Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki Bertopeng
Suara mesin mobil Pak Baskoro yang mengantarku terdengar pelan menjauhi halaman rumah Bu Aminah.
Begitu kakiku menapak di teras rumah sederhana milik Bu Aminah, jarum jam di pergelangan tanganku tepat menunjukkan pukul lima sore.
Udara senja terasa agak sejuk, ku rasakan. ketegangan dalam dadaku selama rapat di kantor tadi, kini hilang berganti perasaan gembira. Karena bisa kumpul kembali dengan ke dua anak ku.
"Ibu pulang!" seruku sambil mendorong pelan pintu depan rumah Bu Aminah yang memang sengaja tak dikunci rapat.
Aku mendengar derap kaki kecil yang berlari serta sebuah teriakan gembira dari Rian anak ku.
"Asyik! Ibu bawa es krim kan?" Rian langsung menubruk ku di dekat pintu utama, mendongak dengan mata bulat berbinar-binar penuh harap.
"Iya, dong. Anak Ibu yang ganteng kan tadi pesan es krim cokelat. Mana mungkin Ibu lupa," ucapku seraya berlutut di area dekat pintu depan, mengusap kepalanya penuh kasih sayang mencium wajah nya dan menyerahkan kantong plastik itu kepadanya.
"Horeee! Makasih Ibu! Mbak Siska, ayo ambil yang vanila, ini punya Mbak Siska!" Rian bersorak kegirangan sambil melompat-lompat kecil membawa harta karun manisnya menuju meja makan di ruang tengah rumah Bu Aminah. Siska pun tertawa gembira menyusul adiknya dan duduk bersama di meja makan tersebut untuk menikmati es krim mereka.
Mendengar riuh suara gembira anak-anak, Bu Aminah yang rupanya sedang berada di dapur belakang bergegas keluar menuju ruang tamu.
Wajah sepuhnya terlihat cerah saat melihat keberadaan ku yang baru saja masuk dari pintu utama.
"Alhamdulillah, Nak Maya... Kamu sudah pulang?" seru Bu Aminah penuh rasa syukur.
Beliau menyapu pandangan ke wajahku yang kusam saat kami bersama-sama melangkah menuju set kursi kayu di ruang tamu rumahnya.
"Ibu tidak dengar suara mobil tadi. Tunggu sebentar ya, Ibu seduh kan teh hangat dulu buat kamu. Pasti pikiran dan badanmu capek sekali seharian ini."
"Eh, tidak usah repot-repot, Bu," jawabku hangat seraya mendaratkan tubuhku di atas kursi kayu jati ruang tamu Bu Aminah.
"Ah, tidak repot sama sekali. Cuma memasak air dua gelas kok," balas Bu Aminah tersenyum lembut lalu berbalik melangkah kembali ke dapur belakang.
Tak lama kemudian, Bu Aminah kembali membawa segelas teh hangat yang asapnya masih mengepul halus dan meletakkannya di atas meja kaca ruang tamu.
Beliau ikut duduk di kursi dan menatap raut wajahku dengan sorot mata keibuan.
"Gimana urusan di kantor tadi, May? Orang-orang di sana tidak ada yang macam-macam sama kamu kan?" tanya Bu Aminah pelan di ruang tamu itu.
Aku menyunggingkan senyum tipis untuk menenangkan wanita tua yang sudah ku anggap seperti ibu sendiri itu. "Alhamdulillah lancar, Bu."
"Syukurlah kalau begitu, May. Ibu dari tadi siang kepikiran terus, khawatir kamu kenapa napa sendirian di sana," desah Bu Aminah lega sambil mengelus dadanya.
"Bu, malam ini Bu Aminah tidur di rumah ku saja, ya? Biar ramai, lagipula Maya juga agak cemas kalau kita berpisah rumah malam ini. Siska sama Rian pasti senang sekali kalau Bu Aminah nginep."
"Wah, iya! Mbah Aminah tidur di rumah kita aja Bu!" sahut Rian tiba-tiba dari meja makan ruang tengah dengan mulut yang masih belepotan es krim cokelat.
"Nanti Mbah Aminah bisa mendongeng sebelum Rian tidur!" Anak itu berlari dari meja keluarga, lalu duduk di atas pangkuanku.
Siska yang duduk di sebelah Rian di meja makan ikut berlari mengejar adik nya, lalu duduk di sampingku.
