Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Melihat ekspresi Sunny yang terkejut sekaligus senang membuat Nora mengalihkan pandangan ke layar televisi dan memperhatikan dengan seksama gambar yang terpampang di sana.
Dengan cermat, Nora memperhatikan seorang laki-laki tampan dengan setelan jas dan celana berwarna merah muda, sedang menggandeng wanita cantik yang memakai gaun seksi berwarna senada.
"Daddy sama aunty Felicia," ucap Sunny lagi dengan nada girang.
"Eh, iya. Itu daddy Sunny, ya?" tanya Nora lagi memastikan.
"Kok aunty lupa sih, kan aunty sendiri yang pilih baju itu buat daddy," ujar Sunny.
"Iya, ya. Kok Sunny tau?" tanya Nora.
"Rahasia." Sunny terkekeh sambil tersenyum senang ke arah Nora.
Beberapa hari terakhir, semua media dan siaran infotainment berbondong-bondong membicarakan tentang berita kedekatan sang pimpinan perusahaan kosmetik besar dengan seorang model terkenal, siapa lagi kalau bukan Alexavier Bancrof dan Felicia Maheswari.
Laki-laki yang memilih mewarnai rambutnya dengan warna mencolok itu tampil mempesona membawa wanita seksi yang tak lain adalah model ternama yang namanya sudah di kenal publik, kehadiran keduanya dalam acara perjamuan oleh perusahaan besar membuat media dengan bebas meliput kegiatan mereka.
Keserasian dua sejoli itu nampaknya menjadi perbincangan hangat setiap orang, bahkan kini para wartawan dan awak media lainnya berlomba untuk mendapatkan informasi terbaru tentang kepastian hubungan Alex dan Felicia.
"Pasangan yang serasi," gumam Nora lirih, namun Sunny masih mendengarnya dan menoleh.
"Apa itu serasi, aunty?" tanya Sunny tidak mengerti.
"Emm, serasi itu ... saat laki-laki dan wanita yang nampak cocok berpasangan. Intinya begitulah, aunty nggak bisa jelasin," papar Nora.
"Apa serasi itu bisa menikah?" Sunny sangat ingin tau.
"Menikah?" ulang Nora. "Menikah itu bukan hal yang mudah, Sayang. Kamu masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu menikah."
"Menikah itu, bukan hanya soal cocok, serasi, sama-sama kaya, atau sama-sama terkenal. Menikah itu tentang kecocokan hati satu sama lain, saling melengkapi, saling menerima, dan ... saling mencintai," jelas Nora, berusaha menerangkan sesingkat mungkin.
"Oh, begitu." Sunny menganggukkan kepala sambil terlihat berpikir.
"Sudah, jangan berpikir yang bukan-bukan. Sunny belum waktunya, nanti kalau sudah besar, Sunny akan mengerti sendiri," lanjut Nora.
"Oke, aunty." Sunny mengacungkan jari jempolnya.
"Anak baik." Nora mengusap kepala Sunny dengan lembut.
🖤🖤🖤
Di kantor, Alex sangat murka karena para awak media tidak henti-hentinya mengejar dirinya, bahkan satpam di rumah Alex memergoki seorang wartawan mengintai hingga larut malam.
"Bagaimana bisa seperti ini, Van. Kurang kerjaan sekali mereka!" hardik Alex.
"Memang itu pekerjaan mereka, Tuan," jawab Van santai.
"Maksudmu, pekerjaan mereka membuntutiku?"
"Bisa di bilang begitu."
"Sial!" pekiknya. "Bagaimana dengan Felicia?"
"Berdasarkan apa yang saya tau, nona Felicia juga mengalami hal yang sama, Tuan," ujar Van. "Maaf sebelumnya, memang hal ini terkesan mengganggu, tapi jika tuan ingin menaikkan popularitas dan memperluas jaringan bisnis perusahaan, hal seperti ini ada untungnya," lanjutnya.
"Menurutmu begitu?" Alex menaikkan sebelah alis sambil menatap tajam pada sekretarisnya.
"Setau saya begitu."
Mendengus kesal, Alex memikirkan apa yang baru saja Van jelaskan. Dengan naiknya popularitas Felicia, itu akan memberikan keuntungan besar bagi perusahaan, karena Felicia seperti wajah utama dari PT. Emily Beauty, tentu saja itu akan mempengaruhi penjualan produk yang akan membawa dampak besar bagi perusahaan.
