NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Setengah jam kemudian, Dimas kembali membawa dua gelas kopi hitam.
"Sudah beres, Pak."
"Pak RT senang banget bapak mau bangun kamar mandi umum di situ."
"Bagus."
Rahman mengambil dua gelas kopi itu dan berjalan dengan santai keluar gerbang.
Ia melangkah lurus menuju gerombolan anak punk yang sedang asyik bernyanyi.
Maya dan Siti menahan napas melihat bapak kos tua itu nekat mendatangi belasan preman jalanan sendirian.
"Pak Rahman mau ngapain tuh?"
"Jangan-jangan mau ngajak berantem," bisik Siti cemas.
Rahman berhenti tepat di depan pemuda bertato laba-laba yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok itu.
"Hei, anak muda."
"Suaramu fals sekali, merusak pendengaranku saja," sapa Rahman dengan nada datar.
Pemuda itu langsung berhenti memetik gitarnya.
Teman-temannya yang lain ikut berdiri dan mengepung Rahman dengan wajah mengancam.
"Kakek tua mau cari mati ya?"
"Gak suka kita nyanyi di sini? Sana lapor polisi kalau berani!" tantang pemuda itu garang.
Rahman sama sekali tidak gentar.
Aura Tuan Tanahnya aktif, memancarkan kewibawaan yang membuat para pemuda itu tanpa sadar menjaga jarak satu langkah.
"Lapor polisi itu cara orang lemah."
"Aku ke sini cuma mau menawarkan bisnis yang saling menguntungkan," ucap Rahman santai sambil menyodorkan segelas kopi hitam.
Pemuda bertato laba-laba itu mengerutkan kening, ragu-ragu menerima kopi tersebut.
"Bisnis apa? Kita ini musisi jalanan, bukan kuli!"
"Aku tahu kalian disewa oleh manajer sombong di gedung sebelah itu kan?"
"Berapa dia membayar kalian untuk duduk panas-panasan di aspal ini dan menghisap debu jalanan?" tembak Rahman tepat sasaran.
Pemuda itu sedikit gelagapan.
"I-itu bukan urusanmu, Kek!"
"Pokoknya kita bakal nongkrong di sini tiap hari!"
Rahman tersenyum penuh kemenangan.
"Dengar baik-baik."
"Aku punya tanah kosong di ujung gang sana."
"Di sana ada kamar mandi umum baru yang sangat bersih, airnya mengalir dua puluh empat jam."
Rahman menunjuk ke arah ujung gang yang teduh oleh pepohonan rimbun.
"Daripada kalian kepanasan di sini, bau keringat, dan susah buang air..."
"Kenapa kalian tidak memindahkan markas kalian ke sana?" tawar Rahman.
Mata beberapa anak punk itu langsung berbinar mendengar kata kamar mandi bersih.
Bagi anak jalanan, fasilitas mandi dan buang air adalah barang mewah yang sangat sulit didapat.
"Kakek serius kita boleh nongkrong di sana?"
"Terus kita boleh pakai kamar mandinya gratis?" tanya salah satu pemuda yang rambutnya hijau.
"Tentu saja gratis!"
"Bahkan aku izinkan kalian mendirikan tenda kecil di sana asal kalian menjaga kebersihannya."
Rahman menjeda kalimatnya untuk memberikan penawaran puncaknya.
"Dan sebagai gantinya..."
"Kalian harus menjaga keamanan gang ini dari orang asing."
"Terutama dari manajer yang menyewa kalian itu."
"Kalau dia datang protes, kalian tahu kan harus mengusirnya bagaimana?" Rahman menyeringai licik.
Pemimpin anak punk itu menatap Rahman dengan pandangan takjub.
Ia menimbang-nimbang tawaran itu.
Duduk di bawah pohon rindang dengan fasilitas air bersih tentu jauh lebih nyaman daripada nongkrong di aspal panas demi bayaran receh dari Anton.
"Deal, Kek!"
"Kita pindah markas ke sana sekarang juga."
"Mulai hari ini, jalanan ini aman di bawah perlindungan anak jalanan!" seru pemuda itu sambil menerima gelas kopi dari tangan Rahman.
"Nama saya Rahman Affandi."
"Panggil aku Bos Rahman, bukan kakek!" ralat Rahman tegas.
"Siap, Bos Rahman!"
Gerombolan anak punk itu langsung membereskan gitar dan galon bekas mereka.
Mereka berjalan berbondong-bondong menuju ujung gang dengan sangat gembira.
Jalan masuk menuju Kos Putra Putri Melati pun kembali bersih dan aman.
Dari balkon Kos Nusantara, Anton melongo melihat pemandangan itu.
Ponselnya hampir terjatuh dari tangannya.
"Hei! Kalian mau ke mana?!"
"Aku bayar kalian buat nongkrong di situ, bukan buat pindah tempat!" teriak Anton frustrasi.
Pemuda bertato laba-laba menoleh ke arah balkon dan mengacungkan jari tengahnya ke arah Anton.
"Makan tuh bayaranmu!"
"Kita udah punya markas baru yang ada toiletnya dari Bos Rahman!" teriak pemuda itu balas mengejek.
Anton langsung memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri.
Semua rencananya, dari preman pasar sampai preman jalanan, hancur lebur di tangan pria tua pelit itu.
Rahman bukan hanya pandai bertahan, tapi ia bisa merekrut musuh menjadi sekutunya dalam sekejap mata.
Ting!
[Misi Sampingan Selesai.]
[Pengguna berhasil membubarkan ancaman lingkungan tanpa kekerasan fisik.]
[Taktik merangkul musuh dengan fasilitas gratis adalah strategi tingkat tinggi.]
[Hadiah: Tambahan umur 5 hari telah didistribusikan.]
[Progres Misi Jangka Panjang: 70 persen terselesaikan.]
Rahman berjalan kembali ke gerbang kosnya dengan langkah tegap.
Maya, Dimas, dan Rina menyambutnya dengan tepuk tangan meriah layaknya menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang.
"Gila! Bos Rahman emang the best!"
"Anak punk ganas aja bisa jinak dikasih kopi sama toilet gratis," puji Maya kegirangan.
"Tentu saja."
"Orang jalanan itu tidak butuh diceramahi, mereka cuma butuh dihargai dan difasilitasi kebutuhannya."
"Ini yang namanya investasi sosial, anak-anak."
Rahman memberikan wejangan bijak, meskipun hatinya tetap berteriak kegirangan karena berhasil menghemat tenaga.
Siti yang menyeberang jalan ikut nimbrung.
"Pak Rahman, ngomong-ngomong kamar mandi barunya itu buat umum kan?"
"Kalau warung saya lagi ramai, boleh numpang pipis di sana gak?" tanya Siti cengengesan.
Rahman langsung melotot garang.
"Siapa bilang gratis untukmu?!"
"Anak jalanan gratis karena mereka bekerja menjagaku."
"Kalau warungmu yang pakai, bayar dua ribu sekali buang air!" gertak Rahman kumat pelitnya.
Siti mendecak kesal namun tetap tertawa.
"Yeee, dasar kakek perhitungan."
"Iya deh iya, nanti saya bayar pakai gorengan aja."
Suasana sore itu kembali dipenuhi tawa dan kebahagiaan.
Kos Putra Putri Melati bukan hanya sekadar bangunan sewaan lagi.
Tempat ini telah berevolusi menjadi sebuah benteng kekeluargaan yang saling melindungi, baik dari ancaman luar maupun dari kesulitan hidup masing-masing penghuninya.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...