Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tuduhan yang patah
Hari esok pagi, mata Dewi terbuka lebih cepat dari biasanya. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai, dan yang pertama kali terlintas di benaknya adalah uang lima puluh ribuan yang tersembunyi di balik bantal. Tangan dia tergerak sendiri menyentuh tempat itu – uang itu masih ada, tegas dan nyata di genggaman.
"Dia masih tidur," bisiknya sambil melihat Arif yang masih terlelap. Badannya masih terasa sedikit nyeri, tapi semangatnya lebih kuat. Hari ini, dia akan membeli daster baru yang nyaman – seperti yang dia impikan malam sebelumnya.
Dia bangun dengan hati-hati, mengambil tas kecilnya, dan menyimpan uang itu di dalamnya. Dia mandi cepat, memakai baju lama yang paling rapi, lalu keluar rumah tanpa mengganggu Arif. Di pasar terdekat, dia berjalan perlahan melewati toko-toko baju. Hingga akhirnya, matanya terpaku pada sebuah daster warna biru muda yang tergantung di rak depan. Bahan kainnya lembut, seperti wol, dan harganya pas persis – lima puluh ribuan.
"Bu, boleh lihat daster ini?" tanya Dewi pada penjual.
"Silakan, Bu. Bahan nya bagus banget, nyaman dipakai malem atau siang," jawab penjual dengan senyum.
Dewi memegang kainnya, merasakannya dengan jari. Rasanya sempurna. Dia segera membayar dengan uang ibunya, membungkus daster itu dengan hati senang, dan berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Bahkan nyeri di badannya seolah hilang sementara.
Saat tiba di rumah, dia melihat Arif sudah bangun dan berdiri di depan lemari. Wajahnya tampak marah, alisnya terkulit.
"Di mana uang simpanan ku, Dewi?" tanya Arif dengan suara yang rendah tapi mengancam.
Dewi merasa dada nya terasa sesak. "Apa yang kamu maksud, Arif?"
"Uang seratus ribu yang aku simpan di laci atas lemari! Sudah tidak ada lagi! Kamu yang ambil kan?" teriak Arif, matanya membelalak.
"Enggak, aku tidak mengambil apa-apa!" jawab Dewi dengan suara gemetar. "Aku tidak pernah menyentuh lemari itu, apalagi uang mu!"
"Jangan bohong! Cuma kamu yang ada di rumah selain aku! Siapa lagi yang bisa ambil?" Arif mendekat ke arah Dewi, membuat dia mundur mundur.
"Dia beneran tidak ambil, Mas. Aku yang kasih uangnya!"
Suara itu datang dari pintu depan. Kedua orang itu memalingkan wajah dan melihat Ibunya Dewi yang baru saja tiba. Ibunya Dewi berdiri tegak, wajahnya tegas.
"Ibumu? Apa yang dia maksud, Dewi?" tanya Arif, suara nya sedikit melemah tapi masih marah.
Dewi memegang bungkusan daster di tangannya. "Aku... aku membeli daster ini dengan uang yang ibuku berikan kemarin malam. Uang lima puluh ribuan. Aku tidak pernah menyentuh uang mu, Arif."
Arif memandang bungkusan di tangannya, lalu melihat Ibunya Dewi. "Jadi kamu beli baju baru dengan uang ibumu? Tapi kenapa uang ku hilang? Itu tidak mungkin!"
"Ingat ya, Arif. Jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti," kata Ibunya Dewi dengan suara yang tegas. "Kalau uang mu hilang, cek lagi baik-baik. Atau mungkin kamu lupa taruh di mana."
Tetapi Arif tidak mau mendengar. Dia berbalik ke Dewi, mata nya masih menyala marah. "Kamu pasti berbohong! Kamu ambil uang ku untuk beli baju ini, lalu minta ibumu buat menutupi!"
"Enggak, itu tidak benar!" teriak Dewi, air mata sudah mulai menetes. "Aku sudah capek, Arif! Selalu disia-siakan, selalu di tuduh! Aku hanya mau membeli sesuatu kecil untuk diriku sendiri, apa salahnya?"
"Salah! Kamu seharusnya minta izin aku dulu kalau mau beli sesuatu! Dan jangan bohong soal uang ku!" Arif menendang kursi yang ada di depan nya, membuat kursi itu terjatuh.
