Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sabtu sore, Jingga berdiri di depan cermin kecil di kamar kosnya. Ia mengenakan blus sederhana berwarna krem dan celana panjang hitam. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, tetapi entah mengapa ia sudah tiga kali memeriksa apakah bajunya terlihat rapi.
Ponselnya berdering.
Samudera: [Aku sudah di depan kos. Tidak perlu terburu-buru, aku bisa menunggu.]
Jingga tersenyum malu pada dirinya sendiri. Ia mengambil tas, lalu segera keluar.
Samudera berdiri di samping mobil dengan kemeja biru tua dan celana panjang hitam. Begitu melihat Jingga, ia membukakan pintu untuknya.
“Kamu terlihat cantik,” katanya spontan.
Langkah Jingga terhenti sesaat.
“Terima kasih,” jawabnya sambil menunduk. “Mas Samudera juga terlihat berbeda kalau tidak memakai jas dokter.”
Samudera tertawa kecil. “Berarti selama ini aku terlihat membosankan?”
“Bukan begitu.”
“Syukurlah. Aku sempat khawatir kamu hanya menyukaiku ketika aku sedang bekerja.”
Jingga mendongak, lalu menyadari pria itu sedang menggodanya. Ia akhirnya ikut tertawa sebelum masuk ke mobil.
Perjalanan menuju rumah Samudera terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Mereka membicarakan banyak hal, mulai dari kebiasaan Arka yang suka menyembunyikan mainan hingga rencana Jingga mengikuti pelatihan keperawatan lanjutan.
Sesekali, Samudera mengajukan pertanyaan tentang kehidupan Jingga di luar rumah sakit. Ia ingin mengenal perempuan itu lebih jauh, tetapi tidak memaksanya menceritakan sesuatu yang belum siap dibagikan.
Ketika mereka tiba, Arka langsung berlari kecil dari ruang keluarga.
“Tante Suster!”
Jingga berjongkok menyambut anak itu, Arka menarik tangannya menuju meja. Di sana terdapat selembar kertas berisi gambar tiga orang yang pernah dikirim Samudera kepadanya.
“Ini Papa, ini Arka, ini Tante Suster!”
Jingga menatap gambar itu dengan senyum lembut. “Bagus banget! Arka hebat!"
Anak itu memeluk kaki Jingga sebentar sebelum kembali menunjukkan beberapa mainan. Jingga mengikutinya ke karpet, sementara Samudera berdiri memperhatikan mereka dengan perasaan hangat.
Rumah yang biasanya sunyi kini dipenuhi suara tawa.
Akan tetapi, Samudera juga menyadari sesuatu. Jingga terkadang terdiam saat Arka memanggilnya, seolah ada kenangan yang mendadak menghampiri. Ia tidak ingin kebahagiaan mereka berubah menjadi beban bagi perempuan itu.
Karena itu, ketika Arka sibuk menyusun balok, Samudera mendekati Jingga.
“Kamu baik-baik saja?”
Jingga mengangguk, kemudian tersenyum tipis. “Aku hanya teringat anakku.”
Samudera duduk di sampingnya. “Kamu tidak perlu menyembunyikan kesedihanmu di sini.”
“Aku senang bersama Arka. Tapi terkadang, saat melihatnya melakukan hal-hal kecil, aku membayangkan apa yang mungkin dilakukan putraku kalau dia masih hidup.”
“Aku mengerti.”
Jingga menatapnya. “Mas Samudera tidak merasa sedih melihatku seperti ini?”
“Sedih, tentu. Aku tidak ingin kamu terluka. Tapi aku juga tidak ingin kamu berpura-pura bahagia hanya untuk membuatku nyaman.”
Mata Jingga menghangat. Selama ini, ia terbiasa menahan tangis karena takut dianggap lemah. Bersama Samudera, ia perlahan belajar bahwa kesedihan tidak harus selalu disembunyikan.
“Terima kasih,” bisiknya.
Samudera tidak menyentuhnya tanpa izin. Ia hanya duduk di samping Jingga, membiarkan keheningan menemani mereka sampai Arka datang membawa balok merah.
“Papa, bantu!”
Samudera segera berdiri. “Baik, Bos kecil.”
Jingga tertawa melihat keseriusan Arka memerintah ayahnya. Suasana kembali ceria, dan ia merasa bisa merindukan anaknya sekaligus menikmati kebahagiaan yang ada di hadapannya.
Menjelang malam, mereka selesai makan. Arka bermain bersama pengasuhnya di ruang keluarga, sedangkan Jingga membantu Samudera membereskan meja.
“Kamu tamu,” ujar Samudera ketika Jingga mengambil piring terakhir.
