Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Enam ratus juta," teriak seorang pria berbadan gemuk dari barisan depan mengangkat plat nomornya tinggi-tinggi.
"Delapan ratus juta," sahut seorang wanita yang memakai gaun merah menyala dan topeng separuh wajah.
"Satu miliar," timpal sebuah suara yang sangat berat dari arah sofa VIP di sebelah kanan panggung.
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arah pria paruh baya yang menyebut angka satu miliar dengan sangat santai tersebut.
Pria itu memiliki wajah yang sangat menyeramkan dengan bekas sayatan luka panjang melintang di pipi kirinya.
Arga memusatkan pandangan gaibnya ke arah pria menyeramkan itu.
Sistem Arga mendeteksi aura kematian berwarna merah pekat yang mengelilingi seluruh tubuh pria tersebut.
"Satu miliar dari Tuan Broto, apakah ada yang berani memberikan tawaran lebih tinggi?" tanya pembawa acara memanaskan suasana lelang.
Wanita bergaun merah tadi menggertakkan giginya kesal namun dia memilih untuk diam dan menurunkan plat nomornya.
Broto dikenal luas sebagai pemimpin sindikat lintah darat paling kejam yang menguasai setengah jalur perdagangan ilegal di Jakarta.
"Satu miliar seratus juta," ucap seorang pria kurus berkacamata yang duduk santai tidak jauh dari posisi Arga.
Broto menoleh tajam ke arah pria kurus itu dengan pandangan mata yang siap membunuh saat itu juga.
"Lo nyari mati berani nawar barang incaran gue Danu?" ancam Broto mengabaikan seluruh aturan kesopanan di ruangan tersebut.
Pria bernama Danu itu tersenyum tipis dan merapikan letak kacamatanya menggunakan jari tengahnya.
"Ini lelang terbuka Broto, siapa yang punya modal paling besar dia yang berhak bawa pulang barangnya," balas Danu dengan nada mengejek.
"Satu miliar lima ratus juta," teriak Broto mengangkat plat nomornya kembali sambil menggebrak meja kecil di sebelahnya.
Brak.
"Dua miliar," sahut Danu seketika tanpa memberikan jeda napas sedikit pun kepada lawannya.
Seluruh tamu di ruangan itu menahan napas menyaksikan perang ego antara dua mafia besar ibu kota ini.
Arga duduk bersandar sambil melipat kedua lengannya di dada menahan senyum kepuasan yang mulai muncul.
Harga giok hitam pancingannya kini melonjak gila-gilaan melewati batas ekspektasi harga awalnya.
Broto berdiri dari kursinya dan menunjuk lurus tepat ke arah wajah Danu yang masih tersenyum tenang.
"Tiga miliar rupiah," teriak Broto dengan volume suara maksimal yang menggema di langit-langit aula.
"Dan gue jamin kepala lo bakal pisah dari badan besok pagi kalau lo berani nambah satu rupiah lagi malam ini."
Ancaman pembunuhan terang-terangan dari Broto membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
Danu menghela napas panjang dan akhirnya meletakkan plat logamnya ke atas pangkuan paha.
Dia sadar bahwa kehilangan nyawa demi sebuah batu giok kutukan adalah bisnis yang sangat merugikan.
"Tiga miliar rupiah satu kali," hitung pembawa acara memecah ketegangan maut tersebut.
"Tiga miliar rupiah dua kali."
"Tiga miliar rupiah tiga kali, barang sah terjual kepada Tuan Broto."
Tok.
Suara palu kayu diketukkan dengan keras menandakan selesainya proses transaksi yang sangat menguras emosi itu.
Asisten wanita segera membawa kotak kayu itu ke meja VIP Broto dan menerima sebuah kartu hitam khusus dari pria itu.
Pembayaran di pasar lelang ini diproses secara instan malam itu juga untuk menghindari penipuan atau kredit macet.
Ponsel Arga bergetar halus di dalam saku jaketnya mengirimkan notifikasi dari sistem perbankan.
Uang tiga miliar rupiah tanpa potongan pajak sepeser pun telah masuk mendarat ke dalam rekening perusahaannya.
