Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik
Beda Revo, beda pula Candy.
Sejak ia dilamar, Ranti melarangnya mengerjakan pekerjaan rumah. Selain karena ada Adrian, Candy juga harus terlihat dirawat baik-baik olehnya.
Berhubung demikian, Candy memilih untuk bangun lebih siang dari biasanya. Kapan lagi dia bisa merasakan nikmatnya bangun siang sebelum menikah?
Ini juga pertama kalinya ia bangun siang. Akan tetapi, Mbok Sarah tidak mengizinkan nona kesayangannya itu bangun lewat dari pukul tujuh. Baginya, pamali bagi anak gadis bangun siang-siang.
"Pagi, Non," sapa Mbok Sarah sambil melangkah mendekat.
Pintu kamar Candy tidak pernah dikunci. Bukan karena malas, melainkan karena kuncinya selalu dipegang oleh Ranti. Namun, Candy tetap membutuhkan privasi. Tanpa sepengetahuan Ranti, ia menambahkan kunci slot kecil yang letaknya tersembunyi di balik gantungan jaket. Sesekali, ia butuh ruang untuk bernapas sendiri.
"Eala, masih nggak gerak," keluh Mbok Sarah. "Non Candy, ayo bangun!"
"Hmm..."
"Nanti kulitnya jelek, loh, kalau bangun siang-siang," tambah Mbok Sarah sambil membuka gorden.
Candy langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Sinar matahari pagi yang menyelinap masuk tetap terasa menyilaukan, meski matanya terpejam.
Mbok Sarah tersenyum simpul melihat kelakuan Candy. Sudah lama sekali ia tidak membangunkan nona mudanya itu. Hari ini benar-benar hari langka.
"Kalau nggak bangun, permennya mbok kasih ke Non Clara aja," ucap Mbok Sarah santai.
Candy sontak terduduk begitu mendengarnya.
"Mana, Mbok?" tanyanya sigap.
"Nih," jawab Mbok Sarah sambil menyodorkan sepiring permen berbentuk kelinci yang baru saja dibuatnya.
"Eits! Mandi dan sarapan dulu. Baru boleh makan permen," ucap Mbok Sarah sambil menepuk punggung tangan Candy yang siap bereaksi.
"Ck, iya, iya," gumam Candy sembari bangkit menuju kamar mandi.
Usai membersihkan diri, Candy memilih buah-buahan sebagai menu sarapan utamanya. Setelah itu, barulah Mbok Sarah mengizinkannya memakan permen.
Sejak kecil, Candy memang penggemar permen. Anehnya, ia tidak pernah mengalami sakit gigi akibat kebanyakan mengonsumsinya. Mendiang ibunya selalu menakar dengan cermat porsi permen yang boleh ia makan—bahkan waktunya pun diatur. Dari sanalah Candy belajar bertanggung jawab pada dirinya sendiri; berkumur atau menyikat gigi selalu jadi ritual wajib setelah makan permen.
"Permen buatan Mbok Sarah memang paling the best," ujar Candy sambil mengacungkan dua jempol.
"Jangan kebanyakan. Disisakan buat nanti lagi, Non," pesan Mbok Sarah.
"Okeeh," jawab Candy patuh—setidaknya di mulut. Tangannya tetap sigap mengambil dua permen tambahan.
"Kak," panggil seseorang dari balik pintu.
"Kenapa?" sahut Candy.
"Dipanggil Mama sama Papa," jawab Clara.
Candy dan Mbok Sarah saling pandang. Kejadian kemarin pagi masih meninggalkan sisa-sisa rasa tak nyaman di benak Candy.
"Kenapa lagi?" tanya Candy penasaran.
Clara mengangkat bahu. "Nggak tahu. Aku cuma disuruh manggil Kakak aja."
Candy mengerucutkan bibir, enggan bergerak.
"Kak, buruan. Nanti dimarahin Mama lagi, lho!" desak Clara.
"Aku ke bawah dulu ya, Mbok."
Mbok Sarah mengangguk, raut wajahnya tak sepenuhnya tenang.
"Kamu ngapain masih berdiri di depan pintu?" tanya Candy curiga.
"Aku mau minta permen," jawab Clara ringan, lalu dengan cepat merebut satu permen dari tangan Candy dan kabur.
"Dasar bokal!" gerutu Candy kesal.
"Bokal apaan non?" tanya mbok Sarah penasaran.
"Bocah nakal," jawab Candy singkat.
"Oala!" seru mbok Sarah. "Ini masih banyak, Non. Sudah, buruan turun ke bawah," tegur Mbok Sarah.
Dengan perasaan sebal, Candy melangkah turun menuju ruang keluarga. Tanpa perlu diberitahu, ia sudah khatam di mana Ranti dan papanya berada setiap pagi.
"Candy," sapa Adrian sambil tersenyum.
"Ada apa, Pa?" tanya Candy tanpa basa-basi.
"Asisten calon suamimu tadi menghubungi Papa," ujar Adrian. "Katanya, dia ingin bertemu denganmu hari ini."
Kalimat itu membuat jantung Candy berdegup tak beraturan. Tangannya refleks mengepal, sementara pikirannya berlarian ke arah yang tidak-tidak.
