Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Pertemuan kembali
Sekembalinya Dean ke kediamannya ia merebahkan tubuh ke dalam bak mandi besar berendam didalam air panas, bak mandi itu berukuran tidak lebih 10 kali 10 meter. Kolam itu transisi dengan berbagai aroma bunga yang menenangkan pikir dalam membuat relax untuk semntara waktu menghilangkan rasa lelahnya.
Ruangan itu berbeda dari kebanyakan rumah besar yang berada di pedesaan tersebut, cukup untuk menampung beberapa orang lagi karena terlihat seperti kolam renang kecil. Pandangan Dean mengingat kejadian siang tadi, ia tersenyum menatap ke langit-langit ruangan dengan beberapa lampu hias dengan pantulan kelap kelip mengilau menghiasi atap.
Tatanan handuk hingga pakaian tersusun rapi di sudut lemari. Botol-botol dari parfum sampai sabun bertumpuk dengan rapinya. Beberapa tanaman hias hingga tanaman yang memiliki aroma juga menggantung dan menghiasi di ujung tempat itu.
Garis wajah lelaki itu sangat lancip seperti mahakarya tuhan yang sudah seharusnya terbentuk, lekukan tulang hidung panjang membuat ia terlihat sangat mancung. Mata Biru terang seperti warna langit. Rambut hitam lurus dengan potongan rapi, kulit kuning langsat dengan alis tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis dengan bentuk bibir bawah tebal dan atas tipis.
Termenung menikmati nuansa indah bagai kedamaian abadi walaupun sementara, hiruk pikuk Ibu kota yang selama ini menyesakkan dada dan pikirannya seakan menghilang saat ia berada dan tinggal di desa kecil ini.
“Sepertinya malam ini aku akan mimpi indah.” Dean menuangkan setengah botol parfum mawar kedalam bak mandinya dan menenggak anggur merah yang tinggal setengah.
Lelaki itu keluar dari bak mandinya mengenakan jubah dan berpaling menjauhi tempat itu menuju kamar tidurnya. Merebahkan mata dan menunggu pagi datang.
“Hangatnya, serta wanginya. Sepertinya aku membayangkan gadis itu tidur di hadapanku.” Tangan Dean menyentuh rambut gadis yang ada dalam bayangannya. Gadis tersebut mengusap-usap wajahnya dengan lembut, Dean mulai terlelap.
“Ah aku akan segera bermimpi indah.” Matanya langsung terpejam dalam balutan lembut dari usapan gadis yang ia bayangkan tersebut, senyuman gadis itu bagai maut yang bisa menjadikannya bunga tidur.
“Kuharap kita bertemu lagi dalam tidur. Ku tak ingin terpisah jauh darimu.” Gumamnya setengah sadar.
Hening, aku sempat hilang ingatan dan tak terkendali. Bolehkah aku menikmati setiap malam bersamamu, banyak hal indah yang ingin aku lalui. Banyak juga hal-hal gila yang ingin segera kulakukan seperti memelukmu dalam dekapan yang begitu lama semakin erat dan semakin erat lagi.
Keesokan paginya, Rona yang bangun pagi dengan ceria merelaksasikan tubuhnya diatas kasur, menggerakkan kekanan dan kekiri lalu menguap dengan cukup besar.
“Astaga baru kali ini aku tidur sangat nyenyak sekali.” Rona berucap dan duduk di kasurnya mengingat betapa lembut dan baiknya lelaki itu, ya yang tak lain adalah Dean.
“Akhirnya nona muda kita sudah bangun ya.” Emily yang sudah berada di ujung pintu bersandar menatap adiknya tersebut tersenyum karena baru kali ini menatap adiknya yang biasanya susah tertidur tertidur pulas.
“Ya ya ya. Saya akan segera bangun dan pergi mandi.” Rona turun dari kasur hendak melewati Emily yang terus menggodanya.
“sepertinya ada yang sedang jatuh cinta ni? Bagaimana gak mau cerita ya?” Tanya Emily penasaran tingkat dewa.
“Entahlah, aku tidak tau apa itu.” Rona terus menyangkalnya, karena ia belum benar-benar yakin apa yang ada didalam hati dan pikirannya saat ini.