Bu Aminah tertawa pelan "Aduh, kalian ini... sudah suka sama dongeng Mbah ya?"
"Iya Mbah nanti cerita lagi tentang sarang lebah yang di lempar oleh si Raja hutan itu ya Mbah?'' Pinta Siska manja.
"He he he he. Baiklah bentar Mbah kunci dulu semua pintu ya, kalian pulang lah dulu nanti Mbah menyusul, Ibu kalian pasti ingin segera istirahat. Eh tapi habisi dulu teh nya May." Perintah Bu Aminah Masi dengan senyumnya.
"Baik Bu, " jawabku sambil menghabiskan teh yang masi hangat itu sampai pada tetes terahir. "Kami duluan ya Bu." Pamit ku sambil menuntun ke dua anak ku.
"Iya May, nanti Ibu segera menyusul ke rumah mu." Bu Aminah berjalan ke dapur dan menutup semua jendela sedangkan aku langsung ke luar menuju rumahku yang hanya berjarak berapa meter saja dari rumah Bu Aminah.
Sesampai di rumah kami langsung masuk ke dalam setelah membuka pintu utama yang berada di depan, ku biarkan anak anak ku bermain di ruang keluarga, menikmati es krem mereka. Aku masuk ke kamar berganti pakaian lalu berbaring di kasur melepas kan lelah ku.
Tak berapa lama kemudian, suara ketukan pelan dari arah pintu depan membuyarkan lamunanku. Aku beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju ruang tamu rumahku, dan membukakan pintu.
Di balik pintu utama, Bu Aminah sudah berdiri ramah menenteng sebuah tas kain kecil, menandakan beliau siap menginap di rumahku malam ini.
"Masuk Bu." Sambut ku ramah pada Bu Aminah."Hore Mbah tidur di sini." Rian dan Siska segera berlari menghampiri Bu Aminah.
Bu Aminah masuk di iringi Rian dari belakang sedang Siska di samping nya. "Mbah lanjut dong cerita sarang lebah nya." Pinta Siska tidak sabaran Setelah kami duduk di ruang keluarga.
Buk Aminah mulai berceloteh dengan kisah binatang nya, Kami asik bercengkerama di ruang keluarga, aku pun ikut hanyut mendengar kan dongeng Bu Aminah tentang kisah tawon lebah dan Si Raja hutan itu. Hingga tidak terasa jarum jam menunjuk kan di angka dua belas malam.
Ku lihat Rian dan Siska sudah tertidur pulas.
"Kita pindah ke kamar tidur aja Bu, di sini dingin.'' Ajak ku pada Bu Rahma.
"Ayo May, anak anak sudah tidur semua ini." Bu Aminah mengangkat tubuh Rian bermaksud menggendong nya, memindah kan ke kamar sedang aku menuntun Siska yang matanya masi terpejam itu.
Klek.
Tetapi tiba tiba ku dengar suara pelan seperti pintu yang di buka secara paksa.
Deg!
Jantungku serasa berdetak dua kali lebih cepat, ku pertajam telingaku untuk mendengar kan lagi.
Srek... Srek...
Suara gesekan langkah kaki yang amat pelan menapak di atas rumput kering di samping rumahku. Langkah itu sangat terhitung, seolah si pemilik kaki berusaha keras tidak menimbulkan suara.
"Bu seperti ada orang di luar, mau membobol pintu dapur belakang," bisikku di telinganya.
Bu Aminah kaget mendengar bisikan ku lalu matanya menatap ke arah dapur yang terhalang oleh maja makan yang ku tata rapih di sana.
"Sekarang kita bagai mana May." suara nya gemetar.
"Kita ke kamar Bu." Jawabku singkat.
Bu Aminah segera masuk ke kamar tidurku sambil menggendong Rian, dan aku menuntun Siska.
Sesampai nya di kamar aku berbisik pada Bu Aminah, " Bu Ibu di sini saja ya, ini kunci pintu, kunci dari dalam aku punya kunci cadangan bila nanti mau masuk, jangan panik di kamar ini lebih aman karena kunci pintunya sudah di setel tidak bisa di buka dengan kunci manapun. Jelas ku menenangkan kan Bu Aminah yang terlihat gemetar menahan takut.
"Kamu mau ke mana May?" Bu Aminah terlihat hawatir .
