Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Penerbangan panjang membelah benua akhirnya membawa Tim Aether menapakkan kaki di London. Udara kota ini di awal bulan Juni terasa sangat kontras dengan kehangatan danau di tanah air, yaitu dingin, berangin, dan diselimuti langit abu-abu yang kaku. London Copper Box Arena, tempat diadakannya turnamen esports , berdiri megah dengan kerlap-kerlip lampu LED raksasa yang menampilkan wajah-wajah para pro player top dunia, termasuk wajah Jasmine dan Axel. Begitu mereka memasuki hotel tempat karantina resmi, atmosfer kompetisi langsung mencekik ruang napas. Ratusan pasang mata dari tim-tim global menatap Tim Aether dengan pandangan mengintimidasi. Di tengah pusaran tekanan itu, Axel kembali menjadi sosok kapten yang tidak tersentuh. Namun, ada satu hal yang berbeda, perhatiannya pada Jasmine kini berkali-kali lipat lebih intens, bukan lagi sekadar sebagai pelatih, melainkan sebagai seorang pria yang takut kehilangan dunianya. Setiap kali Jasmine melangkah keluar kamar untuk mengambil air minum atau menuju lobby, Axel selalu ada di sampingnya, memastikan tidak ada orang asing yang mendekat. Bahkan saat sarapan di aula hotel, Axel secara khusus memesankan menu makanan hangat yang sesuai dengan lambung sensitif Jasmine.
"Makan yang banyak, Jasmine. Di London suhunya ekstrem, aku gak mau fisik kamu drop sebelum kita naik ke atas panggung besok," ucap Axel sambil meletakkan sepiring roti panggang dan sup jamur hangat di depan Jasmine. Tatapan matanya yang biasanya sedingin es, kini memancarkan binar kecemasan yang teramat dalam, sebuah perhatian intens yang perlahan terasa melintasi batas profesionalisme mereka selama ini. Jasmine hanya mengangguk pelan, mendekap erat kantung aromaterapi dari Liam di dalam saku mantel tebalnya sebagai satu-satunya penawar rasa sesak yang mulai kembali bersarang di hatinya. Kehangatan sup jamur yang mengepul di hadapannya seolah menguap begitu saja, kalah oleh hawa dingin yang dibawa dari luar jendela aula hotel, juga dari atmosfer kaku yang diciptakan oleh Axel. Jasmine mengaduk supnya pelan dengan sendok perak, membiarkan bunyi denting halus bersahutan dengan riuh rendah suara para pemain dari berbagai negara yang memenuhi ruangan.
Di seberang meja, Bryan sibuk mengunyah sosis panggang sambil matanya tidak berhenti menjelajahi seisi ruangan. "Gila ya, ini tim dari Amerika Utara badannya bongsor-bongsor amat. Itu tangan apa pisang ambon? Sekali tampar monitor bisa belah dua kali," bisiknya heboh dengan mulut setengah penuh.
"Fokus sama makanan lo, Bryan. Terus jaga sopan santun. Kita di sini membawa nama baik wilayah kita," tegur Kenzie sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain secara elegan. Meskipun nadanya santai, ketegangan di bahu Kenzie memperlihatkan bahwa dia pun merasakan intimidasi tak kasatmata di aula ini.
Axel tidak memedulikan celetukan anak-anak tim. Matanya tetap tertuju lekat pada Jasmine, mengamati setiap gerak-gerik gadis itu dengan intensitas yang membuat Jasmine merasa tidak nyaman. "Kamu gak makan rotinya, Jasmine. Karbohidrat itu penting untuk stamina otak kamu besok. Mau aku pesan menu lain? Bilang aja, aku bisa minta pihak dapur hotel buat siapin," ujar Axel, suaranya melembut namun tetap mengandung nada menuntut yang samar.
"Enggak usah, Kak. Ini udah cukup kok," jawab Jasmine pendek, mencoba memaksakan satu suapan sup ke dalam mulutnya. Rasa jamur yang gurih mengalir di tenggorokannya, tapi perutnya yang telanjur tegang karena gugup menolak untuk menerima lebih banyak makanan.
Melihat respons dingin dari Jasmine, Axel menghela napas panjang. Ada guratan kekecewaan yang melintas cepat di wajah tampannya, sebelum digantikan kembali oleh topeng ketegasan seorang kapten. Ia tahu, sejak insiden di depan pagar rumah Jasmine malam itu, ada sebuah retakan tak kasatmata yang memisahkan mereka. Jarak ribuan kilometer yang telah mereka tempuh dari tanah air ke London ternyata tidak otomatis mengikis keberadaan Liam dari pikiran gadis itu. Justru di tempat yang asing dan dingin ini, bayangan sang barista tampan terasa semakin nyata menjadi pelarian mental bagi Jasmine.
