NovelToon NovelToon
Sistem: Suplai Tak Terbatas

Sistem: Suplai Tak Terbatas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Hari Kiamat / Sistem
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.

Ia hanya ingin kaya.

Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.

Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Batas Duplikasi dan Kebutuhan Loophole

Urat di leher Wan Chen menegang parah. Ia mencengkeram erat pinggiran meja nakas.

Napasnya tertahan. Nyeri mendadak meledak di pangkal lobus frontalnya. Seolah paku payung berkarat ditusukkan perlahan menembus batok kepalanya dari dalam.

Duplikasi Core monster tidak menyiksa seperti ini. Sistem sialan ini ternyata punya tarif yang sangat kejam untuk memproses benda mati berstruktur padat.

Pisau Taktis Karbon itu terlalu rumit. Material pabrik dengan kepadatan molekul tinggi menuntut bayaran kalori dan kewarasan penggunanya secara tunai.

Bilah hitam kelam di bawah telapak tangannya bergetar pelan. Cahaya biru redup tumpah dari sela-sela jarinya. Perlahan merajut satu salinan logam yang sama persis di atas seprai putih bersih.

Proses itu lambat. Sangat lambat.

Satu kedipan mata, pisau pertama jadi. Kedipan kedua, jumlahnya berlipat menjadi tiga.

Kepalanya berdenyut semakin menggila. Keringat dingin mulai merembes deras menembus lapisan kaus katun yang baru saja ia pakai beberapa jam lalu.

Empat. Lima.

Ia terbatuk keras. Perutnya tiba-tiba mual, mengocok isi asam lambungnya ke atas kerongkongan.

'Gila,' batinnya pasrah. 'Sistem ini merampok energi fisikku hidup-hidup untuk mencetak barang mentah.'

Matanya yang setengah buram memandangi lima bilah identik di depannya. Semua berjejer rapi. Tidak ada cacat. Kepadatan atom dari setiap pisau itu presisi sempurna.

Lututnya seketika lemas. Ia merosot jatuh dan terbentur lantai marmer dingin.

Ia memaksa tubuhnya merangkak dan bersandar pada pinggiran kasur. Menarik napas rakus melalui mulut terbuka untuk memasok sisa oksigen buatan ke dalam paru-parunya.

Otak pragmatisnya langsung menganalisis ancaman internal ini. Sebuah kelemahan fatal baru saja terbongkar.

'Jika aku ceroboh memakai fitur ini di tengah pertarungan, aku bisa mati kelelahan sebelum cakar musuh menyentuhku.'

Kelemahan absolutnya saat ini adalah lambatnya proses pemulihan biologis. Kemampuannya terbatas oleh kapasitas fisik tubuh manusia biasa.

Jari telunjuknya mengetuk lantai secara ritmis. Hitungan matematis mulai terangkai liar di benaknya.

'Harus ada celah. Sistem pencipta semacam ini pasti punya celah operasional.'

Matanya menatap kosong ke arah deretan gagang pisau. Sebuah gagasan ekstrem melintas cepat merobek jalan buntu di kepalanya.

'Andai saja aku punya benda pemulih. Tanaman mutasi gila atau ekstrak organik langka yang bisa mereset stamina dan mentalku secara instan.'

Ide itu menyebar seperti wabah virus di kepalanya.

'Jika benda macam itu memang eksis, aku cukup menduplikasinya satu kali. Aku memakannya. Energiku kembali penuh seketika. Lalu aku menduplikasinya lagi.'

Siklus logistik tanpa batas. Sebuah rantai pasokan tak terhingga yang akan menghancurkan pakem batasan tubuh rapuhnya. Celah absolut. Loophole sempurna.

Senyum sinis terbentuk pelan di sudut bibirnya. Napasnya masih tersengal, tapi ada kepuasan absolut di sana.

"Masuk," perintahnya pelan.

Udara di kamar itu sedikit terdistorsi. Kelima pisau pembunuh itu tersedot bersih dalam sekejap mata. Lenyap tertelan ruang hampa tanpa menyisakan jejak gravitasi.

Layar antarmuka hijau menyala sejenak, mengonfirmasi deretan stok senjata karbon di dimensi miliknya. Gudang penyimpanan tanpa bobot. Akses perlengkapan instan.

Ia mengangkat tubuhnya yang remuk ke atas kasur. Ongkos energinya luar biasa mahal, tapi keunggulan taktis ini mutlak adanya. Malam ini, ia hanya bisa pasrah pada proses tidur yang lambat untuk memulihkan diri.