"Tenang Bu aman bisikku," lalu aku menyambar ponsel yang tadi ku letak kan di atas kasur, dan menuju ke luar kamar. "Hati hati May." ucap Bu Aminah sebelum pintu di tutup dan di kunci dari dalam.
Aku menahan napas, berjalan ke suara asal yang ku dengar tadi. Jantung berdegup begitu kencang antara takut dan berani aku semakin dekat dengan ruangan dapur.
Sreeek... Cklek!
Suara besi beradu dengan pintu dapur belakang terdengar makin nyaring. Malam terasa mendadak mencekam bagiku.
Krieeek...
Suara itu makin nyata.
Aku melihat melalui lubang angin kecil yang berada di sudut ruangan dapur itu, mengintip ke luar. Ada pria asing tepat di depan pintu luar.
Krieeek...
Suara pintu kayu dapur belakang yang dipaksa terbuka bergema pelan.
Jantungku berdegup sangat kencang,. Namun rasa takut itu seketika sirna berganti naluri seorang ibu yang harus melindungi anak-anaknya.
Untung aku sempat belajar taekwondo dulu ketika masih gadis, hingga jurus-jurus dan teknik mengunci lawan masih aku kuasai.
Begitu bayangan tinggi besar pria asing itu melangkah masuk menembus kegelapan dapur, aku tak memberi ruang baginya untuk bernapas.
"Hiat!"
Tanpa ragu, aku melayangkan tendangan melingkar yang mengincar lehernya. Pria itu terperanjat hebat, dia sempat dengan refleks menangkis menggunakan lengan kirinya. Suara benturan keras terdengar, membuatnya terdorong mundur satu langkah.
Belum sempat dia menarik bilah pisau dari pinggangnya, ku arahkan pukulan lurus bertenaga tepat ke arah ulu hatinya.
Bugh!
Pria asing itu mengaduh tertahan, tubuhnya membungkuk menahan sakit. Tak membiarkan momen emas itu terbuang, aku dengan cepat menangkap pergelangan tangan kanannya yang mencoba menggapai senjata. Ku putar tangannya ke belakang punggung dalam sebuah gerakan mengunci lalu ku tekan persendian sikunya hingga senjata di tangannya jatuh gemerincing ke lantai semen dapur.
"Aaghh! Lepaskan!" jeritnya tertahan, berusaha membalikkan badan dengan berusaha menyikut ku.
Aku melompat cepat menyamping, mengaitkan kakiku ke belakang tumitnya sebuah sapuan bawah yang telak.
Gubrak!
Pria itu tersungkur ke lantai dapur. Tanpa memberi waktu sedikit pun, aku langsung berlutut mengunci punggungnya, menekankan lututku kuat-kuat di tulang belikatnya hingga dia tak bisa berkutik.
Dengan napas terengah-engah dan tangan gemetar akibat dorongan tenaganya aku menarik paksa kain hitam yang membalut erat wajahnya dari belakang.
Sret!
Topeng hitam itu hampir terlepas. Cahaya lampu dari ruang makan menerobos menyinari separuh wajah pria asing yang kini meringis kesakitan.
Matanya terbelalak seakan tidak percaya menatapku, tetapi penuh amarah dan terkejut.
saat menyadari identitasnya hampir terbongkar sepenuhnya kepanikan memicu kekuatan dari tubuh besarnya.
Pria itu menggeram keras. Dengan gerakan tenaga yang sangat dahsyat, dia menghentakkan punggungnya ke atas.
Aku yang kalah jauh secara bobot dan tenaga tak mampu menahan dorongan mendadak itu. Tubuhku terlempar ke samping dan terhempas cukup keras ke lantai semen dapur.
"Sialan!" umpatnya panik.
Tanpa membuang waktu untuk mengambil pisaunya yang terjatuh, pria bertopeng yang kini wajahnya sempat tersingkap itu bergegas bangkit. Dengan langkah serabutan, dia melompat keluar melewati pintu dapur yang terbuka lebar, menerobos semak-semak, dan berlari cepat menghilang ditelan kegelapan malam yang pekat.
Aku dengan cepat bangkit kembali sambil memegangi sikuku yang terasa nyeri, berusaha mengejar ke ambang pintu. Namun, hanya kegelapan malam dan desir daun kering yang tersisa di halaman belakang. Pria asing itu telah lenyap tanpa jejak.
Siapa? otak ku langsung di penuhi pertanyaan tentang laki laki bertopeng
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