NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Cinta Masa Lalu

Suasana kemenangan di gudang pelabuhan lenyap seketika. Kepergian Rania meninggalkan luka yang jauh lebih perih daripada ancaman Jenderal Adi. Citra masih berdiri diam, wajahnya pucat, matanya menatap lurus ke arah Putra, menunggu penjelasan yang rasanya semakin sulit diterima. Di dalam hatinya, rasa bahagia karena kebenaran terungkap kini tertutup kabut gelap bernama masa lalu.

Putra mendekat, tangannya gemetar ingin menyentuh wajah istrinya, namun Citra mundur selangkah. Penolakan itu terasa seperti tusukan pisau di dada pria itu.

"Citra... dengarkan aku," pinta Putra pelan, suaranya penuh kepedihan. "Aku tidak pernah bermaksud menyembunyikan ini. Awalnya aku diam karena aku pikir semua itu sudah selesai, sudah menjadi bagian masa lalu yang mati. Dulu... ya, aku memang mencintainya. Rania adalah wanita yang sangat aku sayangi. Kami berjanji akan menikah, membangun hidup bersama. Tapi saat ancaman Jenderal Adi semakin nyata, saat nyawa orang terdekatku jadi taruhan, aku sadar aku tidak bisa melindunginya. Aku memutuskannya sepihak, aku mendorongnya pergi menjauh, dan aku menerima perjodohan denganmu. Bukan karena aku membencimu, tapi karena aku ingin memberikan Rania kehidupan yang aman dan jauh dari bahaya."

Putra menunduk dalam, rasa bersalah lama kembali bangkit. "Dulu, bagiku, pernikahan ini hanyalah topeng. Aku berpikir kau adalah bagian dari musuh, dan kau juga alat pengalih perhatian agar musuh tidak mengincar Rania. Tapi semua itu berubah, Citra. Semuanya berubah saat aku mulai mengenalmu, saat aku melihat ketulusanmu, kelembutanmu, dan kekuatanmu. Hatiku berubah perlahan tanpa aku sadari. Kau bukan lagi alat, bukan lagi tameng. Kau menjadi duniamu. Dan aku pikir Rania sudah bahagia dengan hidupnya sendiri... aku tidak tahu dia masih menyimpan dendam sebesar ini."

Citra menahan isak tangisnya, menelan rasa sakit yang mengganjal di tenggorokan. "Jadi selama ini... saat kau bersikap dingin, saat kau menyakitiku... sebagian dari itu karena hatimu masih miliknya? Dan aku... aku hanya pengganti yang hadir saat kau sedang terluka dan bingung?"

"Tidak! Tidak pernah!" bantah Putra cepat, matanya menatap tajam namun penuh cinta. "Kau bukan pengganti. Kau adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuatku jatuh cinta sepenuh hati. Rania adalah masa lalu, Citra. Kamu adalah masa depanku. Percayalah padaku."

Namun kata-kata itu belum cukup menyembuhkan luka yang baru saja dibuka Rania. Citra menggeleng lemah, lalu berbalik berjalan keluar dari gudang, menuju mobilnya. "Aku butuh waktu, Mas. Aku butuh ketenangan untuk memproses semuanya. Tolong... jangan ikut aku malam ini."

"Citra!" panggil Putra, ingin mengejar namun terhenti saat Kolonel Bayu menahan bahunya.

"Biarkan dia pergi dulu, Putra. Wanita butuh waktu saat hatinya tersentuh begitu dalam," nasihat Kolonel Bayu bijak. "Masalahmu belum selesai. Rania bukan wanita biasa. Dia tahu banyak rahasiamu, dia tahu kelemahanmu, dan dia punya kekuatan yang entah bagaimana dia dapatkan. Kau harus waspada. Ancaman dari dalam seringkali jauh lebih berbahaya daripada musuh terlihat."

Putra menatap punggung Citra yang menjauh menghilang di kegelapan malam. Dadanya terasa sesak. Ia pikir setelah menangkap Jenderal Adi, semuanya akan mudah, ternyata perjuangan mendapatkan hati Citra sepenuhnya baru saja dimulai.

Beberapa hari berlalu. Suasana di kediaman mereka menjadi dingin dan canggung kembali, namun bedanya kali ini bukan karena kebencian, melainkan karena kesalahpahaman dan rasa sakit hati. Citra tetap pergi bekerja ke rumah sakit, berangkat pagi pulang sore, menghindari percakapan panjang dengan Putra. Ia bersikap sopan dan layaknya istri, namun jarak di antara mereka terasa begitu jauh.

