Rahasia kelam membayangi hidup Kamala dan Reyna. Tanpa mereka sadari, masa lalu yang penuh konspirasi telah menuntun mereka pada kehidupan yang tak seharusnya mereka jalanin.
Saat kepingan kebenaran mulai terungkap, Kamala dan Reyna harus menghadapi kenyataan pahit yang melibatkan keluarga, kebencian, dan dendam masa lalu. Akankah mereka menemukan kembali tempat yang seharusnya? Atau justru terseret lebih dalam dalam pusaran takdir yang mengikat mereka?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, dendam, dan pencarian jati diri yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WikiPix, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NARASI Episode 05
Reyna berjalan di samping Kamala, tangannya yang kecil menggenggam jari Kamala erat. Meskipun baru saja menangis, bocah itu langsung kembali ceria, mulutnya tak berhenti mengoceh.
"Tadi tuh, Ibu, aku hampir dapet seribu lagi! Tapi bapak yang jualan rokok di lampu merah itu pelit banget, dia cuma kasih seratus! Padahal aku udah nyanyi bagus, loh!" Reyna menggerutu dengan nada kekanak-kanakan, sementara Kamala hanya meliriknya sekilas, mencoba menahan tawa.
Reyna melanjutkan dengan penuh semangat. "Terus tadi aku lihat kucing yang mirip si Momo! Tapi dia lebih gendut, Ibu! Aku kira itu Momo yang habis makan banyak terus jadi gemuk!"
Kamala menghela napas panjang. "Reyna, bisa diem nggak sebentar?"
Tapi Reyna tidak menangkap nada kesal di suara Kamala. Ia malah tertawa kecil dan melanjutkan, "Terus tadi ada bapak-bapak...."
"Reyna!" Kamala akhirnya berhenti melangkah dan menatap gadis kecil itu tajam.
Reyna langsung terdiam, matanya membulat. Lalu menggumam pelan, "Hehe… iya, Ibu."
Kamala mendesah, mengusap wajahnya yang lelah. "Ayo jalan cepat, kita cari sesuatu buat bersihin luka kamu."
Reyna mengangguk dengan patuh. Tapi, beberapa detik kemudian, bocah itu kembali berbisik pelan, "Tapi tadi aku beneran lihat kucing gendut, loh, Ibu…"
Kamala memejamkan mata sebentar, menahan diri agar tidak menoyor kepala kecil itu.
Saat Kamala dan Reyna tiba di depan rumah kontrakan kecil mereka, langit sudah mulai gelap. Udara malam membawa hawa dingin, tetapi tubuh Kamala justru terasa panas karena lelah dan kesal.
Namun, sebelum ia sempat membuka pintu, sebuah suara menyapanya dari belakang.
"Kamala!"
Jantungnya mencelos. Ia mengenali suara itu.
Dengan gerakan cepat, Kamala menoleh dan melihat seorang wanita paruh baya berdiri di seberang jalan. Wanita itu mengenakan daster lusuh dengan syal kusam melingkari lehernya. Tatapan matanya tajam, penuh tuntutan.
"Kamu pikir bisa kabur terus, hah?" Wanita itu melangkah mendekat dengan tangan bertolak pinggang. "Udah berbulan-bulan kamu nggak bayar! Sampai kapan mau ngelunasin hutang itu, hah?!"
Reyna yang berdiri di samping Kamala mencengkeram bajunya erat, merasa ketakutan. "Ibu… siapa dia?" bisiknya pelan.
Kamala tak menjawab. Matanya sibuk mencari celah untuk menghindar. Ia tak punya uang, bahkan untuk makan besok saja masih harus berpikir keras. Jika ia ketahuan dan dipaksa membayar sekarang, ia tak tahu harus bagaimana.
Dengan cepat, Kamala menarik tangan Reyna dan berbalik ke arah gang sempit di samping rumah. "Ayo, kita jalan muter," bisiknya buru-buru.
"Kamala! Jangan lari, dasar nggak tahu diri!" teriak wanita itu, suaranya nyaring menggema di gang.
Tapi Kamala tak peduli. Ia mempercepat langkahnya, menggandeng Reyna erat, mencari jalan lain untuk masuk ke rumah tanpa harus berhadapan dengan si penagih hutang.
Kamala semakin mempercepat langkahnya, sementara Reyna yang kakinya masih sakit tertatih-tatih mengikuti dari belakang. Napas bocah kecil itu terdengar berat, tubuh mungilnya jelas kelelahan setelah kejadian tadi.
Tanpa berpikir panjang, Kamala berjongkok dan berkata cepat, "Naik."
