NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Nama Terakhir, Langkah Pertama

Tiga hari telah berlalu sejak pengumuman kelulusan seleksi Hunter.

Namun, bagi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿, suara petugas yang memanggil namanya masih terdengar begitu jelas.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧. 𝘓𝘶𝘭𝘶𝘴.”

Satu kata sederhana yang berhasil mengubah sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap mustahil.

Sayangnya, kelulusan itu harus dibayar dengan kondisi tubuh yang menyedihkan.

Beberapa memar masih menghiasi lengan dan punggungnya. Luka robek di bahu telah dijahit, sementara perban yang melilit rusuknya membuat gerakan tertentu terasa menyakitkan.

Dokter bahkan memperingatkannya agar tidak melakukan aktivitas fisik berat sampai pemeriksaan berikutnya.

Kini, pemuda berusia delapan belas tahun itu kembali berdiri di depan kantor cabang World Hunter Organization.

Bukan untuk mengikuti ujian.

Melainkan mengambil sesuatu yang selama ini hanya mampu dibayangkannya.

Lisensi Hunter.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merapikan kerah jaketnya sebelum memasuki gedung.

Di dalam, suasananya tidak jauh berbeda dari beberapa hari sebelumnya. Para petugas berlalu-lalang membawa dokumen, sementara beberapa Hunter berseragam terlihat mengantre di loket administrasi.

Bedanya, kali ini 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak perlu mengenakan kartu peserta seleksi.

“𝘚𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘕𝘰𝘮𝘰𝘳 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢?”

Seorang petugas perempuan menyambutnya dari balik meja. Antrean di belakang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 masih panjang, dan nada suaranya terdengar seperti orang yang sudah mengucapkan kalimat yang sama puluhan kali sejak pagi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyerahkan dokumen kelulusannya.

Petugas tersebut memeriksa data melalui komputer. Sesaat kemudian, alisnya sedikit terangkat.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧? 𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩?”

“𝘐𝘺𝘢, 𝘉𝘶. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪.”

“𝘏𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘦𝘷𝘢𝘭𝘶𝘢𝘴𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯.” Ia menggeser beberapa berkas di mejanya. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘦𝘳𝘣𝘪𝘵𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘤𝘦𝘬 𝘥𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘥𝘶𝘭𝘶: 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘈𝘯𝘥𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyerahkan surat dokter yang sudah ia siapkan sejak pagi.

Petugas itu membaca beberapa bagian, lalu mengetuk satu baris dengan ujung pulpennya.

“𝘗𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘷𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢.” Ia mengangkat wajah. “𝘒𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘻𝘪𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪.”

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘥𝘪𝘴, 𝘉𝘶. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢.”

Untuk pertama kalinya, petugas itu tersenyum kecil.

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯.”

Beberapa menit berikutnya dihabiskan untuk pemeriksaan identitas, pengambilan foto, pemindaian biometrik, serta penandatanganan dokumen.

Hingga akhirnya sebuah mesin kecil di samping meja mulai bekerja.

Bip!

Sebuah kartu berwarna hitam metalik keluar dari mesin.

Pada permukaannya terdapat emblem W.H.O, chip digital, dan kode QR terenkripsi.

Petugas mengambil kartu tersebut, lalu menyerahkannya kepada 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

“𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵, 𝘗𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝙉𝙤𝙞𝙧. 𝘙𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘩. 𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪, 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘢𝘯𝘬 𝘕𝘰𝘷𝘪𝘦.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerimanya dengan kedua tangan.

WORLD HUNTER ORGANIZATION — ACTIVE

HUNTER IDENTIFICATION — REGIONAL INDONESIA

Nama Hunter: ERVAN NOIR

Hunter Rank: NOVIE

CORE Status: ACTIVE

Compatibility: 99%

CORE Installation: 100%

Regalia Type: GAUNTLET

LICENSE STATUS: VERIFIED

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengusap bagian nama pada kartu dengan ibu jarinya.

Hunter.

Dulu, jangankan memperoleh kartu seperti ini, memasuki arena latihan bersama para calon Hunter saja terasa seperti mimpi yang terlalu jauh.

CORE yang tidak pernah menunjukkan perkembangan telah membuatnya menjadi bahan ejekan selama bertahun-tahun.

𝗭𝗲𝗿𝗼.