Putra berusaha keras memperbaiki keadaan. Ia pulang tepat waktu, ia berusaha membantu pekerjaan rumah, ia mencoba berbicara, namun setiap kali nama Rania terlintas atau percakapan mengarah ke sana, Citra akan menutup diri.

Suatu sore, saat Citra sedang sibuk memeriksa pasien di ruangannya, seorang perawat masuk membawa seikat bunga mawar merah yang sangat indah dan besar.

"Dokter Citra, ini ada kiriman untuk Anda," ucap perawat itu sambil tersenyum.

Citra mengerutkan kening, mengambil kartu yang terselip di antara bunga itu. Tulisan tangan yang elegan namun tajam tertulis di sana:

"Tidak mudah menjadi pengganti, bukan? Datanglah ke alamat di bawah ini jika kau ingin tahu segala keburukan suamimu, hal-hal yang tidak pernah dia ceritakan padamu. Aku akan berikan bukti bahwa dia tidak sebaik yang kau pikirkan. - Rania"

Jantung Citra berdegup kencang. Wanita itu kembali beraksi. Kali ini langsung mendatangi tempat kerjanya, berusaha merusak citra Putra di matanya. Citra ragu, namun rasa ingin tahu dan ketakutan bahwa mungkin masih ada rahasia lain yang disembunyikan mendorongnya untuk pergi. Ia harus tahu seberapa dalam ikatan masa lalu itu.

Sore itu, setelah selesai bertugas, Citra mengarahkan kendaraannya ke sebuah kafe eksklusif di pusat kota, tempat yang tertulis di alamat itu. Di sudut ruangan yang agak gelap, Rania sudah menunggu dengan secangkir teh di hadapannya. Ia tersenyum lebar saat melihat Citra datang.

"Kau akhirnya datang juga, Dokter Cantik," sapa Rania ramah namun matanya menyala penuh tantangan. "Duduklah. Kita perlu bicara sebagai wanita, bukan sebagai musuh."

Citra duduk di hadapan wanita itu, menjaga sikap tenang dan tegas meski hatinya bergemuruh. "Apa yang kau inginkan? Kau sudah cukup membuat kekacauan malam itu. Apa lagi yang kau punya?"

Rania tertawa pelan, lalu mengeluarkan sebuah ponsel dan selembar foto dari tasnya. Ia meletakkannya di meja, memutar foto itu menghadap ke arah Citra.

"Kau pikir kau tahu segalanya tentang suamimu? Kau pikir dia hanya menyembunyikan hubungannya denganku? Lihatlah ini."

Citra menatap foto itu. Warnanya agak lama, terlihat diambil beberapa tahun lalu. Di sana terlihat Putra dan Rania sedang berdiri berdua di depan sebuah rumah mewah, saling berpegangan tangan, tertawa bahagia. Namun yang membuat darah Citra mendidih bukan hanya kedekatan mereka, melainkan tulisan di bawah foto itu: "Pertunangan, 12 Agustus, 5 tahun lalu".

"Pertunangan?" tanya Citra lirih, suaranya tercekat.

"Ya. Kami bertunangan, Citra. Kami hampir menikah. Semua persiapan sudah ada. Hanya karena ancaman Jenderal Adi, dia membatalkan semuanya, memutuskanku, dan menikahimu. Kau tahu apa artinya? Artinya kau adalah orang ketiga dalam kisah kami, meski kau tidak bersalah. Kau adalah pengganti yang dipaksa keadaan." Rania mendekatkan wajahnya, nadanya berubah menjadi ancaman dingin.

"Dan ada lagi yang harus kau tahu. Dulu, saat dia meninggalkanku, dia berjanji... dia berjanji bahwa jika bahaya itu hilang, dia akan kembali padaku. Dan sekarang, bahaya itu sudah hilang. Jenderal Adi sudah di penjara. Maka secara janji, dia milikku kembali."

"Itu janji masa lalu. Dia sudah mencintaiku sekarang," bantah Citra, berusaha tetap tegar meski rasa sakit menusuk dada.

"Cinta?" Rania tertawa sinis. "Kau terlalu polos, Citra. Kau pikir cinta itu mudah berubah? Kau pikir dia benar-benar mencintaimu? Dia hanya merasa bersalah padamu karena dia sudah menyakitimu begitu lama. Dia hanya merasa bertanggung jawab. Dan lihatlah ini..."

Rania membuka galeri di ponselnya, memperlihatkan rekaman suara. Suara Putra terdengar jelas, berat, dan penuh emosi, rekaman yang tampak dibuat sekitar empat tahun lalu.