“Kalau aku hanya duduk, nanti Mas Samudera mengerjakan semuanya sendiri.”
“Aku bisa meminta bantuan pengasuh.”
“Tapi aku ingin membantu.”
Samudera akhirnya menyerah. Mereka berdiri berdampingan di dapur, mencuci beberapa peralatan makan sambil sesekali bertukar cerita.
Ketika tangan mereka bersentuhan saat meraih gelas yang sama, Jingga spontan menarik tangannya.
“Maaf,” katanya.
Samudera tersenyum. “Tidak apa-apa.”
Jingga berusaha menyibukkan diri, tetapi ia bisa merasakan pipinya menghangat. Ia tidak terbiasa dengan kedekatan yang tumbuh tanpa tuntutan, tanpa ancaman, dan tanpa keharusan untuk selalu menyenangkan seseorang.
Setelah semuanya selesai, Samudera mengantarnya pulang.
Di tengah perjalanan, ponsel Jingga berbunyi. Nama Leo muncul di layar.
Leo: [Aku dengar kamu sedang mengikuti pelatihan lanjutan. Selamat. Kalau kamu butuh informasi tentang program pengembangan tenaga kesehatan, aku bisa membantu mencarikan referensi.]
Jingga membaca pesan itu sebelum membalas singkat, mengucapkan terima kasih dan menjelaskan bahwa ia akan mengurus keperluannya melalui rumah sakit.
Samudera tidak bertanya siapa pengirimnya. Namun, ketika Jingga menyimpan ponsel, ia berkata, “Leo memang perhatian kepadamu.”
Jingga menoleh. “Mas Samudera keberatan?”
“Aku tidak punya hak untuk melarangmu berhubungan dengan siapa pun.”
“Itu bukan jawaban.”
Samudera terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Kalau kamu ingin jawaban jujur, aku memang merasa cemburu. Aku senang bersamamu dan ingin mengenalmu lebih jauh. Jadi, tentu saja aku tidak sepenuhnya nyaman melihat pria lain berusaha mendekatimu.”
Jingga menatap pria itu tanpa berkedip. Ia tidak menyangka Samudera akan mengakuinya secara blak-blakan kali ini.
“Tapi aku tidak akan menggunakan perasaanku untuk mengatur pilihanmu,” lanjut Samudera. “Aku hanya ingin kamu tahu apa yang kurasakan.”
Jingga menunduk, menyembunyikan senyum kecil. “Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan Leo.”
“Aku tahu.” Samudera melirik Jingga, lalu tersenyum lebar. “Jadi, aku termasuk orang istimewa?”
“Jangan membuatku menyesal sudah berkata begitu, Mas.”
Tawa mereka memenuhi mobil. Meski tidak ada pernyataan cinta, keduanya tahu hubungan mereka baru saja melangkah sedikit lebih jauh.
Ketika mobil berhenti di depan kos, Jingga tidak langsung turun. “Aku senang hari ini, Mas. Makasih...“
“Aku juga.”
“Bukan hanya karena Arka, tapi aku senang bisa menghabiskan waktu dengan Mas Samudera.”
Samudera menatap wanita itu dengan lembut. “Aku berharap kita bisa lebih sering melakukannya.”
Jingga mengangguk. “Aku juga berharap begitu.”
Ia turun dari mobil dengan senyum yang sulit disembunyikan.
___
Pagi itu, Dira menerima telepon dari guru Varel ketika sedang bersiap berangkat. Suara guru tersebut terdengar hati-hati, tetapi cukup membuatnya panik.
“Maaf, Bu Dira. Varel terlibat pertengkaran dengan seorang anak di kelompok bermain. Kami berharap Ibu bisa datang untuk membicarakannya.”
Dira mengerutkan kening. “Varel berkelahi? Dengan siapa?”
“Namanya Arka. Mereka berada di area bermain yang sama. Tidak ada luka serius, tetapi kami perlu mempertemukan orang tua kedua anak agar masalahnya bisa diselesaikan.”
Dira menghela napas kesal. Varel memang terkadang sulit mengalah, tetapi ia tidak menyangka anaknya akan terlibat masalah di sekolah.
“Saya akan datang,” jawabnya sebelum menutup telepon.
Tetapi, ia segera teringat bahwa pagi itu ada urusan yang harus diselesaikannya. Ia tidak ingin datang sendirian, terlebih jika orang tua anak lain ternyata berasal dari keluarga terpandang.
Dira pun segera menghubungi Rangga.
bahagia ngga kamu skrg ..
denger ya Rangga dan Dira ...itu sebanding dengan apa yg dirasakan jingga saat kehilangan anaknya ...jadi ga usah so paling menderita