Alurnya mengandung kontroversi, jadi cerdaslah dalam menyikapinya. Jika penasaran mengapa mengambil alur semacam ini disarankan membaca hingga tuntas agar paham akan pesan yang ingin disampaikan melalui cerita ini.
Yang tidak kuat dengan alur semacam ini harap diskip saja 😊🙏.
Terima kasih dan selamat membaca.
*****
Kisah tentang seorang gadis bernama Bunga berusia 23 tahun yang sering mendapatkan pertanyaan dari orang-orang terdekatnya. Sebuah pertanyaan yang menjadi stigma di masyarakat dan paling ingin dihindari oleh setiap orang yang tak kunjung mempunyai pasangan.
"Umur kamu sudah segitu, kapan menikah?"
Pertanyaan yang seakan sederhana bagi yang bertanya, tetapi tidak bagi orang yang mendapatkannya.
Kemudian dia bertemu dan jatuh cinta kepada lelaki yang bernama Sastra Prawira, seorang Sastra dengan sejuta pesona yang menyihir dirinya yang tak berpengalaman.
Namun, sayangnya Sastra adalah sosok yang tidak percaya terhadap ikatan pernikahan karena trauma masa lalu yang dialaminya, bertolak belakang dengan Bunga yang sangat mengejar status tersebut akibat tekanan dari orang-orang di sekitarnya.
Kisah dua jiwa terluka, yang tertatih-tatih mencari penawarnya.
Bagaimanakah kelanjutannya? Akankah berlabuh pada ikatan suci tersebut atau malah sebaliknya?
Selamat membaca....
---
Warning 21+ ⚠️. Harap bijak memilih bacaan.
DILARANG PLAGIAT CERITA INI!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KM Part 5
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, sampailah mereka di tempat resepsi pernikahan Ina. Sebuah gedung megah dan cukup terkenal di kota ini. Banyak orang yang berlomba lomba untuk menyewa gedung tersebut sebagai tempat resepsi dengan alasan demi gengsi.
Bunga melihat ke sekeliling lalu bertanya kepada ibunya. "Bu, di sebelah mana tempat untuk keluarga, biasanya disediakan tempat duduk khusus kan?"
"Sepertinya di sebelah kanan podium itu. Ayo kita ke sana," ajak Bu Marni.
Bunga beserta ibunya bergegas dan benar saja di sana sudah berkumpul sanak saudara dari Bu Marni. Mereka menyambut kedatangannya, ada yang berekspresi hangat dan ramah, ada juga yang memasang raut sinis sambil mencibir.
Seorang wanita berperawakan subur datang menyambut dan menghampiri. "Wah, Mbak Marni dan Bunga, makasih lho sudah menyempatkan datang memenuhi undanganku."
"Sama-sama Ida. Selamat ya atas pernikahan Ina. Mbak nggak nyangka, Ina anakmu itu hebat ya bisa mendapatkan suami yang mapan dan tampan," ujar Bu Marni dengan ekspresi memuja pada si mempelai pria.
"Ya begitulah, Mbak, entah kenapa hidup Ina itu selalu beruntung." Wanita yang dipanggil Tante Ida itu menjawab dengan nada sombong yang kental sembari melirik mengejek pada Bunga. Kemudian dia mengambil tempat duduk di sebelah Bu Marni dan menyambung kembali obrolannya.
"Tapi ngomong-ngomong, kapan Mbak mau ngasih undangan juga buat kita? Si Bunga kan sudah cukup umur, kuliah juga tidak. Masa mau jadi perawan tua. Atau jangan-jangan anakmu itu enggak laku laku ya, Mbak? Kasihan, padahal Bunga itu cantik, tapi sayang sepertinya nasibnya tidak sebaik Ina," ujarnya sok peduli yang sebetulnya menghina.
"Do'akan saja Ida. Semoga tak lama lagi Bunga segera menyusul Ina ya," sahut Bu Marni dengan raut wajah yang mulai mengeras.
"Ya... mudah mudahan saja segera. Walaupun aku tidak yakin," jawabnya sambil berlalu pergi tanpa sopan santun.
Setelah wanita yang bernama Tante Ida itu semakin menjauh, Ekspresi wajah Bu Marni makin menggelap dan muram. Bunga mulai tidak nyaman dengan situasi ini, untuk meredakan rasa tak nyamannya ia meminta izin pada ibunya untuk sekadar melihat-lihat berkeliling ke sekitar gedung yang mewah ini.
Bunga melangkah ringan sambil melihat dekorasi gedung, karena kurang memperhatikan sekitar kakinya tak sengaja tersandung dengan kabel perlengkapan para fotografer dan alhasil ia terjatuh terjerembab ke depan hampir tersungkur.
"Aw," pekiknya terkejut. Menahan sakit juga malu, dengan terburu-buru Bunga bangkit dan tiba-tiba salah seorang lelaki yang berkumpul bersama para fotografer tadi menghampirinya.
"Mbak, lain kali lebih berhati-hati lagi kalau jalan. Lihat dan perhatikan langkah, untung saja kamera-kamera ini tidak ikut jatuh saat tertarik kabel tadi." Lelaki itu bersungut-sungut.
What? Orang jatuh bukannya di tolongin malah diomelin. Haish kesalnya! Ingat Bunga, ini bukan drama Korea, sabar-sabar,
Gumamnya dalam hati sambil mengelus dada.
Bunga mendongak, menatap lelaki itu dengan angkuh agar tidak mudah ditindas, tetapi saat mata mereka bertemu ada desiran lain merambati dadanya.
Sorot mata lelaki itu tajam seperti elang dengan fitur wajah terpahat sempurna, berpadu tubuh tinggi atletis sungguh mempesona. Bunga menggeleng-gelengkan kepala dan segera menepis pikiran aneh yang tiba-tiba melintas di kepala cantiknya.
"Maaf, Bang, saya akui memang kurang memperhatikan jalan, tapi rasanya kurang pantas ketika melihat saya terjatuh Anda bukannya menolong malah marah-marah pada saya dan lebih memperdulikan properti anda!" Bunga melemparkan tatapan tajam setajam pisau yang siap menghujam saat itu juga.
Beberapa saat lelaki itu terdiam. Lalu kemudian ia malah berbalik dan berlalu pergi tanpa menggubris teriakan Bunga.
"Dasar cowok tengil tak berperasaan!" umpatnya kencang. "
Dia memang tampan, tetapi sepertinya sama sekali enggak punya rasa simpati terhadap sesama. Ternyata sikapnya tak seindah tampilan luarnya!" gerutunya sebal.
Bersambung.