NovelToon NovelToon
Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Kaget, Tiba-Tiba Jadi Istri Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizza Khan

Aisha Senjani mahasiswa matematika yang baru menyelesaikan pendidikannya di universitas luar negeri dan mendapatkan pekerjaan di sana. Setelah kurang lebih sebulan ia mengambil cuti untuk pulang ke tanah air, sejak menyelesaikan pendidikannya ia belum pernah sama sekali pulang kampung. Dihari kepulangannya ternyata di rumah sedang ada acara pernikahan sang kakak, ia tidak tahu sama sekali tentang hal itu.

Namun, sang kakak kabur disaat mempelai Pria dan rombongan sudah datang. Pihak pria tidak ingin membatalkan karena akan merusak nama baik keluarganya. Sehingga sang mempelai meminta Aisha jadi penggantinya.

Apakah Aisha akan menerima perkawinan tiba-tiba ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizza Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana rumah keluarga Aisha di Indonesia terasa tenang sore itu. Di sofa ruangan tamu, Ayah dan Ibu duduk dengan raut wajah serius.

Ayah meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menghela napas panjang.

"Bu, baru saja Pak Abdullah menelepon Ayah," jelasnya.

"Bagaimana, Yah? Apa jawaban dari keluarga mereka soal perjodohan Melani dengan Zavran?"

"Alhamdulillah, mereka menyetujuinya, Bu."

"Alhamdulillah... Syukurlah kalau begitu, Yah. Tapi...apakah yang kita lakukan ini benar, yah? Memulai sesuatu dengan kebohongan tidak akan berjalan baik." ujar ibu cemas.

"Tidak, Bu. Niat kita dari awal hanya ingin Melani memiliki kehidupan yang layak. Jangan berpikir terlalu jauh." tegas Ayah.

"Baiklah...ibu akan ikut dengan keputusan yang ayah ambil."

"Tapi... ada satu hal penting yang disampaikan Pak Abdullah tadi," lanjut Ayah, raut wajahnya serius.

"Pernikahan Melani dan Zavran harus dilaksanakan dalam minggu depan."

 "Minggu depan, Yah?! Kenapa terburu-buru sekali? Apa tidak terlalu mendadak untuk persiapan pernikahan?"

"Keluarga Zavran tidak punya waktu banyak di Indonesia, Bu," jelas Ayah. "Zavran ada urusan bisnis dan jadwal yang sangat padat di luar negeri. Kalau tidak dilaksanakan minggu depan, kita harus menunda entah sampai kapan. Nanti bisa-bisa semua orang tahu apa yang kita sembunyikan selama ini."

Ibu mengangguk-angguk perlahan."Iya juga, yah... Tapi apa Melani tidak akan kaget kalau dituntut menikah secepat ini?"

Ayah memandangi arah koridor menuju kamar anak-anak, lalu menatap istrinya kembali.

 "Dia harus menyetujuinya, Bu. Tidak ada penolakan. Panggilkan Melani ke sini sekarang. Kita harus menyampaikan keputusan penting ini langsung kepadanya."

"Baik, Yah. Ibu panggilkan dulu Melaninya," sahut Ibu seraya beranjak dari sofa dan melangkah cepat menuju kamar Melani.

Tak sampai dua menit kemudian, pintu kamar terbuka. Melani melangkah keluar mengekor di belakang Ibunya.

 Gadis itu mengenakan daster longgar, rambutnya terikat asal, dan raut wajahnya menyiratkan rasa lelah dan heran dengan kedua orang tuanya.

"Ada apa, Yah, Bu? Kok kelihatannya serius banget?" tanya Melani seraya mendudukkan diri di samping Ibunya.

Ayah menatap putri sulungnya itu lekat-lekat. Ia berdehem pelan, memposisikan duduknya agar lebih tegap.

"Melani, Ayah dan Ibu baru saja selesai berdiskusi," ujar Ayah membuka pembicaraan dengan tenang. "Baru saja Ayah menerima telepon dari keluarga Pak Abdullah."

"Keluarga Pak Abdullah? Tentang perjodohan itu lagi?" tanya Melani ketus.

"Iya," jawab Ibu lembut, mengelus jemari Melani yang terlipat di pangkuan.

"Keluarga Pak Abdullah sudah resmi menerima perjodohan ini. Dan Ayah sudah memutuskan, pernikahan kamu dan Zavran akan dilaksanakan dalam minggu depan."

"Apa?! Minggu depan, Yah?! Ayah bercanda, kan?"

"Ayah tidak sedang bercanda. Ini keputusan resmi keluarga kita," balas Ayah dingin dan tak terbantahkan.

" Ayah sudah gila?! Bagaimana bisa Melani menikah dalam waktu seminggu? Sama laki-laki yang bahkan sama sekali tidak Melani kenal?!"

"Melani, jaga bahasamu!" tegur Ibu lembut namun menekan. "Bicara yang sopan sama Ayahmu."

"Melani tidak mau, Bu! Melani menolak pernikahan ini! Sebelumnya Melani juga sudah bilang tidak akan menerima perjodohan dengan siapapun " tegas Melani seraya menggeleng keras.

"Melani!" bentak Ayah dengan suara menggelegar.

"Kamu mau anak di dalam kandungan kamu itu lahir tanpa punya seorang ayah?!"