Dewi menangis terisak-isak. "Aku sudah memberi tahu kamu, itu uang ibuku! Kamu tidak pernah mau memberi uang aku buat apa-apa, bahkan buat obat! Aku harus jaga diriku sendiri, kan? Seperti yang aku pikir malam kemarin!"
"Jadi kamu menyalahkan aku? Aku yang bekerja keras buat uang ini, dan kamu malah menyalahkan aku karena tidak memberi uang mu?" Arif teriak lagi, suaranya memecah keheningan rumah. "Kamu itu istri yang buruk! Tidak tahu menghargai suaminya!"
Ibunya Dewi mendekat dan menepuk bahu Dewi. "Jangan menangis, anakku. Kamu tidak salah. Yang salah adalah dia yang tidak bisa memahami kesulitan mu." Lalu dia memalingkan wajah ke Arif. "Arif, kamu harus tau. Setelah operasi, Dewi butuh perawatan yang baik. Tapi kamu malah kembali ke kebiasaan lama – jarang ada di rumah, tidak peduli padanya. Dia hanya mau sesuatu yang kecil buat dirinya sendiri, apa yang salahnya?"
"Tapi uang ku hilang, Bu! Bagaimana itu?" tanya Arif, suara nya sudah mulai merintih.
"Kalau begitu, mari kita cek lagi lemari itu sama-sama," kata Ibunya Dewi. "Mungkin kamu lupa taruh di mana, atau terjatuh di bawah baju."
Ketiga orang itu pergi ke depan lemari. Arif membuka laci atas, mencari-cari dengan cepat. Tiba-tiba, dia melihat selembar kertas di bawah tumpukan baju. Dia menariknya, dan ternyata itu uang seratus ribu yang dia cari – terlipat rapat dan terjatuh di bawah baju.
"Aduh... maaf, Dewi. Aku... aku lupa taruh di sini," kata Arif, wajahnya memerah karena malu dan bersalah.
Tetapi Dewi tidak merasa lega. Semua kemarahan dan kesedihan yang dia tahan sehari-hari tiba-tiba meluap. "Malu? Itu saja? Kamu sudah menuduh aku, memarahiku, menyebutku istri yang buruk – hanya karena kamu tidak cek dengan baik!" teriak Dewi, air mata nya terus menetes. "Aku sudah capek, Arif. Capek disia-siakan, capek di tuduh tanpa alasan. Malam kemarin, aku berpikir kita bisa mulai lagi – tapi ternyata, kamu masih sama saja!"
Arif berdiri terbebani, tangan nya memegang uang itu. "Maaf, Dewi. Benar-benar maaf. Aku tidak sengaja. Aku cuma panik karena uang itu penting buat bayar tagihan motor."
"Tapi kamu tidak pernah berpikir tentang perasaanku? Tidak pernah tanya bagaimana aku, apakah aku sakit atau tidak?" Dewi menangis lebih kencang. "Aku hanya ingin dihargai, Arif. Hanya itu."
Arif mendekat, ingin menepuk bahu nya, tapi Dewi mundur. "Jangan sentuh aku. Aku butuh waktu sendirian." Dia berjalan ke kamar tidur, memasukkan daster baru ke dalam lemari, lalu membekukan diri di atas tempat tidur. Dia mendengar suara Ibunya Dewi berbicara dengan Arif di luar, tapi dia tidak mau mendengar apa-apa. Hanya rasa sakit dan kecewa yang memenuhi hatinya.
Malam itu, Arif masuk ke kamar. Dia duduk di tepi tempat tidur, melihat Dewi yang masih berdiam. "Dewi... maaf banget. Aku sungguh menyesal. Aku harus lebih perhatian padamu, tidak boleh sembarangan menuduh. Kamu berhak membeli sesuatu untuk dirimu sendiri. Aku akan berusaha menjadi suami yang lebih baik, janji."
Dewi tidak membalas. Dia melihat ke jendela, melihat bulan yang menyinari langit. Dia tidak tahu apakah janji Arif ini akan terpenuhi, atau hanya akan menjadi janji lain yang tertelan kekeras kepala. Tapi satu hal yang dia tahu – dia sudah menemukan sedikit kekuatan dalam dirinya sendiri. Dan dia tidak akan lagi membiarkan diri nya disia-siakan begitu saja.