"Ya udah. Selesai makan, langsung kembali ke kamar masing-masing. Jangan ada yang keluyuran ke lobby atau area gym tanpa seizin gue. Malam ini kita akan melakukan peninjauan akhir video pertandingan mereka di ruang rapat mini hotel," ucap Axel mutlak seraya berdiri dari kursinya, meninggalkan meja makan dengan langkah tegap yang berwibawa.
Begitu punggung sang kapten menghilang di balik pintu kaca aula, Jasmine diam-diam merosotkan bahunya, mengembuskan napas lega yang panjang. Ia merogoh saku mantel tebalnya, meremas kantung flanel biru muda pemberian Liam. Jemarinya merasakan tekstur kelopak mawar dan chamomile kering di dalamnya. Aroma mint yang samar namun menyegarkan perlahan merayap naik ke indra penciumannya saat ia mendekatkan telapak tangannya ke wajah. Seketika itu juga, ingatan Jasmine melayang kembali ke tepi danau yang damai, suara tawa renyah Liam, dan ke kebodohan Donald yang selalu berhasil membuatnya melupakan kepenatan dunia.
"Jasmine, kamu gak papa?" tanya Ilias lembut, memecah lamunan Jasmine.
"Eh? Iya, Kak Ilias. Aku cuma agak kaget aja sama suhu di London," alibi Jasmine sambil membetulkan letak kerah mantelnya.
Ilias tersenyum tipis, seolah bisa membaca apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam kepala adik bungsunya. "London memang dingin, Dek. Tapi jangan biarin hati kamu ikut membeku di sini. Ingat, kita ke sini untuk bermain game yang kita cintai, bukan untuk menjadi tawanan perang. Kalau kamu merasa terlalu lelah dengan semua aturan Kak Axel, ngomong aja sama Kakak, ya?"
Jasmine merasakan kehangatan yang tulus dari ucapan Ilias. Ia mengangguk pelan. "Makasih, Kak Ilias. Aku hargai sekali."
Sisa waktu sarapan itu dihabiskan dengan obrolan ringan mengenai peta kota London yang sempat dilihat Bryan dari jendela taksi kemarin. Setelah selesai, mereka berlima kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap menghadapi sesi analisis taktis yang panjang.
Ketika Jasmine memasuki kamar hotelnya yang mewah namun terasa asing, ia langsung berjalan menuju jendela besar yang menyajikan pemandangan lanskap kota London yang berkabut. Di bawah sana, bus-bus tingkat berwarna merah ikonik dan lalu lalang orang dengan payung terlihat seperti semut-semut kecil. Tempat ini sangat megah, panggung yang diimpikan oleh jutaan pemain esports di seluruh dunia. Namun, di dalam hati kecilnya yang paling dalam, Jasmine tahu ada sebagian kecil dari dirinya yang merindukan kesederhanaan jalan setapak di seberang rumahnya. Ia mengeluarkan kantung aromaterapi dari saku mantelnya, meletakkannya dengan hati-hati di atas meja samping tempat tidur, tepat di sebelah perangkat headset dan mouse gamingnya. Dua benda yang sangat kontras, yang satu melambangkan ambisi, tekanan, dan ekspektasi besar yang dipaksakan oleh Axel, sementara yang satu lagi melambangkan kebebasan, ketenangan, dan penerimaan tanpa syarat yang ditawarkan oleh Liam.
Jasmine duduk di tepi kasur, menatap kedua benda itu bergantian dengan perasaan yang semakin buncah. Di dalam benaknya, sebuah pertanyaan besar kembali menggantung dengan egois. Apakah kemenangan di London nanti sepadan dengan kebebasan jiwanya yang perlahan-lahan mulai terkikis di bawah kendali posesif sang kapten? Ia tidak tahu jawabannya sekarang, namun ia tahu bahwa esok hari, ketika lampu panggung Copper Box Arena menyala terang dan ribuan pasang mata menatap ke arahnya, ia harus mengubur seluruh pergolakan emosional ini dalam-dalam demi lambang Tim Aether yang tersemat di dadanya.
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏
Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁
Terima Kasih 🙏🙏🙏