NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:590
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dengan Nadia

Maira duduk termenung di kamarnya. Pandangannya kosong menatap dinding, sementara tubuhnya bersandar lemah di sisi ranjang. Rambutnya masih terurai berantakan, wajahnya pucat dan sembap. Sejak diantar Hazel pulang tadi, ia sama sekali tak punya tenaga untuk melakukan apa pun. Bahkan sekadar mengganti baju pun terasa berat.

Pintu kamar terbuka pelan. Mami Rose masuk lebih dulu, disusul Roy di belakangnya. Begitu melihat kondisi Maira, langkah mami Rose langsung terhenti.

“Maira…” lirihnya, suaranya bergetar saat matanya menangkap jelas bekas kemerahan di pipi Maira akibat tamparan keras Vincent tadi.

“Mami…” Maira akhirnya tak sanggup menahan air matanya lagi. Tangisnya pecah seketika.

Mami Rose segera mendekat dan duduk di tepi ranjang, memeluk Maira dengan penuh perasaan. Roy berdiri tak jauh, menatap wajah Maira dengan sorot khawatir.

“Kamu kenapa, beb? Kok wajah kamu bisa kayak gini?” tanya Roy pelan, namun nadanya jelas menahan emosi.

“Itu…” Maira terisak, suaranya tercekat.

“Ulah mama kamu lagi?” tebak mami Rose. Maira hanya mampu mengangguk lemah di dalam pelukannya.

“Kamu gak diapa-apain, kan, sama pria itu?” Roy kembali bertanya, kali ini lebih tegas.

“Belum sempat… untungnya pelanggan VVIP waktu itu menyelamatkan aku, Roy,” jawab Maira lirih, napasnya masih tersengal.

“Syukurlah, sayang.” Mami Rose menghela napas lega. Hatinya benar-benar tak sanggup membayangkan jika sesuatu yang lebih buruk terjadi. Bagi mami Rose, Maira sudah seperti anaknya sendiri. Kisah hidup gadis itu terlalu mirip dengan masa lalunya dulu.

“Udah, kamu harus banyak istirahat. Gak usah masuk kerja dulu,” lanjut mami Rose lembut tapi tegas.

“Tapi, mami…” Maira mencoba membantah.

“Kesehatan mental kamu lebih utama,” potong mami Rose. Roy mengangguk setuju tanpa ragu.

Mami Rose lalu berdiri dan menatap Roy. “Roy, kamu jagain Maira. Takutnya nanti mamanya ngamuk-ngamuk dan datang ke sini. Apalagi kalau dia tahu Maira kabur dari Pak Vincent.”

“Oke, mami,” jawab Roy mengangguk.

Setelah mami Rose pergi, suasana kamar kembali hening. Kini hanya tersisa Maira dan Roy. Tangis Maira sudah mereda, berganti dengan wajah murung dan mata yang masih basah.

“Beb…” panggil Roy pelan. Maira menoleh.

“Kenapa kamu gak terima tawaran Pak Hazel?” tanya Roy. Ia sudah tahu betul soal tawaran Hazel yang ingin menjadikan Maira madunya.

Maira menunduk. “Tak segampang itu, Roy. Kamu sendiri tahu, meski aku bukan wanita baik-baik, aku gak mau menikah sama pria yang gak aku cintai. Aku juga pengin ngerasain dicintai dan mencintai,” ucapnya lirih, jujur dari hati.

“Tapi dia satu-satunya yang bisa membawa kamu pergi dari dunia malam ini,” sahut Roy.

“Aku tahu…” Maira menghela napas panjang.

 “Tapi aku takut, Roy. Takut semuanya gak seindah bayanganku.”

Roy mendekat, lalu mengusap pundak Maira dengan penuh perhatian.

“Yaudah, beb. Terserah kamu maunya gimana. Aku sebagai sahabat kamu cuma bisa doain yang terbaik buat kamu.”

“Thanks…” lirih Maira, mencoba menguatkan dirinya sendiri meski hatinya masih penuh kebimbangan.

