Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 5
Keempat kelompok CEO kembali datang ke rumah sakit. Kali ini bukan untuk menjenguk Austin, tapi untuk menjenguk Edric. Ya, pria itu kini terbaring diranjang pasien karena masalah peradangan usus buntu. Edric baru menjalani operasi kemarin, sehingga kini pria itu masih terlihat lemah.
"Kau sungguh seperti mayat hidup jika hanya diam seperti itu." ujar Daniel terkekeh melihat Edric hanya bisa berbaring diam diranjangnya.
"Iya, biasanya kau akan banyak tingkah. Rasanya aneh melihat kau hanya diam begitu." Maxwell membenarkan.
Edric hanya menatap malas kelima sahabat karibnya itu. Meskipun usia mereka sudah tua, tapi tetap saja tingkah mereka seperti anak SHS. Tak ada perbedaan sama sekali dengan anak SHS, mungkin hanya dipakaian saja. Sekali pun Edric butuh istirahat dan suasana tenang, tapi sahabatnya justru malah begitu berisik, apalagi dengan permainan kartu mereka.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu menjeda keberisikan mereka. Perhatian mereka kemudian teralih pada seorang dokter cantik yang datang bersama seorang suster. Dokter cantik itu tersenyum dan menyapa Edric dan teman - temannya, kemudian dia memeriksa kondisi Edric.
Di sisi lain Maxwell terpaku ketika dokter itu masuk, wajah cantik itu terus terbayang dalam ingatannya. Bayangan dimana mereka menghabiskan malam panas di pertemuan pertama mereka. Maxwell tak pernah terpikirkan sebelumnya, bagaimana kondisi gadis itu sekarang? Apakah dia sudah menikah? Apakah dia hamil anaknya?
"Anda perlu istirahat total, tuan Edric. Dan saya sarankan supaya tuan Edric diberikan ruang untuk istirahat." ucap dokter itu dengan suara lembut dan anggun membuat jiwa brengsek mereka mencuat.
Tentu saja mereka tak boleh melewatkan menggoda dokter cantik itu. Tapi sayangnya, sebelum mereka mulai melancarkan aksi menggoda, Edric sudah lebih dulu mengintrupsi.
"Dokter Pricilla, aku dengar kau hanya mengambil jadwal di siang hari?" tanya Edric dijawab anggukan oleh dokter itu.
"Benar tuan Edric."
Dokter Pricilla memang salah satu dokter muda kebanggaan rumah sakit. Karena selain cantik dan masih muda, Pricilla juga memiliki sifat yang tenang, anggun, dan penyabar menghadapi pasien - pasiennya. Ya, meskipun mereka tak tahu bagaimana sifat asli Pricilla ketika berhadapan dengan Ayah dan Adiknya
Meskipun masih muda dan cantik, banyak para pria yang patah hati setelah mengetahui bahwa Pricilla sudah memiliki seorang anak. Namun, masih banyak pula pria yang antri mendaftar untuk menjadi Ayah dari Zayden Noreen, anak semata wayang Pricilla. Sebab, yang mereka tahu bahwa suami Pricilla meninggal sebelum kelahiran Zayden. Setidaknya itu adalah rumor yang Jasper buat untuk menutupi aib anaknya.
"Bisakah kau bilang pada pihak manajemen untuk menggantikanmu dengan Dokter Chelsea saat shifmu selesai?" pinta Edric.
Pricilla kaget, sebab Chelsea bukanlah di bidang penyakit yang Edric alami sekarang. "M-maaf tuan Edric, tapi dokter Chelsea adalah dokter spesialis jantung. Anda memerlukan penanganan khusus dari dokter-"
Ucapan Pricilla terhenti ketika wajah pucat Edric menampilkan tatapan mengintimidasi yang tak ingin dibantah. Pricilla sudah tahu tentang Edric yang merupakan pewaris tahta rumah sakit ini, karena itulah dia segera mengangguk dan pamit. Meskipun pada akhirnya dia akan mendapatkan keluhan dan cerocosan dari Chelsea.
Maxwell masih terfokus pada Pricilla, dia melihat bagaimana interaksi wanita itu bersama suster dan Edric. Dia terus memperhatikan Pricilla bahkan hingga dokter cantik itu pamit meninggalkan ruangan Edric.
"Aku akan segera kembali." pamit Maxwell keluar dari ruangan Edric.
