NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Tempat Pulang

Sudah hampir satu bulan sejak Luna menjadi istri Alex.

Dan tanpa mereka sadari, banyak hal mulai berubah.

Bukan perubahan besar yang langsung terlihat.

Melainkan perubahan-perubahan kecil yang perlahan menjadi kebiasaan.

Seperti Alex yang mulai terbiasa mencari Luna saat pulang kerja.

Atau Luna yang selalu menunggu Alex makan malam meskipun pria itu sering pulang larut.

Hal-hal sederhana.

Tapi cukup untuk membuat hubungan mereka terasa berbeda.

---

Pagi itu Luna sedang berada di dapur.

Ia sebenarnya tidak pandai memasak.

Namun sejak beberapa hari terakhir, ia mulai belajar dari para koki di rumah.

"Kalau yang ini bagaimana?" tanya Luna.

Koki rumah tersenyum.

"Sudah bagus, Nyonya."

Luna tertawa kecil.

"Kalian jangan panggil aku nyonya terus."

"Kalau Tuan Alex dengar, kami bisa dimarahi."

Luna langsung mengernyit.

"Alex semengerikan itu?"

Para pelayan saling berpandangan.

Lalu tertawa.

"Tidak untuk Anda."

Luna tidak terlalu memikirkan ucapan itu.

Sampai suara langkah kaki terdengar dari belakang.

"Apa yang sedang kamu lakukan?"

Luna menoleh.

Alex berdiri di ambang pintu dapur.

Masih mengenakan pakaian kerja.

Berarti pria itu baru pulang.

"Mencoba masak."

Alex terlihat curiga.

"Rumah ini punya lima koki."

Luna langsung cemberut.

"Jadi aku nggak boleh belajar?"

"Boleh."

"Ya sudah."

Alex memperhatikan meja dapur yang berantakan.

Tepung ada di mana-mana.

Mentega tercecer.

Bahkan ada sedikit adonan di pipi Luna.

Pemandangan yang membuat pria itu menahan senyum.

"Ada apa?" tanya Luna.

"Nggak ada."

"Kamu ketawa ya?"

"Nggak."

"Bohong."

Untuk pertama kalinya sejak menikah, suasana di antara mereka terasa begitu ringan.

---

Malam harinya.

Alex sedang menyelesaikan pekerjaan di ruang kerja ketika ponselnya berdering.

Nama yang muncul membuat wajahnya berubah serius.

Ryan.

Alex langsung mengangkat panggilan itu.

"Halo."

"Alex."

Suara Ryan terdengar tidak seperti biasanya.

"Ada masalah."

Jantung Alex langsung menegang.

"Apa?"

"Proyek Jakarta."

Alex langsung berdiri.

Proyek Jakarta merupakan salah satu proyek terbesar perusahaan mereka tahun ini.

"Kenapa?"

"Investor utama mundur."

Alex memejamkan mata.

Sial.

Ini bukan kabar baik.

Bahkan sangat buruk.

"Aku ke kantor sekarang."

"Oke."

Panggilan terputus.

---

Saat Alex keluar dari ruang kerja, Luna kebetulan sedang membawa segelas susu hangat.

"Kamu mau ke mana?"

Alex mengambil kunci mobilnya.

"Ada masalah pekerjaan."

"Jam segini?"

"Iya."

Luna bisa melihat ketegangan di wajah pria itu.

Sesuatu yang jarang terjadi.

Masalahnya pasti serius.

"Hati-hati."

Alex mengangguk.

Lalu pergi.

---

Jam menunjukkan pukul satu dini hari.

Luna masih belum tidur.

Ia duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi yang sebenarnya tidak ia perhatikan.

Pikirannya terus tertuju pada Alex.

Biasanya pria itu sudah pulang sebelum tengah malam.

Namun kali ini tidak.

Pukul dua.

Belum pulang.

Pukul tiga.

Masih belum pulang.

Luna mulai khawatir.

Sampai akhirnya suara mobil terdengar dari halaman.

Ia langsung berdiri.

Alex akhirnya pulang.

---

Begitu pintu terbuka, Luna langsung menyadari sesuatu.

Alex terlihat sangat lelah.

Bahkan lebih lelah dibanding biasanya.

Dasi pria itu sudah longgar.

Rambutnya sedikit berantakan.

Dan wajahnya terlihat pucat.