***

Keesokan harinya, Maira sudah merasa jauh lebih segar. Tubuhnya tidak lagi selelah kemarin, pikirannya pun sedikit lebih ringan. Ia memilih pakaian santai, kaus berlengan panjang dan celana kain sederhana, lalu pergi ke supermarket terdekat. Ada beberapa keperluan pribadinya yang sudah habis dan memang harus segera dibeli.

Begitu memasuki supermarket, udara dingin langsung menyambutnya. Maira mendorong troli belanja ke sana kemari, memasukkan beberapa barang yang ia butuhkan. Sesekali ia berhenti, memastikan daftar belanja di ponselnya, lalu kembali melangkah.

Langkahnya terhenti di lorong parfum. Matanya langsung tertuju pada satu botol parfum kesukaannya. Varian itu bahkan tinggal satu di etalase.

“Untung masih ada,” gumamnya pelan.

Maira mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun di saat yang sama, tangan orang lain juga bergerak ke arah botol yang sama. Ujung jari mereka tanpa sengaja bersentuhan.

Maira refleks menarik tangannya. Begitu juga dengan wanita di sampingnya.

Wanita itu tersenyum ramah. Ia mengenakan hijab berwarna peach, wajahnya terlihat tenang dan bersahabat.

“Ambil saja, Maira,” ucapnya ringan.

Maira mengerutkan kening. Ia menatap wanita itu dengan heran. Ia tidak merasa mengenalnya, tapi wanita itu justru menyebut namanya dengan begitu yakin.

“Gak nyangka ya, kita bisa ketemu di sini,” lanjut wanita itu.

“Dan gak nyangka juga, kita sama-sama suka merek parfum dan wangi yang sama.”

“Kamu siapa?” tanya Maira akhirnya.

“Apa kita saling kenal?”

Wanita itu tersenyum lebih lebar.

“Aku Nadia.” Ia menjulurkan tangan hendak berjabat.

Maira hanya menatap tangan itu tanpa bergerak. Kebingungan mulai merayap di benaknya. Namun Nadia tidak menunggu lama, ia langsung menggenggam tangan Maira dan menjabatnya dengan erat, seolah mereka sudah lama akrab. Hal itu justru membuat Maira semakin tidak nyaman.

“Ayo kita bicara di kafe depan,” ajak Nadia santai, seakan tidak melihat ekspresi bingung Maira.

“Hmmm,” Maira mengangguk ragu.

Setelah membayar belanjaannya di kasir, Maira mengikuti langkah Nadia keluar dari supermarket. Mereka masuk ke sebuah kafe kecil di depan gedung itu. Suasananya cukup sepi, hanya ada beberapa pengunjung. Maira duduk berhadapan dengan Nadia, meletakkan tas belanja di samping kursinya.

“Apa kamu mengenal saya?” tanya Maira lagi, suaranya pelan namun tegas.

Nadia tersenyum sambil menautkan jemarinya di atas meja.

“Hmmm… bahkan saya sudah lama stalking kamu.”

Maira terkejut. “Stalking? Untuk apa?”

“Karena saya membutuhkan kamu,” jawab Nadia tanpa ragu.

“Untuk apa?” Maira semakin tidak mengerti. Jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.

Nadia melirik ke arah pintu kafe, lalu kembali menatap Maira.

“Kamu tunggu sebentar lagi. Seseorang akan menjelaskan siapa aku.”

Maira mengangguk pelan, meski perasaan tidak enak mulai menggelayut. Ia mengikuti arah pandang Nadia. Tak lama kemudian, pintu kafe terbuka.

Sosok itu masuk.Maira langsung berdiri begitu mengenalinya. Hazel.

Dadanya seketika terasa ada yang aneh. Matanya beralih ke Nadia, yang kini tersenyum sumringah. Nadia bangkit dari kursinya dan melangkah cepat menghampiri Hazel.

“Akhirnya kamu datang juga, sayang,” ucap Nadia sambil memeluk Hazel dengan mesra.

Maira tersenyum getir." Jadi ini dia. Wanita itu. Istri Hazel."

Wanita yang selama ini Maira anggap gila. Wanita yang dengan begitu enteng menyuruh suaminya menikahi wanita malam, hanya demi mendapatkan keturunan. Dan kini, wanita itu duduk di hadapannya, tersenyum seolah semuanya baik-baik saja antara dirinya dan suaminya.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!