Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
"Kamu yang bawa mobil, tidak perlu tunggu bang Altair, dia akan pulang dengan supir yang ada di bawah" ucap Kaivalya datar melempar kunci mobilnya pada Diandra lalu pergi meninggalkan Diandra.
"Astagfirullah, apa aku salah bicara ya, tapi perasaan nggak deh, kenapa dia marah lagi" gumam Diandra
"Andra!" teriak Kaivalya
"I... iya pak" jawab Diandra berlari menuju ke dalam lift dan berdiri di samping Kaivalya.
Sampai di lobi kantor Orion, mereka tidak saling bicara lagi, Diandra membukakan pintu untuk Kaivalya di kursi belakang tapi Kaivalya malah membuka pintu penumpang di depan.
"Sabar Diandra, dua tahun lima bulan lagi" bujuknya untuk dirinya sendiri
"Bapak mau makan siang di kantor? masih ada sandwich yang di bawa pak Altair tadi pagi" tanya Diandra
"Tidak, saya tidak mau makan siang" jawab Kaivalya.
"Tapi pak, nanti maag bapak kambuh dan pak Altair yang repot" ucap Diandra
"Terus saja bilang pak Altair bawa sarapan! pak Altair nanti repot! Kamu khawatir pada pak Altair! apa kamu tidak bisa memikirkan hal lain selain pak Altair!" bentak Kaivalya membuat Diandra terkejut.
"Ma.. maaf pak" ungkap Diandra menunduk karena itu pertama kalinya dia di bentak Kaivalya dengan begitu keras.
Kaivalya memang sering galak dan acuh pada Diandra, tapi meski kata katanya sering ketus, Kaivalya tidak pernah membentak Diandra seperti itu, dan itu membuat Diandra merasa takut bahkan sampai gemetar.
"Kamu mau buat kita kecelakaan? bawa mobilnya yang benar!" ucap Kaivalya
"I.. iya"
Air mata Diandra sudah hampir jatuh tapi dia tahan terus, gemetarnya juga tidak hilang karena Kaivalya di sampingnya masih terus menatapnya tajam dengan wajah serius, hingga...
Brak.
"Andra!" pekik Kaivalya saat mobil yang di kendarai Diandra menabrak sebuah gerobak yang untungnya tidak ada pembeli dan pemiliknya sedang berteduh dari hujan.
"Hiks... huaaa pak bagaimana ini pak, saya sudah nabrak orang!" pekik Diandra yang sekarang mulai menangis.
"Kamu tetap di sini, biar saya yang turun" ucap Kaivalya dan Diandra mengangguk dengan kening yang lecet karena terbentur stir mobil.
Kaivalya turun, Diandra tidak bisa melihat dengan jelas karena keadaan sedang hujan, tapi dia samar samar melihat Kaivalya mengangkat gerobak itu, lalu memapah seseorang ke dalam mobil, Diandra menelan ludahnya karena orang itu terlihat berlumuran darah dan wajahnya juga pucat.
"Pak, dia masih hidup kan?" Tanya Diandra
"Saya tidak tahu, kamu pindah ke samping biar saya yang bawa mobilnya" jawab Kaivalya dan Diandra menurut.
"Hiks.. pak, bagaimana kalau bapak ini meninggal? Apa saya akan di penjara?" Tanya Diandra
"Mungkin empat belas tahun" jawab Kaivalya semakin membuat tangisan Diandra pecah.
"Hiks.. papa, mama, Opa, Oma, Diandra sudah bunuh orang" lirihnya
"Pak, maafkan saya pak, saya tidak sengaja, tadi tangan saya gemetar karena di bentak pak Kaivalya, kalau mau gentayangan, teror dia juga pak" ungkap Diandra terisak sambil menatap orang yang masih belum sadarkan diri itu.
"Kamu yang nyetirnya tidak becus" sinis Kaivalya
"Pak, telepon keluarganya pak, keluarganya pasti menunggu di rumah"
"Coba kamu cari handphone mamang itu, mungkin ada di saku celananya" jawab Kaivalya
"Tidak pak, saya takut!"
"Ya sudah, tunggu di rumah sakit saja, nanti saya yang hubungi keluarganya" jawab Kaivalya
"Saya akan telepon papa dan Opa" ucap Diandra
"Jangan, nanti saja setelah kita tahu kondisi mamang ini" ucap Kaivalya dan Diandra mengangguk masih dengan air mata yang terus mengalir.
Diandra masih terus menangis bahkan setelah sampai di rumah sakit, orang yang di tolong Kaivalya juga sudah di bawa perawat ke ruang rawat untuk di periksa dokter yang hanya menatap datar Kaivalya karena dia datang bersama Diandra sepupunya.
