NovelToon NovelToon
Obsession (Cinta Dalam Darah)

Obsession (Cinta Dalam Darah)

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Romansa / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia / Fantasi Wanita
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Seorang mafia kejam yang menguasai Italia bertemu dengan seorang wanita yang memiliki sisi gelap serupa dengannya. Mereka saling terobsesi dalam permainan mematikan yang penuh gairah, kekerasan, dan pengkhianatan. Namun, di antara hubungan berbahaya mereka, muncul pertanyaan: siapa yang benar-benar mengendalikan siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duel Tanpa Akhir

Dante duduk di kantornya, menonton layar besar yang menampilkan siaran berita tentang ledakan di salah satu bisnis pencucian uangnya. Wajahnya tetap dingin, tanpa sedikit pun kemarahan.

Luca berdiri di sampingnya, ekspresi tegang. “Valeria sudah mulai bergerak. Jika kita tidak segera membalas, dia akan menganggap kita lemah.”

Dante hanya tersenyum miring. “Dia pikir dia bisa menjatuhkanku? Tidak. Dia hanya memainkan peran dalam skenario yang sudah kusiapkan.”

Luca mengernyit. “Apa maksudmu?”

Dante mengambil remote dan mengganti layar ke tampilan peta digital. Beberapa titik merah berkedip di berbagai lokasi—semua tempat yang ia tahu sedang menjadi target Valeria.

“Aku tahu dia akan mencoba menghancurkan sumber keuanganku,” Dante menjelaskan, “jadi aku sudah mengalihkan aset-aset utamaku sebelum dia sempat menyentuhnya. Gedung yang dia ledakkan? Itu hanya umpan. Tidak ada uang, tidak ada data penting, hanya properti kosong yang sudah kutinggalkan.”

Luca terkejut. “Jadi… yang dia lakukan tidak berdampak apa pun pada kita?”

Dante menatap layar dengan seringai kecil. “Benar. Dia sibuk menghancurkan sesuatu yang sudah kutinggalkan. Sementara dia berpikir sedang menyerangku, aku justru menunggu dia jatuh ke dalam perangkapku.”

Luca tersenyum paham. “Jadi, kita membiarkannya terus berpikir dia sedang menang?”

Dante mengambil gelas whiskey-nya dan menyesapnya dengan santai. “Biarkan dia merasa puas dulu. Semakin tinggi dia naik, semakin sakit dia jatuh.”

Di lokasi lain, Valeria duduk di sofa dengan Matteo di sampingnya. Mereka baru saja menyelesaikan serangan terhadap salah satu gudang senjata milik Dante.

“Satu lagi. Dante pasti mulai merasakan tekanan sekarang,” ujar Matteo penuh percaya diri.

Tapi Valeria diam. Ada sesuatu yang tidak beres. Sejak awal, ia merasa semuanya terlalu mudah.

Ia menyadari satu hal—Dante belum merespons.

Tidak ada perlawanan. Tidak ada balasan. Seakan semua yang ia lakukan… tidak berarti apa-apa.

Matanya menyipit.

“Matteo.” Suaranya berubah dingin.

“Ya?”

“Aku ingin kau cari tahu sesuatu. Apa bisnis utama Dante benar-benar terkena dampak serangan kita?”

Matteo tampak bingung, tetapi mengangguk. “Baik, aku akan menyelidikinya.”

Tapi di dalam hatinya, Valeria mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Kecurigaan bahwa dia mungkin sudah kalah bahkan sebelum perang ini dimulai.

---

Malam itu, Valeria duduk sendirian di ruangannya, menatap peta dan laporan dari semua serangan yang telah ia lancarkan terhadap bisnis Dante. Seharusnya, pada titik ini, Dante sudah mulai terdesak. Seharusnya dia sudah kehilangan kendali.

Tapi kenyataannya? Dante tetap diam.

Matteo masuk dengan wajah tegang, membawa dokumen yang baru saja ia peroleh. “Aku sudah menyelidiki semua tempat yang kita serang…”

Valeria menatapnya tajam. “Dan?”

Matteo menaruh dokumen di meja. “Dante sudah memindahkan semua aset pentingnya sebelum kita menyerang. Gudang senjata yang kita bakar? Kosong. Pencucian uang yang kita ledakkan? Sudah dialihkan ke tempat lain. Bahkan jaringan perdagangannya tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.”

Valeria mengeratkan rahangnya. Jadi, semua yang ia lakukan selama ini… hanya menyerang bayangan?

Matteo melanjutkan, “Sepertinya Dante sudah memperkirakan setiap langkah kita sejak awal.”

