Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Ngambek
Bianca duduk mematung, pikiranya bercabang antara harapan yang dia impikan di kehidupan pertamanya dan jalinan kontrak Lora.
"Maaf, Nyonya. Sejak awal hubungan kami, Hernan tidak pernah suka jika aku mendesak soal pernikahan. Dia memang tidak berniat meminangku," ucap Bianca datar.
Hatinya teriris; mengapa di kehidupan pertamanya wanita ini tidak pernah datang? Sementara sekarang, di kehidupan kedua saat ia sebenarnya sudah mati, Bianca hanyalah wanita yang terikat kontrak kegelapan.
Béatrice mendengus remeh, menyipitkan mata menatap Bianca.
"Laki-laki memang tidak akan pernah berniat sebelum dipaksa, apalagi jika dia merasa sudah mendapatkan segalanya tanpa harus memberi janji. Tapi di keluarga ini, aku yang menentukan kapan sebuah permainan harus diresmikan. Jangan bodoh, Bianca. Ambil posisi itu sebelum wanita lain yang mengambilnya, atau kau akan berakhir sebagai sampah yang dibuang tanpa harga diri. Aku yang akan bicara padanya, kau cukup pastikan dia tidak bisa lepas darimu malam ini."
Bianca melirik cermin pajangan di sudut ruangan; pantulannya tampak beriak. Di sana, Lora berdiri bersedekap dengan wujud diri Bianca, menatap datar tanpa provokasi.
"Brengsek, cermin iblis! Sepertinya Lora sengaja mengujiku," batin Bianca, yakin bahwa Lora tidak bisa membaca isi hatinya.
"Silakan Anda bicara sendiri pada putra Anda, Nyonya. Saya sudah menyerah menghadapi Hernan," ucap Bianca dingin.
Béatrice mengangkat dagu, sorot matanya menajam karena harga dirinya merasa tertantang oleh sikap acuh tak acuh Bianca.
"Berani sekali kau bicara dengan nada seperti itu padaku. Tapi kejujuranmu cukup menarik; setidaknya kau tidak berpura-pura menjadi gadis malang yang memelas. Tetaplah pada posisimu, jangan biarkan dia merasa sudah memilikimu sepenuhnya. Biar aku yang mengurus keras kepalanya. Besok, saat dia menginjakkan kaki di sini, dia akan tahu bahwa keputusannya bukan lagi miliknya sendiri."
****
Bianca berteriak, suaranya melengking di tengah kesunyian setelah Béatrice melangkah keluar. Nafasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah cermin tempat Lora berada.
"Lora!!!!!"
Cermin itu kembali beriak. Sosok Lora yang menyerupai dirinya muncul perlahan, masih dengan posisi bersedekap dan senyum tipis yang memuakkan, senyumnya mengejek Bianca.
"Kenapa kau memanggilku seperti itu, Bianca? Bukankah segalanya berjalan sempurna?"
"Sempurna katamu? Ibunya datang! Wanita yang bahkan tidak pernah melirikku di kehidupan sebelumnya, tiba-tiba datang dan mendesak pernikahan! Kau sengaja, kan? Kau yang memanggilnya ke sini untuk mengujiku!" Bianca mendekati cermin itu.
Lora tertawa rendah, sebuah bunyi yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. "Aku tidak memanggilnya, aku hanya 'membukakan jalan' agar instingnya bekerja lebih tajam. Lagipula, bukankah ini yang kau butuhkan untuk mendapatkan apartemen itu? Hernan akan merasa terdesak antara obsesinya dengan Aurèlie dan tekanan ibunya. Di tengah kekacauan itulah, kau bisa meminta apa pun, Bianca. Termasuk kunci apartemen di jantung Paris itu."
Lora melangkah maju hingga wajahnya di dalam cermin seolah hanya berjarak satu inci dari wajah Bianca. "Jangan salahkan aku jika kau masih memiliki sisa-sisa hati yang terasa perih. Tugasmu hanya bermain peran. Ingat, kau sudah mati. Dan orang mati tidak butuh pernikahan, mereka butuh pembalasan."
"Ah, brengsek! Pergilah, aku ingin sendiri di kamarku. Ingat, jangan ikuti aku!"
Bianca menyambar kain-kain tipis, lalu dengan gerakan kasar menutup beberapa cermin di ruang tamu dan kamarnya. Ia tidak sudi melihat pantulan Lora maupun dirinya sendiri.
