Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban yang Tidak Ditunggu
Rizal menunggu.
Ia berdiri di tengah ruang tamu dengan dada naik-turun, menanti tangis, permohonan, atau amarah yang akan meledak seperti dulu. Ia sudah menyiapkan tanggapan untuk semuanya.
Tapi Danti tidak melakukan satu pun dari itu.
Ia hanya duduk tegak di sofa, kedua tangan terlipat rapi di pangkuan, dan menatap Rizal dengan ketenangan yang begitu utuh hingga terasa menakutkan.
Matahari sore yang jatuh miring dari jendela menyinari separuh wajahnya, membuat garis rahangnya yang kini lebih tegas tampak seperti pahatan.
"Baik," katanya.
Rizal mengerjap. "Apa?"
"Baik, Mas. Aku setuju."
Kalimat itu begitu sederhana hingga butuh beberapa detik bagi Rizal untuk mencernanya. Ia mengira ia salah dengar. Ia membuka mulut, tapi tak tahu harus berkata apa.
"Kamu... setuju?"
"Iya." Danti mengangguk pelan. "Kamu minta cerai. Aku setuju. Aku nggak akan menahanmu."
"Tapi..." Rizal terbata. Ada sesuatu yang aneh di dadanya, sesuatu yang berat dan hampa sekaligus, seperti menjejakkan kaki ke anak tangga yang ternyata tak ada. "Kamu nggak mau... maksudku, kamu nggak mau bicara dulu? Nggak mau minta aku berpikir ulang?"
"Untuk apa?" Danti menatapnya, tulus, tanpa sindiran. "Mas sudah berpikir. Mas bahkan punya daftarnya, lengkap dengan nomor urut. Aku nggak mau memaksa orang yang sudah memutuskan untuk bertahan di tempat yang ia anggap nggak nyaman."
"Dan..."
"Tapi aku punya syarat."
Kata itu membuat Rizal menegang. "Syarat apa?"
Danti berdiri perlahan, merapikan ujung kausnya, lalu berjalan ke jendela dan menatap halaman kecil di luar. Suaranya tetap tenang ketika ia berbicara tanpa menoleh.
"Pertama, kita lakukan semuanya dengan benar. Lewat jalur resmi. Nggak ada cerai di bawah tangan, nggak ada ucapan di atas emosi yang besoknya ditarik lagi. Kalau Mas sudah yakin, kita urus ke pengadilan, sesuai aturan." Ia memutar badan. "Dua, aku butuh waktu. Aku nggak akan pergi malam ini. Aku harus mengatur banyak hal dulu... tempat tinggal, pekerjaan, barang-barangku. Mas nggak akan mengusirku seperti anjing di tengah malam, kan?"
Wajah Rizal memerah. "Aku nggak pernah bilang..."
"Bagus. Tiga, soal hak-hakku dalam pernikahan ini, kita bicarakan nanti, dengan orang yang tepat. Bukan lewat ibumu, bukan lewat Rani, bukan di meja makan rumah mereka." Danti menatapnya lurus. "Kalau Mas keberatan dengan salah satunya, aku mau dengar sekarang."
Rizal terdiam.
Ia tak punya keberatan. Dan justru karena itulah ia merasa makin aneh. Setiap syarat terdengar masuk akal, adil, bahkan lebih rapi daripada rencananya sendiri. Ia sudah membayangkan perceraian sebagai ledakan besar, dengan pintu dibanting, barang-barang dilempar, dan air mata. Bukan negosiasi tenang dari seseorang yang terdengar seperti baru menyusun jadwal liburan.
"Nggak," katanya akhirnya, lirih. "Aku nggak keberatan."
"Baik." Danti mengangguk. "Kalau begitu, selesai untuk malam ini."
Ia mengambil laptop dan buku catatan kecilnya dari meja, menutupnya, lalu menyelipkannya ke dalam pelukan.
"Makanan ada di dapur, Mas. Aku sudah makan. Selamat malam."
Ia melewati Rizal tanpa menoleh dan masuk ke kamar.
Pintu menutup pelan.
Rizal berdiri sendirian di ruang tamu yang sunyi. Dadanya sesak, tapi bukan oleh kemenangan. Rasanya lebih mirip orang yang berteriak di tengah ruangan dan baru sadar tak ada yang menjawab. Ia menatap pintu kamar itu lama, lalu meraih kunci mobilnya.
