hitam yang paling ditakuti.
Shasha tidak melakukan kesalahan apa pun. Dosanya hanyalah satu, yaitu karena ia dicintai oleh pria yang diinginkan Lana, adik perempuan Jake.
Demi memuaskan obsesi sang adik, Jake mengurung Shasha di sebuah mansion tersembunyi. Shasha dipaksa menghilang dari dunia agar pria yang mencintainya bisa berpaling pada adik sang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
“Baiklah, pertemuan hari ini selesai. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya,” ucap dosen sembari merapikan laptopnya dan melangkah keluar kelas.
Seketika seisi kelas menjadi riuh. Namun Bima tidak memedulikan kebisingan itu. Dengan gerakan cepat, ia merapikan barang-barangnya, sementara pandangannya tidak lepas dari Shasha yang duduk cukup jauh darinya. Rupanya gadis itu benar-benar serius dengan ucapannya kemarin. Bima tidak bisa membiarkan tembok tidak kasat mata ini terus berdiri di antara mereka. Begitu melihat Shasha berdiri dan berjalan keluar kelas, ia pun segera berlari menyusul.
“Shasha!” panggilnya dengan napas terengah.
Shasha menoleh kebelakang. Saat menyadari sosok yang memanggilnya, ia pun memilih untuk melanjutkan langkahnya lagi sebelum akhirnya Bima dengan cepat menarik lembut lengannya.
“Ada apa dengan dirimu sebenarnya? Kenapa sejak kemarin kau terlihat sangat berbeda?” tanya Bima menuntut penjelasan.
Shasha melepaskan tangan Bima perlahan. Ia menunduk, menatap lantai koridor seolah itu adalah hal paling menarik saat ini, “Maaf, Bima. Tapi kedekatan kita... kurasa tidak cukup baik untuk seseorang.”
“Seseorang? Siapa maksudmu?” Bima berpikir keras, lalu matanya membelalak, “Maksudmu Lana? Apa dia mengancammu?”
Shasha akhirnya memberanikan diri menatap mata Bima, “Dengar, Bima. Aku hanya ingin menyelesaikan studiku dengan lancar. Aku tidak ingin hal sekecil apa pun memengaruhi fokusku. Kau tahu sendiri hidupku sudah cukup sulit. Aku tidak ingin menambah masalah lagi.”
“Masalah? Jadi kau menganggapku sebagai masalah?” tanya Bima dengan nada terluka.
Shasha menggeleng cepat, “Bukan itu maksudku—“
“Aku sekarang mengerti. Jadi kau menganggap hubungan kita selama ini sebagai pengganggu dalam proses belajarmu?” sela Bima, rasa kecewa mulai menguasai dirinya.
“Apa yang kau katakan? Aku sama sekali tidak bermaksud begitu.”
“Lalu kenapa kau takut hanya karena Lana? Aku dan dia sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun!”
“Kau tidak mengerti, Bima!” suara Shasha sedikit meninggi, “Bagi orang kecil seperti kami, berurusan dengan orang besar hanya akan mempersulit hidup. Aku tidak punya apa-apa untuk melawan mereka.”
Bima menghela napas panjang, mencoba meredam kekesalannya. Ia tidak boleh egois. Ia kemudian menyentuh kedua pundak Shasha dengan lembut, memaksa gadis itu untuk mendengarkannya, “Dengarkan aku, Shasha. Jika pun kau menghadapi masalah apa pun itu, aku yang akan selalu berdiri di depanmu. Aku akan membelamu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.”
Shasha justru memundurkan tubuhnya, membuat tangan Bima terlepas dari pundaknya, “Yang kau lakukan itu justru akan mempersulitku. Semakin kau membelaku, maka semakin besar pula masalah yang akan mendatangiku.” Shasha menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri, “Jadi, bisakah untuk sementara waktu kita menjaga jarak dulu? Kau adalah sahabat terbaikku. Kau selalu membantuku selama ini. Apa untuk satu permintaan ini... kau juga tidak bisa membantuku?”
Bima menatap mata Shasha dalam-dalam. Ada permohonan yang tulus di sana. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi ia tidak rela menjauh, namun di sisi lain ia tidak ingin Shasha menganggapnya pria egois yang memaksakan kehendak.