Maxwell berniat membuntuti Pricilla, dia masih mengingat wanita itu meskipun sudah 1 tahun lebih lamanya mereka tak bertemu. Maxwell penasaran, entah dia penasaran untuk apa, nurani brengseknya yang menuntun dia untuk mengikuti Pricilla.
Maxwell juga merasa penasaran ketika Pricilla terlihat biasa saja saat kembali bertemu dengannya. Dia bertingkah seolah tak mengenal Maxwell. Hei, segitu mudahnya kah dia melupakan Maxwell, bahkan setelah pria itu memberikan sentuhan lembut memabukan diakhir pertemuan mereka. Maxwell tak terima jika dia lupakan dan diperlakukan seperti itu oleh mantan calon istrinya. Harga diri Maxwell ternodai.
Maxwell mengikuti Pricilla dalam langkah sunyinya, tapi anehnya Pricilla berjalan begitu santai seolah tak merasa ada yang mengikutinya.
Pricilla pamitan dengan suster tadi sebelum berbelok ke arah kiri menuju... bagian anak - anak? Maxwell mengernyit, apakah Pricilla juga memiliki pasien anak - anak atau apa?
"Penitipan anak?" gumam Maxwell melihat plang kecil disamping pintu besar yang Pricilla masuki, lantas pria itu mengintip dari jendela besar yang membatasi area bermain dengan koridor.
Pricilla mendatangi salah seorang bayi yang tengah merangkak. Bayi itu begitu tampan dan gembul, mulut imutnya terlihat mengeluarkan air liur. Pricilla kemudian mengangkat dan menciumi pipi gembil bayi itu, membuat bayi itu menggeliat geli dan tertawa.
Maxwell semakin penasaran, siapa bayi itu? Apakah itu adalah anak Pricilla? Apa setelah gagal menikah dengannya Pricilla langsung menemukan pria lain?
"Pa."
Pricilla terbelalak ketika mendengar bayinya menyebutkan kata keduanya, selain Ma. Selama ini Zayden hanya bisa mengucapkan kata 'Ma' saja.
"Apa sayang? Kau mengatakan apa?" tanya Pricilla dengan mata berbinar menatap putranya.
"Pa." pekik Zayden gembira sambil menunjuk ke arah jendela yang Pricilla punggungi.
"Pa." pekik Zayden lagi sambil meronta gembira.
Perasaan Pricilla bercampur senang dan bingung. Pa? Apa maksud kata Pa-nya Zayden? Dan siapa juga yang mengajarkan kata Pa kepada Zayden? Apa maksudnya Pa itu Papa?
"Pa, apa sayang? Papa?" tanya Pricilla tapi Zayden justru semakin terlihat senang dan gembira sambil menunjuk ke arah jendela pembatas dengan koridor.
"Pa." pekik Zayden lagi. Apa 'Pa' yang dimaksud Zayden adalah Papa? Apa Zayden belajar kata itu karena sering mendengar Pricilla yang memanggil Papa pada Jasper?
"Pa." lagi-lagi Zayden mengucapkan kata itu dengan gembira sambil menunjuk ke arah belakang Pricilla.
Pricilla penasaran ketika bayinya terus meronta dan menunjuk ke belakangnya, akhirnya Pricilla berbalik ke belakang, menatap jendela besar dibelakangnya.
"Maxwell?"
***
Chelsea terus mengoceh dalam langkahnya menuju ruangan VVIP. Dia begitu shock ketika tiba - tiba pihak management mengubah jadwalnya. Seharusnya sore ini Chelsea bisa pulang dan berendam air panas, tapi sayangnya dia justru harus menggantikan Pricilla memberikan perawatan pada pasien VVIP gadis itu.
Chelsea mendengus ketika tahu bahwa pasiennya itu tidak memiliki masalah dengan jantungnya. Seharusnya mereka meminta dokter lain yang memang berkecimpung dibidang yang berhubungan dengan penyakit pasien itu. Tapi entah kenapa harus Chelsea yang menggantikan Pricilla.
"Ish pantas saja, pasiennya ternyata dia. Sama gilanya dengan kakaknya, oh Tuhan, tolong kuatkan aku menghadapi Klan Dexter yang selalu bertingkah aneh dan ajaib." gumam Chelsea mengintip dicelah pintu ruang rawat Edric.
