Bagi Celeste Delacroix, sinar matahari adalah vonis mati. Mengidap penyakit langka, hidupnya terkurung dalam kegelapan dan selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Caelia, yang dipuja bagai dewi.
Ketika Caelia menolak dijodohkan dengan Lucian St. Claire, milyarder dingin yang bisu akibat trauma, keluarga Delacroix secara licik menumbalkan Celeste untuk menggantikan posisinya di altar pernikahan.
Di balik gaun pengantin dan rahasia besar penyakitnya, Celeste masuk ke kediaman St. Claire. Namun, Lucian yang tak bersuara justru menjadi satu-satunya orang yang mampu memahami bahasa luka Celeste. Di tengah kebohongan yang rapi, akankah cinta mereka bertahan saat kebenaran akhirnya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lucian yang terlihat berbeda
Langkah kaki Celeste menapak perlahan di atas karpet merah yang terbentang menyusuri lorong altar. Di sampingnya, Alexander mendampingi dengan tenang. Kali ini, tak ada sindiran tajam, tak ada cibiran, tak ada juga perbandingan dingin yang biasa dilontarkan sang ayah.
Alexander menggandeng jemari putrinya dengan begitu anggun, bersikap penuh penghormatan seperti seorang ayah yang sedang mengantar putri kesayangannya menuju gerbang masa depan.
Jantung Celeste berdegup kencang. Ia mengedarkan pandangan kaku ke sekeliling. Di barisan kursi paling depan, matanya bertabrakan dengan sosok Roxy. Gadis tomboy yang biasanya selalu tampil liar dan cuek itu kini tampak anggun mengenakan gaun malam. Matanya berkaca-kaca, dan untuk pertama kalinya Celeste melihat Roxy meneteskan air mata haru. Celeste membalas tatapan itu dengan senyuman tipis dan hangat, sebelum mengalihkan pandangan sepenuhnya ke ujung altar.
Di sana, Lucian sudah menunggu.
Pria itu tampak teramat tampan dalam balutan setelan jas hitam tuxedo buatan penjahit terbaik Eropa. Wajahnya memang tetap datar dan tanpa ekspresi, namun aura dingin nan berwibawa yang terpancar sama sekali tidak memudarkan pesonanya.
Tak ada seorang pun di dalam ruangan itu yang tahu bahwa di balik topeng ketenangannya, Lucian sedang menahan rasa gugup yang luar biasa. Melihat Celeste berjalan mendekat dibalut gaun pengantin putih yang berpijar di bawah lampu kristal membuat napas Lucian tertahan. Meski sebelumnya ia sudah pernah melihat Celeste memakai gaun pengantin di studio, pesona perempuan itu malam ini benar-benar melumpuhkan kesadarannya.
Alexander menghentikan langkah di depan Lucian, lalu secara perlahan menyerahkan telapak tangan halus Celeste ke dalam genggaman besar Lucian.
"Saya serahkan dia kepadamu" Kata Alexander.
Lucian menerima genggaman itu dengan erat tanpa menjawab. Tentu ia tahu pria paruh baya di depannya sedang memainkan perannya sebagai seorang ayah yang sangat menyanyanginya.
Janji suci pernikahan pun dimulai. Di bawah sinar lampu ballroom yang temaram, janji mengikat itu terucap dengan sakral. Celeste mendengarkan setiap bait kata pendeta dengan cermat. Hatinya sedikit bernapas lega saat sang pendeta menyebutkan nama aslinya Celeste Delacroix bukan nama kembarannya, Caelia. Kakek yang ditakuti keluarga St. Claire rupanya belum hadir di tengah pesta.
"Sekarang, Anda dipersilakan mencium mempelai wanita."
Lampu ballroom meredup secara dramatis. Celeste menahan napas, dadanya bergemuruh hebat saat Lucian melangkah mendekat. Jemari panjang Lucian yang tak henti meremas dan mengelus punggung tangannya kini merayap naik ke pinggang ramping Celeste.
Siapa sangka, Lucian tidak sekadar menempelkan bibirnya seperti ciuman formal biasa. Pria itu menundukkan kepala, mendaratkan ciuman yang dalam dan melumat lembut bibir Celeste dengan gairah yang tersembunyi. Sensasi hangat dan getaran manis menjalar cepat ke seluruh tubuh Celeste, membuat kedua kakinya terasa lemas.
Sebelum melepaskan lumatan itu, Lucian mendekatkan bibirnya ke telinga Celeste yang tertutup helaian rambut halus, lalu berbisik dengan suara bariton yang teramat berat, seksi, dan serak.
"Cantik... Kau benar-benar cantik Tessie-ku"
Setelah bisikan itu, Lucian merengkuh tubuh Celeste ke dalam pelukan erat. Ia menunduk dan mengecup bahu terbuka Celeste yang tak terhalang kain.
Deg!
Tubuh Celeste seketika membeku kaku di dalam pelukan Lucian. Matanya membelalak lebar dalam syok yang tak terkira. Suara... suara serak nan dalam tadi... itu suara Lucian?! Pria yang selama ini dianggap bisu oleh semua orang?!
Kepalanya berputar cepat. Kenapa Lucian bisa bersuara? Kenapa suaminya mendadak terasa begitu berbeda dan penuh rahasia?
