Duke Arland.
Seorang Duke yang dingin dan kejam. Selama menikah, dia mengabaikan istrinya yang sangat menyayanginya, hingga sebuah kejadian dimana dirinya harus berpisah dengan istrinya, Violeta.
Setelah kepergian istrinya, dia bertekad akan mencari istrinya, namun hasilnya nihil.
......
Violeta istri yang sangat mencintai suaminya. Selama pernikahannya, ia tidak di anggap ada, hingga sebuah kenyataan yang membuatnya harus pergi dari kediaman Duke.
Kenyataan yang membuatnya hancur berkeping-keping. Violeta yang putus asa pun mencoba bunuh diri, sehingga jiwa asing menemani tubuhnya.
Lima tahun kemudian.
Keduanya di pertemukan kembali dengan kehidupan masing-masing. Dimana keduanya telah memiliki seorang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Perasaan Bersalah
Duke Aland menyilangkan kedua tangannya di dadanya, matanya tertuju pada satu arah, melihat perapian yang sedang menyala. Duke Aland merasakan sentuhan di bahu kanannya, perlahan lehernya berputar menatap sosok yang ia rindukan. "Duchess,"
Matanya mengembang, dada kembang kempis merasakan sesak. Wanita itu tersenyum, lalu memakaikan sebuah pakaian tebal. "Salju semakin deras, Duke semakin kedinginan kan."
"Tuan, Duke."
Duke Aland terhenyak, ia melihat sekelilingnya, tidak ada bayangan Violeta. Jadi tadi, hanyalah bayangan semu.
"Ada apa Tuan?"
Duke Aland tertawa, ini bukan perasaan bersalah. Melainkan perasaan kecil yang semakin tumbuh. Duke Aland menunduk dengan bahu gemetar.
"Tuan!"
Kesatria Lio semakin panik, "Apa ada sesuatu yang mengganggu Tuan?"
"Ini bukan perasaan bersalah, ini murni perasaan yang semakin tumbuh dari hari ke hari. Kamu tahu Lio, saat itu aku bermaksud mengakhiri hubungan ku dengan Felica, aku ingin mengakhiri, karena aku tahu, aku sudah memiliki cinta padanya, ketakutan dan kebodohan ku itu membuat semuanya kacau, dan setelah itu, kenapa aku tidak bisa mengontrol sekujur tubuh ku, kenapa aku ... "
"Sudah Tuan, semuanya sudah terlanjur. Aku akan berusaha mencari Duchess. Aku berjanji akan membawanya kembali."
Duke Aland menggoyangkan kedua lengan Kesatria Lio, hanya dengan pria ini lah, dia menunjukkan kesedihannya. "Aku yakin dan seribu yakin, dia masih hidup. Aku harus mencarinya, waktu itu dia sedang mengandung."
"Tenanglah Tuan, aku akan menjelaskannya."Kesatria Lio juga merasakan apa yang majikannya rasakan. Bertahun-tahun dia menemani Duke Aland, pria arogant, ketus dan sombong. Kini menjadi pria yang sangat menyedihkan.
"Kenapa aku bodoh, kemana dua kesatria itu, kemana mereka?"
Duke Aland tertawa, ia sendiri yang memberikan Violeta obat tidur. Niat hati, hanya ingin membuat Violeta aman dari kejaran musuhnya, niat hati ingin Violeta selamat, tapi apa yang dia berikan. Violeta pergi, ia tidak tahu apa yang terjadi, Dan saat itu,Violeta tahu kehamilan Felica. Ia laki-laki yang paling busuk, melebihi bangkai di seluruh dunia ini. "Semuanya hancur, aku harus mencarinya kemana."
Tuhan, jika Nyonya Duchess masih hidup, berikan kesempatan untuk Tuan memperbaikinya, bukankah sebuah kesalahan harus di perbaiki dan di maafkan.
Sedangkan di tempat lain
Seorang wanita tengah memegang dadanya, berdetak kencang, bahkan tangannya merasakan dadanya seperti genderang. "Ada apa ini? aku merasa tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa, aku harus secepatnya kembali. Aku harus pergi dari sini, Alfred dan Aleta tidak boleh tahu siapa ayahnya, aku harus pergi sebelum ada seseorang yang menemukan ku dan kedua anak ku."
"Ibu!"
Violeta menoleh, anak kecil itu menaikkan sebelah alis tipisnya. Heran dengan raut wajah ibunya yang terlihat ketakutan. Kedua tangannya memegang sebuah nampan yang berisi secangkir teh hangat.
"Apa ada sesuatu yang Ibu pikirkan? o iya, ini aku bawakan teh hangat untuk ibu."
"Terimakasih, Alfred."
Anak kecil itu tersenyum, "Apa ibu merindukan ayah?"
Pertanyaan itu membuat Violeta tersedak, Alfred langsung bangkit menuju ke arah Violeta dan menepuk punggungnya dengan pelan.
Violeta menarik kedua sudut bibirnya terpaksa. "Iya, aku merindukan ayah mu, tapi ayah mu sudah tenang di sana," ujar Violeta. Alfred mengangguk, ia juga merindukan sosok seorang ayah. Kadang ia merasa iri melihat anak kecil seumuran dengannya menghabiskan waktu dengan sang ayah.
"Ibu merindukan rumah kita, rasanya lama sekali meninggalkan rumah. Ibu besok ke kota, setelah selesai mengecek toko kita, kita langsung pulang. Ibu tidak betah di sini."
"Aku dan Aleta akan ikut ibu besok, siapa tahu ibu membutuhkan bantuan kami."
Violeta mengelus pucuk kepala Alfred. "Baiklah," Violeta mengambil teh hangat di atas meja itu, lalu menyeruputnya.
Apa aku bilang saja pada ibu, kalau ada bangsawan yang mengatakan aku mirip seseorang, tidak, aku tidak boleh gegabah. Aku harus menyelidikinya sendiri.
akoh mampir Thor