Julukan itu begitu melekat sampai terkadang orang-orang seolah melupakan nama aslinya.

Dan sekarang...

“𝘗𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersentak.

“𝘈𝘩—𝘮𝘢𝘢𝘧, 𝘉𝘶. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨?”

“𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯.” Petugas itu memutar monitornya sedikit ke arah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘎𝘢𝘶𝘯𝘵𝘭𝘦𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘢𝘵𝘢𝘵 𝘥𝘪 𝘱𝘳𝘰𝘧𝘪𝘭 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪. 𝘜𝘯𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘪𝘯𝘷𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘪𝘴 𝘞.𝘏.𝘖, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memandangi tulisan GAUNTLET di layar beberapa detik.

“𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘨𝘢𝘴𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘯𝘫𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶? 𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘪𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵?”

“𝘐𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak keberatan.

Ia memang belum punya cukup uang untuk membeli Regalia sendiri. Bisa memakai perlengkapan resmi saja sudah merupakan keuntungan besar baginya.

“𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪.” Petugas itu mengangkat sebuah kotak hitam dari bawah meja. “𝘗𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘮𝘶𝘯𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳.”

Pada bagian depannya tercetak tulisan berwarna perak.

ESIA GARUDA H1

“𝘉𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘌𝘚𝘐𝘈, 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘰𝘭𝘰𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘯𝘦𝘨𝘦𝘳𝘪. 𝘜𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘳𝘶, 𝘶𝘯𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘥𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘱𝘳𝘰𝘨𝘳𝘢𝘮 𝘴𝘶𝘣𝘴𝘪𝘥𝘪 𝘞.𝘏.𝘖.” Ia menambahkan dengan nada yang sama datarnya, “𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membuka kotaknya.

Di dalamnya terdapat sebuah smartphone berwarna hitam dengan bingkai logam kokoh. Bentuknya sedikit lebih tebal dibandingkan ponsel biasa.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak perlu melihat label harga. Pengalaman berdiri di balik kasir minimarket membuatnya cukup paham bahwa benda seperti ini setara gajinya selama berbulan-bulan.

“𝘉𝘢𝘵𝘦𝘳𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘮𝘢, 𝘣𝘰𝘥𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯, 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘤𝘢𝘬 𝘭𝘰𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘴𝘢𝘵𝘦𝘭𝘪𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘶𝘳𝘢𝘵.” Petugas itu menyebutkan semuanya dengan lancar, seolah sudah hafal di luar kepala. “𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘭𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢.”

Layar menyala ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyentuh sensor sidik jari.

Sebuah ikon langsung menarik perhatiannya.

Emblem Garuda berlatar merah-putih, dipadukan dengan rantai, padi, kujang, dan siluet kepulauan Indonesia.

Di bawahnya tertulis:

HUNTER

“𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘢𝘱𝘭𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶𝘢𝘯 𝘰𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭. 𝘈𝘱𝘭𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘴𝘵𝘦𝘮 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘱𝘶𝘴 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢.” Petugas itu melirik layar di tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘤𝘰𝘣𝘢. 𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 membukanya.

Berbagai menu muncul.

HUNTER ID — MISSION BOARD — BETA DATABASE — REGALIA — EMERGENCY SOS — TEAM COMMUNICATION

“𝘐𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘪𝘴𝘪, 𝘦𝘴𝘵𝘪𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘉𝘗, 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯, 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘭𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘤𝘦𝘬 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘵𝘶.” Ia mengetuk meja sekali, seolah memberi garis bawah. “𝘚𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵: 𝘥𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘱𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan menu Emergency SOS.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘸𝘪𝘭𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪?”

“𝘠𝘢. 𝘗𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘪𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘰𝘳𝘥𝘪𝘯𝘢𝘵 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘭𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘤𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯.”

Petugas itu berhenti sejenak.

“𝘔𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢. 𝘒𝘰𝘯𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘦𝘭𝘪𝘵 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘰𝘮𝘣𝘰𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.”

Penjelasan itu membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam sesaat.

Teknologi semahal ini ternyata tetap tidak mampu menjamin seseorang pulang hidup-hidup.

“𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘥𝘶𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪, 𝘉𝘶.”

Petugas menyerahkan kotak beserta dokumen terakhir.

“𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘞.𝘏.𝘖, 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣.”

Untuk pertama kalinya, seseorang memanggilnya dengan gelar tersebut secara resmi.

Dan entah mengapa, mendengarnya terasa jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.

