Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Mobil Aston Martin hitam mengkilap itu berhenti mulus tepat di depan pintu lobi utama Wiliam Group. Seorang petugas valet bergegas membukakan pintu untuk sang CEO.
Marco melangkah keluar dengan aura kepemimpinan yang langsung menyedot perhatian seluruh orang di lobi, sementara Lia mengekor turun dari sisi lain mobil dengan langkah pelan.
Seperti biasa, begitu berada di tempat umum, Lia langsung memasang persona 'Magnolia' secara totalitas. Bahunya sengaja dilengkungkan ke depan, kepalanya menunduk, dan langkah kakinya dibuat sekecil mungkin seolah ia ingin menyatu dengan bayang-bayang Marco.
Ia berjalan sedikit di belakang pria itu, memeluk kardusnya erat-erat.
Sepanjang perjalanan dari pintu kaca menuju lift khusus eksekutif, puluhan pasang mata karyawan Wiliam Group tertuju pada mereka. Bukan hal yang aneh melihat Marco Maverick di pagi hari, tapi melihat siapa yang berjalan mengekor di belakangnya... itu selalu menjadi bahan gosip yang panas.
Bisik-bisik mulai terdengar dari meja resepsionis dan sekelompok karyawan yang sedang menunggu lift umum.
"Coba lihat itu... Gila, Tuan Maverick benar-benar mempertahankannya?" bisik seorang wanita berambut pirang dari divisi marketing.
"Sayang sekali, ya," timpal temannya sambil memoles lipstik. "Tuan Maverick itu terlalu sempurna. Tapi sekretarisnya... astaga, dia bahkan tidak pantas berdiri di radius lima meter dari bos kita. Lihat kacamata tebalnya dan blazernya yang kusam itu. Merusak pemandangan."
"Kudengar Nyonya Brenda sudah pensiun. Jangan-jangan si cupu itu yang sekarang jadi sekretaris utamanya? Ih, tidak level!"
Lia menelan ludah. Meski ia sengaja membuat dirinya terlihat seburuk itu, mendengar bisikan terang-terangan yang merendahkan fisik seseorang entah mengapa membuat hatinya sedikit mencelos.
Sebagai Isabella Ramsey, ia selalu dipuja.
Orang-orang akan membungkuk padanya, memuji kecantikannya, atau setidaknya takut pada latar belakang keluarganya. Tapi sebagai Magnolia si gadis cupu, ia diperlakukan tak ubahnya debu yang menempel di karpet lobi.
Lia menghela napas tipis di balik tundukan kepalanya. 'Ternyata di dunia nyata yang kejam ini... penampilan fisik memang memegang peranan nomor satu', batinnya prihatin. 'Orang yang tidak menarik akan selalu diremehkan, tak peduli secerdas apapun otaknya.'
Marco tiba di depan lift khusus eksekutif. Pintu baja mengkilap itu terbuka, dan pria itu melangkah masuk disusul oleh Lia.
Begitu pintu lift tertutup, mengisolasi mereka dari tatapan merendahkan di luar sana, keheningan menyelimuti ruang sempit itu. Lia masih menundukkan kepalanya, bersandar pelan di dinding lift.
"Jangan dengarkan mereka," ucap Marco tiba-tiba, suaranya memecah keheningan dengan nada bariton yang tegas.
Lia tersentak. Ia mendongak cepat, mengerjap di balik kacamatanya. "A-apa, Tuan?"
Marco yang berdiri tegap menghadap pintu lift, tidak menoleh ke arahnya, namun suaranya terdengar sangat jelas.
"Kubilang, tak perlu didengarkan ucapan mereka tadi," ulang Marco santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Apa pun yang mereka katakan di lobi tadi, anggap saja angin lalu yang tidak penting."
Lia mematung. Bosnya... mendengarnya? Dan yang lebih mengejutkan lagi, pria berhati dingin ini repot-repot menghiburnya?
"T-tapi mereka benar, Tuan Maverick," cicit Lia pelan, mencoba mempertahankan aktingnya. "S-saya memang tidak menarik. Saya tidak pantas—"
"Tidak ada hubungannya pantas atau tidak pantas dengan penampilan fisik," potong Marco tajam. Kali ini pria itu menoleh sedikit ke arah Lia. "Kecantikan itu hanya sampul. Banyak orang cantik di luar sana yang isinya kosong atau malah beracun. Kau bekerja di sini menggunakan otak dan ketelitianmu. Selama kinerjamu memuaskan, omongan sampah mereka tidak ada harganya."
Lia terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut bosnya. Kata-kata yang, anehnya, persis sama dengan prinsip yang sering ia utarakan sendiri.
"Atau..." Marco menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang tipis. "...kalau kau ingin melawan mereka, itu juga tidak apa-apa."
"Melawan mereka?" beo Lia bingung. "S-saya tidak berani, Tuan..."
Marco mendengus pelan. "Mulai hari ini, kau adalah Sekretaris Utama CEO Wiliam Group. Posisimu di perusahaan ini hanya berada satu tingkat di bawah para dewan direksi."
Lift berdenting saat mencapai lantai puncak.
"Kau punya kekuasaan untuk melakukan apa pun, Magnolia," lanjut Marco, memutar tubuhnya menghadap pintu lift yang mulai terbuka. "Kalau ada karyawan yang berani merendahkanmu lagi, kau bisa memotong bonus tahunan mereka, atau sekalian saja suruh mereka membersihkan basement selama sebulan. Kau punya wewenang itu."
Lia menatap punggung lebar Marco yang melangkah keluar dari lift dengan pandangan tak percaya.
Pria ini... tidak hanya menghiburnya, tapi juga memberikannya sebuah tameng kekuasaan penuh di perusahaan ini.
Diam-diam, sebuah senyum simpul terbit di bibir pucat Lia. Hatinya menghangat oleh kepedulian kecil yang sangat tidak terduga ini.
'Tak kusangka', batin Isabel senang, matanya berkilat jahil namun tulus. 'Si bos sinting ini ternyata memperhatikan semuanya. Mungkin... dia tidak seburuk yang aku kira.'
"Tunggu apa lagi, Ensiklopedia Basah? Jadwalku tidak akan berjalan sendiri!" panggil Marco dari depan meja kerja Nyonya Brenda yang kosong.
"S-saya datang, Tuan Maverick!" seru Lia, bergegas keluar dari lift dengan langkah yang, kali ini, terasa jauh lebih ringan dan percaya diri.
oooh tdk bisaaa ,, anda gx liat tuh calon pawang ny udh ngeluarin tanduk dari kening ny🤭🤭🤭🤣🤣🤣