NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: RAPAT LOMBA 17 AGUSTUS

Setelah momen mendebarkan di dekat jendela yang sukses membuat jantung Aldi berdegup melebihi ketukan musik senam pagi, Jasmine memilih untuk tetap berdiri di tempatnya. Dengan anggun, ia bersandar pada tepian meja panitia, membiarkan baju batik marunnya berkibar pelan diterpa angin dari kipas angin langit-langit balai desa. Matanya yang sayu menatap jeli terus bergerak, mengawasi Aldi yang kini melangkah mantap menuju meja bundar besar di tengah ruangan, bergabung dengan jajaran pengurus Karang Taruna dari kampung sebelah.

Di meja bundar itu, suasana sudah mulai memanas oleh diskusi kreatif. Bagas, Rian, dan Dika sudah mengambil posisi duduk di sisi kiri, sementara di sisi kanan, beberapa pemuda perwakilan desa tetangga tampak sibuk mencoret-coret kertas plano berukuran besar.

"Nah, ini dia Pak Ketua kita dateng!" seru Bagas menepuk kursi kosong di sebelahnya begitu Aldi mendekat. "Ayo, Al, langsung pimpin. Ini anak-anak kampung sebelah lagi bimbang nentuin jenis perlombaan buat acara 17 Agustus bulan depan."

Aldi menarik kursi plastik hitam, lalu duduk dengan tegap. Sifat gesreknya seketika disimpan rapat-rapat, digantikan oleh wibawa seorang pemimpin muda yang siap mengeksekusi program kerja. "Oke, temen-temen semua, selamat siang. Langsung aja ya, biar rapatnya gak molor sampai maghrib. Konsep perayaan 17 Agustus gabungan dua desa ini kan tujuannya buat mempererat silaturahmi sekaligus memperingati hari kemerdekaan. Jadi, gue usul jenis lombanya jangan cuma monoton kayak tahun-tahun lalu."

Seorang pemuda perwakilan kampung sebelah, bertubuh tambun dengan kaos hitam, mengangkat tangan. "Usul, Mas Aldi! Kalau tahun kemarin kan lomba 17-annya cuma buat anak-anak kecil doang, kayak makan kerupuk sama balap kelereng. Gimana kalau tahun ini anak-anak kecilnya dikasih porsi lomba yang berbeda? Misalnya lomba masukin paku dalam botol tapi berkelompok, atau lomba balap karung pakai helm biar aman?"

"Gue setuju sama usul itu," timpal Kenan yang posisinya duduk agak bergeser ke tengah, dekat dengan meja berkas Irene. "Tapi jangan lupa, biar perayaan 17 Agustus-annya pecah dan gak garing, jajaran Karang Taruna dan pemuda-pemudi dewasa juga wajib dikasih jatah lomba. Gak adil dong kalau kita cuma jadi panitia yang capek ngurusin sama motong kerupuk doang, sementara kita sendiri gak ikut ngerasain euforia tandingnya."

"Nah, bener banget kata si Kenan!" sahut Sendy bersemangat, matanya melirik genit ke arah Irene yang sedang memegang pulpen. "Gimana kalau buat kategori dewasa, kita bikin lomba yang bener-bener menguras keringat dan gengsi antar-kampung? Misalnya... lomba panjat pinang berhadiah voucer kuota internet setahun di puncak pohonnya, atau lomba tarik tambang tapi pesertanya wajib pakai daster emak-emak!"

Mendengar usulan konyol Sendy, Irene tidak bisa menahan tawa ringkihnya. Sifat aslinya yang agak centil dan gemar menanggapi candaan para pemuda mulai keluar. Ia memutar-mutar pulpennya di antara jemari lentiknya, lalu menatap Sendy dengan pandangan mata yang sengaja dibuat sayu. "Ih, Mas Sendy mah. Tapi seru juga sih kalau mas-mas Karang Taruna yang badannya kekar pada pakai daster pas lomba 17-an nanti. Pasti lucu banget."

"Wah, kalau Mbak Irene yang minta, jangankan pakai daster, pakai kain kafan jadi pocong juga gue jabanin, Ren!" gombal Sendy blak-blakan, memicu sorakan riuh dari Bagas dan Rian yang langsung memukul-mukuli meja balai desa.

Di barisan kursi penonton agak belakang, Mbak Catur yang kebetulan ikut hadir sebagai perwakilan ibu-ibu PKK tampak duduk berdampingan dengan Bu Widuri. Melihat interaksi Irene yang tampak luwes dan sedikit centil di depan para pemuda, Bu Widuri langsung menyenggol lengan Mbak Catur dengan bersemangat, memajukan bibirnya dengan gestur ghibah yang sangat khas.

"Jeng Catur, Jeng... liat tuh si Irene. Centilnya bener-bener gak ketulungan ya," bisik Bu Widuri dengan nada suara yang sengaja ditekan agar tidak terdengar sampai ke depan. "Pantesan aja kabar yang beredar di grup WA sebelah tuh bener. Katanya, si Irene itu diem-diem udah kena pergaulan bebas, Jeng! Suka pulang malam diantar pakai mobil mewah yang gonta-ganti cowok. Hih, ngeri saya mah punya anak perawan zaman sekarang kalau kelakuannya kayak begitu."