Reyna yang awalnya ragu, akhirnya menurut. Ia melingkarkan tangannya ke leher Kamala, lalu dengan cekatan Kamala menggendongnya. Ia berlari lebih cepat di gang sempit, menghindari bayangan si penagih hutang yang masih berteriak-teriak di kejauhan.
Jantung Kamala berdegup kencang, bukan hanya karena berlari, tetapi juga karena rasa panik yang tak bisa ia redam.
"Bu, kenapa kita lari?" tanya Reyna, suaranya kecil, lelah, tapi tetap penasaran.
Kamala mengerang pelan, "Karena ada orang yang mau nagih sesuatu yang nggak bisa gue bayar sekarang."
Reyna diam sejenak, lalu bergumam pelan, "Berarti kita main petak umpet, ya?"
Kamala hampir tertawa mendengar logika sederhana itu, tetapi ia menahan diri. "Iya, bisa dibilang gitu."
Akhirnya, setelah beberapa belokan di gang sempit, Kamala sampai di belakang rumah kontrakannya. Ia menurunkan Reyna perlahan, memastikan anak itu bisa berdiri dengan baik sebelum ia merayap ke jendela belakang yang sedikit terbuka.
"Lo bisa naik sendiri?" tanya Kamala, setengah berbisik.
Reyna mengangguk semangat. "Aku jago manjat!"
Dengan hati-hati, Kamala membantu Reyna naik terlebih dahulu, lalu menyusul masuk ke dalam rumah dengan cepat. Begitu keduanya sudah di dalam, Kamala buru-buru menutup jendela dan mengunci pintu dari dalam.
Mereka berdua terdiam, masih mencoba mengatur napas. Dari luar, suara si penagih hutang masih terdengar samar, memaki-maki karena Kamala menghilang.
Reyna, yang masih polos, malah terkikik kecil. "Ibu jago banget main petak umpet!"
Kamala menatap anak itu sejenak, lalu akhirnya menghela napas panjang. Ia mendudukkan Reyna di kasur lusuh di sudut ruangan, lalu berjongkok untuk melihat luka di lutut bocah itu.
"Nggak ada yang bisa gue kasih buat ngobatin ini," gumam Kamala, merasa bersalah.
Reyna hanya tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, yang penting uangku udah balik!" katanya sambil menggoyang-goyangkan kaleng uang receh yang masih digenggamnya erat.
Kamala mendengus, lalu menjitak pelan kepala Reyna. "Besok kalau hitung uang, jangan di tempat terbuka, bego."
Reyna nyengir, lalu mendekat dan memeluk Kamala erat. "Makasih, Ibu..."
Kamala membeku sejenak. Ia masih belum terbiasa dipanggil begitu, meskipun Reyna sudah melakukannya sejak lama. Namun, kali ini ia tidak menolak. Perlahan, ia mengangkat tangannya dan membalas pelukan Reyna, merasakan kehangatan kecil di dalam tubuh mungil itu.
Di luar, dunia masih kejam. Tapi setidaknya, malam ini, mereka masih punya satu sama lain.
******
Kamala duduk di lantai, punggungnya bersandar pada dinding lusuh rumah kontrakan. Tatapannya kosong, menatap Reyna yang tertidur pulas di kasur tipis di sudut ruangan. Napas bocah itu teratur, wajahnya tenang, seakan dunia tak pernah memperlakukannya dengan kasar.
Tapi dunia memang kejam.
Dan Kamala tahu itu lebih baik daripada siapa pun.
Ia mengembuskan napas panjang, kepalanya dipenuhi pikiran-pikiran yang terus berputar. Hari ini saja, ia sudah dikejar penagih utang. Besok atau lusa, orang-orang itu pasti akan datang lagi. Ia tak punya uang, tak punya pekerjaan tetap, dan sekarang harus mengurus bocah yang bahkan bukan anaknya.
Giginya mengatup rapat, tangannya mengepal.
Kalau saja Reyna tidak ada...
Kalau saja ia tak harus membawanya ke mana-mana...
Kalau saja ia bisa mendapatkan uang dengan mudah...
Pikiran itu datang begitu saja, dan semakin ia coba menepisnya, semakin kuat bisikan itu menggema di kepalanya.
Menjual Reyna.
Gadis kecil itu bukan darah dagingnya. Bukan adiknya. Bahkan bukan siapa-siapa. Jika ia menyerahkan Reyna pada seseorang yang menginginkannya, bukankah hidupnya akan jauh lebih baik?
Ia tak perlu lagi berbagi makanan. Tak perlu takut Reyna sakit. Tak perlu lari-lari dari penagih hutang sambil menggendong bocah itu.