Setelah itu, ia menyalakan aplikasi Spotify dan memutar musik heavy metal dengan volume maksimal. Dentuman musik yang memekakkan telinga memenuhi ruangan, seolah mencoba menelan semua kegelisahan dan kemarahan yang berkecamuk di dalam dadanya.
Lora hanya mendengus geli saat melihat kain-kain itu menutupi permukaannya. Baginya, kemarahan Bianca hanyalah hiburan murahan. Di balik kegelapan kain tersebut, sosok Lora memudar menjadi kepulan asap hitam, namun suaranya masih menggema tipis di antara dentuman musik heavy metal yang memekakkan telinga.
"Tutup sesukamu, Bianca. Tapi kau tidak bisa menutup mata dari kenyataan bahwa kau membutuhkan aku untuk menghancurkan mereka," bisik Lora, suaranya merayap di sela-sela frekuensi musik yang keras.
Lora tidak pergi. Ia hanya bergeser ke sudut-sudut bayangan ruangan yang tak tertutup kain, mengawasi Bianca dengan tatapan lapar. Ia tahu, semakin Bianca memberontak, semakin besar lubang di jiwanya yang bisa Lora masuki. Lora membiarkan Bianca menikmati "kesendiriannya" sejenak, sementara ia sendiri mulai menenun benang-benang tak kasat mata untuk menyambut kedatangan Hernan besok.
Suasana apartemen kini sangat kontras: musik cadas yang membahana dan Bianca yang tampak frustrasi. Apakah
****
Hernan, yang seharusnya baru kembali esok hari, tiba-tiba muncul di tengah malam. Ia tertegun saat melangkah masuk; cermin-cermin indah di ruang utama tertutup kain, begitu pula dengan cermin besar di dalam kamarnya.
"Astaga, Bianca... apa yang kau lakukan pada cermin-cermin ini?" gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Ia menatap kekasihnya yang tertidur pulas tanpa lingerie seksi, hanya mengenakan babydoll sutra merah. Sorot mata Hernan tampak berkecamuk, dipenuhi rasa bersalah yang menyesakkan. Baru beberapa jam yang lalu, ia membuat janji temu dengan Aurèlie untuk esok hari di Paris. Bahkan saat ia menelepon dengan nada canggung, mantan kekasihnya itulah yang lebih dulu mengambil inisiatif.
Pagi harinya, Bianca terkesiap saat melihat sosok pria di sampingnya.
"Hernan? Kau sudah pulang?" Bianca menyentuh rahang tegas pria itu, matanya menunjukkan keterkejutan yang terlihat sangat natural.
"Aku merindukanmu lebih cepat dari dugaanku," jawab Hernan pendek, mengecup dahi Bianca ada kilat kegelisahan di matanya.
Beberapa saat kemudian, mereka berada di meja makan yang hanya berisi kopi dan croissant hangat. Bianca menyesap kopinya perlahan sebelum membuka suara.
"Hernan, kemarin ibumu datang. Beliau mendesak hal-hal yang membuatku takut," Bianca menunduk, memainkan jemarinya. "Aku sadar, aku tidak bisa selamanya bergantung padamu di sini. Aku butuh tempat tinggal sendiri... untuk masa depanku jika suatu saat kau tak lagi membutuhkanku."
Hernan terdiam sejenak, "Aku belum siap bicara soal pernikahan, Bianca. Tapi aku tidak ingin kau merasa tidak aman. Pakailah kartu ini untuk memilih apartemen yang kau suka. Cari yang sesuai dengan keinginanmu."
Bianca menatap ragu yang dibuat-buat. "Kau tidak mau menemaniku memilihnya? Aku takut pilihanku terlalu mahal untukmu."
Hernan tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa bersalahnya karena siang ini ia harus menemui Aurèlie. "Pilihlah yang terbaik di Paris, Bianca. Tidak ada kata terlalu mahal untuk ketenanganmu. Aku ada urusan bisnis siang ini, jadi silakan pergi dengan agen propertimu."
...****************...
...Halo, para pembaca setia VIC! Terima kasih banyak sudah hadir dan meramaikan genre fanfiction pertamaku ini....
...Dukungan kalian dalam bentuk like, vote, atau sekadar menonton iklan sangat berarti bagiku....
...Punya ide atau saran negara mana lagi yang harus dijelajahi Bianca? Yuk, langsung tulis di kolom komentar, ya!...
...Salam, VIC...
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?