Bagi Arga, Yura adalah teka-teki yang menolak untuk dipecahkan. Ketika Ayu mencoba menyembuhkan lukanya, masa lalu Yura mulai terkuak. Sebuah rahasia terungkap dan pengabdian dikhianati. Arga terjebak dalam dilema: Tetap setia pada dia yang tak kunjung pulang, atau menyerah pada bahagia yang terasa berdosa? Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar hilang tanpa meninggalkan bekas yang beracun.
"Hal tersulit dari kehilangan bukan tentang merelakan, tapi tentang ketakutan bahwa kau akan bahagia di atas penderitaan seseorang yang kau lupakan."
Followw akun IG @author_receh untuk info seputar novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Malam itu...
Dengan menenteng tas kameranya Ayu bergegas menaiki taksi sesaat setelah keluar dari lobi hotel bintang lima yang megah. Di belakangnya, kemeriahan pesta pernikahan putra pengusaha kaya raya masih terasa; hiruk-pikuk tamu dan kilatan lampu kristal yang kontras dengan kegelisahan hatinya.
"Iya, Bang, aku sudah di taksi ini," ucap Ayu setelah menggeser tombol hijau di ponselnya, menjawab panggilan dari Ardan.
"Oke, hati-hati, Yu. Jangan lupa nanti turun di tempat yang ramai, ya? Jangan di tempat sepi, Abang khawatir," suara Ardan terdengar cemas di seberang sana.
"Iya, iya... bawel banget, sih. Sudah ya, aku tutup dulu," balas Ayu berusaha mencairkan suasana.
"Oke, hati-hati."
Tut. Panggilan terputus. Ayu menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang sedikit cepat tanpa alasan yang jelas. "Pak, turun di Jalan Garuda nomor empat, ya," pintanya pada sang supir.
"Baik, Non."
Setengah jam berlalu, taksi itu berhenti di depan sebuah gang. Setelah membayar ongkos, Ayu turun dan kendaraan itu pun melaju pergi. Suasana jalanan itu sunyi, hanya ada suara angin malam yang berhembus pelan. Langkah kaki Ayu di atas trotoar kecil mendadak terhenti saat pendengarannya menangkap suara keributan dari sebuah gang sempit yang remang-remang.
Tampak beberapa orang pria dengan perawakan mencurigakan tengah menyeret paksa seorang wanita. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya; Ayu mengikuti mereka secara sembunyi-sembunyi.
"Berikan uangmu, sekarang!" gertak seorang pria tambun dengan wajah bengis.
"Aku... aku tidak punya uang lagi. Tolong jangan seperti ini..." suara wanita itu bergetar, memohon belas kasihan.
"Hei, wanita sialan! Jangan tidak tahu diri! Ingat, selama ini kau sudah aku tolong!"
Dari balik bayangan tembok, Ayu membidikan lensa kameranya. Jemarinya dengan cekatan menangkap bukti-bukti pemerasan tersebut. Namun, saat lensa kameranya menangkap salah satu pria mulai melayangkan pukulan fisik, darah Ayu mendidih. Ia tak bisa hanya menjadi saksi bisu.
Dengan nyali yang entah datang dari mana, Ayu menyambar sebilah balok kayu yang tergeletak di tanah. Ia berlari keluar dari kegelapan.
"Berhenti! Beraninya kalian menganiaya wanita lemah! Kurang ajar!"
BUGH! BUGH!
Tanpa ragu, Ayu melayangkan pukulan keras ke arah tiga preman itu. Serangan mendadak itu membuat mereka tersentak.
"Cepat pergi dari sini sebelum polisi datang! Aku sudah menghubungi keamanan!" gertak Ayu dengan suara lantang, tangan yang memegang balok kayu tetap siaga meski gemetar.
"Hei, wanita jalang! Berani-beraninya kau ikut campur urusan kami!"
"Kalian menganiaya wanita! Bagaimana mungkin aku tidak ikut campur?!" balas Ayu, menempatkan tubuhnya di depan wanita yang sudah tersungkur itu, melindunginya dengan nyawa sebagai taruhan.
Pria yang bertubuh paling tinggi memberi kode pada kedua anak buahnya untuk mundur. Mereka kalah posisi karena takut polisi benar-benar datang.
"Yura! Ingat, ini bukan akhir," ancam pria itu dengan nada rendah yang mengancam. "Mungkin kali ini kau selamat karena pahlawan kesiangan ini. Tapi nanti, aku akan membuat perhitungan denganmu. Dan kau..." pria itu menunjuk Ayu dengan tatapan tajam, "Kau sudah berani ikut campur, jangan harap bisa lepas begitu saja."
Begitu mereka menghilang ditelan kegelapan jalanan, Ayu segera berbalik.
"Mbak, Mbak tidak apa-apa?" tanya Ayu penuh kekhawatiran.
"Tidak... terima kasih sudah menolongku. Harusnya... kamu tidak perlu melakukan itu," bisik wanita itu lemah.
Ayu menggeleng cepat. "Bagaimana mungkin aku diam saja melihat kekerasan tepat di depan mataku?"