"Rania, maafkan aku. Aku harus pergi. Aku harus menikahi putri Haris Lestari demi keamananmu, demi misiku. Tapi percayalah, tidak ada wanita lain yang bisa menggantikanmu di hatiku. Citra bagiku hanyalah nama, hanyalah kewajiban. Hanya kamu yang kucintai, selamanya."

Suara itu berhenti bergema di ruang kafe yang tenang itu. Citra terdiam kaku, dunianya serasa runtuh kembali. Kata-kata itu... begitu tegas, begitu menyakitkan. Jadi selama ini, di hati terdalamnya, Putra menganggapnya hanya sekadar nama, sekadar kewajiban? Lalu apa arti semua pengakuan cinta semalam di gudang? Apakah itu hanya rasa kasihan?

"Kau dengar itu, kan?" bisik Rania dengan kemenangan di matanya. "Itu suara aslinya, tidak diedit. Dia mengucapkannya tepat sehari sebelum pernikahan kalian. Jadi, Dokter... apakah kau masih yakin dia milikmu? Aku tidak datang untuk berkelahi, aku datang untuk memberi tahu kebenaran. Kau yang memutuskan, apakah kau mau terus hidup dalam kebohongan, atau kau akan mundur secara terhormat dan menyerahkannya kembali padaku."

Citra bangkit berdiri dengan kaki gemetar hebat. Ia tidak bisa bicara, tenggorokannya tercekat oleh tangis yang ditahan. Ia meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi, membawa rasa sakit yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

Di luar, hujan mulai turun deras, seolah turut menangis bersamanya. Citra mengendarai mobilnya tanpa tujuan, air mata mengalir deras membasahi wajah, bercampur dengan air hujan yang menetes di kaca jendela. Ia merasa bodoh, merasa tertipu, merasa bahwa kemenangan atas kebenaran ternyata hanyalah awal dari kekalahan cintanya.

Sementara itu, di markas militer, Putra sedang sibuk berkas-berkas rahasia yang disita dari Jenderal Adi. Kolonel Bayu masuk dengan wajah serius, meletakkan satu dokumen tambahan di meja Putra.

"Ada satu hal lagi yang kami temukan, Putra. Sesuatu yang berhubungan langsung dengan Rania Adhisti."

Putra mengangkat wajahnya, masih terlihat murung memikirkan Citra. "Ada apa lagi dengan dia?"

Kolonel Bayu menunjuk dokumen itu dengan wajah tegang.

"Kami menyelidiki latar belakangnya seperti yang kau minta. Dan kami menemukan fakta mengejutkan. Rania bukanlah wanita biasa, dan dia tidak murni jadi korban seperti yang dia ceritakan padamu dulu. Ayahnya adalah rekan bisnis dekat Jenderal Adi. Dan lebih dari itu... ada catatan bahwa Rania sudah lama menjadi mata-mata Jenderal Adi, ditugaskan untuk mendekatimu, mendapatkan informasi, dan mengendalikanmu. Dulu, hubungan kalian bukanlah murni cinta... itu adalah bagian dari rencana Adi untuk menguasaimu."

Putra terpaku di tempatnya. Matanya membelalak tak percaya. "Apa... apa maksudmu?"

"Dia mendekatimu atas perintah ayahnya dan Adi, Putra. Dia mencuri banyak informasi dari kamu dulu. Dan saat kau memutuskannya, dia marah besar bukan karena cinta, tapi karena dia gagal menjalankan tugasnya dan kehilangan akses ke dirimu. Dia kembali sekarang bukan karena dia mencintaimu, tapi karena dia ingin menyelesaikan apa yang belum selesai, dan dia ingin menghancurkanmu serta keluargamu sebagai balas dendam atas kegagalannya dulu."

Dunia Putra berputar hebat. Rania... wanita yang dia kira dia lindungi, wanita yang dia kira dia cintai... ternyata musuh yang menyamar menjadi kekasih? Semua kenangan indah mereka dulu... semua janji... semuanya palsu?

Dan yang paling mengerikan: Rania saat ini sedang berhadapan dengan Citra.

"Ya Tuhan... Citra!" seru Putra kaget, langsung bangkit berdiri dengan napas memburu. "Dia dalam bahaya! Rania tidak hanya ingin merebutku, dia ingin menghancurkan Citra!"

Tanpa buang waktu lagi, Putra berlari keluar ruangan, melesat naik mobilnya menerobos hujan deras.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!