NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Ciuman yang Tak Seharusnya

Sejak pagi, Nadia berusaha meyakinkan dirinya bahwa perhatian Arif kemarin bukan sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu jauh.

Pesan sederhana itu bahkan masih tersimpan di ponselnya.

Tidak ada salahnya kalau ada yang mengingatkan.

Kalimat itu terus terlintas setiap kali ia membuka layar ponsel. Menyebalkan, karena semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula wajah Arif muncul dalam pikirannya.

“Nadia, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?”

Suara Bu Lastri membuat Nadia tersentak.

“Eh? Nggak, Bu.”

Bu Lastri menyipitkan mata, lalu melirik layar komputer Nadia.

“Kalau memang tidak ada apa-apa, lanjutkan laporanmu. Jangan sampai salah memasukkan angka gara-gara pikiran melayang.”

Nadia langsung menunduk.

“Iya, Bu.”

Ia kembali bekerja, berusaha menyembunyikan pipinya yang terasa hangat.

Namun, hari itu sepertinya sengaja mengujinya.

Menjelang siang, Arif datang ke kantor administrasi untuk mengambil laporan produksi. Nadia sedang berdiri di dekat lemari arsip ketika laki-laki itu masuk.

“Bu Lastri ada?” tanya Arif.

“Ada, Pak. Sebentar lagi kembali dari ruang manajer.”

Arif mengangguk. Tatapannya kemudian beralih kepada Nadia.

“Kamu sudah makan?”

Nadia menahan napas sebentar.

“Sudah, Pak.”

“Bagus.”

Hanya itu.

Arif lalu memeriksa beberapa dokumen di meja kosong. Nadia kembali menghadap lemari, tetapi ia bisa merasakan keberadaan laki-laki itu di ruangan yang sama.

Beberapa menit kemudian, ketika Bu Lastri belum kembali, Arif menghampiri Nadia yang sedang menyusun map.

“Pesan saya kemarin membuat kamu tidak nyaman?”

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba hingga Nadia menoleh dengan cepat.

“Kenapa Bapak bertanya begitu?”

“Karena sejak tadi kamu menghindari tatapan saya.”

Nadia terdiam.

Ia ingin membantah, tetapi tidak bisa menemukan alasan yang meyakinkan.

“Saya cuma sedang bekerja, Pak.”

Arif mengangguk pelan.

“Baik. Saya tidak akan mengganggu pekerjaanmu.”

Ia berbalik menuju meja, tetapi sebelum melanjutkan langkah, Nadia memanggilnya.

“Pak Arif.”

Arif menoleh.

Nadia meremas ujung map di tangannya.

“Pesan Bapak tidak membuat saya tidak nyaman.”

Untuk sesaat, wajah Arif berubah. Ada kelegaan kecil di matanya, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“Terima kasih sudah jujur.”

Mereka saling memandang beberapa detik sebelum Arif kembali mengambil dokumen.

Tidak ada pengakuan apa pun.

Namun, bagi Nadia, percakapan singkat itu terasa lebih berarti daripada yang seharusnya.

Sore itu, hujan turun deras ketika jam kerja hampir berakhir.

Sebagian karyawan bergegas menuju kendaraan masing-masing. Nadia masih berada di kantor administrasi untuk menyelesaikan satu laporan yang harus diserahkan keesokan paginya.

Ketika akhirnya selesai, halaman pabrik sudah basah dan langit mulai gelap.

Nadia berdiri di teras gedung, memandang hujan yang belum menunjukkan tanda-tanda akan reda.

Ia tidak membawa payung.

“Belum pulang?”

Nadia menoleh.

Arif berdiri beberapa langkah darinya. Helm keselamatannya sudah dilepas, memperlihatkan rambut hitam pendek yang sedikit berantakan setelah seharian bekerja.

“Menunggu hujan reda, Pak"

Arif melihat halaman yang tergenang air.

“Kalau hujannya lama, kamu bisa menunggu di pos depan. Lebih terlindung.”

Nadia mengangguk.

“Bapak belum pulang?”

“Masih ada laporan yang harus saya periksa.”

Nadia tersenyum kecil.

“Berarti kita sama-sama belum bisa pulang.”

Arif menatapnya.

“Sepertinya begitu.”

Mereka akhirnya duduk di bangku panjang di teras, menyisakan jarak yang wajar di antara keduanya. Hujan memukul atap seng, menciptakan suara yang membuat percakapan mereka terasa lebih pribadi.