"Kamu belum tidur?"

Alex terlihat terkejut melihat Luna masih terjaga.

Luna menggeleng.

"Nunggu kamu."

Kalimat sederhana itu membuat langkah Alex terhenti.

Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang menunggunya pulang.

Sangat lama.

Sejak ibunya meninggal.

Tak pernah ada lagi yang menanyakan apakah ia sudah makan.

Apakah ia lelah.

Atau kapan ia akan pulang.

Dan sekarang...

Ada seseorang yang menunggunya.

---

"Masalahnya serius?" tanya Luna pelan.

Alex duduk di sofa.

"Cukup serius."

Luna ikut duduk.

"Tapi bisa diselesaikan?"

"Mungkin."

Jawaban itu tidak terdengar meyakinkan.

Luna memandang pria di sampingnya.

Entah kenapa.

Melihat Alex seperti ini membuat hatinya ikut tidak nyaman.

Pria itu selalu terlihat kuat.

Selalu terlihat mampu mengendalikan keadaan.

Namun malam ini berbeda.

Alex terlihat seperti seseorang yang sedang memikul terlalu banyak beban.

"Sudah makan?"

Alex menggeleng.

Luna langsung berdiri.

"Tunggu."

Meskipun Alex ingin berkata tidak perlu, Luna sudah lebih dulu menghilang ke dapur.

Beberapa menit kemudian ia kembali membawa semangkuk sup hangat.

"Bukan makanan mewah sih."

Luna meletakkannya di meja.

"Tapi lumayan."

Alex menatap mangkuk itu.

Lalu menatap Luna.

"Ini kamu yang buat?"

Luna mengangguk.

"Jangan berharap terlalu tinggi."

Untuk pertama kalinya malam itu, Alex tersenyum kecil.

---

Mereka makan bersama di ruang keluarga.

Suasananya tenang.

Nyaman.

Tanpa tekanan.

Tanpa tuntutan.

Dan tanpa sadar, rasa lelah Alex perlahan berkurang.

"Aneh."

Luna menoleh.

"Apa?"

Alex memandangi mangkuk sup di tangannya.

"Dulu aku pikir rumah cuma tempat untuk tidur."

Luna memperhatikan wajahnya.

"Lalu sekarang?"

Alex terdiam beberapa detik.

Tatapannya beralih ke Luna.

"Kurasa aku salah."

Jantung Luna tiba-tiba berdetak lebih cepat.

Entah kenapa.

Cara Alex menatapnya malam itu terasa berbeda.

Lebih hangat.

Lebih lembut.

Seolah pria itu sedang mengatakan sesuatu tanpa benar-benar mengatakannya.

---

Setelah Alex selesai makan, mereka duduk di balkon kamar.

Udara malam terasa sejuk.

Kota masih dipenuhi lampu-lampu yang berkelap-kelip.

"Terima kasih."

Suara Alex memecah keheningan.

Luna menoleh.

"Untuk?"

"Sudah menungguku."

Luna tersenyum kecil.

"Itu hal biasa."

"Buatku tidak."

Luna terdiam.

Ia tahu apa maksudnya.

Alex tumbuh tanpa ibu.

Tanpa sosok yang selalu menunggunya pulang.

Dan mungkin karena itulah pria itu begitu terbiasa menghadapi semuanya sendirian.

Namun sekarang tidak lagi.

Karena sekarang ada dirinya.

Dan anehnya...

Luna tidak keberatan.

Sama sekali tidak.

---

Malam semakin larut.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang ingin segera masuk ke kamar.

Untuk pertama kalinya.

Keheningan di antara mereka tidak terasa canggung.

Justru terasa nyaman.

Seperti dua orang yang perlahan mulai menemukan tempatnya masing-masing.

Dan tanpa disadari oleh keduanya...

Perasaan yang awalnya hanya rasa peduli mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Sesuatu yang tumbuh perlahan.

Diam-diam.

Namun nyata.

Karena bagi Alex...

Luna bukan lagi sekadar wanita yang menggantikan kakaknya di altar gereja.

Dan bagi Luna...

Alex bukan lagi pria asing yang dipaksakan oleh keadaan.

Mereka mulai menjadi bagian dari hidup satu sama lain.

Sedikit demi sedikit.

Tanpa sadar.

Dan mungkin...

Ini adalah awal dari kisah yang sebenarnya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!