“Baiklah,” putus Bima akhirnya dengan suara berat.
Senyum lega terukir di wajah Shasha, “Terima kasih, Bima.”
“Tapi malam ini, setelah kau pulang dari kafe, bisakah aku menemuimu sebentar?”
“Menemuiku?”
“Ada sesuatu yang sangat penting yang harus kukatakan padamu.”
“Tapi—“
“Aku tidak bisa menundanya lagi, Shasha. Aku tidak ingin hatiku terus terbelenggu. Aku janji, setelah pembicaraan malam ini, kita bisa menjaga jarak sesuai keinginanmu.”
Shasha yang tidak ingin memperpanjang perdebatan di koridor kampus akhirnya mengalah, “Baiklah. Aku akan menunggumu di depan kafe.”
“Aku pasti datang.”
Shasha mengangguk kecil, “Aku pergi dulu,” pamitnya sebelum berbalik dan meninggalkan koridor.
Bima menatap punggung Shasha yang semakin menjauh dengan hati yang bergejolak. Jika memang mereka harus menjaga jarak, baginya itu tidak masalah asalkan Shasha tahu perasaannya. Malam ini, ia akan menyatakan cintanya. Harapannya hanya satu yaitu Shasha menerima ungkapan hatinya, dan meskipun mereka harus menjaga jarak di kampus, setidaknya mereka bisa menjalin hubungan secara diam-diam. Pikiran itu membuat semangatnya kembali bangkit. Ia bertekad membuat malam ini menjadi sangat indah untuk mereka berdua.
Namun, ada satu duri yang masih mengganjal pikirannya. Ia tidak bisa membiarkan Lana terus mengusik ketenangan Shasha. Bima pun memutar tubuhnya dengan langkah mantap menuju gedung seberang, untuk memberi peringatan terakhir pada wanita itu.
Dengan langkah lebar, ia menyeberangi area taman yang memisahkan fakultas mereka. Rahangnya mengeras, dan tatapannya lurus menuju koridor gedung Fakultas Seni yang didominasi oleh mural-mural ekspresif. Di sana, di depan salah satu ruang kelas, ia bisa melihat sosok yang dicarinya.
Lana tengah berdiri di tengah lingkaran teman-temannya, tertawa anggun sambil sesekali memamerkan kuku-kuku cantiknya yang baru saja dipercantik di salon. Kehadiran Bima yang tiba-tiba, dengan aura dingin yang tidak biasa, seketika membungkam obrolan riuh kelompok itu.
“Bima? Wah, ada apa kau kemari? Merindukanku?” tanya Lana dengan nada ceria yang dibuat-buat, meskipun matanya berkilat senang melihat pria itu mendatanginya secara sukarela.
Bima tidak membalas senyuman itu. Ia berhenti tepat di depan Lana, mengabaikan tatapan penasaran dari teman-teman wanita itu.
“Bisa kita bicara? Berdua saja,” ucap Bima dengan suara rendah namun menekan.
Lana menoleh ke teman-temannya dengan senyum penuh kemenangan, seolah ingin menunjukkan bahwa ia telah berhasil menaklukkan Bima, “Kalian masuklah duluan, aku ada urusan penting dengan kekasihku ini.”
Setelah teman-teman Lana menjauh sambil berbisik-bisik, Bima langsung masuk ke inti pembicaraan. Ia tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi di tempat ini.
“Apa yang kau katakan pada Shasha kemarin?” tanya Bima langsung, menatap tajam ke dalam manik mata Lana.
Lana mendengus remeh, ia menyandarkan bahunya ke pilar koridor dengan gaya santai, “Oh, jadi gadis kampung itu mengadu padamu? Cepat sekali ya dia mencari perlindungan.”
“Dia tidak mengadu. Aku yang tahu sendiri karena sikapnya berubah,” potong Bima cepat, “Dengar, Lana. Aku sudah cukup sabar dengan segala tingkahmu selama ini. Tapi jika kau berani menyentuhnya lagi, atau hanya sekadar mengucapkan satu kata hinaan lagi padanya... aku tidak akan tinggal diam.”