---

“𝘞𝘰𝘪! 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘯𝘤𝘪𝘵!”

Suara nyaring menyambut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 begitu ia keluar dari gedung. Dua Hunter berseragam yang baru melewati pintu ikut menoleh.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berdiri di dekat pintu masuk sambil melambaikan tangan tinggi-tinggi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menghampirinya secepat yang diizinkan rusuknya.

“𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘞.𝘏.𝘖? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭?”

“𝘉𝘪𝘴𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘦𝘬 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴 𝘥𝘪 𝘶𝘳𝘶𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘳𝘪.”

“𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵.”

“𝘐𝘵𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘋𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyeringai. “𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa kecil, tetapi tawa itu langsung membuat rusuknya berdenyut. Tangannya refleks menahan sisi tubuh.

Senyum 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 memudar.

“𝘙𝘶𝘴𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵?”

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘸𝘢, 𝘪𝘺𝘢. 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵.”

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘪.” 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mendengus. “𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘮𝘶.”

“𝘒𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳.”

“𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢! 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘮𝘢𝘬𝘩𝘭𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.”

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tertawa. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memilih tersenyum saja; rusuknya sudah cukup memberi pelajaran.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 kemudian mengeluarkan kartu Hunter miliknya dan mengetuk-ngetukkannya ke telapak tangan.

“𝘖𝘮𝘰𝘯𝘨-𝘰𝘮𝘰𝘯𝘨, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢, 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘮𝘬𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭.”

“𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘸𝘢𝘴𝘪𝘬𝘶?”

“𝘋𝘶𝘢-𝘥𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘔𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩?”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mempertimbangkannya sebentar.

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵. 𝘔𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘉𝘳𝘪𝘯𝘥𝘭𝘦 𝘗𝘳𝘰𝘸𝘭𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘱 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯.”

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘮. 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢.”

“𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 '𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢'-𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳.”

Mereka bertukar kontak melalui aplikasi HUNTER sebelum berpisah.

Dalam perjalanan pulang, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 beberapa kali memeriksa kartu barunya.

Bukan karena takut kehilangan.

Ia hanya masih kesulitan mempercayai bahwa benda itu benar-benar miliknya.

---

Menjelang sore, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tiba di panti asuhan.

Sebelum pulang, ia sempat membeli beberapa kotak makanan menggunakan sebagian tabungan hasil bekerja di minimarket.

Belum sempat mengetuk pintu, terdengar teriakan dari dalam.

“𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨!”

Pintu terbuka.

Beberapa anak langsung berlarian menghampirinya.

“𝘒𝘢𝘬! 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘒𝘢𝘬 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣, 𝘒𝘢𝘬 𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯!”

“𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘮𝘰𝘯𝘴𝘵𝘦𝘳 𝘨𝘦𝘥𝘦!”

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳-𝘯𝘺𝘢!”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa melihat mereka saling berebut bicara.

“𝘌𝘩, 𝘦𝘩, 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶! 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘬𝘦𝘵 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪-𝘳𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪, 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵.”

Anak-anak segera melepaskan pegangan mereka.

Seorang bocah laki-laki kemudian menunjuk kotak makanan yang dibawanya.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬?”

“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣. 𝘉𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭.”

Sorakan kecil langsung memenuhi halaman.

Dari ambang pintu, 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 𝗟𝗮𝘂𝗿𝗲𝗻𝘁𝗰𝗶𝗮 memperhatikan keributan tersebut.

Perempuan berusia tujuh puluh tujuh tahun itu tersenyum hangat.

“𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪. 𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘯𝘫𝘢.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendekatinya.

“𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘵𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴, 𝘕𝘦𝘬. 𝘞𝘢𝘭𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘵𝘢𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘥𝘦𝘳𝘩𝘢𝘯𝘢.”

“𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢, 𝘕𝘢𝘬. 𝘉𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭.”

𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 menyentuh kerah jaket 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dan menyibakkannya sedikit. Perban di baliknya terlihat jelas.

“𝘋𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢-𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tersenyum canggung.

“𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘬𝘰𝘬. 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴.”

“𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘴𝘢.”

“𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘗𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴 𝘞.𝘏.𝘖 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘰𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶.”

𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 mengulurkan tangan.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘣𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘳 𝘪𝘵𝘶.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyerahkannya.

Perempuan tua itu membaca nama serta pangkat yang tertera di permukaannya.

