Revan (30), pimpinan tentara elit yang lima tahun tak pulang, mendapat misi mengintai kelompok pemberontak di hutan desa kelahirannya. Selama ini, Revan terlalu sibuk bertugas hingga tidak sempat memikirkan cinta, sang ibu khawatir dan ingin menjodohkan nya.
Di sisi lain, Nara ...bidan ASN cantik yang jago bela diri,pindah tugas ke desa tersebut. Karna menghindar dari beberapa laki laki yang selalu mendekatimya ,maraknya kasus KDRT dan perselingkuhan membuat ia trauma hingga tak percaya cinta dan enggan menikah.
Takdir mempertemukan mereka di gerbong kereta api. Demi menghindari desakan nikah ibunya via telepon, Revan nekat mengambil diam diam gambar dengan wanita di sampingnya yang sedang tertidur,agar sang ibu tenang, Ia tak menyadari bahwa wanita tersebut adalah Nara, bidan baru yang siap mengubah jalan hidup dan misinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia dibalik Rahasia
Nara keluar dari ruang perawatan dengan mendekap sisa-sisa persediaan obat yang berhasil diselamatkan.
"Kalian tetap di sini, jangan ada yang ke mana-mana!" perintah Revan tegas kepada para pemuda desa yang sedang memperbaiki Polindes. Suaranya kembali menggelegar penuh wibawa khas seorang komandan.
"Nara ikut, Bang!" seru Nara cepat, langsung memasang posisi siaga.
"Nggak usah, kamu tetap di sini!" tekan Revan, menatap Nara tajam dengan raut keberatan.
"Enggak... lagian Abang itu masih luka," jawab Nara tenang namun tak terbantahkan.
"Pokoknya Nara ikut!" tegasnya lagi, menatap balik Revan tanpa rasa gentar sedikit pun.
Revan menghela napas pasrah.
"Baiklah... tapi jangan pernah jauh-jauh dari Abang."
"Siap, Pak Komandan!" seru Nara mantap.
Mereka berdua mulai menyisir area belakang Polindes. Gerakan Nara begitu lincah menyelinap di antara rimbunnya semak, sementara Revan melangkah penuh kehati-hatian dengan mata elangnya yang terus mengawasi setiap sudut yang mencurigakan.
"Bang, lihat!" panggil Nara setengah berbisik sambil menunjuk ke arah tebing bukit.
Seorang anak remaja terkapar tak berdaya di atas tanah yang basah. Tubuhnya bersimbah darah dan penuh luka goresan.
"Sepertinya dia jatuh dari pohon..." gumam Nara seraya mendekat.
Revan ikut mendekat. Seketika, indra penciumannya menangkap aroma yang sangat familier—bau minyak tanah, mesiu, dan peluh khas yang sama persis dengan para pemberontak yang menyerang mereka semalam.
Apakah anak ini bagian dari komplotan itu? batin Revan menerka-nerka.
Namun, sebelum Revan sempat menganalisis situasi lebih jauh, Nara sudah lebih dulu menyimpulkan dengan tatapan matanya yang mengeras.
"Bang... ini jelas bagian dari komplotan mereka. Aku nggak mungkin salah." Nara menatap wajah pucat remaja itu dengan perpaduan antara kewaspadaan dan ketegasan.
"Kita bawa dia dulu, Bang. Biar Nara obati," lanjutnya tanpa ragu.
Revan menatap Nara sejenak, lalu mengangguk setuju.
Dengan sigap, mereka berdua membopong tubuh remaja tersebut kembali ke Polindes untuk mengamankan sekaligus menyelamatkan nyawanya.
*****
Revan membantu mengangkat tubuh remaja itu dan membaringkannya perlahan di atas kasur ruang inap Polindes yang seadanya.
"Bang, bantu Nara buka bajunya... Habis itu tolong Abang bersihkan pakai handuk air hangat itu," panggil Nara seraya menyiapkan peralatan medis dan baskom di dekat meja.
Revan bergeming sejenak, menatap Nara dengan raut wajah serba salah dan kerutan di dahinya.
"Kenapa, Bang? Masih teringat, jadi belum ikhlas waktu nara bukain baju Abang ?" ledek Nara tipis dengan lirikan jahil, sengaja membalas kekesalannya yang tadi.
"Uuhhh...!" sorak Ujang dan beberapa pemuda desa yang rupanya masih mengintip penasaran dari balik pintu ruangan yang terbuka sedikit.
Wajah Revan langsung berubah panas menahan gengsi. Ia berbalik dan menunjuk pintu dengan tatapan garang.
"Kalian nggak ada kerjaan lain, hah?! Sana balik kerja!"
"Kabuuur, Komandan ngamuk!" celoteh Ujang sambil tertawa ngacir bersama teman-temannya untuk melanjutkan perbaikan Polindes.