Bertemu hari ini?
Sejujurnya, Candy penasaran dengan wajah calon suaminya. Dalam bayangannya sendiri, pria itu pasti sudah tua—teori yang ia simpulkan dari kaburnya Rania. Namun setelah merenung semalaman, Candy justru sampai pada kesimpulan lain.
Lebih baik ia tidak melihat wajah calon suaminya sekarang.
Siapa tahu, sebelum hari pernikahan tiba, justru ia yang lebih dulu berpindah alam akibat serangan jantung dadakan karena salah ekspektasi.
"Kenapa mendadak?" tanya Candy akhirnya, berusaha terdengar biasa saja.
Adrian melirik Ranti sekilas sebelum kembali menatap putrinya. "Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan langsung."
Ranti mengangguk pelan. "Kamu nggak perlu khawatir berlebihan. Ini cuma pertemuan biasa."
Candy hampir saja tertawa kecil mendengarnya. Biasa, menurut wanita itu, sering kali berarti sesuatu yang sama sekali tidak biasa baginya.
"Jam berapa?" tanya Candy pelan.
"Siang nanti," jawab Adrian. "Saat jam makan siang."
Candy menghela napas panjang. Waktu yang tersisa terasa mendadak terlalu singkat—dan terlalu panjang sekaligus. Ia mengangguk kecil, lalu tanpa sadar meremas ujung bajunya sendiri.
"Candy," panggil Adrian. "Apa kau baik-baik saja?"
Candy tersenyum kecut dalam hati. Pertanyaan itu datang terlambat. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat untuk disebut baik-baik saja.
"Ya udah," katanya akhirnya. "Aku siap."
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Candy tahu satu hal pasti: pertemuan hari ini tidak akan sesederhana yang orang-orang pikirkan.
Candy kembali ke kamarnya dengan langkah yang terasa lebih cepat dari biasanya. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar di sana, menghembuskan napas panjang.
Beruntung Mbok Sarah sudah kembali ke markasnya sendiri. Jadi, aman untuk mengeksplor kepanikannya.
"Tenang, Candy. Cuma ketemu calon suami. Cuman," gumamnya, entah sedang menenangkan diri atau justru menyindir nasib.
Ia melirik jam di dinding. Masih ada waktu sebelum makan siang—cukup untuk bersiap… dan cukup untuk panik sedikit.
Candy membuka lemari pakaiannya. Gaun demi gaun disingkirkan satu per satu.
"Terlalu cerah. Terlalu manis. Terlalu… calon mantu idaman," keluhnya.
Tangannya berhenti pada satu gaun sederhana berwarna krem. Tidak terlalu mencolok, tidak pula terlalu santai. Aman, pikirnya. Setidaknya aman dari komentar Mak Kunti.
Selesai berganti pakaian, Candy duduk di tepi ranjang. Alih-alih berdandan, ia justru meraih ponsel butut milik mbok Sarah.
Kalau mau bertemu monster—setidaknya ia harus tahu seperti apa rupanya.
Candy membuka mesin pencari, jarinya bergerak cepat. Ia mengetik nama itu.
Revo Bara Luneth.
Layar menampilkan… hampir tidak ada apa-apa.
Candy mengerutkan kening.
"Hah?"
Ia mencoba lagi. Nama lengkap, variasi ejaan, bahkan menambahkan kata CEO dan pengusaha. Hasilnya tetap sama: nihil foto, nihil biodata lengkap.
Yang muncul justru beberapa potongan informasi yang terlihat… tidak menjanjikan.
Candy membacanya satu per satu.
Usia: lewat dari usia ideal menikah.
Candy menghela napas. "Nah, kan. Perasaan aku emang nggak salah."
Sifat: irit bicara.
"Oke… berarti kalau ngobrol, aku yang monolog."
Keuangan: terkenal sangat hemat.
"Hemat apa pelit, ya? Perasaan beda tipis," gumam Candy curiga.
Ia melanjutkan membaca.
Reputasi: dingin dan kejam terhadap karyawan.
Candy menegakkan punggung.
"Kejam?" ulangnya pelan. "Ini calon suami apa villain drama?"
Ia menatap layar ponsel cukup lama, lalu menjatuhkannya ke atas kasur.
"Fix. Ini bukan manusia biasa," simpulnya.
Candy membaringkan diri telentang, menatap langit-langit kamar. Otaknya mulai menyusun berbagai skenario mengerikan.
Pria dingin, pelit, jarang bicara, kejam pada bawahan.
Candy bangkit lagi, kali ini ke meja rias. Ia menatap bayangannya di cermin.
"Tenang Candy. Atur napas. Kamu cuma perlu bertahan satu pertemuan," katanya pada diri sendiri. "Satu. Jangan sampai pingsan. Jangan sampai salah manggil."
Ia mengoleskan lip balm tipis, lalu berhenti.
"Tapi kalau orangnya dingin, apa perlu pakai warna lebih hangat?" gumamnya, ragu.
Akhirnya, Candy menghela napas panjang dan menepuk kedua pipinya sendiri.
"Apapun itu," katanya mantap, meski suaranya sedikit bergetar, "Aku harus lihat sendiri… sekejam apa calon suamiku ini."