Hal terpenting adalah mengirim pasukan ke beberapa desa serta Ibu kota, Rona mencoba memanfaatkan segala hal yang ada termasuk kuda pemberian Dean. Rona menunggangi kuda dan segera pergi ke beberapa investor untuk perbaikan pengemasan sektor produk susu sapinya.
Dengan pakaian yang biasa Rona kenakan namun kali ini sedikit lebih formal, tentu saja pakaian ini dipilihkan oleh Emily. Emily adalah seorang yang cukup baik dalam pemilihan gaun dan pakaian yang akan dikenakan. Beberapa gadis di desa bahkan diluar wilayah sangat menantikan pakaian-pakaian yang ia pakai serta beberapa pakaian jadi yang berhasil ia jual sebagai desainer muda dengan kemampuan yang terbilang apa adanya hal itu tidak menurunkan semangat Emily.
Dalam perjalanan menuju desa sebelah Rona tak lupa mengingat bahwa kakaknya itu pasti akan sangat senang jika ia menemukan beberapa kain cantik jika di bawa pulang.
Kali itu Rona bergegas cepat ke sebuah kantor pendistribusian pengedaran makanan dan minuman. Setelah memenuhi beberapa persyaratan dan menyelesaikannya. Rona menandatangani kontrak kerja tersebut lalu keluar dari tempat tersebut menarik kudanya.
“Hai kamu sudah lama menunggu ya, aku akan mencarikanmu makanan.” Sambil mengusap usap kepala kuda tersebut.
Beberapa tatapan menatap kearah Rona. Gadis itu memakai kemeja putih celana berwarna coklat dengan sepatu boot sebetis berwarna brown. Tampilannya menawan dibalut dengan jubah mantel klasik buatan Emily.
Model mantel itu seakan memikat beberapa orang, karena gayanya sangat modern namun ada sentuhan klasiknya. Rambut Rona yang biasanya terurai saat ini di kepang menyamping hingga panjangnya di bawah dada. Tak lupa ia memakai ikatan rambut dari Dean.
Hal lucu terus terjadi saat Rona meminta Emily mengepang rambutnya dengan tali ikat baru dan saat itu juga Emily terus menggodanya.
Rona menggelengkan kepala sambil mengingat kejadian tersebut, ia menarik kuda tersebut sampai pada sebuah toko kain yang tak jauh dari tempat semula.
“Sepertinya disini.” Rona mengikatkan kudanya tepat di depan toko tersebut dan memasukinya.
Mata Rona memandangi semua jenis kain yang ada, lalu mengeluarkan contoh kain dari saku bajunya menunjukkan kepada pelayan.
“Saya mau beberapa kain ini dengan berbagai warna yang tertulis di kertas ini.” Pintanya lalu berkeliling mendatangi toko tersebut.
Banyak kain dari wol hingga sutra berada di toko tersebut. Dari warna terang hingga mencolok pun ada. Berbagai jenis kain tersusun rapi. Dan disana juga menyediakan desainer pakaian jadi, bahkan ruang ganti jika ingin mencoba beberapa pakaian.
Rona menatap salah satu baju berburu namun model untuk laki-laki, warna biru terang seperti mata Dean, dengan rilisan warna hitam dan tali pengikat pinggang berwarna coklat.
“Apa-apaan aku mengingat hal ini.” Gumamnya sambil menepuk kepalanya dan menarik nafas panjang.
Seorang pelayan laki-laki membawakan beberapa gulungan kain menghampiri Rona. Namun Pandangan matanya tertutupi dan hampir menabrak Rona yang berada di depannya.
“Brak…” Suara dari beberapa kain gulungan terjatuh beserta pelayan laki-laki tersebut.
Rona yang saat itu kaget karena hampir tertimpa tumpukan kain tersebut merasa legah karena pinggangnya ditarik oleh seseorang.
Rona segera mengatur nafasnya, dan menatap lelaki yang tertumpuk gulungan kain tersebut.
“Kau tidak apa-apakan?” Tanya lelaki yang memegangi pinggan Rona.
Rona yang belum sadar berada dalam pelukan lelaki itu pun menoleh ke arahnya, dari arah pandangan ke pelayan tersebut.
“Ahh kamu?” Nada kaget Rona menatap seseorang yang ada di hadapannya.