Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 - PIL DI TELAPAK TANGAN
Pagi setelah seleksi Bai Xiao, sebuah benda kecil jatuh dari kantong kain di meja Mo.
Bunyinya ringan, hampir tenggelam oleh suara pintu toko yang dibuka. Lin Feng sedang menyusun akar kering di rak. Ia menoleh dan melihat sebutir pil berwarna cokelat tua bergulir sampai berhenti di dekat buku catatan.
“Jangan sentuh dulu,” kata Mo.
Seorang pemuda berpakaian penjaga kota membungkuk mengambil kantongnya. “Maaf. Ini pil pemulihan. Aku membelinya kemarin.”
“Dari siapa?”
“Pedagang di dekat lapangan latihan.”
Mo mengulurkan telapak. “Boleh kulihat?”
Pemuda itu ragu, lalu menyerahkan pil tersebut. “Aku membayar dua belas keping. Penjualnya bilang bisa memulihkan luka setelah latihan.”
Lin mengenali pil itu sebelum Mo memeriksanya. Dalam permainan, bentuk dan juga warnanya hampir sama dengan ikon Basic Recovery Pill. Nama tersebut muncul di daftar pil awal, berguna untuk membantu pemulihan tubuh dan luka ringan. Ia hampir menyebutnya, tetapi menahan lidah. Benda itu nyata, sedangkan keterangannya di dalam game hanya mencakup nama, efek umum, dan harga.
Mo memutar pil itu di antara jari. “Permukaan retak. Bau obatnya sudah berkurang.”
“Berarti palsu?”
“Belum tentu.” Mo meminta cawan kecil dan pisau tipis. “Dari mana kau tahu itu pil pemulihan?”
“Penjualnya bilang begitu.”
“Dan kau percaya karena?”
“Warnanya sama dengan pil yang pernah kulihat.”
Mo mengangkat pandangan. “Pernah kulihat di mana?”
“Gambar di sebuah buku.”
Mo tak langsung menekan. Ia meletakkan pil di atas cawan, lalu menggores permukaannya dengan ujung pisau. Bagian dalamnya tampak lebih gelap dan berbutir. Aroma pahit yang tipis terangkat.
Lin mengenali komposisi visualnya, tetapi tak bisa menebak kualitasnya. Ia tak merasakan aliran Qi atau sisa panas spiritual di dalam pil. Mo memegangnya beberapa saat dalam diam, seperti sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh Lin.
Mo mengikis serpihan sekecil biji wijen ke atas lempeng hitam, lalu meneteskan air ke atasnya. Serpihan itu larut sebagian, meninggalkan butiran gelap di tepi lempeng.
“Kau bisa melihat sisanya?” tanyanya kepada Lin.
Lin mengamati dekat-dekat. “Saya melihat butiran, tapi tidak tahu apakah itu impurity.”
“Benar. Kau belum punya pembanding.” Mo memejamkan mata sejenak, merasakan sisa Qi dengan indera spiritualnya. “Uji air hanya satu petunjuk. Aku juga harus memeriksa aromanya, bentuk pil, dan aliran yang tertinggal. Tak satu pun cukup jika sendirian.”
Lin tidak merasakan apa pun selain bau pahit. Ia sadar ada lapisan pemeriksaan yang belum dapat ia akses, bahkan ketika ia sudah mengenali nama pil.
“Ini memang pil pemulihan,” kata Mo akhirnya. “Kualitas rendah. Ada banyak impurity, dan sebagian energinya sudah lepas.”
“Masih bisa dipakai kah?”
“Bisa membantu sedikit, tetapi tak sebanding dengan harganya. Aku tidak menyarankan memakainya untuk luka dalam.”
Pemuda itu mengerutkan dahi. “Tapi penjualnya bilang dapat memulihkan luka.”
“Luka apa?”
“Memar dan nyeri setelah latihan.”
“Kalau hanya itu, pil ini mungkin meringankan rasa lelah. Ia tidak menyambungkan tulang atau menutup luka terbuka.” Mo mengembalikan pil ke cawan. “Kau membeli nama dan janji. Kau tidak bertanya soal kualitas.”
“Dia bilang pilnya bagus.”
“Semua orang mengatakan barangnya bagus.”
