Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan
**
Reyhan terus membawa gadis itu berjalan sampai dia mengajak Ayana memasuki sebuah wahana. Ayana yang sedari diam saja, langsung bereaksi saat melihat dia telah masuk ke dalam sebuah wahana yang tidak mau dimasuki.
"Kenapa kita masuk rumah hantu?" tanya Ayana protes, dia hendak kembali tapi Reyhan menariknya sampai kembali masuk.
"Enak di sini sepi buat kita ngobrol," jawab Reyhan sambil terus membawa Ayana masuk.
Ayana sudah merinding, dia memang tahu jika mereka semua itu manusia yang didandani seperti hantu, tapi tetap saja dia merasa kaget saat tiba-tiba ada pocong yang mengintip dari sebuah pintu, dia bahkan hampir teriak saat ada yang menarik-narik celana bawahnya, saat dia melihat itu ternyata itu adalah suster ngesot.
"Ada gila-gilanya kamu, nyari tempat sepi di rumah hantu. Reyhan!" jerit Ayana antara kesal dan takut saat tasnya hampir ditarik oleh seorang anak kecil botak. "Kamu beneran mau curi uang?"
Anak botak itu mengangguk. "Iya, biar lebih meyakinkan jadi tuyulnya."
"Tuyul kan curi diam-diam, ini kamu terang-terangan loh kaya jambret," ujar Ayana yang masih tarik-menarik tas dengan anak itu.
Reyhan menghentikan langkah, melihat Ayana yang sedang aksi tarik-menarik tas dengan seorang anak botak. Dia hampir saja tertawa, buru-buru ditahan karena ingat dia sedang marah.
"Reyhan, tolongin!" rengek Ayana melihat Reyhan yang hanya melihatnya diam. "Ini tas aku mau dijambret!"
"Ada uangnya?" tanya Reyhan yang langsung diangguki Ayana, kemudian dia melihat anak botak itu. "Heh bocah, lepasin! Nanti, gue kasih 100, mau gak?"
Bocah itu berhenti, melihat Reyhan. "Serius mau bayar cepe?"
Reyhan mengangguk yakin. "Iya, lepasin tas istri gue. Udah lepas baru gue bayar cepe."
"Gak mau, bayar dulu baru lepas!" Tarikan bocah itu di tas Ayana semakin kencang.
"Ya udah bareng. Gue hitung satu sampai tiga, lo lepas terus ini duit buat lo!" Reyhan sudah merogoh saku celananya. "satu, dua, tiga. Lepas!"
Bocah itu melepaskan tas Ayana, bersamaan dengan Reyhan yang menyerahkan uang ke telapak tangan anak itu.
"Sialan, lo! Ini dua puluh rebu bukan seratus!" Anak botak itu marah-marah tidak terima terkena tipu muslihat Reyhan.
Ayana tertawa pelan, dia baru saja melihat transaksi penipuan. Dia buru-buru memeluk tasnya, saat menyadari arah pandangan anak itu mengarah ke tasnya.
"Diskon itu," jawab Reyhan tanpa merasa bersalah. "Lo kan gak rugi apa-apa, lumayan dua puluh rebu buat bakso semangkok."
Anak itu melihat Reyhan penuh dendam. "Dasar kismin!"
Setelah mengatakan itu, anak itu pergi meninggalkan Reyhan yang sedang misuh-misuh.
"Gue miskin tapi masih punya harga diri, gak kerja jadi tuyul kaya lo!" teriak Reyhan menggebu-gebu.
"Mbak, cowoknya kenapa, gila?" tanya seorang wanita dengan pasangannya yang sepertinya baru saja masuk.
Ayana menggeleng canggung. "Gak papa, lanjutin aja perjalanan wisata hantunya. Eh iya, hati-hati Mbak, tuyul di sini nyopet beneran."
"Sayang, kayaknya mereka sama-sama gila, deh. Udah yuk, biarin. Kita lanjut jalan," ujar si lelaki yang langsung diangguki oleh wanitanya. Setelahnya, mereka pergi meninggalkan dua orang itu yang langsung kesal.
"Kita juga jalan, yuk!" ajak Reyhan setelah beberapa lama dalam keheningan. Entah kenapa, suasana mereka kembali menjadi canggung.