Gadis itu menghembuskan nafasnya, menormalkan ekspresi dan kondisi hatinya, setelah merasa baik dan memasang senyum hangat, Chelsea mengetuk lalu membuka pintu.
Chelsea terhenyak ketika rupanya diruangan itu tak hanya ada Edric, tapi juga teman - teman lelaki itu yang langsung menatap Chelsea dengan tatapan nakal. Chelsea risih dengan tatapan itu, tapi dia harus bersikap profesional.
Chelsea membungkuk sebentar untuk menyapa sebelum melangkah menuju ranjang Edric. Chelsea menahan ekspresi dongkol dalam dirinya, berusaha profesional menghadapi pasien Klan Dexter yang memiliki sifat aneh dan ajaib. Apalagi pria polos mulut ember didepannya ini.
"Selamat malam tuan Edric, bagaimana keadaan Anda?" tanya Chelsea dengan suara yang dia buat selembut mungkin.
Edric merotasikan bola matanya. "Kau tak lihat bagaimana kondisiku sekarang? Kau kan seorang dokter seharusnya bisa mengerti hanya dengan melihat kondisiku sekarang." jawab Edric sinis, meskipun dalam hatinya dia ingin sekali tertawa melihat wajah terkejut dan kesal yang dibalut dengan senyuman manis itu.
"A-ah maaf, k-kalau begitu biar saya periksa Anda" ucap Chelsea gagap bukan karena gugup, tapi karena dia menahan kekesalannya.
Chelsea mengambil stetoskop dan mulai memeriksa Edric, sedangkan suster dibelakangnya mencatat hasil pemeriksaan yang Chelsea ucapkan.
Terakhir Chelsea meminta izin untuk menyingkap baju pasien Edric untuk memeriksa bekas jaitannya.
"Maaf." cicit Chelsea sambil menyingkap kemeja biru langit itu hingga menampilkan perut rata yang dihiasi barisan kotak kecil itu.
Chelsea menelan ludahnya melihat pemandangan indah itu, astaga Chelsea mudah tergoda dengan abs. Tangan nakal Chelsea serasa ingin mengelus deretan kotak - kotak diperut Edric itu. Tapi dia segera tersadar ketika mendengar deheman Edric.
"Pegang saja kau juga diizinkan untuk mengelusnya." ucap Edric.
Mata Chelsea membulat mendengar ucapan Edric, pipinya memerah karena tertangkap basah sedang mengagumi abs Edric.
"dr. Chelsea, abs Edric masih perjaka. Kau akan jadi yang pertama menyentuhnya." ujar Daniel membuat pipi Chelsea semakin memerah.
Chelsea berdehem merapikan jas dokternya, dia kemudian mengecek bekas jahitan Edric dan menggantinya dengan perban yang baru. Dengan pipi yang panas dan memerah tentunya karena teman - teman lelaki itu terus menggodanya, apalagi dengan Edric yang terus menatapnya intens.
"Ekhem, mohon maaf tuan - tuan sekalian, jam besuk telah habis. Ini sudah larut malam dan tuan Edric harus segera beristirahat untuk memulihkan dirinya." usir Chelsea menatap mereka yang duduk disofa.
mereka juga mendapatkan tatapan mengusir dari Edric, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi.
"Sebelum pergi, bisakah kalian membersihkan bekas kekacauan kalian terlebih dahulu?" tanya Chelsea menatap area sofa yang begitu berantakan.
"Hei, siapa kau yang berani memerintah kami?!" seru Daniel tak terima.
"Dan siapa kalian berani sekali mengacau diruang rawat?" tanya balik Chelsea.
"Kau tak mengenal kami?" tanya Vernon.
"Aku tak mengenal kalian, dan aku rasa aku tak perlu mengenal kumpulan pria pembuat onar seperti kalian." jawab Chelsea berani.
"Wah Edric, kau harus segera memecat dokter cerewet dan angkuh ini." ujar Vernon.
Adu mulut terjadi antara Chelsea dan kedua CEO itu. Chelsea yang awalnya menampilkan wajah anggun dan hangat, kini berubah menjadi gadis galak dan cerewet
"Sudahlah, turuti saja dia. Aku ingin tidur, kalian pergilah." lerai Edric.
kedua lelaki itu meskipun tak terima tapi mereka tetap pergi meninggalkan ruang rawat Edric dengan wajah dongkol.