Mbak Catur yang biasanya ikut-ikutan kompor, siang ini justru menunjukkan ekspresi yang berbeda. Ia mengembuskan napas panjang, lalu menatap Bu Widuri dengan pandangan lurus, menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.

"Halah, Bu Widuri... sampeyan itu mbok ya jangan gampang kemakan gosip murah begitu, saya aja kemarin sempet kemakan gosip itu." tukas Mbak Catur dengan nada tegas, langsung mematahkan serangan ghibah sepihak tersebut. "Kabar miring soal si Irene itu aslinya cuma omong kosong yang disebarkan sama orang-orang kampung sebelah yang pada iri sama prestasinya dia. Saya sendiri lho yang tahu aslinya. Kemarin pas saya main ke rumah ibunya Irene, ternyata mobil-mobil mewah yang sering gonta-ganti jemput dia itu mobilnya para dosen pembimbing sama pihak sponsor yayasan. Irene itu dapet proyek penelitian besar tingkat nasional dari kampusnya, makanya dia sering pulang malam karena harus nyelesaiin riset di laboratorium kota. Bocahnya itu pinter,dan berbakti banget sama orang tuanya. Jadi tolong ya, Bu, jangan ikut-ikutan menyebarkan fitnah."

Bu Widuri seketika bungkam, wajahnya mendadak kecut setengah mati karena skenario ghibahnya dipatahkan telak oleh Mbak Catur yang biasanya paling vokal kalau urusan mencari kesalahan orang lain.

Sementara itu, pembahasan di meja bundar semakin mengerucut. Aldi mengetukkan pulpennya di atas meja, mengembalikan fokus para anggotanya. "Oke, jadi kita kunci buat agenda 17 Agustus tahun ini ya. Kategori anak-anak, lomba makan kerupuk tutup mata, balap karung pakai helm, sama masukin paku dalam botol kelompok. Nah, untuk kategori Karang Taruna dan dewasa— kita adain pertandingan sepak bola plastik mini antar-RT, lomba tarik tambang lumpur pakai daster, sama jalan sehat dua desa sebagai acara puncak kemerdekaan. Semua setuju?"

"Setuju!!!" sahut seluruh perwakilan pemuda dengan kompak.

Kreeek...

Suara pintu samping balai desa yang berderit pelan mendadak mengalihkan perhatian beberapa orang di dalam ruangan. Dari balik pintu, muncul seorang gadis remaja dengan napas yang agak terengah-engah. Dia mengenakan seragam putih abu-abu yang dilapisi jaket rajut cokelat, lengkap dengan tas ransel besar yang menggantung di pundaknya. Gadis itu adalah Mikhaela, adik kandung perempuan Aldi yang paling hobi menjahili abangnya di rumah.

Mikha berjalan dengan langkah setengah mengendap-endap, berusaha tidak menarik perhatian Pak Kades yang sedang duduk di jajaran kursi depan. Begitu melihat posisi Aldi dan pasukan Karang Taruna RT 04 di meja tengah, Mikha langsung mempercepat langkahnya dan menyelinap duduk di kursi kosong tepat di sebelah Kenan.

"Loh, Mik? Kok baru dateng? Telat banget lu, rapatnya udah mau beres nih," bisik Kenan heran melihat adik sahabatnya itu datang dengan wajah kelelahan dan peluh tipis di pelipis.

Mikha meletakkan tas ranselnya di atas lantai, lalu mengusap keringat di dahinya menggunakan tisu. "Aduh, Mas Kenan... jangan ditanya lagi deh. Mikha tadi habis kejebak kelas tambahan les matematika di bimbingan belajar dekat pasar. Gurunya killer banget, gak boleh ada yang keluar sebelum soal latihannya kelar semua. Makanya Mikha langsung naik ojek pangkalan ke sini, untung belum ketinggalan beneran."

Aldi yang melihat kedatangan adiknya langsung melotot dari seberang meja. "Heh, Bocah! Telat lu ya! Tugas lu nyatet notulen rapat lomba 17-an malah digantiin sama si Rian nih!"

Mikha membalas tatapan Aldi dengan menjulurkan lidahnya dengan gaya meledek yang sangat menyebalkan. "Biarin! Yang penting kan Mikha tetep dateng, daripada Abang... tadi subuh mandi di kali cuma pakai sempak merah! Udah ketahuan satu komplek tahu!" balas Mikha setengah berbisik namun cukup kencang, memicu tawa tertahan dari Kenan, Sendy, dan Irene yang mendengarnya.

"Sialan lu, awas lu ya pulang rumah gak gue kasih sisa sup iga Bunda!" ancam Aldi dengan wajah memerah menahan malu, membuat suasana di meja rapat Karang Taruna siang itu terasa sangat hidup, hangat, dan penuh dengan warna-warni dinamika anak muda desa yang siap menggoncang panggung kemerdekaan bulan depan.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!