Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Di Kota Kembang
Beberapa hari setelah gue kembali dari Bogor, Ria semakin sering mencari alasan untuk bertemu. Hampir setiap sore ada “meeting spesial” di ruangannya. Kadang hanya sekadar mengobrol sambil tangannya menyelinap nakal di bawah meja, seolah ingin mengingatkan gue bahwa dia masih punya kuasa atas perhatian gue. Sepertinya cemburu dengan kedekatan gue dan Icha membuatnya semakin agresif.
Suatu siang, Ria mendatangi meja gue dengan ekspresi serius yang dibuat-buat.
“Bram, besok lo nemenin gue ke Bandung. Ada klien penting di sana. Lo sekalian supir, biar nggak ada biaya tambahan. Berangkat pagi ya,” katanya sambil tersenyum penuh arti.
“Besok? Oke, Ri. Meetingnya bakal lama?” tanya gue.
“Belum tahu. Kalau cepat selesai kita pulang, kalau enggak ya menginap. Gue sudah siapkan apartemen,” jawabnya sambil mengedipkan mata.
Keesokan paginya, jam setengah sembilan gue sudah menunggu di parkiran kantor. Ria datang dengan penampilan yang memikat blouse putih ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, rok span hitam yang membalut pinggul dan kakinya dengan sempurna. Aroma parfum mahalnya langsung memenuhi udara begitu dia mendekat.
“Gaspol Bram, kita berangkat sekarang,” katanya sambil masuk ke mobil.
Perjalanan ke Bandung macet total. Kami mengobrol panjang lebar mulai dari strategi kerjaan, gosip kantor, hingga Icha yang disebutnya “anak magang yang terlalu genit”. Gue hanya tersenyum dalam hati. Baru jam sembilan lewat kami benar-benar bisa melaju, dan sampai Bandung sudah siang sekali.
Di kantor klien, kami disambut pasangan suami-istri Bu Ana, wanita empat puluhan yang tegas, dan suaminya Pak Dudi yang lebih kalem. Meeting berjalan alot. Pembahasan strategi marketing, anggaran, hingga negosiasi harga berlangsung alot dan tegang. Ria sibuk berbicara serius dengan Bu Ana, sementara gue mendampingi Pak Dudi membahas hal-hal teknis.
Menjelang maghrib, deal masih belum tercapai. Jam tujuh malam, Ria akhirnya mengusulkan, “Kita lanjut besok pagi saja. Hari ini sudah cukup melelahkan.”
Kami keluar dari kantor klien dan mencari apartemen servis di daerah Dago. Ria langsung memesan apartemen studio mewah melalui aplikasi. Begitu masuk, gue meletakkan barang bawaan di ruang tamu. Ria langsung mandi lebih dulu.
Gue menyalakan TV, mencari siaran rekaman Liga Inggris. Manchester United sedang bertanding. Gue duduk santai di sofa, mencoba mengistirahatkan pikiran setelah seharian penuh tekanan.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Ria keluar dengan penampilan yang membuat napas gue tertahan. Dia hanya mengenakan lingerie pink tipis yang sangat menggoda. Kain sutra itu menempel lembut di kulitnya yang masih agak lembab, bra push-up yang menonjolkan lekuk dadanya, dan potongan bawah yang nyaris tak meninggalkan ruang imajinasi.
Dia berjalan mondar-mandir di depan gue, pura-pura mencari sesuatu di tasnya.
“Ri… lo sengaja ya?” gue bertanya sambil tersenyum, mata tak bisa lepas dari sosoknya.
Ria hanya tertawa kecil, suaranya rendah dan menggoda. Gue akhirnya bangkit dan masuk kamar mandi. Mandi cepat, membersihkan diri, lalu keluar hanya dengan boxer hitam.
Begitu gue keluar, seluruh ruangan sudah temaram. Lampu dimatikan semua, hanya cahaya lampu kota dari jendela besar yang masuk samar. Tiba-tiba Ria muncul dari belakang, memeluk gue erat. Tangannya yang lembut perlahan menurunkan boxer gue hingga jatuh ke lantai.
“Malam ini… lo milik gue,” bisiknya tepat di telinga gue, suaranya penuh hasrat.