Valeria terdiam. Lalu, tiba-tiba ia tertawa pelan.

“Brilian.”

Matteo mengernyit. “Brilian? Kita sedang berada di ambang kehancuran, Valeria!”

Tapi Valeria malah tersenyum, matanya berkilat penuh gairah. “Kau tidak mengerti, Matteo. Aku mengincar seseorang yang bahkan tidak bereaksi saat kupukul. Itu berarti dia sudah jauh lebih siap dariku.”

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, memainkan pisau di tangannya. “Dante ingin aku melangkah ke dalam permainannya. Baiklah. Aku akan masuk.”

Di tempat lain, Dante duduk di ruangannya, membaca laporan dari Luca.

“Valeria mulai menyadari semuanya,” kata Luca. “Dia tahu dia telah masuk dalam jebakan.”

Dante tersenyum kecil, lalu meletakkan gelas whiskey-nya. “Bagus. Itu berarti dia akan mulai berpikir lebih keras. Dan saat dia berpikir… dia akan membuat kesalahan.”

Luca menatapnya. “Apa langkah selanjutnya?”

Dante menatap layar yang menampilkan lokasi-lokasi yang masih dikuasai Valeria. “Aku sudah membiarkannya bermain cukup lama. Sekarang, waktunya aku menyerang.”

Ia bangkit, memasukkan pistol ke sarungnya, lalu berjalan keluar dengan tatapan penuh tekad.

"Permainan ini akan segera berakhir. Dengan caraku."

---

Malam itu, hujan turun deras di Roma. Di sebuah gedung terbengkalai di pinggiran kota, Valeria berdiri di tengah ruangan yang remang-remang, tubuhnya bersandar santai di salah satu meja kayu tua. Jarinya memainkan pisau kecil, berputar-putar di antara jemarinya.

Di hadapannya, Dante berdiri dengan tangan di saku jasnya, wajahnya setenang biasanya.

"Jadi," Dante membuka percakapan dengan suara rendah, "setelah semua ini, kau akhirnya memutuskan untuk bertemu denganku langsung?"

Valeria tersenyum tipis. "Aku hanya ingin melihat wajah pria yang sudah membuat semua rencanaku sia-sia."

Dante melangkah mendekat. "Aku hanya mengantisipasi apa yang akan kau lakukan. Kau tidak secerdas yang kau kira, Valeria."

Mata Valeria menyipit. Ada api yang membakar dalam sorot matanya, tetapi bukan kemarahan—melainkan kegembiraan.

"Dan kau tidak semaha tahu seperti yang kau kira, Dante."

Dalam sekejap, Valeria bergerak. Pisau kecil di tangannya melesat ke arah Dante, tetapi pria itu sudah mengantisipasi. Ia menunduk dengan cepat, lalu bergerak maju, mencengkeram pergelangan tangan Valeria sebelum gadis itu bisa menarik senjata lain.

"Kau masih terlalu mudah dibaca," gumam Dante di telinganya.

Valeria terkekeh, lalu tiba-tiba menendang lutut Dante dengan keras. Dante goyah, dan Valeria menggunakan kesempatan itu untuk menarik pistol dari sarungnya.

Klik.

Laraskan pistolnya tepat di dada Dante.

"Masih berpikir aku mudah dibaca?" bisiknya, sudut bibirnya terangkat.

Dante tetap tenang, meski ada moncong pistol yang mengarah padanya. Sebuah seringai muncul di wajahnya.

"Ya. Karena jika kau benar-benar ingin membunuhku, kau sudah menarik pelatuknya sekarang."

Valeria tidak menjawab. Jari telunjuknya masih berada di pelatuk, tetapi ia tidak menekan.

Ada ketegangan di antara mereka, udara di ruangan itu terasa begitu berat.

Mereka saling menatap—dua jiwa yang sama, dua psikopat yang saling menginginkan, tetapi juga saling ingin menghancurkan.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan, Valeria?" tanya Dante pelan.

Valeria menatapnya dalam-dalam. Ia bisa menarik pelatuknya sekarang, menghabisi Dante di tempat. Ia bisa memenangkan perang ini. Tapi…

Bahkan kemenangan pun tidak akan terasa manis tanpa Dante di dalamnya.

Senyum Valeria melebar. Ia menurunkan pistolnya perlahan, lalu menyelipkannya kembali ke sarungnya.

"Aku ingin lebih," katanya, suaranya berbisik, hampir terdengar seperti tantangan.

Dante tersenyum. "Kalau begitu, buat aku terkesan."