Ibu jarinya berhenti cukup lama pada tulisan ERVAN NOIR.

“𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭, 𝘕𝘢𝘬.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab.

𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 mengembalikan kartu itu, tetapi tangannya belum melepaskannya. Suaranya lebih pelan ketika ia melanjutkan.

“𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘮𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menundukkan kepala.

“𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘳𝘵𝘪, 𝘕𝘦𝘬. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.”

“𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢.” 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 akhirnya melepaskan kartu itu. Ia tersenyum, meski sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran. “𝘗𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘐𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggenggam kartu itu sedikit lebih erat.

“𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.”

---

Perayaan sederhana berlangsung selepas makan malam.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 datang membawa minuman, sementara 𝗔𝗺𝗺𝘆 membantu anak-anak menyiapkan makanan.

“𝘏𝘢𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯!” 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 mengangkat kartu Hunter 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tinggi-tinggi, seolah sedang memamerkan barang lelang langka. “𝘚𝘢𝘯𝘨 𝙕𝙚𝙧𝙤 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘷𝘰𝘭𝘶𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘕𝘰𝘷𝘪𝘦! 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘪𝘮𝘦, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢!”

Anak-anak bertepuk tangan, meski separuh dari mereka tidak paham maksudnya.

“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘵𝘶𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩, 𝘮𝘶𝘴𝘪𝘮 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘯𝘪,” balas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tertawa, lalu mengembalikan kartu itu dengan dua tangan, berlagak penuh hormat.

Sementara itu, 𝗔𝗺𝗺𝘆 mendekat membawa segelas air.

“𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣, 𝘰𝘣𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮?”

“𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪, 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯.”

“𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶.” 𝗔𝗺𝗺𝘆 melirik piring di depan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. “𝘋𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘳𝘪𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪.”

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terdiam.

𝗔𝗺𝗺𝘆 menatapnya beberapa saat, lalu meletakkan obat yang sudah ia siapkan di samping gelas.

“𝘈𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘶𝘭𝘶𝘴. 𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮 𝘰𝘣𝘢𝘵.”

“𝘐𝘺𝘢, 𝘪𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨.”

𝗔𝗺𝗺𝘆 tersenyum puas.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 yang memperhatikan mereka langsung membuka mulut, tetapi satu tatapan dari 𝗔𝗺𝗺𝘆 membuatnya mengurungkan niat bercanda.

Malam itu dipenuhi tawa, percakapan, dan pertanyaan anak-anak mengenai kehidupan Hunter.

Untuk beberapa jam, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir melupakan rasa sakit di tubuhnya.

---

Larut malam, setelah seluruh penghuni panti tertidur, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 duduk di tepi tempat tidurnya.

Kartu Hunter diletakkan di atas meja.

Di sampingnya, smartphone ESIA masih menyala.

Ia membuka aplikasi HUNTER dan memperhatikan profil digitalnya.

ERVAN NOIR — RANK NOVIE

Kemudian jarinya berpindah menuju menu MISSION BOARD.

Sebuah animasi pemuatan muncul.

Sesaat kemudian, layar menampilkan tulisan:

MISSION BOARD

[ BELUM ADA MISI YANG DITUGASKAN ]

Tidak ada penugasan aktif pada akun Hunter ini.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengembuskan napas.

“𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶,” gumamnya.

Ia mematikan layar dan merebahkan tubuh dengan hati-hati.

Namun, sebelum memejamkan mata, pandangannya kembali tertuju pada kartu Hunter di atas meja.

Besok pagi, ia akan mulai berlatih lagi, setidaknya sebatas yang diizinkan dokter.

Ia perlu memperbaiki langkah kaki, pertahanan, ketepatan serangan, dan terutama kemampuan menggunakan Regalia.

Sebab satu hal kini benar-benar dipahaminya.

Di arena ujian, ada pengawas yang akan menghentikan pertarungan ketika nyawanya berada dalam bahaya.

Tetapi ketika misi pertamanya tiba, siapa yang akan menghentikan BETA jika dirinya sudah tidak mampu berdiri?

Pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya bahkan setelah lampu kamar dipadamkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak memperoleh lisensi, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 merasa bahwa menjadi Hunter mungkin bukan bagian tersulit dari perjalanannya.

Melainkan tetap hidup setelah benar-benar menjalankan tugas sebagai seorang Hunter.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!