Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Vonis Sang Penguasa Hati
Bunyi panjang flatline itu akhirnya berhenti, bukan karena jantung Mbak Sarah kembali berdetak, melainkan karena tangan Papa yang gemetar mematikan monitornya.
Hening.
Kini, kesunyian di ruang operasi itu jauh lebih menakutkan daripada kebisingan tadi.
"Waktu kematian..." Suara Papa terdengar asing, seperti pecahan kaca yang digesekkan ke batu. Beliau terdiam lama, menelan ludah yang terasa seperti pasir. "...pukul 23.45."
Papa melepas maskernya, menjatuhkan diri ke lantai di samping meja operasi, dan memeluk kaki putrinya yang sudah kaku. Bahu Papa berguncang hebat. Tidak ada suara tangis, hanya raungan tertahan yang menyayat hati. Sang dokter hebat, pemilik Rumah Sakit Hardinata, baru saja kalah telak dari takdir. Dia bisa menyelamatkan ribuan orang, tapi tidak putrinya sendiri.
Aku masih terbaring di brankar sebelah, lemas karena kehilangan banyak darah. Infus di tanganku sudah dicabut. Dengan sisa tenaga, aku memiringkan tubuh, menatap wajah Mbak Sarah yang kini damai namun pucat pasi.
"Mbak..." panggilku lirih. Air mataku menetes, bercampur dengan keringat dingin di pelipis. "Bangun, Mbak. Siapa yang akan memarahi aku kalau aku malas bangun pagi? Siapa yang akan bermanja pada Kak Vino?"
Tidak ada jawaban. Hanya dengungan pendingin ruangan yang menjawab.
Di sudut lain, dokter anak sedang membersihkan bayi merah itu. Lili. Dia sudah berhenti menangis, kini tertidur dalam kehangatan inkubator. Dia hidup. Dia bernapas. Dia adalah pertukaran nyawa yang paling mahal di dunia ini.
"Dokter Aluna, anda harus istirahat. Anda kehilangan banyak darah," ujar seorang perawat mencoba membantuku duduk.
Aku menggeleng lemah, menepis tangannya. "Bawa aku keluar. Aku harus... aku harus ada di sana saat mereka tahu."
"Tapi Dok—"
"Bantu aku berdiri!" perintahku dengan sisa kewibawaan yang kupunya.
Dua perawat akhirnya memapahku. Kakiku gemetar hebat, rasanya seperti menginjak kapas. Pandanganku berkunang-kunang. Tapi rasa takut menghadapi Arvino di luar sana jauh lebih besar daripada rasa pusingku.
Pintu otomatis ruang operasi terbuka dengan suara mendesis pelan.
Pemandangan di ruang tunggu itu langsung menghantamku.
Arvino berdiri tegak tepat di depan pintu, matanya memancarkan harapan yang begitu rapuh. Di belakangnya, Mama bangkit dari duduknya, mencengkeram lengan Ardo. Nenek menatap dengan mata menyipit, mencoba membaca ekspresi kami.
Papa keluar lebih dulu. Dia berjalan seperti mayat hidup. Gaun operasinya sudah dilepas, tapi noda darah di kemejanya masih terlihat samar.
"Pa?" panggil Arvino. Suaranya bergetar. "Sarah... dia sudah dipindahkan ke ruang rawat kan? Dia baik-baik saja kan, Pa?"
Papa berhenti di depan menantunya. Dia menatap Arvino, lalu menatap Mama. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Papa hanya menggeleng pelan. Sekali. Lalu dia ambruk berlutut di depan Arvino.
"Maafkan Papa..." isak Papa pecah. "Papa gagal..."
Waktu seakan berhenti.
Mama menjerit. Jeritan seorang ibu yang kehilangan anaknya, melengking tinggi, menyobek kesunyian rumah sakit malam itu. Mama pingsan di pelukan Ardo yang juga menangis histeris.
Tapi Arvino... Arvino tidak menjerit. Dia tidak menangis.
Dia mundur selangkah, menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Enggak," bisiknya. Dia tertawa kecil, tawa yang mengerikan. "Enggak mungkin. Papa bohong. Tadi pagi dia masih minta asinan. Dia cuma tidur. Kalian ini bercanda kan?"
Arvino menerobos masuk melewati Papa, menabrak bahuku hingga aku hampir terjatuh jika tidak ditahan perawat. Dia berlari masuk ke ruang operasi.
Aku melepaskan diri dari perawat dan mengejarnya dengan langkah sempoyongan.