Total uang likuid yang Arga miliki sekarang sudah menyentuh angka enam miliar lima ratus juta rupiah lebih.
Arga merasa tujuannya datang ke tempat kumuh ini sudah tercapai sepenuhnya dengan hasil yang sangat memuaskan.
Dia berniat berdiri dari kursinya untuk segera pulang dan tidur nyenyak di ruko mewahnya.
Namun sebelum dia sempat beranjak, pembawa acara kembali berbicara menggunakan mikrofon dengan nada suara yang sangat misterius.
"Para tamu yang terhormat, harap jangan beranjak dulu karena kantor pusat menitipkan sebuah kejutan spesial untuk penutup malam ini," umum pembawa acara.
Empat orang penjaga berbadan besar berjalan lambat membawa sebuah kotak peti besi panjang ke atas panggung utama.
Peti besi itu dililit oleh rantai baja yang sangat tebal dan dikunci menggunakan tiga buah gembok kuningan raksasa.
"Barang ini baru saja digali dari reruntuhan candi gaib di dasar bumi dan belum ada satu pun kurator kami yang sanggup mengidentifikasi isinya," jelas pembawa acara itu memukul pelan kotak tersebut.
Arga menyipitkan matanya dan secara refleks mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya ke arah peti misterius itu.
Tiba-tiba kedua mata Arga terasa sangat panas dan perih seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum tajam.
Layar biru sistem di dalam pandangannya berkedip sangat brutal dan mengeluarkan warna merah peringatan yang menyilaukan.
"Peringatan ancaman tingkat fatal," lapor suara mekanis sistem dengan nada yang sedikit terdistorsi seolah mengalami gangguan sinyal.
"Energi gaib dari dalam peti tersebut jauh melampaui kapasitas analisis level keterampilan Host saat ini."
Arga buru-buru memejamkan matanya rapat-rapat dan memutuskan aliran energi keterampilannya.
Napasnya memburu dan keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya membasahi kerah kemejanya.
Ada barang yang jauh lebih mengerikan dari pusaka raja laut miliknya sedang terkurung di dalam peti besi karatan tersebut.
"Harga pembukaan untuk kotak misteri rahasia ini adalah angka lima miliar rupiah," tawar pembawa acara membuka sesi lelang paling gila malam itu.
Keheningan mutlak menyelimuti seluruh penjuru aula bawah tanah tersebut.
Tidak ada satu pun peserta lelang yang cukup gila untuk membeli kucing dalam karung seharga lima miliar rupiah.
Bahkan Broto dan Danu pun hanya duduk terdiam memperhatikan peti besi itu dengan wajah ragu dan waspada.
"Jika tidak ada penawaran yang masuk, maka barang ini terpaksa kami kembalikan ke brankas pusat asosiasi," ucap pembawa acara mengangkat palu kayunya bersiap menutup acara.
Tiba-tiba pintu masuk utama ruang bawah tanah itu didobrak terbuka dari luar dengan sangat kasar.
Brak.
Semua orang di dalam ruangan seketika menoleh ke arah pintu masuk dengan wajah terkejut dan bingung.
Belasan pria berpakaian serba hitam legam dan memakai perlengkapan tempur taktis menyerbu masuk memegang senapan laras panjang.
"Semua orang tiarap di lantai menghadap bawah sekarang juga," teriak pemimpin pasukan itu memberikan instruksi keras.
Dor.
Pemimpin itu melepaskan satu tembakan peringatan ke arah langit-langit beton untuk memecah mental para tamu.
Kepanikan luar biasa langsung meledak dan para tamu VIP yang biasanya angkuh itu berhamburan menjerit mencari perlindungan.
Arga dengan refleks yang sangat cepat langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan merayap bersembunyi di balik barisan kursi kayu jati yang tebal.
'Acara elit macam apa ini sampai bisa kebobolan pasukan bersenjata berat begini,' batin Arga mengutuk manajemen keamanan asosiasi.
Dia mengatur napasnya dan mulai mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.
Malam ini dia terpaksa harus menggunakan Trisula Penakluk Ombak miliknya jika para penyerang itu mulai melakukan eksekusi massal.