NovelToon NovelToon
Broken Home

Broken Home

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: kiara lily

Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara dari Jauh yang Mendekat

Malam di Arab Saudi terasa berbeda. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desau angin melalui daun-daun pohon mangga. Hanya ada dengungan AC sentral yang konstan dan keheningan beton yang mencekam. Ratna baru saja selesai membersihkan dapur besar milik Nyonya Amira. Tangannya merah dan pecah-pecah karena deterjen keras, punggungnya pegal linu setelah berjongkok selama empat jam menggosok ubin kamar mandi tamu.

Ia duduk di lantai kamar sempitnya, menyandarkan kepala pada dinding dingin. Di tangannya, ponsel tua itu menjadi satu-satunya jendela menuju dunianya yang sebenarnya. Ia menatap foto Lily dan Nenek di layar kunci, tersenyum lelah. Tiba-tiba, ponsel itu bergetar. Nama "Lily" muncul di layar dengan ikon video call.

Jantung Ratna berdegup kencang. Biasanya, Lily hanya mengirim pesan teks agar tidak mengganggu waktu kerja Ratna. Video call di jam segini berarti ada hal penting. Atau mungkin, rindu yang sudah tak tertahankan. Dengan tangan gemetar, Ratna menekan tombol terima, lalu segera memastikan hijabnya rapi dan wajahnya tidak terlihat terlalu letih. Ia memaksakan senyuman cerah sebelum kamera menyala.

Wajah Lily muncul di layar. Gadis itu tampak serius, matanya sedikit bengkak seolah baru saja menangis, namun tatapannya tajam dan dewasa. Latar belakangnya adalah kamar sederhana di rumah Nenek, dengan lampu belajar yang temaram.

"Lily? Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Ratna, suaranya dibuat seringan mungkin. "Ada apa? Kamu sakit?"

Lily menggeleng pelan. "Aku sehat, Ma. Aku cuma... aku butuh bicara sama Mama. Penting."

Ratna merasakan firasat buruk. Senyumnya menipis. "Ada masalah di sekolah? Atau Nenek kenapa-napa?"

"Bukan itu, Ma," Lily menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan berita buruk. "Tadi siang... Ayah menelepon aku."

Ratna terdiam. Wajahnya yang tadi bersinar karena melihat wajah putrinya, kini mendadak kaku. Nama "Ayah" adalah kata terlarang yang jarang mereka ucapkan sejak kepergian Ratna.

"Ayah?" ulang Ratna pelan, suaranya datar. "Dia ngomong apa?"

"Dia minta maaf, Ma," kata Lily, matanya menatap lurus ke lensa kamera, mencari reaksi ibunya. "Dia bilang dia menyesal. Dia bilang rumahnya sepi. Dan... dia memberitahu kalau dia sudah menikah lagi."

Hening. Di ujung sana, Ratna tampak terpaku. Matanya melebar, napasnya tertahan. Berita itu bukan lagi sekadar gosip tetangga; itu konfirmasi langsung dari sumbernya. Rasa sakit yang lama kembali menusuk, namun kali ini, Ratna merasa anehnya tenang. Mungkin karena ia sudah menduganya, atau mungkin karena ia sudah terlalu lelah untuk merasa kaget.

"Dan..." lanjut Lily, suaranya mulai bergetar, "dia mengajak aku untuk tinggal bersamanya. Dia bilang aku akan hidup lebih layak. Sekolah internasional, kamar besar, semua fasilitas. Dia bilang... dia bilang aku nggak perlu susah-susah seperti sekarang karena Mama jauh di sana."

Ratna menutup matanya sejenak. Ia bisa membayangkan skenario itu. Bambang, dengan egonya yang masih utuh, mencoba membeli cinta anaknya dengan materi, sambil merendahkan perjuangan Ratna sebagai TKW. Kata-kata "hidup lebih layak" terdengar seperti penghinaan terselubung.

"Apa jawaban kamu, Lil?" tanya Ratna, membuka matanya kembali. Tatapannya lembut, namun penuh ketegangan. Ia takut mendengar jawaban yang berbeda. Ia takut kehilangan satu-satunya alasan ia bertahan di neraka ini.

Lily menatap ibunya lekat-lekat. Air mata menggenang di matanya, namun ia tersenyum. Senyuman yang bangga dan tegar.

"Aku menolak, Ma," ucap Lily tegas.

Ratna menghela napas panjang, beban berat yang tak disadarinya terlepas dari pundaknya. Air mata akhirnya lolos dari pelupuk matanya, mengalir deras di pipinya yang kusam. "Kamu... kamu yakin, Sayang? Itu tawaran yang besar. Kamu bisa punya masa depan yang lebih mudah."

