Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Kamu kenapa Dini?" Tanya Aksa, menatap Dini yang sedikit pucat. Ia pikir Dini sakit karena biasanya tidak pernah lupa mengerjakan pr. Aksa tidak tahu jika muridnya itu sedang demam cinta dan dirinya lah penyebabnya.
"Emmm... sedikit" jawab Dini asal.
"Kalau lagi sakit sebaiknya kamu ke uks" titahnya sambil berlalu meletakkan kertas di atas meja, kemudian memberi tugas yang selanjutnya kepada siswa.
"Ya Allah Aksa tidak marah, Pak guru satu ini memang pemaaf" Bisiknya dalam hati. Dengan kejadian ini Dini justru semakin tergila-gila kepada Aksa.
"Dini, aku antar ke uks yuk" Lestari pun sepemikiran dengan pak Aksa.
"Tidak usah Tari" Dini justru ambil kertas kosong, untuk menebus kesalahan kepada gurunya yang begitu baik. Ia tidak mau membuang waktu lalu mengerjakan tugas dengan cepat. Dalam hitungan menit Dini maju mendekati meja guru, di mana Aksa sedang mengorek tugas. Tanpa suara, ia meletakkan tugas di antara tumpukkan kertas teman-temannya.
Aksa menoleh kertas tersebut lalu memeriksa dengan mata membelalak. "Secepat ini dia mengerjakan tugas? Anak itu" Aksa menatap Dini yang sudah kembali ke tempat duduknya.
"Kamu yakin jawaban tadi benar Dini?" Lestari tahu bahwa teman barunya cerdas, tapi dalam hitungan menit bisa mengerjakan soal segitu banyak, wajar jika Lestari bertanya.
"Aku nggak tahu juga sih, biar Pak Aksa yang menilai" pungkas Dini, lalu mengerjakan tugas berikutnya.
Waktu istirahat pun selesai, Dini bersama Lestari hendak ke kantin. Namun, Dini minta Lestari berjalan lebih dulu ketika menatap Aksa yang tampak kerepotan membawa buku.
"Saya bantu ya, Pak?" Dini bersemangat ambil separuh buku di atas meja Aksa.
"Memang kamu sudah sehat?" Aksa sebenarnya butuh bantuan, tapi Bejo yang biasanya membantunya sudah berlari ke kantin.
"Sudah ada obatnya kok, Pak" Dini tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berdekatan dengan Aksa.
"Apa obatnya?" Aksa pikir obat yang diminum Dini manjur sekali.
"Apa ya? Lupa merk nya" Dini terkikik.
"Kamu tadi mengerjakan tugas cepat sekali, nyontek ya?" Aksa merasa mustahil karena jawaban Dini benar semua.
"Tidak ada sejarahnya Dini Kirana nyotek Bapak..." jujur Dini menatap Aksa kesal juga. Tapi Aksa fokus dengan langkah kakinya tidak memperhatikan ekpresi Dini.
"Perasaan pertama kali bertemu saya kamu manggil saya Mas?" Aksa membuka obrolan lain karena percaya bahwa hasil tugas tadi kerja keras Dini sendiri.
"Waktu itu kan saya tidak tahu kalau Pak Aksa guru" Dini pun menyesal telah memanggil Aksa kamu.
Sambil berjalan mereka ngobrol walaupun tidak penting. Mungkin keduanya merasa nyambung. "Hari minggu besok saya pengen banget jalan-jalan di daerah ini Pak. Bapak bisa temani?" Tanya Dini dengan gaya ajakan spontan orang kota.
"Hari minggu besok giliran saya membantu Bapak sama Ibu ke sawah Dini."
"Ke sawah?" Dini terkejut hingga menghentikan langkahnya. "Untuk apa? Memang Pak Aksa bisa tani?" Cecar Dini menatap Aksa tidak percaya. Kulit Aksa yang kuning langsat, tidak membuktikan bahwa dia seorang petani.
"Buat lahan sawah, memang kenapa kamu kaget begitu? Sejak kecil kedua orang tua saya selalu mengajarkan untuk bekerja keras. Saya ini lahir dari keluarga biasa Dini, tidak seperti kamu. Kalau tidak bekerja keras tentu tidak bisa sekolah."
"Pak Aksa nyindir" Dini tersenyum kecut. Ketika ayahnya masih ada, ia dan ibunya memang tidak pernah kekurangan. Tetapi setelah kehadiran Ringgo, dunia terasa kiamat. Dia akui jika ibunya sebagai pedagang kelontong uangnya banyak, tapi tidak jarang uangnya dicuri Ringgo untuk main judi.
