DESA TENGAH ALAS
Desa itu tidak ada di peta. Tidak ada sinyal. Tidak ada jalan keluar setelah matahari terbenam.
Danan kembali ke Desa Tengah Alas setelah 12 tahun meninggalkannya. Bukan karena rindu, tapi karena adiknya hilang di dalam hutan yang mengelilingi desa itu. Polisi bilang tersesat. Orang desa bilang, "sudah diambil."
Satu-satunya yang berani menemani Danan masuk adalah Cahyo — sahabat kecilnya yang dijuluki Anak Alas. Cahyo bisa keluar masuk hutan terlarang tanpa tersesat, tapi dia tidak pernah mau menjelaskan kenapa.
Sebelum masuk, Cahyo memberi tiga pantangan mati:
Jangan menjawab jika namamu dipanggil dari dalam alas.
Jangan membawa cahaya merah ke dalam hutan.
Jika kamu menemukan desa yang sama persis tapi kosong, jangan masuk. Lari.
Semakin dalam mereka mencari, Danan sadar ada yang salah dengan desanya. Dan ada yang lebih salah lagi dengan Cahyo.
Karena di Tengah Alas, tidak hanya ada satu desa. Ada desa yang terlihat... dan desa yang mengintip dari balik pohon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulung kecubung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUMUR NJALUK GANTI
Danan tidak bisa tidur.
Setelah Pasar Alas hilang ditelan api dari pawon, Danan masih memegang kertas kecil dari dalam bara pawon. Tulisan tangan anak kecil, gemetar.
MAS DANAN TULUNG AKU - LARAS - NENG NGISOR SUMUR
Sumur. Sumur tua di belakang omah gedhek ijo. Sumur yang sudah ditutup papan kayu jati sejak Danan umur 5 tahun. Ibu Sarmi dulu bilang, "Ojo dolanan neng sumur mburi, Le. Neng kono enek Mbah Welut Putih."
Cahyo masih duduk di depan pawon, obor dari geni pawon di tangannya sudah padam, tapi bara di dalam pawon masih murup cilik, abang, tidak pernah mati. Pawon Sing Ora Tau Mati.
"Nan, kowe yakin arep buka sumur kui?" Cahyo suaranya pelan.
Danan mengangguk. "Laras neng ngisor sumur, Yo. Aku krungu suarane nangis mau bengi soko sumur."
Jam 2 pagi. Hujan sudah berhenti. Bulan ketutup mendung. Danan dan Cahyo jalan ke belakang rumah, ke sumur tua.
Sumur itu diameter dua meter, dalamnya tidak terlihat, gelap. Ditutup papan kayu jati tebal, di atas papan ada batu besar, dan di atas batu ada sesajen: kembang telon, menyan, dan kendi ireng kecil yang pecah.
"Batu iki wes neng kene 12 tahun," kata Cahyo, "Mbah Kromo sing nutup. Jarene ben Mbah Welut Putih ora munggah."
Danan dan Cahyo mendorong batu itu bersama. Berat. Batu itu seperti dilem. Setelah didorong kuat-kuat, batu itu jatuh ke samping, gludak.
Begitu batu jatuh, dari dalam sumur keluar hawa dingin, bau anyir, bau darah. Dan suara. Suara anak kecil nangis. Pelan.
"Laras...?" Danan memanggil ke dalam sumur.
Nangisnya berhenti. Ganti suara ketawa. Ketawa anak kecil, tapi melengking.
"Mas Danan... turun... dolanan karo aku... neng ngisor adem..."
Itu suara Laras. Pasti Laras.
Danan mengambil senter. Senter dinyalakan, disorotkan ke dalam sumur. Sumur itu dalam, dindingnya dari batu bata merah lumutan. Air di bawah hitam, tidak terlihat dasarnya. Dan di dinding sumur, ada tulisan-tulisan. Tulisan nama, diukir pakai paku.
Danan membaca satu per satu.
SARMI - 1998 - DITUKAR PAWON
KROMO WIJOYO - 1926 - DITUKAR SAWAH
RUKIYAH - 1936 - DITUKAR LUMBUNG
PARMI - 1946 - DITUKAR ANAK
LARAS - 2026 - URUNG
Laras - Urung. Artinya belum.
Ibu Sarmi, Mbah Kromo, semua nama di kendi putih ternyata namanya ada di sumur juga. Sumur ini buku besar tumbal yang asli.
Tiba-tiba air hitam di bawah sumur bergerak. Blup blup. Ada sesuatu yang naik. Besar. Putih.
Dari air hitam itu muncul kepala. Kepala ular, besarnya sebesar karung beras, matanya merah, lidahnya bercabang, di atas kepalanya ada mahkota dari akar beringin. Mbah Welut Putih.
Mbah Welut Putih membuka mulutnya, dan dari dalam mulutnya, keluar suara Ibu Sarmi.
"Danan... Le... Ojo buka sumur... Le... Ibu neng kene... Ibu sing njogo sumur ben ora njaluk ganti..."
Danan nangis. Itu suara ibunya yang 12 tahun tidak didengar.
"Ibu! Ibu neng ngisor sumur?"