Namun, sebelum ketakutan dan pertanyaan membakar pikirannya, nasehat Eleanor di ruang rias mendadak berngiang, "Jangan dimasukkan ke dalam hati jika Lucian bersikap aneh... Kamu akan tahu sendiri alasannya nanti."
Celeste menghela napas panjang dan memilih memenjarakan keheranannya rapat-rapat.
Lucian melepaskan pelukannya, menatap istrinya begitu dalam. Celeste ingat sekali, tatapan ini adalah tatapan saat Lucian tidur dengannya malam itu. Siapa Pria di depannya ini?
Seusai pertukaran cincin dan prosesi sakral, pesta resepsi dimulai. Celeste berganti pakaian dengan dress malam panjang berwarna hitam elegan. Gaun itu memiliki potongan terbuka di bagian punggung serta belahan dada yang sedikit rendah, menonjolkan lekuk tubuhnya yang memikat. Lucian yang berdiri di sisinya tampak begitu serasi, tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari pinggang Celeste.
Saat para tamu sedang menikmati hidangan, sosok Roxy melangkah mendekat dengan heboh. Tanpa canggung, gadis itu langsung menjatuhkan tubuhnya memeluk Celeste erat-erat.
"Ya ampun, Princess! Selamat ya!" goda Roxy seraya melepaskan pelukannya, melirik usil ke arah Lucian. "Gak nyangka banget lo yang laku duluan di antara kita! Gimana rasanya? Senang kan? Btw, buruan bikin momongan ya, biar gue cepat dapat keponakan!"
Pipi Celeste seketika membara merah padam. "Roxy! Bicaranya dijaga, ih! Ada Lucian di samping gue!" bisik Celeste heboh sambil menutup mukanya. Roxy justru tertawa maruk melihat sahabatnya kelimpungan.
Belum selesai godaan Roxy, tiga pria jangkung berbaju jas mahal mendatangi mereka. Ketiganya memiliki ketampanan yang luar biasa dan aura mapan yang memikat.
"Wah, wah... ternyata serigala dingin kita benar-benar sudah melepas masa lajangnya," celetuk salah satu pria berambut ikal dengan senyum jenaka. "Kenalin, Ilya. Sahabat Lucian paling ganteng sejak TK."
"Jangan dengarkan dia, Nyonya St. Claire. Aku Samuel, yang paling berakal di antara mereka," timpal pria berwajah tegas di sebelahnya, menyalami tangan Celeste dengan sopan.
Pria ketiga yang berpenampilan paling rapi menimpali dengan kekehan pelan, "Dan aku Ethan. Selamat atas pernikahan kalian, Celeste. Sungguh luar biasa melihat Lucian akhirnya mau menyentuh seorang wanita."
Celeste tersenyum ramah menyambut uluran tangan ketiga sahabat suaminya itu. Dari obrolan hangat dan candaan mereka, Celeste bisa merasakan keakraban yang sangat erat. Rupanya Ilya, Samuel, dan Ethan adalah sahabat Lucian sejak kecil yang berasal dari keluarga-keluarga penguasa berpengaruh. Mereka sudah terbiasa dengan sikap dingin dan kebisuan Lucian, bahkan memahami setiap kode isyarat yang dibuat Lucian tanpa perlu banyak penjelasan.
"Lucian itu dari dulu memang kaku seperti batu es, Celeste," canda Ilya lagi. "Tapi kalau dia sudah memilih satu wanita, dia bakal jaga wanita itu sampai mati. Jadi kamu tenang saja, kamu berada di tangan yang aman."
Gelak tawa menyelimuti lingkaran kecil itu, mencairkan suasana malam yang semula tegang.
Namun, keseruan itu terhenti mendadak.
Suara ketukan tongkat kayu berujung perak berikrar nyaring di atas lantai marmer, memotong sapaan para tamu. Atmosfer keceriaan di dalam ballroom seketika menguap, berganti dengan keheningan mencekam yang menusuk tulang.
Suara ketukan tongkat itu makin mendekat. Seorang pria tua berusia akhir 80-an dengan pakaian serba hitam, jubah berbulu mahal, serta tatapan mata yang teramat dingin dan tajam melangkah mantap memasuki area pesta. Tatapannya lurus mengunci sosok pengantin di atas podium.
Itu Vane St. Claire, sang kakek penguasa tertinggi klan.
Lucian yang merespons cepat kedatangan kakeknya langsung merapatkan tubuh Celeste ke sisinya. Lengan kokohnya melilit pinggang ramping Celeste dengan erat, lalu menunduk sebentar dan berbisik sangat pelan di balik rambut Celeste.
"Mainkan peranmu. Mulai sekarang... didepannya kamu adalah Caelia."
Celeste menelan ludah yang terasa sangat pahit. Jantungnya berdegup gila-gilaan, namun ia menarik napas dalam-dalam untuk menguasai dirinya. Ia menegakkan punggungnya, melupakan rasa takut dan kecanggungannya.
Saat pria tua berwajah tirani itu berdiri tepat di hadapan mereka, Celeste menyunggingkan senyum anggun tanpa sedikit pun raut gugup di wajahnya.
"Selamat malam, Kakek Vane," sapa Celeste halus namun penuh percaya diri, menatap lurus mata tajam sang kakek. "Suatu kehormatan besar akhirnya bisa bertemu dengan Anda."