Ayu menatap lekat wanita itu. Hatinya terenyuh. Wanita di hadapannya tampak sangat rapuh,tubuhnya kurus kering, kulitnya pucat pasi, dan wajahnya lebam membiru akibat pukulan. Ada aura kesedihan yang sangat pekat menyelimutinya.
"Saya Ayu. Mbak siapa? Mari, saya antar pulang ke rumah Mbak," tawar Ayu lembut.
Wanita itu menatap Ayu dengan mata yang tampak sayu, seolah menyimpan rahasia dunia yang berat di pundaknya. "Aku... Yura."
"Baiklah, Mbak Yura. Aku obati dulu lukamu, ya? Setelah itu, aku janji akan mengantarmu pulang."
Yura hanya mampu mengangguk lemah, membiarkan orang asing berhati malaikat itu masuk ke dalam alur hidupnya yang kelam.
*
Ayu melangkah keluar dari apotek, tangannya menggenggam kantong plastik berisi beberapa macam obat dan pembersih luka. Langkahnya mendadak terhenti. Di depannya, Yura duduk di bangku kayu panjang dengan tatapan kosong yang lurus ke depan. Bahunya tampak merosot, seolah ada beban ribuan ton yang sedang ia panggul sendirian. Di mata Ayu, wanita itu tampak begitu rapuh, seolah hembusan angin sedikit saja bisa menghancurkannya.
"Lagi ngelamun?" tanya Ayu lembut, sambil memberikan sebotol air mineral.
Ayu mengambil posisi duduk di samping Yura. Dengan telaten, ia mulai membuka bungkusan kapas, menuangkan cairan antiseptik ke permukaannya, dan perlahan membersihkan luka lebam di sudut bibir Yura.
Yura meringis sesaat, namun matanya tetap menatap jauh. "Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan impianku... yang mungkin tidak akan pernah tercapai."
Ayu mengernyitkan dahi, tangannya yang sedang memegang kapas terhenti sejenak. "Memangnya apa impianmu?"
"Menikah dengan laki-laki yang sangat kucintai," jawab Yura lirih. Pandangannya terpaku pada sepasang kekasih di seberang jalan yang sedang tertawa mesra, sebuah pemandangan yang terasa sangat jauh dari jangkauannya.
Ayu tersenyum tipis, mencoba memberi semangat. "Selama ada keinginan, pasti selalu ada jalan, Yura. Kamu jangan menyerah dulu."
Namun, Yura justru menggeleng lemah. Senyum getir terukir di wajahnya yang pucat. "Tidak ada jalan lagi, Ayu. Aku tidak bisa menghancurkan hidupnya dengan menariknya masuk ke dalam kegelapanku."
Yura menoleh ke arah Ayu, matanya yang sayu tampak berkaca-kaca. "Mencintainya berarti aku harus membiarkannya pergi. Aku tidak mau dia ikut menanggung beban yang hanya akan berakhir dengan air mata."
Ayu terdiam. Ia bisa merasakan kesedihan yang begitu pekat dari setiap kata yang keluar dari mulut Yura. Meski hatinya dipenuhi tanda tanya tentang apa sebenarnya yang sedang dialami wanita ini, Ayu memilih untuk tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali fokus mengobati luka Yura, mencoba menjadi pendengar yang baik bagi jiwa yang sedang patah itu.
"Apa yang membuatmu menjauh dari pria yang kamu cintai?" tanya Ayu dengan nada penuh empati. Ia sedikit ragu sebelum melanjutkan, "Apakah... dia suami orang?"
Yura tertegun sejenak. Ia memaksakan sebuah senyum tipis yang sarat akan kepedihan, lalu menggeleng perlahan. "Bukan. Dia pria yang sangat baik, pria paling tulus yang pernah kukenal. Dan dia... sangat mencintaiku."
Ayu semakin tidak mengerti. "Lalu kenapa? Jika dia mencintaimu, bukankah seharusnya kalian menghadapi semuanya bersama?"
"Hanya saja... aku yang tak lagi pantas untuknya," suara Yura mengecil, nyaris menghilang ditelan bising kendaraan yang lewat. Ia menunduk, menatap jemarinya yang kurus dan gemetar. "Ayahku sendiri yang menjerumuskanku ke dalam dunia gelap untuk melunasi hutang-hutangnya. Dan salah satu dari pria yang kau lihat tadi... dia telah meninggalkan sesuatu yang mematikan di dalam tubuhku. Sesuatu yang memaksaku untuk pergi menjauh."
Ayu menghentikan seluruh gerakannya. Napasnya tertahan di kerongkongan. "Maksudmu... penyakit apa?"
Yura mendongak, menatap langsung ke dalam mata Ayu. Di bawah remang lampu jalan, wajahnya tampak seperti porselen retak yang siap hancur kapan saja.
"Aku terjangkit AIDS."
Deg.
Ternyata Ayu sudah kenal Yura
koq pikiran ku langsung kesana ya Thor?
apa dibalik baju ayu yg selalu longgar ada sesuatu yg dia sembunyikan???
smpe punya anak LG
....ank Arga ..
jd penasaran Thor...
entah apa yg jadi rahasia Ayu, sampai Ayu mengaku salah
up LG Thor 😍
mg org yg td manggil Arga g d apa apain SM org misterius it