Cahaya neon jalanan telah berganti menjadi pagi buatan yang dingin.

Wan Chen mendorong pintu geser kayu dari sebuah bar eksklusif di pusat distrik perbelanjaan. Udara polusi di luar langsung tergantikan oleh aroma pinus sintetis dan feromon parfum mahal.

Tempat ini bukan panggung bagi para preman pinggiran. Pengunjungnya memakai setelan rapi tak bernoda, menyesap cairan fermentasi berharga mahal tanpa ada gurat kelaparan di wajah mereka. Pusat pertukaran intelijen bersih.

Ia berjalan tegap menembus meja-meja pengunjung. Mengambil posisi di salah satu kursi kulit tepat di depan meja bar marmer hitam.

Seorang pria berdagu tirus dengan kemeja licin merapat perlahan ke arahnya. Pria itu menyapu debu imajiner dari pergelangan lengannya. Seorang Informan. ia cukup mengenalnya, tapi cuma sekian orang yang saling memanfaatkan.

"Kau bangun cukup pagi untuk ukuran seseorang yang baru merangkak keluar dari kubangan Sektor Tiga," sapanya datar. Suaranya diatur nyaris menyerupai bisikan acak.

"Dua lapis informasi kelas tinggi," potong Wan Chen tanpa basa-basi sedikit pun. "Hutan Besi."

Tangan kirinya menyelusup ke saku, menarik tiga lembar kredit merah bernominal besar. Ia menjepit kertas itu di antara dua jari dan menggesernya lugas di atas meja.

Mata informan itu menyipit halus. Lembaran itu langsung lenyap berpindah ke balik jasnya dengan gerakan tangan yang tak kasat mata.

"Kau selalu kejam dalam efisiensi," puji pria itu seadanya. Ia menuangkan sepertiga gelas kecil cairan kuning pekat dan menyodorkan gelas itu pelan.

Wan Chen sama sekali tidak menunduk melirik gelas tersebut. Matanya menuntut langsung pada pupil pria itu.

"Apa yang terjadi di sana?"

"Zona perbatasan utara sedang sangat berisik. Ada pergerakan invasi skala besar sejak tadi malam," lapor informan itu. Jari telunjuknya mengetuk pinggiran gelas kaca dengan berirama.

"Kelompok elit?" tembak Wan Chen.

"Lebih tepatnya skuadron spesialis. Mereka memotong jalur pembersihan biasa dan langsung memfokuskan seluruh kekuatan tempur utama menembus sarang terdalam Hutan Besi."

Wan Chen merendahkan postur bahunya. Menyandarkan sikunya pada meja.

"Bukan untuk memanen karapas baja, kan? Apa target utama mereka sebenarnya?"

Informan itu melirik ke kanan dan kiri sesaat. Mengamankan privasi obrolan.

"Penjaga tingkat tinggi. Seekor monster kelas berat yang mendedikasikan hidupnya menempel pada sebuah sumber daya alam langka."

Insting Wan Chen bereaksi seketika. Roda gigi di kepalanya berputar kasar.

"Sumber daya jenis apa? Mineral atau organik?" cecarnya tanpa menaikkan oktaf suara.

"Organik. Para pialang di distrik atas sepakat bahwa benda itu baru saja mencapai masa matangnya," jelas informan itu lambat-lambat. "Kandungan utamanya murni restorasi seluler. Tanpa perlu diolah di mesin pabrik korporat yang brengsek."

Napas Wan Chen tertahan sejenak.

Barang itu nyata. Pemulih instan. Kunci utama untuk menyalakan loophole gila yang ia rancang semalam di atas kasur. Benda itu ada tumbuh di kedalaman Hutan Besi.

"Kapan skuadron spesialis itu masuk?"

"Mereka sudah merusak perimeter depan sejak subuh tadi," jawabnya santai. Mengangkat gelasnya perlahan. "Mereka bawa bnyak perlengkapan. Tapi Hutan Besi selalu punya cara sendiri untuk melumat tamu tidak diundang."

Wan Chen menolak kursinya mundur dan bangkit berdiri.

"Jika kau berangkat sekarang, kau mungkin bisa memungut sisa remahan mayat mereka," tambah Informan itu tanpa ekspresi.

"Lebih dari cukup," sahut Wan Chen.

Transaksi terkunci mati di titik itu. Ia membalikkan badan dan meninggalkan bar tanpa repot-repot menoleh lagi.