Lana tertawa sinis, kakinya maju satu langkah untuk menantang Bima, “Kau mengancamku hanya demi wanita seperti dia? Kau sadar siapa yang sedang kau tantang? Keluargaku bisa membuat hidupnya hancur dalam semalam!”
“Dan aku bisa memastikan kau kehilangan satu-satunya orang yang kau kejar selama ini,” balas Bima dengan suara yang jauh lebih dingin, membuat tawa Lana seketika terhenti, “Jauhi Shasha. Jika kau ingin aku tetap menghargaimu sebagai teman lama, jangan pernah muncul di hadapannya lagi.”
Tanpa menunggu balasan dari Lana yang kini mematung dengan wajah pucat karena marah, Bima berbalik dan pergi. Ia tidak melihat bagaimana tangan Lana gemetar hebat sambil meremas tali tasnya.
“Kau akan menyesali ini, Bima,” desis Lana dengan kebencian yang sudah mendarah daging, “Jika aku tidak bisa memilikimu, maka tidak akan ada seorang pun yang boleh, terutama gadis sialan itu.”
......................
Semakin bertambahnya jam malam, suasana kafe pun semakin ramai. Denting sendok yang beradu dengan cangkir porselen dan suara mesin penggiling kopi menjadi latar belakang kesibukan yang tiada henti. Shasha sesekali menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Ruangan yang sebenarnya sejuk karena pendingin udara itu rupanya tidak mampu mengusir hawa panas akibat beban pekerjaan yang menumpuk.
Namun karena sudah terbiasa dengan ritme kerja yang padat, Shasha tetap bergerak dengan cekatan. Di sela-sela kesibukannya, pikirannya sempat melayang kembali pada perkataan Bima sore tadi. Kira-kira apa yang begitu penting hingga pria itu mengatakan hatinya akan terbelenggu jika tidak mengungkapkannya?
“Sudah masuk, kan?” tanya seorang pelanggan wanita, membuyarkan lamunan Shasha.
Shasha tersentak kecil, segera menatap monitor kasir untuk memastikan status transaksi, “Sudah. Silakan menunggu pesanan Anda,” ucap Shasha sambil memberikan senyum profesionalnya yang paling ramah.
Pelanggan itu mengangguk singkat dan melangkah menuju kursi tunggu khusus pesanan take away. Shasha kemudian menoleh ke arah Tomi yang sedang sibuk meracik minuman, “Tomi, pesanan terakhir untuk sementara ini.”
“Laksanakan!” sahut Tomi penuh semangat tanpa menoleh, tangannya dengan terampil mencampur bahan minuman.
Shasha mengangguk, lalu menyapukan pandangannya ke seluruh sudut kafe. Sebagian besar meja diisi oleh mahasiswa yang tampak serius berkutat dengan laptop dan tumpukan buku, menghabiskan malam demi mengejar tenggat waktu tugas. Namun saat pandangannya jatuh ke arah jendela besar di sampingnya, kening Shasha berkerut dalam.
Ia menyadari sesuatu. Sebuah sedan hitam mewah dengan kaca yang sangat gelap masih terparkir tepat di posisi yang sama sejak ia datang memulai shift-nya tadi.
“Tomi,” panggil Shasha pelan.
“Hm?” balas Tomi singkat.
“Sedan hitam itu... sejak tadi terus terparkir di sana, kan?”
Tomi menghentikan kegiatannya sejenak, ikut memandang ke arah luar melalui jendela kaca, “Eh? Kau benar. Aku baru menyadarinya sekarang.”
Mata Shasha kembali menyapu deretan pelanggan di dalam ruangan, mencoba mencocokkan apakah ada pemilik kendaraan semewah itu di antara para mahasiswa, “Dalam waktu selama itu, tidak mungkin kan pemiliknya terus berada di dalam kafe tanpa memesan apa-apa lagi?”
“Yah, mungkin saja. Kurasa pemilik mobil itu ada di antara pelanggan kita. Mungkin sedang mencari hiburan atau sekadar numpang Wi-Fi gratisan. Sudahlah, jangan dipikirkan panjang-panjang,” ucap Tomi berusaha menenangkan sebelum kembali fokus pada pesanan di tangannya.