"Kak Alex, tolong bapak itu kak, dia darahnya banyak sekali tadi" mohon Diandra
"Kamu jangan khawatir, tenangkan dulu diri kamu, kamu kalau khawatir dan panik itu suka ceroboh, duduk di bangku itu dan tunggu, baca do'a supaya bos kamu itu tobat" ucap Alex
"Ko bos Diandra sih, bapak itu yang harus di do'akan" protes Diandra
"Tuh tangan bos kamu juga terluka, bawa ke unit IGD" tunjuk Alex pada tangan Kaivalya yang berlumuran darah.
"Astagfirullah pak, kenapa tangan bapak terluka? ayo kita ke IGD, tapi kak, kenapa bapak itu tidak ke IGD juga, lukanya parah" tanya Diandra
"Cepat pergi sebelum bos kamu kehilangan banyak darah, jangan banyak bertanya" jawab Alex dan Diandra segera membawa Kaivalya ke ruang IGD.
Kaivalya hanya diam saja di tuntun Diandra ke tempat itu, bahkan Diandra juga memaksa ingin masuk supaya dia bisa melihat luka Kaivalya. tangan Kaivalya itu berharga, selain karena Kaivalya adalah seorang pengusaha yang pastinya harus menandatangani banyak berkas, Kaivalya juga merupakan anggota inti kelompok sang ayah yaitu Dark Dragon, jadi banyak kegiatan yang dia lakukan dengan tangannya itu, dan kalau terluka pastinya akan membuat banyak kerugian.
"Lukanya cukup dalam dan harus di jahit, apa kamu di serang orang?" tanya Araya
"Tidak Tante, kebanyakan pecahan kaca yang menempel di gerobak, kena pas Kai angkat gerobaknya, tidak usah di jahit, di perban saja" jawab Kaivalya mulai mengantuk karena ternyata Araya sudah menyuntikkan obat bius.
"Saya.. saya yang salah dokter, saya salah" ungkap Diandra merasa bersalah.
"Iya.. kamu salah dan harus di penjara" ucap Kaivalya setengah meracau.
"Saya akan mulai mengobati Kaivalya, sebaiknya kamu tunggu di luar" ungkap Araya
"Baik dokter" jawab Diandra akan pergi tapi tangannya di genggaman Kaivalya yang punya kelemahan yaitu takut jarum suntik, itu sebabnya Araya terus mengajaknya berbicara untuk mengalihkan perhatian Kaivalya.
"Kamu di sini saja, pegang tangannya, mungkin dia sedang berhalusinasi efek bius" ucap Araya supaya Kaivalya tidak malu ketahuan takut jarum suntik.
"Iya dokter, pak Kaivalya akan sembuh kan? tapi dia juga hujan hujanan untuk menolong bapak itu, bajunya basah tapi tidak mau di ganti" tanya Diandra
"Insya Allah dia akan baik baik saja" jawab Araya mulai menjahit luka di tangan Kaivalya.
Diandra masih terisak, dia bahkan belum menghubungi keluarganya karena dia di peluk Kaivalya dengan erat di IGD, Araya sampai harus menyediakan ranjang rawat VIP setelah selesai karena Kaivalya begitu erat memeluk Diandra meski dia sudah di pindahkan ke ruang rawat, dan karena Diandra tidak kunjung di lepaskan, Diandra ikut tertidur di pelukan Kaivalya.
"Astagfirullah, apa ini, kenapa anak ini malah berpelukan di ruang rawat" geram Deril yang di beri tahu Alex kalau Diandra ada di rumah sakit di kerjai bosnya.
Tukang bakso itu baik baik saja, darah yang ada di tubuhnya adalah darah Kaivalya, Kaivalya sengaja meminta tukang bakso itu ikut ke rumah sakit supaya Diandra bisa dia atur dan tidak akan berani menolaknya lagi. Bahkan tukang bakso itu juga di minta pura pura pingsan dan di berikan uang lima juta dengan kartu nama Kaivalya untuk mengganti gerobaknya yang rusak setelah urusan di rumah sakit selesai.
"Harusnya kak Kai sudah sadar Om, tapi sepertinya dia terlalu nyaman memeluk Diandra" ucap Alex
"Gara, lihat kelakuan anak kamu, dia sudah membuat cucuku punya mata bengkak begitu" keluh Devan kakek dari Diandra.
"Saya juga tidak menyangka anak pendiam ini akan melakukan itu pada cucu Om" jawab Sagara
"Mereka akan kita apakan?" tanya Deril
"Pura pura tidak tahu saja, Om ingin lihat sejauh apa anak ini bergerak" jawab Sagara dan semuanya setuju.