"Kau juga bisa meninggalkan ruanganku, suster." ucap Edric setelah teman - temannya keluar.
Chelsea dan suster itu menatap Edric lalu membungkuk untuk berpamitan, tapi tangan Chelsea langsung ditahan Edric.
"Aku tak menyuruhmu untuk pergi dr. Chelsea." ucap Edric.
Suster yang mengerti tatapan Edric segera pamit, menyisakan Chelsea dan Edric diruangan itu. Chelsea mencoba melepaskan cengkeraman tangan Edric dari lengannya, tapi cengkeraman itu begitu kuat meskipun Edric sedang dalam keadaan sakit.
"T-tuan Edric, bisa kau lepaskan tanganku?" pinta Chelsea
"Tidak." jawab Edric singkat dengan mata terpejam.
"T-tapi kau harus istirahat."
"Hem, aku sedang beristirahat sekarang." jawab Edric masih dengan posisi yang sama.
"Maksudku lepaskan tanganku supaya kau bisa istirahat dengan nyaman, tuan Edric."
Edric membuka matanya. "Jangan memanggilku dengan formal, baik itu didepan umum ataupun saat sedan berdua."
"Tapi Anda adalah pasien disini."
"Jika kau ingin memanggilku tuan, panggil aku dengan sebutan itu saat kau mendesah di bawahku." ujar Edric.
Chelsea yang memang dasarnya polos - polos mesum mengeryitkan keningnya dan memiringkan kepalanya, dia sedang mencerna ucapan Edric.
"Memang kenapa aku harus mendesah dibawahmu?" tanya Chelsea polos.
Edric terkekeh. "Untuk menanam benihku di rahimmu."
Chelsea langsung menarik tangannya tapi dia lupa bahwa cengkeraman Edric begitu kuat. Berakhir tangannya yang bebas dari cengkeraman Edric refleks memukul perut pria itu. Edric langsung mengaduh karena pukulan Chelsea tepat mengenai bekas operasinya.
"O-oh astaga, tuan Edric, maafkan aku." cicit Chelsea panik, dia langsung mengambil peralatan dan segera mengobati bekas operasi Edric yang kembali mengeluarkan darah.
"Dasar ceroboh." gumam Chelsea meruntuki dirinya sendiri sambil mengobati luka Edric.
"Maaf, sungguh." sesal Chelsea berulang kali membungkuk melihat Edric yang masih meringis meskipun dia sudah mengobati lukanya.
"Aku akan menuntutmu, dr. Chelsea." rintih Edric.
Mata Chelsea berkaca - kaca melihat Edric yang terus meringis. "M-maafkan, sungguh." lirih Chelsea.
"Kemarilah." perintah Edric menggeser tubuhnya memberikan ruang disisi ranjangnya.
Chelsea mengeryit tak paham, dia hanya terdiam disana sambil menatap tanya pada Edric.
"Naiklah dan berbaring disini." suruh Edric menepuk ruang kosong disampingnya.
"T-tapi tuan Edric, saya-"
"Naiklah atau aku akan benar - benar menuntutmu dan tak akan pernah memaafkanmu." ancam Edric.
Dengan ragu Chelsea menurut, gadis itu merangkak naik ke ranjang Edric dan berbaring disamping pria itu.
"Lalu apa?" tanya Chelsea polos setelah berbaring.
"Peluk aku." suruh Edric.
"Eh." pekik Chelsea.
Edric merotasikan bola matanya, dasar gadis polos cerewet. Tangan besar pria itu menarik tangan Chelsea dan melingkarkannya dipinggangnya. "Peluk aku, tapi jangan sampai terkena pada lukaku." ucap Edric.
Chelsea terpaksa memiringkan tubuhnya saat Edric menarik tangannya. Pipi Chelsea memanas ketika wajahnya kini begitu dekat dengan wajah Edric. Pria itu tidur terlentang tapi wajahnya dia miringkan menatap Chelsea.
"Kau juga boleh mengelus absku." gumam Edric mulai menutup matanya.
Chelsea terdiam melihat wajah Edric yang terpejam dengan tenang, tangannya secara refleks mengelus lengan Edric. Namun pandangan Chelsea tetap terpaku pada wajah Edric.
"Tampan, tapi sayang tingkahnya ajaib dan menyebalkan." gumam Chelsea sebelum ikut terlelap sambil memeluk Edric.