“Kau benar. Semoga saja pemilik mobil itu memang pelanggan kita. Jangan sampai itu orang luar, padahal jelas-jelas sudah diberi peringatan bahwa area parkir ini khusus untuk pelanggan kafe,” sahut Shasha.
Tomi terkekeh pelan, “Kurasa bos kita harus memasang baliho yang sangat besar di depan. Banyak orang yang sekarang tidak memedulikan aturan parkir lagi.”
Shasha tersenyum tipis menanggapi candaan temannya, namun pandangannya tetap tertuju pada sedan hitam di luar sana. Dari balik kaca kafe yang terang, sedan itu tampak seperti predator yang sedang bersembunyi di kegelapan. Dan entah kenapa, Shasha merasakan ada sesuatu yang janggal, sebuah perasaan tidak nyaman yang merayapi hatinya.
Satu persatu pelanggan kafe mulai meninggalkan tempat itu saat jam tutup sudah dekat. Riuh rendah obrolan yang tadinya memenuhi ruangan kini mereda, digantikan oleh suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang menjauh menuju pintu keluar. Setelah pelanggan terakhir melangkah pergi, suasana kafe yang tadinya hangat seketika berubah menjadi sunyi.
Shasha dan Tomi segera berbagi tugas untuk membersihkan area kafe. Mereka menyapu lantai, mengelap sisa noda di atas meja, dan menata kursi-kursi kayu agar kembali rapi seperti semula. Setelah semua sudut tampak bersih, mereka masuk ke ruang ganti untuk melepaskan seragam dan mengenakan pakaian biasa.
“Kau yakin akan menunggu temanmu di sini?” tanya Tomi saat keduanya sudah berdiri di depan kafe, sementara tangannya sibuk memutar kunci pada pintu kaca yang kokoh.
Shasha mengangguk pelan, lalu memeriksa ponselnya, “Iya, dia bilang sudah di jalan dan akan segera datang.”
Tomi menoleh ke arah jalanan yang sudah mulai lengang dan gelap, lalu menatap Shasha dengan khawatir, “Perlu kutemani sampai dia datang?”
Shasha menggeleng sambil tersenyum tipis, berusaha meyakinkan teman kerjanya itu, “Tidak perlu, Tom. Pulanglah. Kau bukan pekerja paruh waktu sepertiku. Dari pagi sampai malam bekerja pasti membuatmu sangat lelah. Cepat pulang dan beristirahatlah.”
Tomi menghela napas panjang, sebenarnya merasa berat meninggalkan Shasha sendirian di sana, “Baiklah, aku pergi dulu. Kau berhati-hatilah.”
Shasha mengangguk mantap. Ia berdiri di teras kafe, melambaikan tangan saat Tomi menyalakan sepeda motornya di parkiran dan memencet klakson sebagai tanda pamit. Begitu motor Tomi menghilang di persimpangan jalan, keheningan total langsung menyergap.
Shasha mengalihkan pandangannya, menyapu area luar kafe yang kini hanya diterangi oleh lampu jalan temaram. Sedan hitam yang tadi sempat ia curigai rupanya sudah tidak ada di sana, membuatnya sedikit bernapas lega. Ia pun memutuskan untuk duduk di salah satu kursi luar kafe, menunggu Bima yang katanya sudah dekat.
Namun, di tengah kesunyian itu, suara langkah kaki yang mendekat dari arah belakang membuatnya terkesiap. Shasha menoleh dengan cepat, ia yakin itu pasti Bima.
Shasha segera berdiri dengan senyum yang mulai mengembang, “Akhirnya kau datang—“
Belum sempat kalimat itu tuntas, tubuh Shasha menegang hebat. Bukannya wajah familiar Bima yang ia lihat, melainkan seorang pria asing berperawakan besar yang bergerak sangat cepat. Tanpa sempat berteriak, pria itu langsung membekap wajah Shasha dengan selembar kain hitam yang beraroma tajam dan menyengat.
Shasha mencoba memberontak, tangannya memukul-mukul lengan kokoh pria itu, namun kekuatannya perlahan sirna. Pandangannya mengabur dan tubuhnya terasa sangat lemas. Dunia di sekitar Shasha langsung berputar sebelum akhirnya semuanya berubah menjadi kegelapan total.