Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pelukan
"Aku tidak suka menunda-nunda sesuatu, apalagi jika berurusan dengan wanitaku," ucap Farhan.
"Sudah diputuskan begitu, aku akan memberitahumu nanti," ucap Jingga.
"Baiklah," kata Jingga.
Farhan meraih kedua tangan Jingga, memegangnya dengan lembut, "mulai sekarang kau adalah wanitaku, aku tidak suka seseorang melukai milikku, kapanpun itu, katakan padaku jika ada yang membuatmu tidak senang," ucap Farhan.
"Hm," Jingga menggangguk.
Saat itu, telepon milik Jingga juga berdering jadi Jingga meraih teleponnya dan melihat panggilan telepon dari asisten Rama.
"Halo," kata Jingga mengangkat panggilan teleponnya.
"Nona muda ada di mana? Kenapa belum sampai juga?" Tanya sang asisten dari seberang telepon.
"Paman, bisakah kau mencarikan alasan untukku, aku mungkin tidak akan pulang dalam beberapa hari ke depan," ucap Jingga.
"Kebetulan sekali saya juga belum tiba di rumah karena tadi mengurus sesuatu. Kalau begitu saya akan bilang pada tuan muda kalau Nona belum keluar dari rumah sakit," ucap Sang Asisten.
"Terima kasih," kata Jingga mematikan panggilan teleponnya.
"Ada apa?" Tanya Farhan.
"Aku akan menemanimu di rumah sakit sampai lukamu sembuh," ucap Jingga.
"Sebenarnya ada satu cara supaya lukaku cepat sembuh," ucap Farhan.
"Bagaimana caranya? Katakan padaku, aku akan melakukan apapun supaya kau cepat sembuh," ucap Jingga.
"Ini," Farhan menunjuk bibirnya.
Sebelah alis Jingga terangkat, "bibirmu?"
"Berikan lebih banyak ciuman," ucap Farhan membuat wajah Jingga kembali memerah, ia dengan cepat berbalik menarik tirai agar tertutup rapat-rapat.
"Jangan macam-macam di tempat umum!" Tegas Jingga.
Farhan kembali berbaring sambil tersenyum, "bukankah kita sudah melakukannya tadi? Sebaiknya kita selesaikan," ucap Farhan.
"Kubilang jangan macam-macam!" Gerutu Jingga.
"Baiklah, baiklah," Farhan memejamkan matanya, tidak ingin lagi terus-menerus menggoda Jingga.
Jingga berdiri menatap Farhan yang sudah terdiam di tempat tidur, sesaat kemudian ia menundukkan kepalanya dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Farhan.
Cup!
Farhan langsung membuka matanya dan Jingga dengan cepat menarik tubuhnya menjauh, tapi tangan Farhan lebih cepat menarik tubuh jingga hingga terjatuh ke ranjang menindih Farhan.
"Apa yang kau lakukan?" Jingga berusaha memberontak.
Tetapi Farhan menahan tubuh Jingga dengan kuat, "kau memulainya, sekarang jangan berisik atau orang lain mungkin memergoki kita untuk kedua kalinya," kata Farhan sebelum menutup mulut Jingga dengan ciuman menggoda.
Seluruh tubuh Jingga menegang, ia bahkan tak membalas ciuman itu, tapi dengan kerja keras Farhan, Jingga akhirnya luluh, membiarkan semuanya mengalir begitu saja.
Tangan Farhan menarik selimut menyelimuti Jingga.
Pelan-pelan tangan Farhan bergerak menyentuh pinggang Jingga dan merasakan betapa rampingnya pinggang Jingga.
Tangan itu bergerak terus ke bawah menahan kaki Jingga semakin dekat padanya.
Jingga melototkan matanya menatap Farhan, ia menyadari permainan mereka sudah di luar kendali, tetapi ketika dia berusaha untuk lepas, sudah terlambat, dia telah merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana.
Gawat!
Wajah Jingga semakin merah dibuatnya, ia mendorong tubuh kekar Farhan
"Hentikan!" Tegas Jingga.
Farhan mengangguk, tetapi pelukannya tidak melemah, suara beratnya terdengar, "aku tahu, sekarang diam seperti ini dulu," ucap Farhan.
Kening Jingga berkerut, tetapi kemudian pria yang memeluknya itu tidak bergerak sedikitpun jadi dia akhirnya terdiam menenggelamkan wajahnya di dada Farhan.
Beberapa kali Jingga mendengar suara air liur yang ditelan Farhan, apakah begitu sulit bagi seorang pria untuk menahannya?