"Kak Vino! Jangan!"
Terlambat.
Arvino sudah berdiri di samping meja operasi. Tubuh Sarah sudah ditutupi kain hijau sampai leher. Wajahnya bersih, seperti sedang tidur lelap.
Arvino mendekat perlahan, tangannya terulur menyentuh pipi Sarah.
Dingin.
Pertahanan Arvino runtuh seketika.
"SARAH!!!"
Dia meraung. Dia memeluk tubuh kaku istrinya, mengguncang-guncangnya kasar. "Bangun sayang! Bangun! Jangan tinggalkan aku! Kamu janji kita akan besarkan anak kita sama-sama! BANGUN!"
Aku berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen karena kakiku sudah tidak sanggup menopang tubuh. Air mataku mengalir deras melihat pria yang kucintai hancur berkeping-keping. Hatiku sakit melihatnya kesakitan, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.
"Kak..." panggilku lirih.
Mendengar suaraku, tubuh Arvino menegang.
Dia berhenti meraung. Perlahan, dia menegakkan tubuhnya. Dia tidak menoleh ke arahku, tapi aku bisa melihat kepalan tangannya memutih hingga buku-bukunya terlihat menonjol.
Dia berbalik perlahan.
Wajahnya basah oleh air mata, tapi matanya...
Mata itu bukan mata Arvino yang ku kanal. Mata itu gelap, penuh kebencian murni yang diarahkan tepat ke jantungku.
Dia berjalan mendekatiku. Langkahnya pelan, tapi mengintimidasi seperti predator yang mengunci mangsanya.
"Kak Vino..." aku mundur selangkah, ketakutan.
"Kau..." desisnya. Suaranya rendah, tapi bergema di ruangan yang sunyi itu. "Kau puas sekarang?"
"A-apa maksud Kakak?"
Arvino mencengkeram kedua bahuku, mendorongku keras hingga punggungku menghantam dinding dingin ruang operasi. Sakit, tapi tidak sebanding dengan tatapannya.
"Kau membiarkannya mati," tuduhnya. Napasnya yang memburu menerpa wajahku. "Kau tahu kondisinya kritis. Kau tahu dia sakit. Tapi kau diam saja! Kau sengaja mengulur waktu!"
"Tidak! Aku sudah memperingatkanmu semalam! Aku sudah memberimu darahku!" belaku panik, air mataku tumpah ruah. "Aku memberikan darahku untuknya, Kak! Aku berusaha menyelamatkannya!"
"BOHONG!" Arvino berteriak tepat di depan wajahku. "Kau memberikan darahmu cuma untuk menutupi niat busukmu! Kau menginginkan ini, kan? Jawab aku, Aluna!"
Cengkeramannya di bahuku semakin kuat, rasanya tulangku akan remuk.
"Kau mencintaiku..." bisik Arvino, tapi kali ini terdengar seperti vonis hukuman mati. "Sejak kecil kau mencintaiku. Kau cemburu pada kakakmu sendiri. Kau iri melihat kami bahagia. Karena itu kau membiarkannya mati di meja operasi ini! Supaya kau bisa mengambil tempatnya, kan?!"
Duniaku runtuh.
Bagaimana dia bisa berpikir sekejam itu? Cintaku padanya memang ada, tapi cintaku pada Mbak Sarah jauh lebih besar. Aku merelakan perasaanku demi kebahagiaan mereka.
"Demi Tuhan, tidak Kak... Aku menyayangi Mbak Sarah..." isakku.
"Jangan sebut namanya dengan mulut kotormu itu!" Arvino menghempaskan tubuhku.
Aku jatuh terduduk di lantai keramik yang dingin. Kepalaku pusing hebat, efek kehilangan darah membuat pandanganku mulai menggelap.
Arvino menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang gemetar.
"Dengar baik-baik, Aluna Hardinata. Mulai detik ini, kau bukan adikku. Kau bukan keluargaku. Di mataku, kau adalah pembunuh istriku."
Dia berbalik, kembali memeluk jasad Sarah, meninggalkan aku yang hancur sendirian di lantai yang dingin.
Di saat kesadaranku mulai menghilang, aku mendengar suara tangisan bayi dari inkubator di sudut ruangan. Lili menangis kencang, seolah ikut merasakan hancurnya takdir yang baru saja dimulai.
Dan sebelum semuanya gelap, satu pikiran melintas di benakku:
Mbak Sarah, kematianmu bukan hanya mengambil nyawamu, tapi juga membunuh jiwa adikmu.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️