"Aku nggak mau masa depan yang mudah kalau harus dijual, Ma," jawab Lily, suaranya parau menahan tangis. "Aku tahu nilai uang, Ma. Tapi aku juga tahu nilai harga diri. Ayah menawarkanku kemewahan, tapi dia nggak menawarkan kehadiran. Dia nggak menawarkan rasa aman. Selama enam bulan ini, meski kita susah, aku merasa aman. Aku merasa dicintai. Nenek ada buat aku. Dan Mama... Mama berjuang buat aku. Aku nggak bisa meninggalkan kalian demi barang-barang mati."

Ratna menangis terbuka sekarang. Isakannya pecah, memenuhi kamar kecil yang pengap itu. Bukan tangisan kesedihan, melainkan tangisan haru dan kebanggaan yang luar biasa. Putrinya, gadis kecil yang dulu selalu menangis jika ditinggal sebentar, kini telah tumbuh menjadi wanita muda yang memiliki prinsip baja.

"Terima kasih, Lil," bisik Ratna di antara isakannya. "Terima kasih sudah memilih Mama. Terima kasih sudah menjadi anak yang hebat. Mama... Mama malu. Mama di sini cuma bisa bekerja keras, nggak bisa nemenin kamu tumbuh besar. Tapi kamu tumbuh jadi anak yang benar-benar baik."

"Jangan bilang gitu, Ma," bantah Lily cepat, ikut menangis di sisi lain layar. "Mama adalah pahlawan aku. Mama rela pergi ke negeri orang, dihina, disiksa kerjaan, cuma biar aku bisa sekolah. Kalau aku terima tawaran Ayah, artinya aku menghianati perjuangan Mama. Aku nggak mau jadi anak durhaka."

"Kamu nggak durhaka, Sayang. Kamu cerdas," kata Ratna, mengusap air matanya dengan lengan baju kerjanya. "Dengarkan Mama. Keputusan kamu itu benar. Sangat benar. Jangan pernah biarkan siapa pun, termasuk ayahmu, membuat kamu merasa kurang hanya karena kita miskin secara materi. Kita kaya secara hati, Lil. Itu yang paling mahal."

"Tapi Ma," suara Lily melemah, kecemasan mulai muncul. "Apa Ayah akan marah? Apa dia akan berhenti mengirim uang bulanan? Aku takut nanti Mama kesulitan kirim uang buat sekolah."

Ratna menggeleng kuat. "Biarkan saja. Jika dia berhenti mengirim, kita akan cari jalan lain. Nenek punya tanah kecil, bisa kita gadai sementara. Atau Mama akan cari kerja tambahan di sini, cuci baju tetangga, apa saja. Yang penting, integritas kamu tetap bersih. Uang haram dari rasa bersalah ayahmu nggak akan membawa berkah buat masa depanmu."

Lily mengangguk, merasa lebih tenang mendengar keyakinan ibunya. "Aku kangen Mama, Ma. Banget."

"Mama juga kangen, Sayang. Setiap detik," jawab Ratna, mencium layar ponselnya. "Tahan ya, Lil. Tinggal delapan belas bulan lagi. Setelah itu, Mama pulang. Kita akan bangun rumah sendiri. Rumah kecil tapi hangat. Tanpa bayangan masa lalu."

"Aku tunggu, Ma. Aku akan belajar rajin. Aku akan jaga Nenek," janji Lily.

"Pintar anak Mama," puji Ratna. "Sekarang tidur. Besok kamu sekolah. Jangan pikirkan Ayahmu lagi. Dia sudah punya hidupnya sendiri. Kamu punya hidupmu sendiri. Fokus pada mimpimu."

"Oke, Ma. Good night. Love you."

"Good night, my brave girl. Love you more."

Layar ponsel mati. Kegelapan kembali menyelimuti kamar Ratna. Namun, kali ini, kegelapan itu tidak terasa menakutkan. Ada cahaya hangat yang tersisa di hatinya. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang dan berbatu. Majikannya mungkin akan terus rewel, pekerjaannya akan terus berat, dan rindu akan terus menggerogoti. Tapi ia memiliki alasan baru untuk bertahan. Bukan hanya demi uang, tapi demi membanggakan putri kecilnya yang telah memilih cinta di atas emas.

Ratna memeluk bantalnya erat, membayangkan pelukan Lily. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Arab Saudi, ia tidur dengan nyenyak, ditemani mimpi indah tentang hari ketika ia akan kembali memeluk Lily di pelataran rumah mereka sendiri, bebas dari belenggu masa lalu dan jeratan kemiskinan.

1
Unaa
maafkan yaa kalo banyak typo nyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!