---

Valeria mundur satu langkah, matanya masih terkunci pada Dante. Keduanya tahu bahwa ini belum selesai—tidak akan pernah selesai, selama mereka masih berdiri di dunia yang sama.

"Kau ingin lebih?" Dante mengulang kata-kata Valeria, suaranya merendah, penuh ketertarikan. "Katakan padaku, Valeria… seberapa jauh kau akan melangkah untuk mendapatkan itu?"

Valeria menyeringai. "Kenapa kau tidak mencobaku?"

Dante tidak menjawab. Sebaliknya, ia menarik pistolnya sendiri, lalu—dengan tenang mengarahkannya ke kepalanya sendiri.

Matanya menatap Valeria dengan penuh tantangan. "Russian roulette. Satu peluru. Kita bergantian menarik pelatuk. Jika kau menang, semua yang kumiliki jadi milikmu. Jika aku menang, kau tunduk padaku."

Valeria menatapnya, jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena takut—tetapi karena inilah permainan yang ia inginkan.

Taruhan yang sebenarnya.

Ia terkekeh pelan, mendekat hingga nyaris berdiri tepat di depan Dante. "Aku suka caramu berpikir, Dante."

Tanpa ragu, Valeria mengambil pistol dari tangan Dante. Ia membuka silinder, memastikan hanya ada satu peluru, lalu memutarnya dengan satu gerakan cepat sebelum menutup kembali.

"Kau dulu," katanya, menyodorkan pistol ke Dante.

Dante menatap Valeria sejenak, lalu mengambil pistolnya kembali dengan ekspresi yang tetap santai.

Ia mengangkat senjata ke pelipisnya.

Klik.

Kosong.

Dante menatap Valeria sambil tersenyum tipis. "Giliranmu."

Valeria mengambil pistolnya tanpa keraguan. Ia melakukan hal yang sama, menempelkan moncong senjata ke kepalanya sendiri, lalu menarik pelatuknya.

Klik.

Kosong lagi.

Mata mereka saling bertemu, penuh gairah, penuh kegilaan.

"Lanjut?" tantang Dante.

Valeria tersenyum. "Tentu saja."

Dante kembali mengangkat pistolnya, menekan pelatuknya tanpa sedikit pun keraguan.

Klik.

Valeria tertawa pelan. "Kau benar-benar menikmatinya, bukan?"

"Sama sepertimu," balas Dante sambil menyerahkan pistolnya lagi.

Valeria menerimanya. Ia tahu bahwa di salah satu tarikan pelatuk berikutnya, peluru itu akan keluar. Ia tahu nyawanya bisa berakhir dalam hitungan detik.

Tapi itu tidak menghentikannya.

Ia menekan pelatuk.

Klik.

Hening.

Dante tersenyum lebih lebar. "Kita semakin dekat."

Valeria menyerahkan pistol itu kembali, kini tatapannya lebih tajam. Jika Dante menekan pelatuk kali ini dan peluru meledak, maka permainan berakhir—dan Valeria menang.

Jika tidak, maka giliran berikutnya bisa menjadi miliknya… dan itu bisa berarti akhir bagi dirinya sendiri.

Dante menempelkan pistol ke pelipisnya.

Valeria menahan napas.

Klik.

Kosong lagi.

Sekarang, Dante menatapnya penuh intensitas. "Valeria, apakah kau takut mati?"

Valeria mengambil pistol itu kembali, sudut bibirnya terangkat. "Aku tidak takut mati, Dante. Aku hanya takut mati sebelum menang."

Ia mengangkat senjatanya sekali lagi.

Jari telunjuknya bergerak ke pelatuk—

—dan tiba-tiba, Dante menepis pistolnya, lalu menarik Valeria ke dalam ciuman yang brutal dan penuh kegilaan.

Pistol jatuh ke lantai dengan dentuman keras.

Tangan Dante mencengkeram tengkuk Valeria, sementara Valeria membalasnya dengan intensitas yang sama.

Di antara perang, di antara permainan hidup dan mati, mereka tetap kembali ke satu hal—obsesi yang tak bisa dihentikan.

Saat mereka akhirnya terpisah, Dante menatap Valeria dan berbisik di telinganya.

"Aku sudah menang sejak awal, Valeria. Kau hanya belum menyadarinya."

1
Nayla Syberia
Bagus kok,gpp Author teruskan👌🏻
nurzzz
ceritanya bagus banget semoga bisa rame yah banyak peminatnya
Shin Raecha: Aw, terimakasih 🥰🥰.
total 1 replies
nurzzz
wow keren
nurzzz
wah keren
Naira
seruuu kok ceritanya
Shin Raecha: Baca sampai end yaa 😄🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!