"Danan... sumur iki njaluk ganti... saben 12 tahun... njaluk siji nyawa... Ibu wes 12 tahun... saiki wayahe ganti... Nek ora ono sing ganti... Laras sing dijupuk..."
Danan paham sekarang. Pawon Sing Ora Tau Mati butuh kayu, Lumbung butuh padi, Pasar Alas butuh dagangan, dan Sumur butuh nyawa. Semua di Desa Tengah Alas ini saling tukar. Ibu Sarmi sudah jadi penjaga sumur selama 12 tahun, menahan Mbah Welut Putih. Sekarang waktunya habis.
Mbah Welut Putih naik lagi, sampai setengah badannya keluar dari air. Dan di punggungnya, Danan melihat Laras. Laras umur 5 tahun, baju putih kotor, matanya terpejam, tangannya meluk punggung welut itu.
"LARAS!"
Danan mau lompat ke sumur. Cahyo narik bajunya kuat.
"OJO NAN! Kowe mlebu sumur kowe ora iso metu! Kowe bakal dadi Mbah Welut anyar!"
Mbah Welut Putih tertawa, suara Ibu Sarmi hilang, ganti suara berat.
"Siji ganti siji... Sarmi wes tuwek... Butuh sing nom... Adikmu... utowo kowe..."
Cahyo tiba-tiba teriak, "AKU! AKU SING GANTI! AKU ORA DUE SOPO-SOPO!"
Cahyo mau lompat. Danan kaget narik Cahyo.
"EDAN KOWE YO!"
Cahyo nangis, "Aku cah yatim, Nan. Bapak ibuku wes mati neng sumur iki juga tahun 2014. Aku ora due opo-opo. Ben aku sing ganti, ben Laras urip."
Suasana hening. Hanya suara air sumur blup blup.
Mbah Welut Putih menatap Cahyo, lalu menatap Danan.
"Ora iso cah yatim... Kudu getih daging... Getih daging Sarmi... Kowe loro anak e Sarmi... Siji kudu neng kene..."
Danan dan Cahyo saling pandang. Getih daging Sarmi. Danan anak kandung Sarmi. Cahyo bukan, Cahyo anak angkat.
Artinya yang harus masuk sumur adalah Danan.
Danan berdiri. Kakinya gemetar. Dia melihat ke dalam sumur, melihat Laras yang masih meluk punggung welut, melihat air hitam yang siap menelan.
"Yo, nek aku ora munggah... tulung openi Laras... ojo nganti Laras ngerti nek aku neng ngisor sumur..."
Cahyo nangis kenceng, "OJO NAN!"
Danan naik ke bibir sumur. Mau lompat.
Tiba-tiba dari arah pawon belakang rumah, geni pawon yang tidak pernah mati itu meledak. Blar! Api besar menjulang ke langit, terang seperti siang. Dan dari dalam api, keluar sosok wanita, rambut panjang, baju jarik coklat, membawa kendi putih.
Ibu Sarmi.
Bukan Ibu yang di dalam mulut welut. Ini Ibu Sarmi yang asli, rohnya keluar dari pawon.
Ibu Sarmi berjalan ke sumur, menatap Mbah Welut Putih.
"Wes cukup, Mbah... 12 tahun aku njogo... Saiki aku njaluk bali... Anakku ojo..."
Mbah Welut Putih mundur, takut sama api pawon.
Ibu Sarmi menoleh ke Danan, senyum, "Danan, Le... Pawon ojo nganti mati... Nek pawon mati... kabeh desa mati..."
Setelah ngomong itu, Ibu Sarmi lompat ke dalam sumur, memeluk Mbah Welut Putih dan Laras.
Air sumur bergejolak hebat. Byurrrr! Air hitam naik sampai bibir sumur, lalu turun lagi, hilang. Hilang total. Sumur jadi kering, tidak ada air. Hanya ada dasar sumur yang berpasir.
Dan di atas pasir itu, ada Laras, tidur, masih hidup.
Danan lompat turun ke sumur kering itu, gendong Laras naik.
Cahyo teriak dari atas, "Ibu Sarmi neng ndi?"
Danan melihat ke bawah lagi. Di dasar sumur yang kering, tidak ada Ibu Sarmi, tidak ada Mbah Welut Putih. Hanya ada satu kendi putih baru, masih anget. Di kendi itu ada tulisan:
SARMI - 1998-2026 - LUNAS
Lunas. Ibu sudah lunas menjaga sumur.
Danan menggendong Laras keluar dari sumur. Laras membuka mata pelan.
"Mas Danan... aku ngimpi... neng ngisor sumur enek welut gede..."
Danan memeluk Laras erat, nangis.
Di belakang mereka, pawon yang tadi meledak, sekarang apinya kecil lagi, murup cilik, abang, seperti biasa. Pawon Sing Ora Tau Mati masih menyala.
Tapi Danan tahu, ini belum selesai. Di dinding sumur yang kering, tulisan nama-nama tadi masih ada, dan di bawah tulisan LARAS - URUNG, sekarang muncul tulisan baru, ditulis dengan darah segar yang masih netes.
Tulisannya: DANAN - 2026 - SESUK
Bersambung ke Bab 23: Tulisan Darah di Dinding Sumur.
---