Dua setengah jam berlalu dengan persiapan ketat.

Perutnya sudah terisi padat oleh kalori makanan kaleng premium seharga puluhan kredit. Badannya kini terbungkus jaket taktis pelindung. Kelima salinan pisau mematikannya diam bersiaga menunggu panggilan di dalam dimensi antarmuka.

Ia menyewa lunas satu kursi sempit di barisan belakang kendaraan lapis baja eks-militer. Tarifnya gila-gilaan merobek kantong, tapi sangat sepadan dengan kecepatan dan keamanan menembus lumpur perbatasan liar.

Roda rantai baja kendaraan itu menghajar bebatuan dan akar membusuk secara buta. Getarannya merambat kaku, menghajar tulang ekor Wan Chen tanpa jeda selama berjam-jam perjalanan.

Beberapa hunter bayaran di dalam kabin terus-menerus mengecek magazin senjata mereka berulang kali. Suara kokangan senapan api bersahutan memekakkan telinga. Terlalu naif.

Senjata api punya batas jumlah peluru. Pisau buatan miliknya tidak pernah punya masa kadaluarsa atau rawan macet pelatuk.

Derum mesin diesel raksasa kendaraan itu akhirnya batuk dan mati total.

Pintu hidrolik kabin belakang didorong paksa dari luar, diiringi desisan udara kompresor yang kencang. Udara lembap bercampur bau pekat besi karatan langsung menghantam paru-paru para penumpang.

Wan Chen melompat turun dengan keseimbangan penuh. Sepatu botnya menginjak keras lapisan tanah kering yang dipenuhi debu kemerahan.

Pos terluar Hutan Besi.

Langit sore dipaksa menyerah telak oleh rimbunnya kanopi ranting tebal. Gelap dan tumpang tindih bagai jaring laba-laba raksasa.

Pepohonan di area depan ini sama sekali tidak masuk akal sehat. Batangnya keabu-abuan. Sangat keras. Membatu kokoh menyerupai pilar-pilar baja berkarat yang ditancapkan paksa menembus inti bumi.

Daun-daunnya memantulkan kilap metalik kotor saat tersapu sisa cahaya matahari dari ufuk.

Angin berembus menerpa lehernya. Menciptakan gesekan dedaunan di atas sana yang terdengar murni seperti ratusan bilah pisau saling beradu. Tajam. Mengancam secara terang-terangan.

Ia melangkah menembus garis batas terluar. Sendirian. Memisahkan diri tanpa suara dari gerombolan hunter murahan yang masih sibuk mengumpulkan nyali di dekat ban kendaraan.

Dua jari tangannya masuk ke dalam saku celana, hanya menyentuh ruang kosong. Namun otaknya terkoneksi erat dengan lima bilah karbon di dimensi tak terlihat. Senjatanya aman.

Matanya menatap ke bawah. Menyusuri jejak lintasan ban besar bergerigi milik kendaraan taktis skuadron elit yang baru saja membabat semak belukar baja di depan sana.

Mereka mendahuluinya untuk membuka jalan berdarah. Dan ia hanya perlu mengekor seperti hantu. Memantau dari kegelapan. Menunggu momen sempurna untuk mencuri kunci mutlak yang akan membebaskan dirinya dari batasan sistem ini.

Langkah pertamanya menginjak area tanah murni Hutan Besi. Mematahkan sebuah ranting yang melintang. Bunyi patahannya terdengar sangat kering, ditelan sangat cepat oleh lebatnya kanopi logam di atasnya.

1
Yui
Karya ini sangat luar biasa, setelah baca novel ini aku jadi sedikit mengingat kenanganku yang telah lama menghilang, terimakasih Author 🔥🔥🔥🔥🔥
Ironside: /Toasted/
total 1 replies
Ironside
Ada error /Sweat/, biarlah, nanti di fix Editor
Gege
dan Wang Chen pun jualan obat...🤣😄
HiaTus
/Rose/
Wakana
wow sangat menarik & unik 👀
Ironside: Terima kasih telah membaca, semoga betah /Smile/
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir
ada insectnya gak kak?
‎ ‎ ‎Basah Mas... Sampe Banjir: yah, kecewa kak.
total 2 replies
The Ironheart
darkfantasy ini kak☺️
Ironside: /Slight/
total 1 replies
Ironside
Pliss... Like, Subscribe dan Upvote jika kalian menyukai karya ini /Determined/.
Ironside: Mr. Willheim /Scare/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!