Awalnya mereka berbicara tentang pekerjaan. Arif menanyakan laporan yang sedang disusun Nadia, sementara Nadia bercerita tentang kesulitannya memahami beberapa istilah teknis dalam laporan produksi.

Arif menjelaskan dengan sabar.

“Kalau kamu belum paham, tanyakan saja. Tidak perlu takut dianggap tidak mampu.”

“Saya hanya tidak ingin merepotkan orang lain.”

“Belajar itu bukan merepotkan.”

Nadia menatap wajahnya.

“Bapak selalu mengatakan hal-hal yang membuat orang merasa lebih baik, ya?”

Arif tertawa pendek.

“Tidak selalu.”

“Kalau begitu, saya beruntung?”

Senyum Arif perlahan memudar menjadi tatapan yang lebih lembut.

“Mungkin.”

Nadia menunduk, menyadari pertanyaannya sendiri terdengar terlalu berani.

Hening kembali menyelimuti mereka.

Beberapa saat kemudian, Arif berbicara dengan suara lebih pelan.

“Nadia, boleh saya bertanya sesuatu?”

“Boleh, Pak.”

“Kenapa setiap kali kita mulai membicarakan sesuatu yang pribadi, kamu selalu memanggil saya dengan nada seperti sedang menghadapi rapat?”

Nadia tertawa kecil, gugup.

“Karena Bapak atasan saya.”

“Itu benar.”

“Dan saya tidak mau melakukan sesuatu yang membuat Bapak atau saya sendiri menyesal.”

Arif mengangguk. Kali ini ia tidak menggoda.

“Saya menghargai itu.”

Nadia mengangkat wajahnya.

“Bapak tidak pernah merasa aneh dekat dengan pegawai sendiri?”

“Terkadang saya memikirkannya.”

“Lalu?”

“Lalu saya berusaha mengingat bahwa saya punya tanggung jawab. Saya tidak ingin jabatan saya membuat kamu merasa harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kamu inginkan.”

Jawaban itu membuat dada Nadia terasa hangat.

Arif tidak sedang meminta apa pun darinya. Ia justru memberinya ruang untuk menentukan batasnya sendiri.

“Saya nyaman berbicara dengan Bapak,” kata Nadia akhirnya. “Itu yang membuat saya takut.”

“Takut kenapa?”

“Takut kalau saya mulai mengharapkan sesuatu yang belum tentu bisa terjadi.”

Arif menatapnya lama.

“Saya juga memikirkan hal yang sama.”

Hujan masih turun, tetapi kali ini Nadia tidak lagi memperhatikan halaman pabrik.

Perhatiannya tertuju pada laki-laki yang duduk di sampingnya.

Hujan mulai mereda menjelang petang.

Nadia berdiri dari bangku, merapikan tasnya.

“Saya pulang dulu, Pak.”

Arif ikut berdiri.

“Saya antar sampai mess.”

“Nggak perlu, Pak. Saya bisa sendiri.”

“Saya tahu kamu bisa sendiri.” Arif tersenyum tipis. “Tapi saya kebetulan juga menuju arah sana.”

Nadia menatapnya curiga.

“Benarkah?”

“Kalau kamu tidak percaya, silakan jalan duluan.”

Nadia tertawa.

“Baiklah.”

Mereka berjalan berdampingan melewati jalur pejalan kaki di samping gedung administrasi. Udara setelah hujan terasa sejuk. Lampu-lampu pabrik mulai menyala, memantulkan cahaya pada genangan air.

Ketika sampai di sebuah selasar yang sepi, Nadia berhenti untuk membetulkan tali tasnya yang melorot.

Arif ikut berhenti.

“Nadia.”

“Iya?”

“Ada sesuatu yang ingin saya katakan.”

Nadia menatapnya dengan jantung berdebar.

“Apa?”

Arif tampak mencari kata-kata. Sikapnya yang biasanya tenang mendadak terlihat ragu.

“Saya tidak tahu sejak kapan, tetapi akhir-akhir ini saya sering mencari alasan untuk berbicara dengan kamu.”

Nadia tidak bergerak.

Arif melanjutkan, “Saya juga tahu bahwa kita harus berhati-hati. Saya atasanmu, dan saya tidak ingin membuat keadaan menjadi sulit untukmu.”

Nadia menelan ludah.

“Kalau begitu, kenapa Bapak mengatakan ini?”

“Karena saya tidak ingin berpura-pura bahwa perasaan ini tidak ada.”

Keheningan menyelimuti mereka.

Nadia merasakan jantungnya berdetak begitu cepat hingga ia takut Arif bisa mendengarnya.