Melani seketika membeku, wajahnya mendadak pucat pasi bagai kehilangan seluruh darahnya. Namun ia berusaha membela diri di balik tangisnya.

Aditya bakal bertanggung jawab kok, Yah!"

Mendengar nama itu terucap, raut wajah Ayah seketika berubah murka. Ketenangan yang tadi ditunjukkannya mendadak sirna. Ayah menggebrak meja kayu di hadapannya hingga dua cangkir teh di atasnya berdenting keras.

"Aditya... Aditya bilang dia bakal bertanggung jawab kalau Aisha pulang ke rumah, Yah!" cicit Melani dengan suara gemetar, menatap sang ayah penuh harapan rapuh.

"Kamu percaya?!" bentak Ayahnya tajam. "Kamu percaya sama omong kosong laki-laki keparat itu?!"

"Iya, Yah... dia yang bilang sendiri sama Melani!" sahut Melani yakin seraya terisak pelan. "Dia janji bakal datang melamar setelah Aisha pulang!"

"Astagfirullah, Melani! Otak kamu ditaruh di mana?!" bentak Ayah makin murka, menunjuk dada putrinya.

"Itu cuma alasan dia buat mengulur waktu dan lari dari tanggung jawab! Apa hubungannya tanggung jawab dia sama kepulangan adikmu?! Kamu mau mengorbankan Aisha juga buat kelakuan bejat kalian, ha?!"

"Iya!" potong Melani kencang. "Kalau aja Aisha tidak menolak Aditya dan pergi ke luar negeri, semua ini tidak akan terjadi!"

"Cukup, Melani! Cukup!" bentak Ayah. "Kamu makin menunjukkan betapa bodoh dan dangkalnya pikiranmu! Kamu sudah tahu laki-laki itu terobsesi sama adikmu sendiri, tapi kamu malah membiarkan dirimu dihancurkan olehnya?!"

Melani terisak makin kencang, menggelengkan kepalanya pasrah.

"Melani menyukai Aditya, Yah! Melani cinta sama dia! Dan waktu itu... Adit minta bukti cinta Melani. Dia bilang, dia akan menikahi Melani dan membuat Aisha sengsara setelah pernikahan kita nanti!"

Ibu seketika membelalakkan mata, membungkam mulutnya sendiri karena syok mendengar pengakuan gila putri sulungnya.

Ayah mendesis murka, dadanya kian kencang naik turun menahan rasa muak dan kemarahan yang membakar.

"Terus kalau dia bilang begitu, kenapa dia tidak menikahi kamu sampai saat ini?!" tembak Ayah tajam dan dingin, langsung merobek ilusi membuta yang dipegang Melani.

Melani seketika tertahan, bibirnya gemetar tanpa sanggup mengeluarkan kata-kata lagi. Namun kecemburuan dan rasa tersudut justru membuat Melani kembali memekik dengan nada kecut.

"Kenapa Ayah tidak menyuruh Aisha saja yang pulang?!" seru Melani seraya menatap Ayahnya dengan tatapan terluka.

"Kenapa bukan Aisha yang disuruh pulang biar Aditya bisa datang ke sini dan melamarku?! Kenapa, Yah?! Apa karena Ayah takut anak kesayangan Ayah itu tersakiti?!"

Mendengar tuduhan kejam itu, amarah Ayah semakin memuncak. Wajah sang ayah memerah padam.

"Apa yang kamu bilang?!" bentak Ayah dengan suara melengking.

"Selama ini kami selalu menyayangi kamu lebih dari Aisha! Apa pun keinginan kamu selalu kami turuti! Segala fasilitas dan perhatian kami curahkan buat kamu, tapi kenapa pikiranmu bisa sepicik dan sedengki ini sama adikmu sendiri?!"

Ibu ikut mengusap matanya yang basah, menatap Melani dengan raut wajah amat terluka.

"Melani... tega sekali kamu bicara begitu. Ayah dan Ibu selama ini lebih menyayangimu daripada Aisha..."

"Jangan menunggu laki-laki kurang ajar itu! Dia hanya memanfaatkan kebodohan dan rasa irimu, Melani!" cecar Ayah.

"Kalau Aisha pulang, kamu yakin laki-laki itu akan segera menikahimu?Kalau dia mau menikahi Aisha, bagaimana?!" cecar sang Ayah.

"Kamu mau terima?! Kamu mau biarkan Aditya menikahi Aisha padahal anak yang di dalam kandunganmu ini adalah anak dia?!"

"Aditya tidak akan menikah dengan Aisha!" bentak Melani. "Dia sudah janji!"

Ayah terkekeh pelan.

"Kenapa kamu masih belum sadar juga?!" Laki-laki itu cuma memanfaatkan rasa cinta bodoh kamu itu, dan mempermainkan keluarga kita! Dia tidak pernah berniat bertanggung jawab atas kamu maupun anakmu! Tidak akan ada laki-laki yang mau dengan wanita yang sudah ia rusak!" tegas Ayah.

"Ayah tidak menerima lagi bantahan kamu! Minggu depan kamu harus tetap menikah dengan Zavran. Ini keputusan mutlak demi menyelamatkan kamu, anakmu, dan nama baik keluarga!"

1
Rian Moontero
mampiir👍
Rizza: Makasih udh mampir Kak🙏 semoga suka ceritanya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!