Ayana mengangguk, dia juga merasakan kecanggungan itu. "Ayo!"
Mereka melanjutkan perjalanan yang kembali diisi oleh bermacam-macam pertunjukan atraksi dari hantu. Ayana jelas takut, sedang Reyhan malah menggoda para hantu itu dengan mengikuti apa yang mereka ucapkan. Ayana yang melihatnya saja kesal, apalagi para hantu itu sudah tidak ada harga dirinya saja dihadapan Reyhan.
Ada yang lebih parah yang Reyhan lakukan, yaitu menarik kolor Buto hijo yang langsung terlihat celana dalamnya. Ayana jadi merasa malu saat melihat kelakuan Reyhan. Tapi ada satu hal yang Ayana suka, sepanjang jalan Reyhan terus menggenggam tangannya, selalu memastikan bahaya jauh dari Ayana, selalu melindunginya dari apapun termasuk para hantu itu.
"Bos, ada ruangan yang bisa gue sewa, gak?" tanya Reyhan saat mereka bertemu genderuwo.
Genderuwo itu seolah paham. "Berapa lama?"
Genderuwo itu berubah dari mode hantu menjadi mode seller yang sedang menawarkan barang. Transaksi macam apa ini? Ayana merasa takjub.
"Sejam."
"Gope," jawab genderuwo itu.
"Ya udah gak jadi, mending sewa hotel aja," jawab Reyhan seraya akan berjalan menggandeng Ayana.
"Maunya berapa?"
Langkah Reyhan berhenti, Ayana jelas melihat senyum smirk Reyhan. "Cepe, gak segitu gak jadi."
Penawaran yang sungguh di luar nalar bagi Ayana. Tapi, ini mereka sedang menawar apa, sih?
Anehnya, tanpa ragu Genderuwo itu mengangguk. "Ok, masuk ke pintu itu!'
Reyhan hanya mengangguk, terus memberikan uang kemudian membawa Ayana masuk ke dalam sebuah pintu yang hanya ditutup tirai. Tempat apa ini?
"Ini tempat apa?" tanya Ayana setelah mereka telah masuk.
Di sini hanya ada sebuah kasur kecil tipis, setelah itu kosong tanpa ada apapun.
"Tempat kaya gini," jawab Reyhan yang sepertinya sudah merasa nyaman karena sekarang sudah duduk di atas kasur dengan kaki selonjoran. "Duduk, Ay!"
"Ngapain?" Ayana menolak, ini sudah tidak masuk akal, kenapa dia harus duduk di tempat seperti ini?
"Kita bicara. Ada banyak hal yang harus kita omongin."
"Kenapa di sini? Ini tempat apa?"
"Gak tahu, asal aja tadi masuk sini, baru inget di tengah jalan ada tempat gini kata temen, ternyata beneran ada. Ini tempat bisa disewa bagi siapapun yang mau ehem-ehem dengan suasana horor," jawab Reyhan asal langsung membuat Ayana syok.
"Kalau gitu, aku gak mau duduk disitu, kotor."
Banyak hal baru yang baru Ayana tahu, membayangkan tempat ini seperti apa membuat Ayana langsung merinding. Lagipula, random sekali kelakuan Reyhan, mau bicara harus di tempat seperti ini segala.
Reyhan terkekeh, kemudian membuka kemejanya karena kebetulan dia masih memakai kaos pendek, kemudian menaruhnya di atas tempat tidur.
"Duduk di sini, udah aku alasin kemeja aku. Ayo Ay, sayang udah bayar cepe ini."
Ayana mendengus kesal. "Siapa suruh, nyewa tempat kaya gini. Lagian mau ngobrolin apaan? Kita kan, bisa pulang terus ngobrolin di kosan."
"Lama," jawab Reyhan, kemudian meraih satu tangan Ayana. "Jadi, gak mau ikut perayaan makan di tempat ibunya Bima karena keburu udah ada janji mau ketemuan sama senior kamu di pasar malam?"
"Gak usah fitnah, yah? Aku emang beneran tadi pergi makan bakso, terus kebetulan ketemu kak Bagas, dia ajakin ke sini." Ayana mau menarik tangannya, tapi Reyhan menahannya. "Katanya kamu mau makan keluarga, terus kenapa tiba-tiba ada di pasar malam gini?"