“Saya juga sering memikirkan Bapak,” akunya lirih. “Dan saya sudah berusaha menganggapnya biasa saja.”

Arif menatapnya dengan lembut.

“Tapi ternyata tidak semudah itu?”

Nadia menggeleng pelan.

“Tidak.”

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling memandang. Tidak ada yang terburu-buru mendekat. Tidak ada yang memaksa percakapan berlanjut.

Arif akhirnya bertanya dengan suara rendah.

“Boleh saya mendekat?”

Nadia mengangkat wajahnya. Pipinya memerah, tetapi ia mengangguk kecil.

Arif melangkah perlahan, berhenti cukup dekat hingga Nadia dapat melihat keraguan di matanya.

Ia masih memberinya kesempatan untuk berubah pikiran.

Namun, Nadia tidak mundur.

Sebaliknya, ia menatap Arif dan berbisik, “Saya tidak ingin Bapak melakukan sesuatu hanya karena suasana seperti ini.”

Arif mengangguk.

“Saya juga tidak ingin kamu melakukan sesuatu karena merasa tidak enak menolak saya.”

Nadia mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Arif dengan hati-hati.

“Saya tidak merasa terpaksa.”

Tatapan Arif berubah.

Ia mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Nadia dengan lembut. Nadia memejamkan mata sesaat, lalu kembali menatapnya.

Ketika Arif mendekat, Nadia tidak menghindar.

Bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman singkat.

Lembut. Ragu-ragu. Seolah keduanya sama-sama sedang memastikan bahwa momen itu benar-benar terjadi.

Arif menjauh sedikit, menatap Nadia untuk memastikan ia baik-baik saja.

Nadia membuka mata. Napasnya terasa tidak teratur, sementara jantungnya berdegup semakin cepat.

“Maaf,” bisik Arif. “Kalau saya sudah melewati batas—”

Nadia menggeleng pelan.

“Jangan minta maaf untuk sesuatu yang sama-sama kita inginkan.”

Kalimat itu membuat Arif terdiam.

Nadia menatapnya, lalu tersenyum kecil meski wajahnya masih merah.

“Saya juga ingin Bapak tahu bahwa saya bukan anak kecil yang tidak mengerti perasaannya sendiri.”

Arif membalas senyumnya.

“Saya tahu.”

Kali ini, Nadia yang mendekat lebih dulu.

Arif menyambutnya dengan ciuman kedua yang sedikit lebih lama, tetapi tetap lembut. Tangannya berada di sisi wajah Nadia, sementara Nadia menggenggam lengan seragamnya.

Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan.

Hanya dua orang yang akhirnya mengakui perasaan yang selama ini mereka sembunyikan.

Ketika mereka berpisah, Nadia menyandarkan dahinya sesaat pada dada Arif, mencoba menenangkan debar jantungnya.

“Sekarang bagaimana?” tanyanya lirih.

Arif mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.

“Sekarang kita harus lebih jujur kepada diri sendiri. Dan lebih bijaksana dengan keadaan kita.”

Nadia mengangguk.

Ia tahu satu ciuman tidak akan menyelesaikan semua persoalan. Besok pagi, Arif tetap menjadi asisten manajer, dan dirinya tetap seorang krani. Mereka harus menjaga profesionalisme dan memastikan tidak ada tekanan atau perlakuan istimewa di tempat kerja.

Namun, malam itu, Nadia tidak menyesali apa yang baru saja terjadi.

Ia justru takut pada satu hal.

Bahwa setelah merasakan kedekatan itu, ia tidak akan bisa lagi berpura-pura bahwa Arif hanyalah atasannya.

Setelah Nadia masuk ke mess, Arif berdiri beberapa saat di luar, memandangi pintu yang baru saja tertutup.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya.

Karin:

Arif, besok kita perlu bicara. Ada hal penting yang harus kamu tahu tentang penugasanku kembali ke Dharmasraya.

Senyum yang tadi masih tersisa di wajah Arif perlahan menghilang.

Ia membaca pesan itu sekali lagi.

Karin kembali.

Dan entah mengapa, setelah apa yang terjadi malam ini, kenyataan itu terasa jauh lebih rumit daripada sebelumnya.

Arif memasukkan ponsel ke saku, lalu menatap langit Dharmasraya yang masih menyisakan awan gelap.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahagia sekaligus takut.

Karena ia baru saja mencium perempuan yang mulai memenuhi pikirannya.

Dan masa lalu yang belum selesai kini kembali mengetuk pintu.

Bersambung…

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!