Revan mengembuskan napas gusar, lalu mulai membuka baju bagian atas remaja itu sesuai instruksi. Dengan telaten namun canggung, ia mengusap noda darah dan tanah di dada si remaja menggunakan handuk hangat.
"Bang, lihat..."
tunjuk Nara tiba-tiba. Jemari lentiknya menyusuri bahu dan dada remaja itu.
"Ini luka goresan-goresan lama. Sepertinya anak ini sudah dilatih dari dini."
Revan menyipitkan mata, mengamati garis-garis parut yang menyilang di kulit remaja tersebut.
"Iya, Abang bisa lihat... Dan yang ini luka benturan akibat jatuh dari atas pohon."
Ia menempelkan dua jarinya di leher si remaja untuk memeriksa denyut nadi. "Napasnya masih teratur... Jadi dia nggak kritis."
"Dia pingsan cuma akibat kepalanya bentur keras," sambung Nara dan mulai membersihkan luka di pelipis anak itu dengan alkohol dan kasa steril.
"Anak sekecil ini udah dijadiin prajurit..." gumam Revan pelan, suara garangnya mendadak luluh oleh rasa iba yang mendalam.
*****
Tak lama kemudian, kelopak mata remaja itu tergerak pelan. Meringis menahan pening luar biasa yang menghantam kepalanya, pandangannya yang samar mendadak menangkap sosok Nara di dekatnya sedang menghadap membelakangi nya .
Sontak, naluri bertahannya melonjak drastis. Matanya mendelik liar, dan dalam hitungan detik, tangannya melayang layaknya pukulan brutal yang mengarah tepat ke wajah Nara!
Namun, Revan yang tak jauh dari ruangan langsung sigap.
Dengan refleks kilat, jemari kekarnya mencengkeram pergelangan tangan remaja itu di udara, menahannya dengan jepitan sekeras besi.
"Lepasin, Bang!"
potong Nara tegas tanpa berkedip sedikit pun, sama sekali tidak gentar.
Revan melirik Nara sejenak sebelum melepaskan cengkeramannya, tetap pasang kuda-kuda jika anak itu nekat berulah lagi.
Nara melangkah mendekat, berdiri tegak tepat di samping ranjang dengan kedua tangan berkacak pinggang. Tatapan matanya menusuk tajam, dipenuhi perpaduan antara kekesalan dan amarah yang meletup-letup.
"Kamu ya...! Bukannya bilang terima kasih sama orang yang udah nolong kamu, malah mau main hantam!" sembur Nara dengan intonasi tinggi yang sarat kekesalan.
Plak!
Dengan santainya, Nara menoyor dahi remaja itu hingga kepalanya sedikit terdongkrak ke belakang.
"Dikira tubuh saya ini sasaran tinju, hah?! Kurang ajar banget!"
Anak remaja itu tertegun. Ia memegangi dahinya, menatap Nara dengan matanya yang liar dan penuh kewaspadaan. Namun, melihat ketegasan tanpa rasa takut di mata Bidan desa itu serta aura dingin Komandan di sampingnya nyali sang remaja perlahan menciut. Ia akhirnya menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap mata Nara lagi.
Nara mengembuskan napas panjang untuk meredakan emosinya, lalu berbalik menuju dapur kecil Polindes. Tak lama kemudian, ia kembali membawa sepiring nasi hangat dengan lauk telur dadar seadanya dan segelas air putih.
"Makan ini!" titah Nara dingin, menghentakkan piring itu ke atas meja samping ranjang.
Melihat anak itu hanya diam membeku dengan bahu gemetar, nada suara Nara sedikit melunak, meski tetap ketus.
"makan ....! Jangan sok jual mahal ."
Remaja itu menatap piring di depannya dengan mata bergetar. Lidahnya kelat, tenggorokannya kering, dan perutnya memang sangat lapar.
Namun, rasa ragu dan trauma membuatnya enggan menyentuh makanan itu. Ia menatap Nara dengan tatapan curiga yang amat sangat.
"Gak usah natap saya kayak gitu!"
semprot Nara, menyilangkan dada sambil meliriknya tajam.
"Gak ada racunnya, tenang aja! Kalau saya mau kamu mati,sudah dari tadi kamu saya biarkan terkalar ditebing , biar jadi makanan hewan buas."
Anak itu menelan ludah kasar. Kalimat tajam Bidan Nara yang penuh perhatian terselubung itu perlahan meruntuhkan benteng pertahanannya.
Dengan tangan yang masih gemetaran, ia meraih sendok dan mulai menyuap nasi itu dengan lahap, menahan tangis yang mendadak menyeruak di dadanya.
Tak lama kemudian, deru mesin berat terdengar menggerung memasuki halaman Polindes. Sebuah mobil taktis militer berwarna hijau tua berhenti tepat
memperlihatkan beberapa prajurit bawahan Revan .
Nara dan Revan seketika saling pandang.....