Ria menarik gue ke sofa. Dia berlutut di depan gue dengan gerakan yang penuh keinginan. Bibirnya menyentuh kulit gue dengan lembut, lalu perlahan semakin intens. Lidahnya menari dengan ahli, membawa gelombang kenikmatan yang membuat gue mendesah pelan sambil memegang rambutnya yang masih basah.
Gue menariknya naik, mencium bibirnya dengan penuh gairah. Lidah kami saling menari, panas dan dalam. Tangan gue menjelajahi tubuhnya, meremas lembut payudaranya yang penuh, jari gue menyelinap ke balik lingerie, menemukan kulitnya yang sudah hangat dan siap.
“Ri… lo sudah sangat siap,” bisik gue di lehernya.
Gue membaringkannya di tempat tidur. Dengan gerakan perlahan tapi pasti, gue menelusuri tubuhnya dengan bibir — dari leher, turun ke dada, lalu semakin ke bawah. Ria mendesah dan melengkungkan punggungnya saat lidah gue menemukan titik paling sensitifnya. Gue memberinya kenikmatan dengan sabar, mendengarkan setiap erangannya yang semakin tak terkendali.
Tangan Ria mencengkeram seprai, pinggulnya bergerak mengikuti irama lidah gue. Tak lama kemudian, tubuhnya menegang hebat. Gelombang orgasme pertama menyapu dirinya, membuatnya gemetar dan memanggil nama gue dengan suara parau.
Gue naik ke atasnya, memasukinya perlahan, menikmati setiap senti kehangatan yang menyambut gue. Gerakan gue mulai pelan, lalu semakin dalam dan kuat seiring dengan desahan Ria yang semakin keras. Kami bergerak dalam irama yang semakin cepat, tubuh kami saling menempel, keringat bercampur.
“Lebih dalam, Bram…” pintanya dengan suara yang penuh damba.
Gue membalik posisinya, membiarkannya di atas. Ria bergerak dengan liar namun anggun, pinggulnya naik turun dengan ritme yang membuat gue hampir kehilangan kendali. Tangan gue meremas pinggulnya, membantu gerakannya semakin dalam.
Akhirnya, gue tak bisa menahan lagi. Dengan desahan panjang, gue mencapai puncak di dalam pelukannya. Ria menyusul tak lama kemudian, tubuhnya kejang hebat untuk kedua kalinya, napasnya tersengal di dada gue.
Kami berbaring saling berpelukan, tubuh masih basah keringat, napas belum sepenuhnya tenang. Ria meletakkan kepalanya di dada gue, jarinya menggambar lingkaran kecil di kulit gue.
“Ini baru ronde pertama,” bisiknya sambil tersenyum nakal. “Besok pagi ada meeting, tapi malam ini… lo sepenuhnya milik gue.”
Gue hanya tersenyum, mengusap rambutnya pelan. Ria memang selalu bisa membuat gue melupakan segala kerumitan di luar sana Sinta, Laras, Aprilia, Icha, dan semua drama yang menanti di Jakarta. Dalam pelukannya, dunia terasa sederhana. Hanya kenikmatan dan kehangatan sesaat.
Namun di sudut pikiran gue, gue tahu ini semua sementara. Besok pagi kami harus kembali ke realita ,meeting dengan klien harus diselesaikan, dan gue harus pulang dengan membawa semua masalah yang menumpuk.
Malam itu kami melanjutkan dengan lebih lembut di ronde kedua, lalu ketiga, hingga menjelang subuh. Ria benar-benar haus akan sentuhan gue, seolah ingin mengisi setiap detik yang kami miliki. Gue menyadari setiap percintaan akan membawa kenikmatan sesaat dan ada konsekuensi yaitu sebuah tanggung jawab . Ketakutan gue suatu saat suaminya akan tahu. Dan permainan ini mengandung api yang berbahaya dan makin lama makin membesar . Gue tetap memikirkan bagaimana menghindar dari Ria. Mungkin salah satu jalan adalah keluar dari pekerjaan ini dan merantau ke perusahaan lain. Gue tak mungkin terus terusan begini. Ada yang harus ditinggalkan karena ini terlarang dan berbahaya.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