"Nyindir bagaimana? Saya kan belum tahu keluarga kamu."
"Kalau begitu, besok saya ikut ke sawah saja ya, Pak?" Dini mengalihkan, saat ini ia sedang bahagia tidak mau mengingat perbuatan Ringgo. Lagi pula jika gurunya setuju Dini bisa mengenal Aksa lebih dekat.
"Boleh saja, tapi mau apa?" Aksa mengeryit bingung, ia pikir Dini aneh-aneh saja.
Dini bingung untuk menjawab, tentu saja tidak mungkin jujur jika ia ingin selalu dekat dengan Aksa. "Emmm... Senang saja lihat sawah, adem soalnya" alasan Dini masuk akal.
"Terserah kamu, tapi kalau kulit kamu hitam jangan salahkan saya" Aksa berjalan mendahului Dini.
Dini mempercepat langkahnya mengejar Aksa. "Hitam putih sudah dasar warna kulit Pak, contohnya kulit pak Aksa tetap bersih, walaupun sering membantu orang tua bapak ke sawah kan..." Dini memandangi lengan Aksa yang berbulu jarang itu menurutnya semakin keren. Tiba di kantor Dini meletakkan buku.
Begitu Aksa mengucapkan terima kasih, Dini lanjut ke kantin untuk menikmati cemilan bersama Lestari sebelum akhirnya melanjutkan pelajaran ke kedua. Hingga waktu berganti siang, ketika bubar sekolah Dini lagi-lagi ambil kesempatan untuk membantu Aksa membawa buku ke kantor.
"Saya bantu lagi ya, Pak?" Dini sudah berdiri di samping meja.
"Boleh" Aksa tentu senang anak kota seperti Dini rajin membantu tanpa pamrih. Mereka ngobrol hingga tiba di ruang guru. Tempat itu masih sepi, karena sebagian guru sudah pulang. "Simpan di sini saja bukunya" Aksa meletakkan buku lebih dulu diikuti Dini.
"Sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah membantu saya, saya akan mengantarmu pulang."
"Yaiiii... benarkah? Saya mau, Pak" seru Dini, hatinya seperti di hinggapi kupu-kupu. Betapa senangnya ia akan dibonceng Aksa. "untung saja ban sepedaku kempes" gumam Dini dan masih didengar oleh Aksa.
Aksa hanya geleng-geleng kepala, kemudian ambil kunci motor di laci meja miliknya.
"Mas Aksa, ban motor aku kebetulan kempes, tolong antar pulang ya" ujar wanita berjalan ke arah mereka penuh harap. Ia adalah Lusi salah satu guru.
"Maaf Lusi, tapi saya sedang ada urusan" elak Aksa menoleh Lusi, tapi tidak mengatakan jika akan mengantar Dini.
Wajah sumringah Dini pudar tergantikan kecewa yang dalam. Tapi apalah daya, ia tidak berani berkata-kata.
"Tolong Mas" Desak Lusi, lalu menoleh Dini yang hanya diam memperhatikan dirinya.
"Dini, kenapa kamu masih di sini? Kalau bubar sekolah sebaiknya langsung pulang ya, jangan membuat orang tua kamu di rumah khawatir" Nasehat Lusi.
"Baik Bu" Dini melangkah lambat, dengan harapan Aksa menahannya dan tetap mengantarnya pulang, tapi Aksa tidak bereaksi. Begitu tiba di pintu, Dini sempat berhenti, menoleh Aksa bersama Lusi justru ngobrol tapi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
Dengan rasa kecewa yang dalam, Dini menuju pangkalan ojek seperti yang sudah ia rencanakan sebelum berangkat sekolah. Namun, belum tiba di pangkalan, ia berhenti ketika mendengar suara motor di belakangnya.
"Dini, ibu duluan ya..." ucap Lusi yang tengah membonceng Aksa.
"Iya Bu..." Dini menatap motor Aksa berkaca-kaca. Entah mengapa hatinya sedih melihat Aksa memboncengkan wanita lain.
...~Bersambung~...
"Hallo bestie... aku menulis kisah ini sepertinya kalian tidak suka ya, kira-kira lanjut tidak? Jika kalian tidak suka lebih baik sampai di sini saja. Soalnya ketahuan hanya like bab 1 tak lanjut ke bawah.