Pemuda itu menatap pil yang telah tergores. Dua belas keping tembaga bisa membayar penginapan bersama selama beberapa malam. Lin tahu dari dirinya sendiri betapa lama uang sebanyak itu harus dikumpulkan. Ia tidak menyalahkan pemuda itu karena berharap pada obat, tetapi ia juga tak bisa mengubah harga yang telah dibayar.
“Kalau aku mengembalikannya?”
“Datangi penjualnya dengan saksi atau bukti. Aku bisa menulis hasil pemeriksaan ini, tapi aku tidak akan menuduhnya menipu tanpa tahu apa yang ia janjikan.”
Mo menarik selembar kertas dan mencatat nama pil, kondisi, serta pengamatan yang dapat ia pertanggungjawabkan. Ia tidak menulis bahwa pil itu palsu. Ia juga tidak menyebut penjual sebagai penipu.
“Sebaiknya tidak kupakai?” tanya pemuda itu.
“Aku tak tahu keadaan tubuhmu. Bawa catatan ini ke tabib yang memeriksamu. Jangan menelan pil hanya karena namanya terdengar cocok.”
Lin memperhatikan setiap kata. “Jadi nama pilnya benar, tetapi kualitasnya rendah.”
“Nama bukan kualitas. Kualitas juga bukan satu-satunya hal yang menentukan cocok atau tidak.” Mo mengangkat pil dengan penjepit. “Orang yang lelah setelah berjalan jauh berbeda dari orang yang tulangnya retak. Pil yang sama tidak menyelesaikan semua keadaan.”
Dalam game, Basic Recovery Pill memiliki efek yang mudah dipahami: mengembalikan sebagian tenaga dan memulihkan luka kecil saja. Tidak ada riwayat tubuh, tidak ada jenis cedera, dan tidak ada respons berbeda dari satu individu ke individu lain. Di sini, tubuh pemakainya menentukan apakah pil itu membantu atau hanya membuang uang.
Lin menatap pil yang tergores. Ia pernah mengira pengetahuan resep adalah bagian paling sulit dari alkimia. Ternyata bahkan nama pil pun belum cukup untuk memahami apa yang terkandung di dalamnya.
Pemuda penjaga menerima kertas pemeriksaan. “Aku akan kembali ke penjualnya. Kalau dia menolak, setidaknya aku tahu pil ini tidak akan memperbaiki semuanya.”
Ia melipat kertas pemeriksaan dan menyimpannya di balik bajunya. Wajahnya masih kesal, tetapi kini kemarahannya tertuju pada janji yang ia terima, bukan pada Mo yang mengabarkan hal yang tak ingin ia dengar.
Mo mengangguk. “Jangan memakainya sebelum lukamu diperiksa tabib.”
Setelah pemuda itu pergi, Lin mengumpulkan pecahan pil dengan kertas dan meletakkannya di mangkuk khusus. “Kau membiarkanku melihat pemeriksaannya.”
“Aku membiarkanmu melihat satu pil yang sudah rusak. Itu bukan berarti kau boleh menyentuh tungku.”
“Aku tahu.”
“Bagus. Tadi kau hampir memberi nama sebelum tahu apa pun.”
Lin tak menyangkal. “Aku pernah melihat bentuknya.”
“Di buku?”
“Iya.”
Mo membersihkan pisau. “Kalau kau menemukan buku itu lagi, bawa. Aku ingin melihat apakah penulisnya memang tahu tentang pil, atau hanya menyalin nama.”
Lin tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak memiliki buku tersebut. Ia juga tidak bisa mengatakan bahwa buku itu berada di dalam ingatan tentang game yang kini menjadi dunia nyata.
“Kalau aku menemukannya,” katanya, “akan kubawa.”
Mo menerima jawaban itu tanpa terlihat percaya sepenuhnya. Ia kembali ke ruang belakang. Lin menyimpan catatan harga bahan, lalu menambahkan sebuah baris baru di kertas pribadinya: nama pil, kualitas, kondisi penyimpanan, dan keadaan pemakai tidak dapat disamakan.
Di game, pil itu hanya ikon dengan deskripsi singkat.
Di tangan Mo, ia meninggalkan serpihan, bau pahit, dan seorang pembeli yang harus memutuskan apakah uangnya telah terbuang.
Lin masih belum tahu cara membuat pil. Namun kini ia tahu bahwa membuatnya bukan sekadar memasukkan bahan yang tepat ke dalam tungku.