"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Dongeng Sebelum Tidur - 2
"Nah, sekarang Kenzie mau dengar cerita apa?" tanya Naya, mengambil sebuah buku dongeng tebal dari nakas.
"Cerita tentang petualangan kura-kura yang kuat, Mama!" sahut Kenzie, langsung berbaring telentang dengan nyaman. Tangan kirinya menggenggam erat jemari Arka, sementara tangan kanannya mendekap jemari Naya.
Naya membuka halaman pertama. Begitu ia mulai membaca, suaranya yang lembut, teratur, dan menghanyutkan seketika memenuhi ruangan. Naya membaca bukan sekadar melafalkan teks, melainkan memberikan penjiwaan yang tenang, membuat Kenzie perlahan-lahan mulai mengantuk, matanya sayu menatap proyeksi bintang di langit-langit.
Arka mendengarkan suara Naya dalam diam. Di dalam keremangan, mata elangnya tidak tertuju pada buku dongeng, melainkan terkunci pada wajah samping Naya. Dari jarak sedekat ini, Arka bisa mencium aroma harum minyak esensial lavender yang menenangkan dari tubuh Naya—aroma yang sangat kontras dengan wangi parfum mahal para wanita sosialita di luaran sana yang sering membuatnya pening. Cara Naya berbicara, ketenangan batin yang terpancar dari ekspresinya, entah bagaimana bertindak sebagai obat penenang paling ampuh bagi badai pikiran Arka tentang sabotase bisnis Clarissa.
Menit-menit berlalu dengan lambat. Napas Kenzie perlahan berubah menjadi teratur dan berat. Genggaman tangan kecil bocah itu pada jemari kedua orang tuanya mulai melonggar, menandakan ia telah terlelap sepenuhnya ke dalam dunia mimpi.
Naya menghentikan bacaannya. Ia menutup buku itu dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Namun, tepat saat ia hendak menarik tangannya dari atas selimut Kenzie, Arka juga melakukan gerakan yang sama.
Di tengah remangnya lampu tidur, dalam kondisi penglihatan yang terbatas, jemari mereka bergerak ke arah yang sama.
Sentuhan itu terjadi.
Kulit tangan Arka yang hangat dan kokoh secara tidak sengaja bersentuhan langsung dengan jemari Naya yang halus di atas kain selimut. Sentuhan yang tidak direncanakan itu terasa seperti sengatan aliran listrik bertegangan tinggi yang langsung menjalar ke seluruh nadi mereka.
Arka tersentak pelan, sementara Naya menahan napasnya dalam hitungan detik. Jantung mereka, yang selama ini dipaksa berdegup dalam ritme profesional yang kaku, malam ini berpacu liar dengan debaran yang sangat asing dan mengacaukan logika.
Di dalam keheningan kamar yang sunyi, mata elang Arka langsung beradu dengan sepasang mata bulat milik Naya. Jarak wajah mereka hanya terpisah beberapa puluh sentimeter di atas tubuh Kenzie. Arka bisa melihat dengan jelas bagaimana manik mata Naya sedikit melebar, merekam getaran yang sama yang sedang mengacaukan dadanya sendiri. Ada kekaguman, ada rasa butuh yang mendalam, dan ada ketegangan manis yang belum pernah Arka rasakan seumur hidupnya.
Naya menjadi yang pertama menguasai diri dengan kekuatan mentalnya yang sekeras baja. Ia menarik tangannya dengan gerakan yang sangat halus namun tegas, memutus kontak fisik itu tanpa menimbulkan kecanggungan yang berlebihan. Ia membenarkan posisi selimut Kenzie untuk menutupi kegugupannya yang jarang terjadi.
"Kenzie sudah tidur nyenyak. Saya permisi kembali ke kamar," bisik Naya dengan suara yang diusahakan tetap datar dan stabil, meski rona merah samar kini tak bisa disembunyikan di kedua pipinya.
Naya bangkit berdiri, bergerak mundur dengan keanggunan mutlak menuju pintu penghubung kamarnya.
Arka ikut bangkit dari ranjang, langkah kakinya tertahan di tengah ruangan. Ia menatap punggung Naya yang bersiap memutar knop pintu. "Naya," panggil Arka lirih, suaranya terdengar serak dan sarat akan emosi yang tertahan.
Naya menghentikan langkahnya, namun ia tidak memutar tubuhnya. Ia mempertahankan posisinya dengan punggung yang tegak lurus. "Ya, Tuan Arka? Ada hal lain terkait kesepakatan kita?"
Arka menatap jemarinya sendiri yang baru saja bersentuhan dengan tangan Naya, lalu kembali menatap siluet tubuh wanita itu. "Tentang arisan keluarga besok akhir pekan ... pengacara Clarissa benar-benar akan mencari celah legalitas pernikahan kita. Jika kamu merasa tertekan, aku bisa mencari alasan untuk membatalkan kehadiranmu."
Naya terdiam selama dua detik sebelum akhirnya menolehkan wajahnya sedikit, menampilkan sudut profil wajahnya yang tenang menghanyutkan di bawah temaram lampu bintang.
"Saya sudah menandatangani kontrak untuk menghadapi masalah apa pun di samping Anda demi Kenzie, Mas Arka," jawab Naya, suaranya mengalun rendah namun membawa ketegasan yang mutlak. "Jangan biarkan debaran konyol malam ini membuat Anda meragukan kapasitas saya. Persiapkan saja berkas perusahaan Anda dengan baik, dan biarkan saya yang mematahkan serangan Clarissa di depan pengacaranya nanti. Selamat malam."
Pintu kayu putih itu menutup pelan tanpa suara, mengunci keberadaan Naya di kamar sebelah.
Arka berdiri terpaku sendirian di kamar anaknya, mengembuskan napas panjang dengan rasa frustrasi yang campur aduk. Ia memegang dadanya yang masih berdegup kencang. Wanita kontraknya baru saja menyebut debaran itu sebagai 'hal konyol', namun Arka tahu, tidak ada yang konyol dari bagaimana hatinya kini telah sepenuhnya takluk oleh kekuatan sunyi seorang Nayara. Dan menyangkal perasaan itu di sisa bab-bab ke depan akan menjadi tugas terberat dalam hidupnya.
Bersambung...