Ia butuh orang yang bisa membuatnya merasa benar.
---
Di balik pintu kamar, Danti duduk di tepi ranjang dengan punggung lurus.
Ia tidak menangis. Tidak ada air mata yang menunggu di pelupuk, tidak ada gemuruh di dada. Hanya ada satu perasaan, jernih dan ganjil.
Ia mengambil ponsel dan menekan sebuah nama.
"Halo? Dan?" Suara Nadia terdengar cepat, penuh kekhawatiran. "Ada apa? Kamu nggak apa-apa?"
"Nad." Danti tersenyum tipis. "Dia minta cerai."
Hening di seberang.
Lalu terdengar sesuatu seperti bunyi gelas diletakkan keras-keras, disusul tarikan napas panjang. "Akhirnya."
"Nad..."
"Aku nggak bermaksud nggak sopan. Tapi ya Tuhan, aku sudah menunggu ini sejak kamu ceritakan semuanya di kafe." Nadia terdengar antara lega dan geram. "Kamu baik-baik saja? Kamu nggak sendirian, kan? Mau aku ke sana sekarang?"
"Nggak usah, aku baik-baik saja." Danti bersandar ke dinding. "Beneran. Aku justru merasa aneh. Ringan."
"Apa yang kamu jawab?"
"Aku bilang aku setuju. Dengan syarat lewat pengadilan, dan aku butuh waktu untuk mengatur kepindahan."
"Pintar." Nadia mendesah kagum. "Dan buku catatanmu?"
"Masih aman."
"Bagus. Dengar, Dan. Aku punya kenalan, namanya Bu Sekar. Pengacara perempuan, spesialis perkara keluarga. Dia teman kantorku waktu di kota lama. Aku akan hubungi dia malam ini, dan besok kamu bisa konsultasi."
Danti terdiam sejenak. "Aku nggak punya uang untuk pengacara, Nad."
"Konsultasi pertama gratis. Dan kamu punya aku." Nadia berkata mantap. "Kamu juga punya honor dari kerjaan lepasmu, dan kita bisa atur. Kamu nggak akan sendirian menghadapi ini, mengerti?"
Mata Danti memanas, tapi kali ini bukan karena duka. "Mengerti."
"Sekarang istirahat. Besok kita mulai."
"Terima kasih, Nad."
"Jangan bilang terima kasih. Kita kan..." Nadia mendadak terdiam, lalu terkekeh. "Ah, kamu tahu."
"Dua kapal kecil yang saling mengikat tali."
Danti tersenyum dan menutup telepon.
---
Rumah Bu Sumarni malam itu terang benderang.
Rizal tiba dengan wajah kusut, tapi begitu pintu terbuka, ia disambut oleh senyum dua perempuan yang entah bagaimana sudah menunggunya di ruang tamu, lengkap dengan teh hangat dan sepiring kue kering di atas meja, seolah mereka sudah tahu.
"Zal! Ayo masuk, Nak!" Bu Sumarni menarik lengannya. "Wajahmu kok seperti habis lari dari kejaran hantu?"
"Bu..." Rizal duduk lemas. "Aku sudah bilang."
"Bilang apa?"
"Ke Danti. Soal cerai."
Hening satu detik.
Lalu Bu Sumarni dan Rani saling berpandangan, dan ruangan itu meledak dalam kegembiraan yang nyaris tak bisa disembunyikan.
"Alhamdulillah!" Bu Sumarni menepuk dada, mengangkat kedua tangan ke langit. "Ya Allah, akhirnya! Akhirnya anak Ibu sadar!"
"Hore!" Rani melompat dari sofa, bertepuk tangan seperti baru memenangkan undian. "Abang memang paling hebat! Terus, terus? Dia nangis nggak? Dia mohon-mohon nggak?"
"Nggak," jawab Rizal pelan.
"Nggak?"
"Dia setuju."
Bu Sumarni dan Rani sempat saling melirik dengan sedikit kebingungan, tapi kebahagiaan mereka terlalu besar untuk dihalangi oleh detail kecil itu.
"Itu tandanya dia sadar diri," ujar Bu Sumarni mantap. "Dia tahu dia nggak pantas buat kamu. Ibu bilang apa dari dulu? Perempuan seperti itu pasti menyerah sendiri kalau dikasih kenyataan."