Reyhan menggeleng, masih memainkan tangan Ayana. "Gak tahu. Makan-nya udahan, terus random tadi anak-anak ngajakin ke sini. Terus, kita ke sini ditraktir bapaknya Bima, ya udah ada yang gratis mana aku tolak."
"Oh ...."
"Cuman oh. Terus, kenapa gak mau ikut makan? Tadi katanya capek, terus kenapa gak capek makan bakso terus ke pasar malam?"
"Aku capeknya sama kamu."
"Sama aku?" Reyhan menunjuk dirinya sendiri, langsung diangguki Ayana. "Aku aja gak tahu ulang tahun kamu karena kamu gak kasih tahu aku, tapi hari ini katanya udah terima dua kue ulang tahun. Aku kesel, kamu terima aja kue ultah dari Ara. Aku gak suka dia, kita musuhan pas di kampung. Aku ngerasa kalah, karena dia tahu ultah kamu tapi aku enggak. Aku gak suka jadi prioritas kedua baru orang lain, aku gak suka bahkan hari penting aja, kamu gak kasih tahu aku. Aku capek, jadi seseorang yang terus berada di tempat yang salah , gak dianggap. Aku capek."
Seketika itu, Ayana terisak setelah meluapkan semuanya. Reyhan kemudian mendekat, menangkup wajah Ayana, menghapus air mata gadis itu. Kemudian, memeluk Ayana, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya.
Setelah agak tenang, Reyhan mengurai pelukan mereka. Dia terkekeh, kemudian kembali mengusap air mata Ayana.
"Lucu banget. Lagian jauh amat pikirannya udah kemana-mana." Reyhan kembali menangkup wajah Ayana. "Dengerin. Bagi aku yang hidup miskin dari kecil gak pernah dirayakan, ulang tahun itu gak penting. Aku gak kasih tahu kamu karena aku aja bahkan lupa ini hari ulang tahun aku. Emang apa bagusnya ulang tahun, bukannya itu ngurangin umur? Harusnya sedih bukan?"
"Tapi, tadi kamu seneng dikasih kue ultah sama Ara?" tanya Ayana masih terisak.
Reyhan terkekeh. "Mau yang kasih kue itu nenek-nenek aku juga akan seneng, siapa yang gak seneng makan kue gratis? Kamu tahu sendiri kan, kalau aku suka yang gratisan."
"Tadi ngapain aja di sana?" tanya Ayana yang mukanya masih seperti mengajak tawuran.
"Makan, ngobrol terus ditraktir ke sini. Aku gak bisa nolak diajak yang gratisan, Ay. Rencananya aku mau beli banyak makanan yang banyak buat kamu nanti pulang, terus besok mau ajak kamu ke sini."
Wajah Ayana perlahan melunak. "Ya udah."
"Kok, jawaban ya udah aja?" Reyhan menarik dagu Ayana agar kembali melihat ke arahnya lagi. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu musuhan sama Ara? Aku pikir kalian deket, kalau gak deket yah minimal temenan biasa aja gitu."
"Aku bukannya mau sombong, tapi dari dulu banyak yang suka sama aku semenjak pindah ke desa, banyak cowok yang temen-temenku suka malah nembak aku, termasuk beberapa cowok yang si Ara suka nembak aku." Tiba-tiba, Ayana terkikik lucu saat mengingat itu.
"Terus kamu pada terima semua cowok itu?" tanya Reyhan entah kenapa mulai kesal.
Ayana menggeleng. "Enggak lah, aku bukannya sok suci dan jual mahal tapi hidup aku banyak masalahnya, boro-boro mikirin pacaran. Aku masih beradaptasi tentang perubahan hidupku yang tiba-tiba pindah ke desa dari kota, aku masih beradaptasi dari anak yang biasanya hidup dimanja kedua orangtuanya tiba-tiba harus terbiasa selalu menjadi orang asing di tempat yang salah."
"Gak usah dilanjutkan, kalau gak mau cerita."
"Gak, aku mau cerita. Nah, emang salah aku jika banyak yang suka? Gak nyuruh mereka suka aku. Akhirnya, banyak anak-anak cewek yang gak suka sama aku termasuk si Ara, mungkin iri. Walaupun ada beberapa orang yang baik yang jadi temenku. Setiap acara ultah atau acara apapun, aku jarang diundang. Aku termasuk dari tiga orang yang di kelas yang gak diundang. Alasannya, ada temenku yang mukanya katanya gak cantik, ada yang karena miskin dan aku ... yatim piatu."