"Jadwalkan pertemuanku dengan Felicia besok siang," perintah Alex.
"Baik."
Van keluar dari ruangan Alex dan bergegas meninggalkan atasannya yang sedang tidak enak hati itu.
Bagi Alex, ketentraman kehidupan pribadinya adalah yang utama. Sejak dulu ia tidak suka ada orang lain yang terlalu ingin tau tentang hidupnya, namun karena ini akan berpengaruh pada jalannya perusahaan, maka Alex berniat untuk membicarakan hal ini pada kedua mertuanya.
Merasa sudah kurang mood berada di kantor, Alex memutuskan untuk pulang lebih awal, di saat-saat seperti ini, Sunny adalah obat baginya.
Setelah sampai di rumah, ia langsung mencari keberadaan Sunny, namun ia tidak menemukannya di kamar, bahkan Nora pun tidak terlihat batang hidungnya.
"Kemana mereka?" tanya Alex pada kepala pelayan yang kebetulan sedang ada di ruang tengah.
"Mungkin di taman belakang, Tuan. Kebetulan tadi saya mendengar nona muda mengajak nona Nora berenang."
"Oh, baiklah."
Alex memutuskan untuk berganti baju dan menyusul anaknya ke taman belakang.
"Hai, Sayang," sapa Alex, saat melihat gadis kecilnya sedang asik di dalam kolam bersama Nora di tengah kolam
"Daddy," teriak Sunny sambil berenang mendekati pinggiran.
Alex dengan senang hati mengangkat tubuh Sunny keluar dari air dan mendudukkannya di tepian.
"Tumben berenang," ucap Alex.
"Sunny bosan main, pengen berenang sama aunty," jelas Sunny. "Aunty pandai berenang loh, Daddy. Aunty bisa berenang dengan macam-macam gaya," lanjutnya.
Di tengah kolam, Nora menenggelamkan tubuhnya hingga hanya terlihat leher dan kepalanya, ia diam membisu dan hanya mendengarkan percakapan ayah dan anak di depannya.
"Wah, benarkah? sepertinya daddy punya saingan nih," ungkap Alex. Ya, laki-laki itu semenjak masih bujang sangat suka sekali berenang, namun karena kesibukannya akhir-akhir ini, ia bahkan tidak sempat menyentuh air di kolam renang.
"Bukan begitu, Tuan. Aku cuma berenang asal aja," sela Nora.
"Jangan merendah begitu, Nora. Kapan-kapan, aku akan menantangmu lomba renang," ucap Alex terkekeh.
"Wah, nanti Sunny jadi wasitnya," seloroh Sunny girang.
Alex pun tertawa mendengar ucapan putrinya, begitupun dengan Nora.
"Ayo, ganti baju. Nanti demam," ajak Alex pada Sunny, kemudian menoleh pada Nora yang hanya terlihat kepalanya saja. "Kamu belum selesai, Nora?" tanyanya.
"Sudah, Tuan."
"Ganti bajumu, buatkan aku dan Sunny camilan enak," pinta Alex, kemudian laki-laki itu menggendong Sunny di punggungnya.
"Baik." Nora mengangguk, namun masih tidak bergerak dari posisinya semula.
Alex yang penasaranpun mengurungkan langkahnya, ia kembali berbalik melihat Nora.
"Mau sampai kapan kamu di dalam sana, ayo keluar!" perintah Alex.
"Eh, itu. Tuan pergi dulu, nanti aku baru keluar," ucap Nora.
"Hah, memangnya kenapa?"
"Tuan pergi saja dulu, setelah ini aku akan langsung keluar dan membuat camilan yang tuan minta," tegas Nora.
"Aneh!" gumam Alex sambil berjalan meninggalkan kolam, dalam hati ia begitu penasaran kenapa Nora enggan keluar dari air saat ada dirinya.
"Memangnya dia takut apa, sih!" gerutunya lagi.
Di hantui rasa penasaran yang menggerogoti pikirannya, Alex menurunkan Sunny dari gendongan dan meminta pelayan untuk mengantarnya ke kamar, sedangkan dirinya berdiri di balik pintu kaca di bagian belakang rumah yang langsung menghadap ke arah kolam.
Dari kejauhan, Alex melihat Nora berenang menuju tepian, wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri seperti takut ada orang yang akan melihatnya.
"Apa dia nggak pakai baju, ya?" batin Alex bertanya-tanya. "Nggak mungkin."
🖤🖤🖤