"Dia ngajukan syarat, Bu. Lewat pengadilan. Dia minta waktu juga buat pindah."
"Biar saja. Biar dia pergi dengan tertib." Bu Sumarni mengibaskan tangan, tak peduli. "Yang penting selesai. Sebentar lagi Ibu urus semua. Ibu kenal orang di pengadilan agama, anak temannya Bu RT. Pasti cepat."
"Bu, aku..."
"Dan Zal, dengarkan Ibu." Ia menggenggam tangan putranya penuh semangat. "Sekarang kamu harus kasih tahu Vanya. Jangan terlalu lama, nanti dia direbut orang. Perempuan seperti dia itu rebutan banyak laki-laki."
Rizal tersentak. "Bu, belum juga resmi..."
"Justru itu! Harus dari sekarang kamu kasih pondasi. Kamu bilang ke dia bahwa kamu serius, bahwa proses cerai sedang berjalan. Biar dia tenang." Bu Sumarni menatap putrinya. "Betul kan, Ran?"
"Betul banget, Bu." Rani menyahut sambil mengeluarkan ponsel. "Aku kabarin Vanya sekarang, ya? Dia pasti senang banget."
"Ran, jangan dulu..."
Terlambat. Jemari Rani sudah menari di layar. Tak sampai satu menit kemudian, ponselnya berbunyi, dan ia memekik kecil sambil menutup mulut.
"Dia balas! Dia bilang..." Rani membacakan dengan nada dramatis, "'Ya ampun, beneran? Kasihan Mas Rizal, pasti berat banget. Aku akan selalu ada buat dia.'"
Bu Sumarni menjerit kecil dan memeluk Rizal. Rani ikut bergabung, dan untuk beberapa saat, ketiganya berdiri dalam pelukan aneh di tengah ruang tamu, dua di antaranya tertawa dan satu menatap kosong.
"Kita harus syukuran," seru Bu Sumarni setelah pelukannya lepas. "Kecil-kecilan saja. Undang Bude Marni dan Tante Lisna. Biar mereka tahu kita sudah bebas dari beban."
"Ibu, jangan dulu," Rizal akhirnya bersuara, lirih. "Belum juga selesai."
"Kenapa? Kamu ragu?"
"Aku nggak ragu..." Rizal menunduk. "Cuma... Danti tadi tenang sekali, Bu. Terlalu tenang."
Bu Sumarni mendengus. "Itu karena dia sudah kalah. Orang yang kalah memang tenang. Sudah, jangan pikirkan lagi. Kamu sebentar lagi bebas."
Rani sudah kembali tenggelam di layar ponselnya, tersenyum lebar saat membalas pesan demi pesan. Bu Sumarni sibuk menyusun daftar tamu syukuran di kepalanya, mulutnya komat-kamit.
Tak ada yang memperhatikan Rizal yang duduk diam di ujung sofa.
Kemenangan yang disambut gegap gempita itu terasa aneh di tangannya. Seperti hadiah yang dibuka dan ternyata isinya kotak kosong. Ia menunggu rasa lega, tapi yang datang hanyalah bunyi jam dinding dan bayangan seorang perempuan yang berkata, dengan nada setenang air.
---
Di rumah yang gelap, Danti duduk bersila di lantai kamar, buku catatan biru terbuka di pangkuannya.
Ia menggoreskan pena di halaman paling baru.
"Selasa. Rizal meminta cerai. Aku setuju. Konsultasi dengan Bu Sekar besok."
Ia membaca kalimat itu sekali, lalu membalik halaman dan mulai membuat daftar baru. Bukan daftar kesalahan orang lain, melainkan daftar miliknya sendiri. Dokumen yang harus disiapkan. Tabungan dari honor. Tempat tinggal sementara. Barang-barang yang akan dibawa. Hal-hal yang harus dilakukan sebelum hari itu tiba.
Di tengah kamar yang remang, dengan suara jangkrik dari halaman dan angin yang menggoyang tirai, Danti merasakan sesuatu yang sudah sangat lama tak ia rasakan: arah.
Ia menutup buku itu, menyelipkannya ke dalam tas, dan berbaring.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa mimpi buruk.
Nadia kamu juga kerennn 😍😍😍😍😍😍😍😍