Selalu ada rasa sesak saat dia mengingat semua itu. Kejadian yang selalu mau dia lupakan.
"Berarti itu bukan salah kamu. Itu salah mereka yang punya rasa iri dan gak mampu kaya kamu."
Reyhan kembali memeluknya, membuat Ayana kembali merasa nyaman dan damai. Apa tanpa sadar, Reyhan sudah menjadi rumah tempatnya pulang? Tapi bagi Reyhan, Ayana itu siapa?
Setelah beberapa saat, mereka mengurai pelukan. Reyhan kembali menangkup wajah Ayana, melihat gadis yang sudah masuk ke dalam hidupnya. Berapa lama yah, mereka sudah bersama, sampai mereka sudah berada ditahap ini?
"Rey, walau telat tapi selamat ulang tahun, aku selalu berdoa Tuhan selalu bersama kamu, hal-hal baik bersama kamu dan jangan tinggalin aku dulu, aku belum mampu berdiri sendiri lagi. Maaf, gak bisa kasih kado atau nanti kadonya nyusul."
Reyhan tersenyum. "Aku gak kemana-mana, masih di sini. Ay, boleh cium gak? Suasananya udah pas ini."
"Cium aja, kenapa harus izin? Bikin suasana jadi aneh aja," jawab Ayana yang jelas pipinya yang sudah bersemu merah.
Reyhan tersenyum, kemudian mendekatkan wajah mereka. Menyentuh benda lembut yang selalu membuatnya suka. Mencium Ayana dengan cara yang paling perlahan, dia tidak mau terburu-buru diawal, gadis itu bukan sekedar gadis yang sedang diciuminya tapi gadis yang sudah menjadi seseorang yang mau dia jaga, lindungi dan bahagiakan. Entah sejak kapan? Dia juga tidak tahu.
Ayana memeluk leher Reyhan, sedang cowok itu sudah memeluk pinggang Ayana membuat tubuh mereka semakin tak berjarak. Ciuman mereka lama-lama berubah terburu-buru, seolah sedang diburu-buru waktu.
Reyhan sangat suka, bagaimana cara Ayana mengimbangi setiap sentuhannya. Bagaimana mereka saling menggigit kecil serta saling membelit lidah. Tubuh Reyhan sudah terasa panas, isi kepalanya sudah berantakan, dia lupa apapun karena yang dia mau adalah semakin menyentuh gadis itu.
Saat tangan Reyhan baru saja menyentuh salah satu dada Ayana, dia baru saja akan bergerak saat tiba-tiba seseorang meneriaki mereka.
"Woi, udah sejam! Ayo keluar!"
"Sialan!" Reyhan menarik diri, menjauhkan wajah mereka kemudian menyentuh bibir Ayana dengan ibu jarinya, seolah tengah membersihkan sisa ulahnya tadi.
"Ayo keluar atau gue masuk!"
"Dasar genderuwo jelek!" umpat Reyhan masih kesal. "Ayo Ay, kita lanjut di kosan aja."
"Hah?" Ayana masih lemas karena efek perbuatan mereka barusan, ditambah syok atas ucapan Reyhan barusan.
Ayana mengintip saja saat Reyhan menarik tangannya, membawanya keluar. Sebelum benar-benar keluar, Ayana kembali melihat ke ruangan itu untuk terakhir kalinya. Hampir saja, mereka juga menggunakan fungsi ruangan itu seperti orang-orang. Dia ikut berjalan dengan kemeja Reyhan di tangannya.
"Kalian ngapain keluar dari sana?".
Deg
Ayana melihat kedua teman Reyhan dan gadis itu serta Bagas yang ada di luar melihat mereka yang baru saja keluar dari ruangan ini.
"Anjirlah, pikiran gue udah kotor ini!" teriak Dion heboh.
"A Rey, ngapain kamu dari sana?"
"Na, abis ngapain? Emang di dalam sana ada apaan?"
"Berisik lo pada!"
Ayana mau gali tanah saja terus dikubur di sana, dia sangat malu seperti habis terpergok berbuat mesum.
##