Dan lebih dari segalanya, ia akan mendapatkan uang.
Kamala menunduk, menatap tangannya sendiri. Apakah ia benar-benar tega melakukan itu?
Reyna percaya padanya. Memanggilnya "Ibu" tanpa ragu. Menggenggam tangannya setiap kali mereka menyeberang jalan. Menangis dan berlari kepadanya saat ketakutan.
Tapi hidup tak bisa hanya bergantung pada rasa iba.
Kamala menggigit bibirnya, menahan gemuruh di dadanya. Ia harus mengambil keputusan. Dan sepertinya, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.
Besok, ia akan mencari seseorang yang bersedia membeli Reyna.
******
Pagi datang terlalu cepat. Kamala membuka mata, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Keputusan yang ia buat semalam masih bergema di pikirannya.
Di sebelahnya, Reyna masih terlelap, tubuh mungilnya meringkuk di balik selimut tipis yang hampir tak cukup menghangatkan. Wajah bocah itu damai, tanpa tahu bahwa hidupnya bisa berubah drastis dalam hitungan jam.
Kamala menghela napas, lalu bangkit perlahan agar tidak membangunkan Reyna. Ia berjalan ke luar, duduk di ambang pintu rumah kontrakan yang sudah hampir rubuh. Pikirannya kacau.
Siapa yang mau membeli seorang bocah itu?
Dan berapa harga yang pantas?
Ia tak pernah melakukan hal seperti ini. Tapi ia tahu, di luar sana, selalu ada orang-orang yang mencari anak kecil untuk berbagai alasan. Beberapa mungkin benar-benar menginginkan anak, tapi sebagian lainnya…
Ia tak peduli.
Yang ia butuhkan hanya uang.
Reyna terbangun karena perutnya keroncongan. Ia mengucek matanya, lalu menoleh ke samping. Kamala tidak ada di sana.
"Ibu?" panggilnya lirih.
Ia bangkit dari kasur tipisnya, melangkah kecil ke luar. Kamala masih duduk di ambang pintu, menatap jalanan dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ibu lapar," kata Reyna sambil mengelus perutnya.
Kamala menoleh sekilas. "Nanti kita cari makan," katanya datar.
Reyna mengangguk, lalu tanpa ragu duduk di samping Kamala, menyandarkan kepalanya ke lengan wanita itu.
Kamala terdiam.
Bagaimana bisa bocah ini begitu percaya padanya?
Padahal ia sudah membuat keputusan untuk menjualnya.
Kamala mengalihkan pandangannya. Jika ia terlalu memikirkan ini, ia bisa saja goyah.
Reyna tiba-tiba menegakkan tubuhnya. Matanya berbinar saat melihat sesuatu di seberang jalan.
"Ibu! Itu kucing yang aku bilang kemarin!" serunya dengan semangat.
Kamala mengikuti arah pandangan bocah itu dan melihat seekor kucing belang tiga yang terlihat kurus, duduk di bawah gerobak pedagang yang masih tutup.
Tanpa pikir panjang, Reyna berlari kecil mendekati kucing itu.
"Reyna, jangan jauh-jauh!" seru Kamala, tapi bocah itu sudah jongkok di depan si kucing.
Reyna mengulurkan tangannya perlahan. "Kucing~ ayo sini, nggak usah takut," panggilnya dengan suara lembut.
Kucing itu tampak waspada, tapi tak segera lari.
Pelan-pelan, Reyna mengangkat kucing itu ke dalam pelukannya. Tubuh si kucing ringan, bulunya kotor, tapi Reyna tak peduli. Ia mengusap kepala kucing itu dengan hati-hati.
"Ibu, boleh aku bawa dia pulang?" tanyanya dengan mata berbinar.
Kamala mendesah. "Kita sendiri aja susah makan, Rey."
Reyna merengut, tapi tetap memeluk si kucing erat-erat. "Tapi dia juga nggak punya rumah, kasihan… aku bakal bagi makananku sama dia!"
Kamala menatap bocah itu lama. Reyna tidak tahu, bahwa besok mungkin ia sendiri yang akan diserahkan pada orang lain.
Dan di tengah pikirannya yang kacau, Kamala merasa ada yang mencengkeram hatinya erat saat melihat cara Reyna melindungi kucing itu, dengan cara yang sama seperti Reyna selalu menggenggam tangannya.
Seolah, kalau ia menggenggam cukup kuat, maka semuanya akan tetap bersamanya.
Kamala menunduk, menatap tangan mungil Reyna yang memeluk erat si kucing kurus itu.
Keputusan yang ia buat semalam mendadak terasa semakin berat.